Guntur Bicara Bung Karno di Tokyo

img-20161103-wa0048Kapan terakhir kali Anda mendengar Guntur Soekarnoputra berbicara tentang bapaknya? Dalam forum resmi, tidak pernah. Dus, bisa jadi, inilah kali pertama, Guntur bicara tentang bapaknya di forum resmi. Forum simposium mengenai Sukarno, yang digelar Universitas Kokushikan, Tokyo, 3 November 2016.

Hari itu, Pusat Studi Asia-Jepang, Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Kokushikan mengelar simposium dengan pidato utama oleh putri tunggalnya, Puti Guntur Soekarno. Selain mendengarkan pidato Puti, simposium juga menghadirkan empat pembicara: Dua dari Indonesia dan dua dari Jepang.

Dari Indonesia, tampil Bonnie Triyana (Majalah Historia) dengan topik “Mencari Sukarno Sejati”, dan Prof Dr Dadan Umar Daihani (Universitas Trisakti Jakarta) dengan topik “Bung Karno: Dunia Pendidikan dan Peradaban Bangsa”. Sedangkan dari Jepang, tampil Prof Masakatsu Tozu (profesor emeritus Universitas Kokushikan) dengan makalah “Politik Nasionalisme Soekarno dan Batik: Penciptaan Budaya Nasional di Indonesia”, serta Kaoru Kochi (Dosen Universitas Tokyo) yang mengangkat topik “Hubungan Indonesia – Jepang dan Kajian Mengenai Soekarno di Jepang”.

Kurang dari dua jam, empat pembicara pun selesai menyampaikan presentasinya. Hingga tanya-jawab berlangsung, tampak Guntur, tetap tekun mengikuti. Dalam usia yang 72 tahun, bisa dibilang, Guntur sangat antusias dengan simposium hari itu.

Di pengujung acara tanya-jawab, tiba-tiba ia mengangkat tangan tinggi-tinggi. Spontan hadirin terhenyak. Tak kurang dari moderator, Tokubumi Shibata yang tak lain adalah Direktur Pusat Studi Asia-Jepang, Universitas Kokushikan, sekaligus cucu dari pendiri universitas tersebut, Tokujiro Shibata.

Bergegas petugas mengantarkan mic ke hadapan Guntur. Sempat agak susah-payah bangun dari sofa yang didudukinya di deret paling depan. Begitu berdiri, ia langsung melancarkan tanggapan atas keempat pembicara.

Yang pertama ditanggapi adalah Bonnie Triyana. Bonnie yang antara lain mengupas usaha desukarnoisasi oleh presiden Soeharto, menyinggung tentang penempatan sosok Sukarno dalam era Orde Baru yang ditenggelamkan. Dimulai dari tudingan, baik langsung maupun tak langsung, oleh Orde Baru kepada Bung Karno sebagai tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Guntur menanggapi khusus pada penggalan “tudingan bapaknya terlibat G-30-S”. “Itu sama sekali salah. Saya tegaskan sekali lagi, tudingan itu tidak betul!” ujar Guntur lantang. Putra sulung Bung Karno itu lantas mengoreksi istilah G-30-S dengan Gestok (Gerakan Satu Oktober). Sebuah gerakan yang terjadi karena adanya oknum-oknum baik di tubuh PKI maupun di tubuh Angkatan Darat, serta adanya intervensi asing.

Gerakan mahasiswa yang dimotori Angkatan Darat, adalah satu gerakan masif, terstruktur dan berbiaya besar. Amerika Serikat berada di belakang gerakan penjatuhan Bung Karno. “Jadi ini sekaligus menegaskan dan melusurkan sejarah. Bagaimana mungkin Bung Karno yang saat itu masih berkuasa, dituding melakukan aksi makar yang itu artinya menggulingkan dirinya sendiri?” ujar Guntur yang berbicara sambil berdiri.

guntur-soekarnoputra

Tanggapan kedua diberikan kepada pembicara kedua, Prof Dr Dadan Umar Daihani. Guntur mengawali dengan intermezo kepada Dadan yang sama-sama lulusan ITB. Kampus yang kebetulan sama dengan kampus Bung Karno menyelesaikan pendidikan insinyurnya. “Kita sama-sama ITB kan? Berarti semboyan kita sama, In Harmonia Progressio….” Prof Dadan tertawa dan mengangguk-angguk.

Selanjutnya Guntur masuk ke materi presentasi Dadan, yang menyoroti pentingnya aspek pendidikan. Mas Tok, begitu ia akrab disapa, mengatakan, bahwa benar pendidikan itu penting. Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar pendidikan, yaitu pendidikan karakter bangsa, nation and character building. Bung Karno melakukan itu kepada bangsa Indonesia. Sehingga meski dalam usia muda dan baru merdeka, bangsa Indonesia bisa segera bangkit dari bangsa inlander menjadi bangsa yang memiliki kepercayaan diri tinggi.

Nah, dalam politik, yang tidak kalah penting adalah pembangunan jaringan dan kekuatan. Bung Karno sering mengistilahkan dalam gerakan politiknya dengan istilah machtsvorming, atau pembentukan kuasa atau kekuatan. Dalam konteks politik dunia, Bung Karno lantas melakukannya dengan menghimpun negara-negara Asia-Afrika menjadi sebuah kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. Ketika itu, tahun 1955, bangsa-bangsa Asia dan Afrika ditambah Amerika Latin, berhimpun dan menjadi sebuah kekuatan baru di antara hegemoni Barat dan Timur.

Selain itu, Guntur juga menyinggung soal hakikat kemerdekaan. Hakikat inti dari kemerdekaan sebuah bangsa adalah Trisakti, yang lagi-lagi merupakan ajaran Bung Karno. Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkebudayaan yang berkepribadian. Mari kita lihat, apakah Indonesia sudah merdeka? Kalau pengertiannya berhasil menjadi negara dan lepas dari penjajahan, mungkin jawabnya sudah. Tetapi apakah sudah berhasil menjalankan Trisakti? “Belum,” kata Guntur menjawab pertanyaannya sendiri.

Karena itu, Trisakti harus terus diperjuangkan. Bukan hanya oleh bangsa Indonesia, tetapi oleh seluruh bangsa di dunia. Sebab, esensi merdeka ya Trisakti itu, kata Guntur.

guntur-s

Cukup lama Guntur berbicara. Menyadari waktu yang telah ia pakai, Guntur segera bertanya kepada audiens. “Apakah bosan mendengarkan saya bicara? Yang bosan tunjuk tangan,” katanya. Audiens yang mengerti bahasa Indonesia spontan mengatakan, “Tidak!” Tetapi bagi yang tidak paham bahasa Indonesia diam… dan baru menjawab “Tidak” setelah penerjemah mengartikan kata-kata Guntur.

Maka, Guntur pun melanjutkan tanggapannya. Kali ini ia menyorot Prof Tozu. “Bicara kesana kesini, ujung-ujungnya ke batik juga,” kata Guntur disambut tawa hadirin. “Tapi, dia memang begitu. Sejak kenal saya, kalau ke Jakarta, saya ajak makan, saya ajak ngobrol. Tapi obrolannya ya berakhir ke masalah batik. Karena itu, sudahlah, saya tidak akan banyak komentar kepada profesor ahli batik yang satu ini,” kata Guntur, lagi-lagi disambut tawa hadirin.

Terhadap pembicara terakhir, Kochi, Guntur mengutip kalimat, “Bung Karno benci kepada Amerika Serikat”. Untuk kalimat itu, Guntur menanggapi, “Bung Karno tidak benci kepada Amerika Serikat. Bung Karno hormat, cinta, dan bersahabat dengan rakyat Amerika Serikat. Yang Bung Karno benci adalah pemerintahannya. Ini pun ada kisahnya.”

Guntur mengisahkan pada satu masa, di mana Indonesia membutuhkan bantuan. Bantuan yang tidak lain adalah utang luar negeri. Pada saat itu, Amerika Serikat bersedia mengulurkan bantuan (baca: utang), tetapi dengan syarat-syarat politik. “Nah, dalam rangka teguh pada pendirian Trisakti itulah, Bung Karno menolak mentah-mentah bantuan yang bersyarat. Keluarlah kata-kata Bung Karno yang terkenal, go to hell with yor aid,” Guntur mengucapkan kalimat terakhir dengan nada bergetar. Hadirin pun bertepuk tangan.

Yang terakhir ditegaskan Guntur adalah mengenai ideologi Bung Karno. “Ideologi Bung Karno bukan Pancasila, bukan Islam. Ideologi Bung Karno adalah marhaenisme,” tegas Guntur. Bung Karno beranggapan, pisau analisa tajam dalam ideologi yang digunakannya ada tiga. Pertama, historis-materialistis; kedua, geopolitik; dan ketiga tentang psikologi massa. “Adonan, atau jladren dari ketiga pisau analisa itulah yang digunakan Bung Karno dalam kebijakan politik, sosial, dan budaya,” tandasnya.

Karena itulah, Bung Karno pernah mengatakan, “Di dalam cita-cita politikku, aku adalah seorang nasionalis. Di dalam cita-cita sosialku, aku adalah seorang sosialis. Dan di dalam cita-cita sukmaku, aku sama sekali theis. Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tegas Guntur sekaligus mengakhiri tanggapannya yang panjang.

Usai berbicara, panitia memberi kejutan pemberian karangan bunga kepada Guntur, yang hari itu 3 November, berulang tahun ke-72. Penyerahan bunga diserahkan oleh salah seorang mahasiswa Universitas Kokushikan, program studi Indonesia, diiringi nyanyian lagi “Happy Birthday”. (roso daras)

Jpeg

Puti Guntur, Visiting Professor Universitas Kokushikan

Jpeg

Puti Guntur Soekarno menerima gelar Visiting Professor dari Rektor Universitas Kokushikan, Prof Keiichi Sato.

Puti Guntur Soekarno menjadi satu-satunya politisi Indonesia yang dianugerai gelar visiting professor pada jurusan Ilmu Politik, Pascasarjana Universitas Kokushikan, Tokyo – Jepang. Anugerah gelar itu diberikan Rektor Universitas Kokushikan, Prof. Keiichi Sato, PhD kepada Puti, Kamis, 3 November 2016, di kampus Setagawa, Tokyo. Puti dinilai memiliki kompetensi atas gelar tersebut.

Bertepatan penganugeranan gelar tersebut, hari itu Pusat Kajian Asia-Jepang, Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Kokushikan menggelar simposium internasional mengenai Sukarno. Dalam simposium bertema “Merefleksikan Pemikiran Soekarno dari Masa Kini Abad ke-21” itu, Puti Guntur tampil sebagai keynote speaker. Puti membawakan pidato berjudul “Pancasila Menuju Tata Dunia Baru”.

Bukan kali pertama Puti Guntur berpidato di kampus yang didirikan oleh Tokujira Shibata pada tahun 1917. Tahun lalu, Juli 2015, Puti juga berpidato di kampus yang sama, bertepatan dengan peresmian Soekarno Research Center. Saat itu, Puti membawakan pidato berjudul “Pancasila Bintang Penuntun”.

“Bagi saya, gelar ini adalah kehormatan, sekaligus kewajiban. Sebagai visiting professor, tentu saya akan mengagendakan jadwal mengajar di universitas yang memiliki hubungan historis panjang dengan Indonesia ini,” ujar Puti Guntur, usai menerima gelar tersebut.

Dikaitkan dengan termin “profesor” yang lazim dipakai di Indonesia, Puti buru-buru menegaskan, bahwa di dunia pendidikan internasional, mengenal aneka jenis gelar profesor. Di Amerika Serikat misalnya, ada sebutan assistant professor, associate professor, full professor, visiting professor (profesor tamu), professor emeritus, adjunct professor, honorary professor, serta research professor. Sedangkan di Eropa, sepeti Jerman, misalnya, ada Professor W3, professor extraordinarius, fachhochsculprofessor, profesor emeritus dan junior professor.

Sebaliknya, di Indonesia hanya memiliki satu jenis profesor, yang disebut guru besar. Sebutan atau gelar profesor mengacu pada UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dan PP 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi pasal 105 yang jelas menerangkan bahwa profesor bukan gelar akademik, melainkan jabatan fungsional untuk seorang dosen yang telah memiliki kualifikasi tertentu, yang berkaitan dengan kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas akademik (tridharma PT).

Jpeg

Puti Guntur yang anggota Komisi X DPR RI, dan antara lain membidangi masalah pendidikan menjelaskan, gelar visiting professor yang ia terima, tidak bisa dipahami dengan tata-aturan dunia pendidikan tinggi di Indonesia. “Gelar visiting professor biasa juga disebut guest professor. Ya memang begitu terminnya (di Jepang). Di Indonesia barangkali mirip dosen tamu,” kata lulusan FISIP UI itu.

Politisi PDIP kelahiran 26 Juni 1971 itu memang telah menjalin komunikasi cukup intens dengan Universitas Kokushikan. Dia bahkan sudah bertemu dengan Kepala Program Pascasarjana Jurusan Ilmu Politik Universitas Kokushikan, Prof. Masami Hirashi, Oktober 2015. Dalam kesempatan itulah, Prof Hirashi meminta kesediaan Puti Guntur menjadi visiting professor di jurusan Ilmu Politik, Pascasarjana Kokushikan.

Hari itu, penyerahan sertifikat gelar visiting professor diserahkan oleh Rektor Universitas Kokushikan, Prof. Keiichi Sato, PhD. “Saya mengucapkan terima kasih atas kesediaan Puti Guntur Soekarno menerima gelar ini, di tengah kesibukan beliau sebagai anggota parlemen. Harapan kami, langkah kecil ini bisa membawa dampak besar bagi hubungan yang lebih konstruktif antara Jepang dan Indonesia di masa mendatang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Puti Guntur menyerahkan kenang-kenangan foto berbingkai yang menampilkan tiga sosok penting dalam melandasi hubungan Indonesia – Jepang. Foto itu adalah rekaman peristiwa kunjungan Bung Karno ke Jepang tahun 1958, yang tidak lama kemudian disusul normalisasi hubungan kedua negara. Dalam kesempatan itu, Bung Karno diterima Kaisar Hirohito didampingi putra mahkota Pangeran Akihito. (roso daras)