Puti Jumpa Dua Menteri dalam Sehari

Jpeg

Kunjungan Puti Guntur Soekarno ke Jepang pada tanggal 1 – 7 November 2016 boleh dikata sangat produktif. Dalam satu hari, ia mengunjungi dua kamenterian. Siang hari diterima Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Takayuki Kobayashi, dan sorenya diterima Menteri dengan Misi Khusus, Yusuke Tsuruho.

Kantor Kementerian Pertahanan Jepang terletak di Ichigayahonmura, Shinjuku. Sedangkan kantor Kementerian Misi Khusus, terletak di kawasan Chiyoda. Keduanya masih berada di teritori Tokyo Metropolitan.

Satu catatan penting, yang bisa dijadikan pembeda antara birokrasi Jepang dan Indonesia barangkali dalam hal urusan protokoler. Baik saat berkunjung ke Kementerian Pertahanan maupun di Kementerian dengan Misi Khusus, begitu profesional. Sesuatu yang bisa dibilang “ribet” sudah tuntas jauh hari sebelum kunjungan, sehingga saat hari “H”, semua mengalir dengan begitu mudahnya.

Contoh kecil, nomor pelat mobil yang akan datang, sudah tercatat di kantor yang hendak dikunjungi. Bukan hanya nomor dan jenis kendaraan, tetapi juga jumlah dan nama tamu yang datang. Maka, ketika datang, mereka menyambut dengan sangat baik dan praktis.

Tamu biasanya dipersilakan duduk di ruang tunggu. Patut diduga, mereka melakukan verifikasi atas tamu yang datang, dan itu sama sekali tidak disadari oleh para tamu tersebut. Setelah clear, rombongan Puti Guntur pun diterima di ruang menteri. Dan di dalam ruang kerja menteri, sudah tersedia kursi sesuai jumlah tamu. Kecuali tamu utama, dalam hal ini Puti Guntur, maka yang lain akan disebut namanya satu per satu, dan dipersilakan duduk di kursi yang sudah mereka persiapkan.

Tidak ada hidangan berlebihan. Sebab, adat Jepang, dengan menjamu teh adalah satu bentuk penghormatan yang sangat tinggi. Terlebih jika tuan rumah sampai menuangkan teh untuk tamunya.

“Beda banget ya…. Kalau di (negara) kita, acara seperti ini pasti ribet konsumsi,” bisik seorang peserta rombongan sambil tertawa kecil.

Syahdan, Puti dan Tsuruho pun bertukar kartu nama. Di Jepang, bertukar kartu nama adalah salah satu tradisi yang tidak boleh dianggap remeh. Mereka sangat menghargai pertukaran kartu nama. Bahkan memiliki etika tersendiri.

Cara menyerahkan kartu nama, harus dengan dua tangan, dan meletakkan dua ibu jari di atas kartu nama, dengan cara membungkuk. Kepada orang yang lebih tua, atau seseorang dengan jabatan lebih tinggi, maka kita harus menurunkan posisi tangan saat menyerahkan, sehingga sedikit di bawah kartu nama orang yang lebih tua (yang kita hormati) atau pejabat dengan pangkat lebih tinggi.

Itu saja? Tidak. Jangan terburu-buru memasukkan kartu nama yang kita terima ke kantong atau kotak kartu nama. Itu tidak sopan, karena dinilai kurang menghargai. Juga tidak boleh terlalu lama, karena dianggap melupakan. Orang Jepang akan menahan, dan biasanya meletakkan di atas meja barang sejenak. Kapan kita menyimpan kartu nama yang kita terima? Tunggu saat orang itu mengambil dan menyimpan, maka segera ikuti, dengan menyimpan kartu nama. Jadi hampir bersamaan.

Bertamu kepada orang atau pejabat di Jepang, juga tidak etis kalau kita langsung duduk. Itu artinya, harus menunggu dipersilakan. Orang Jepang sangat correct dalam etika, termasuk cara duduk. Untuk lebih sopan dan menghargai, maka kita harus mengikuti. Saat tuan rumah masih duduk dalam posisi tegak, jangan sekali-kali kita menyenderkan punggung.

Mengingat kunjungan ke Jepang awal November lalu bukan yang pertama bagi Puti, sehingga tradisi Jepang sedikit banyak sudah dia ketahui dengan baik. Karenanya, perbincangan dengan menteri Ministry of State for Special Missions, mengalir dengan baik dan sangat akrab.

Dalam kesempatan itu, Puti teringat era Bung Karno. Pada zaman mendiang kakeknya berkuasa, pernah dibentuk satu kementerian khusus. Jabatan ketika itu disebut Menteri Negara Yang Diperbantukan. Menteri-menteri inilah yang mendapat penugasan khusus di bidang yang khusus pula.

Dalam kesempatan itu, Puti Guntur mengapresiasi model kementerian dan lembaga di Jepang yang bisa lebih lentur dan fokus. Pengadaan kementerian dengan misi spesial, diyakini mampu menjadi kepanjangan pemerintah yang efektif dalam mengoptimalkan potensi masyarakat di bidang apa pun, baik teknologi, pendidikan, seni-budaya, dan bidang-bidang lain.

Baik Tsuruho maupun Puti Guntur sama-sama berpendapat bahwa hubungan Indonesia – Jepang sangat penting. Bukan saja karena memiliki keterkaitan historis yang panjang, lebih dari itu, Jepang bagi sebagian besar negara di Asia, adalah prototipe negara maju yang sukses menjaga spirit tradisi luhur.(roso daras)

Published in: on 6 November 2016 at 18:13  Comments (1)  
Tags: ,

Patung Sudirman di Sudut Tokyo

puti-dan-patung-sudirman

Kiri: Puti Guntur Soekarno meletakkan karangan bunga di patung Sudirman. Kanan, Puti diapit Wakil Menteri Pertahanan Jepang (kanan) dan tokoh politik LDP Jepang.

 

Patung Jenderal Sudirman, menjadi satu-satunya tokoh atau pahlawan negara asing yang dipajang di Jepang. Awal November lalu, Puti Guntur Soekarno berkenan meletakkan karangan bunga di depan patung setinggi empat meter, dan terbuat dari bahan perunggu itu.

Sebelum seremoni penghormatan dan peletakan karangan bunga, Puti dan rombongan diterima Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Takayuki Kobayashi di kantornya, di kawasan Shinjuku – Tokyo. Wamen Kobayashi mengawali ramah-tamah dengan menanyakan, “apakah kedinginan?”, lalu dengan ramah menawarkan Puti Guntur dan tamu yang lain menyeruput green-tea yang menghangatkan.

Dalam kesempatan itu, pejabat kelahiran 29 November 1974 itu menceritakan awal-mula berdirinya patung Sudirman di halaman belakang Kantor Kemhan Jepang. Kobayashi mengatakan, patung itu adalah pemberian Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro empat tahun lalu (2012). “Kementerian Pertahanan Jepang menyetujui peletakkan patung Jenderal Sudirman, mengingat banyak nilai-nilai positif yang patut menjadi teladan,” ujarnya.

Puti Guntur melalui penerjemah mengatakan sependapat dengan Kobayashi. Sudirman pantas mendapatkan posisi di Jepang, mengingat selain sebagai pahlawan bagi bangsa Indonesia, “jenderal besar” itu juga menjadi lambang bagi tradisi etos kerja tinggi, disiplin, dan loyalitas. Sikap itu antara lain didapat Sudirman saat berhenti menjadi guru, dan bergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air), gemblengan tentara Jepang tahun 1943.

Kobayashi mengangguk-angguk demi mendengar Puti Guntur menyebut PETA. Seolah ia mengingat masa-masa kekuasaan Jepang di Indonesia. Pejabat lulusan John F Kennedy School of Government, Harvard University itu lantas mengemukakan harapannya, agar melalui peletakkan patung tersebut, dapat meningkatkan kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan Jepang.

Sedikit menyinggung tentang bidang tugasnya, Kobayashi yang juga politisi partai berkuasa, LDP (Liberal Democratic Party/Partai Demokratik Liberal) itu menyinggung soal pentingnya membina suasana damai antar-negara. “Indonesia dan Jepang sama-sama negara demokratis. Kita tentu sepakat, bahwa demokrasi senantiasa memperjuangkan kedamaian. Karena itu, kami sangat prihatin dengan permasalahan di Laut China Selatan,” ujar Kobayashi.

Puti Guntur, yang juga Anggota DPR RI Komisi X dan membidangi antara lain soal Pemuda, Olahraga, dan Pendidikan itu, mencoba tidak memasuki wilayah politik luar negeri lebih jauh. Puti hanya menegaskan, bahwa sebagai warga negara Indonesia, ia berharap persoalan Laut China Selatan bisa diselesaikan secara damai.

img-20161106-wa0023Paham tamunya tidak mau terseret dalam isu panas di Laut China Selatan, maka Kobayashi segera memecah suasana melemparkan statemen, “Bagi saya, Indonesia bukan negara asing. Usia lima tahun, saya pernah tinggal di Jakarta mengikuti ayah yang bekerja di sana. Kemudian setelah menjadi pejabat, saya juga mengunjungi Indonesia. Indonesia sungguh negara yang baik. Dalam konteks Hankam, Indonesia adalah negara yang sangat penting bagi Jepang,” papar Kobayashi yang pernah menjabat Menteri Keuangan itu.

Usai ramah-tamah, Kobayashi diserta sejumlah staf kementerian dan partai, mengantar para tamu dari Indonesia menuju lokasi Patung Jenderal Sudirman. Sesampai di sana, protokol mengatur posisi berdiri berbaris menghadap patung, lalu memberi penghormatan. Sebuah karangan bunga sudah disiapkan, dan Puti Guntur meletakkan karangan bunga itu di bawah patung Jenderal Sudirman. Usai serangkaian kegiatan, Puti dan Kobayashi masih terlibat obrolan santai sambil berjalan ke area parkir.(roso daras)

foto-di-depan-patung-sudirman

Dari kiri: Syandri, Syahan (putra-putri Puti), anggota parlemen dari Partai LDP Jepang, Joy Kameron (suami Puti), Puti Guntur Soekarno, Wamenhan Jepang Takayuki Kobayashi, Profesor Masakatsu Tozu (profesor emeritus Universitas Kokushikan), dan Roso Daras.