Sekilas Info

IMG-20150324-WA000

Permisi saudaraku….

Numpang promo acara Kompas TV yang bertajuk “Three in One”. Tayangan Rabu, 25 Maret 2015 besok, mengangkat tema “Warisan Soekarno”. Acara yang tayang pukul 20.00 WIB itu, menampilkan tiga host (karenanya dinamakan Three In One).

Edisi besok malam, menghadirkan empat narasumber. Dua orang cucu Bung Karno, satu orang anak Bung Karno, dan seorang lagi Sukarnois. Siapa-siapa saja mereka, dan apa-apa saja yang dibincangkan, baiknya saksikan saja langsng. Hehehe….

Published in: on 24 Maret 2015 at 06:58  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Beda Inggit dengan Wanita Eropa

inggit-levasseur-christiane-crecence

S.I. Poeradisastra seorang penulis hebat lagi produktif. Dalam buku “Kuantar ke Gerbang – Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno” tulisan Ramadhan KH, ia memberi kata pengantar yang sungguh menarik. Bukan saja karena gaya bertuturnya yang enak dibaca, lebih dari itu, penulis yang acap menggunakan nickname Boejoeng Saleh ini, menunjukkan kekayaan literasi yang dimilikinya, sebagai bumbu-penyedap.

Di salah satu bagian, ia menyandingkan sosok Inggit dengan tiga orang perempuan “biasa”, sebagai pendamping orang besar. Pertama ia sebut nama Marie Therese le Vasseur (1721-1801). Ia adalah istri Jean Jacqus Rousseau, seorang filsuf, penulis, sekaligus komposer besar kelahiran Genewa, Swiss (1712), dan meninggal dunia di Perancis (1778).

Kedua, Inggit disandingkan dengan “wanita biasa” pendamping orang besar lain, yaitu Christiane Vulpius (1765 – 1816). Ia adalah istri dari Johan Wolfgang von Goethe, pujangga besar bangsa Jerman (1749 – 1832).

Terakhir, Inggit diumpamakan Crecence Eugenie Mirat ( 1815 – 1883), istri Heinrich Heine, sastrawan, jurnalis, dan esais handal yang lahir di Dusseldorf, Jerman (1797) dan wafat di Perancis (1856).

Inggit yang notabene tidak berpendidikan (konon hanya pernah belajar di madrasah), tetapi ia belajar banyak dari apinya perjuangan bangsa. Sekalipun bukan keturunan bangsawan, tetapi budi-pekertinya sangat luhur.

Upaya menyandingkan Inggit dengan tiga wanita asing pendamping tokoh-tokoh dunia tadi, sesungguhnya tidaklah terlalu tepat. Bukan saja karena besarnya perbedaan kultur, lebih dari itu, ketiga tokoh wanita Eropa tadi, memang berbeda dengan Inggit. Berbeda asal-usulnya, berbeda kadar perjuangannya, dan berbeda pula ending-story-nya.

Marie Thérèse Le Vasseur misalnya, dia adalah keturunan pejabat di Orleans, sementara ibunya adalah seorang pedagang. Ia “ditemukan” Rousseau sebagai pekerja tukang cuci dan pelayan di Hotel Saint-Quentin, di Rue des Cordiers, Jenewa sebagai wanita matang berusia 24 tahun. Rousseau sendiri 33 tahun. Pernikahan mereka dikaruniai lima orang anak.

Le Vasseur juga mewarisi harta suaminya, termasuk naskah dan royalti. Bahkan, setelah kematian Rousseau tahun 1778 , ia menikah dengan lelaki lain, Jean Henri Bally, setahun kemudian. Mereka tinggal bersama di Le Plessis – Belleville sampai kematiannya pada 1801. Jauh benar kisah le Vasseur dengan Inggit, bukan?Akan halnya Christiane Vulpius (1765 – 1816). Christiane Vulpius tak terlacak jejak pendidikannya. Sejumlah literatur hanya menyebutkan, bahwa setidaknya dia belajar membaca dan menulis. Ia pernah menjadi pekerja pabrik yang memproduksi topi.Meski begitu, saudara laki-lakinya tergolong orang berpendidikan pada masanya.Pada12 Juli 1788ChristianeVulpius bertemuJohannWolfgangvonGoethe, yang merupakan sahabat kakaknya. Mereka menjalin hubungan rahasia selama delapan tahun! Baru padamusim semi1789,mereka tidak lagi menyembunyikan hubungannya. Goethe yang radikal bahkan rela menabrak norma-norma sosial dengan kumpul-kebo hingga beranak pinak. Mereka sedikitnya melahirkan empat orang anak (dua meninggal cepat). Sejak bertemu dan berselingkuh tahun 1788, mereka baru meresmikan pernikahannya 18 tahun kemudian, tepatnya19 Oktober 1806.

Kesamaan apa yang ada pada diri Christiane dengan Inggit? Jauh pula kiranya.

Nah, bagaimana dengan pengumpamaan Inggit dengan Crecence Eugenie Mirat (1815-1883) istri Heinrich Heine yang masyhur itu? Heine yang menjumpainya tahun 1934, saat Eugenie berusia 19 tahun itu, awalnya sangat tidak tertarik. Wanita yang juga akrab dipanggil “Mathilde” itu di mata Heine sebagai wanita “rendah” lantaran tidak bisa baca-tulis, tidak berkelas. Intinya, Heine tidak punya ketertarikan secara bidaya maupun intelektual terhadap Mathilde.

Tak digambarkan secara rinci bagaimana akhirnya Heine mengajak hidup bersama Mathilde pada tahun 1836, dua tahun sejak pertemuan pertamanya. Keduanya baru melangsungkan pernikahan pada tahun 1841, dan hidup bersama hingga maut memisahkan keduanya. (roso daras)

Sukarno Kecil “Mabok Bima”

bimaPenulis biografi pertama Bung Karno yang terbit tahun 1933, Im Yang Tjoe, dalam bukunya “Soekarno Sebagi Manusia”, benar-benar berusaha keras merekonstruksi masa kecil Bung Karno. Meski tidak menyebut tonggak-tonggak waktu, tanggal, bulan, tahun, tetapi bagi pembaca, kiranya tidak terlalu menyulitkan.

Seperti misalnya, ketika Im Yang Tjoe menulis ihwal kakeknya, Raden Hardjodikromo yang menyekolahkan Sukarno saat usia 6 tahun, spontan kita bisa mahfum, bahwa peristiwa itu terjadi tahun 1907, mengingat Bung Karno lahir tahun 1901. Adalah sekolah desa di Tulungagung, tempat Sukarno kecil untuk pertama kali “memakan-bangku-sekolah”.

Im Yang Tjoe melukiskan hari-hari pertama sebagai murid, Sukarno adalah murid yang bodoh lagi bengal. Apa soal? Soal sebenarnya, menurut hemat penulis, bukan karena otak Sukarno tidak encer. Lebih karena Sukarno lagi “mabok-bima”…. Ya, hari-hari bersama Wagiman, selalu diisi kisah-kisah heroik tokoh Bima dalam epos Mahabharata.

Siapa Wagiman? Wagiman adalah seorang perangkat desa yang miskin harta tetapi kaya hati. Ia menjadi sahabat Sukarno kecil. Pulang sekolah, Sukarno akan mencari Wagiman. Kalau tidak dijumpainya di rumah, Sukarno akan menyusulnya ke sawah. Jika keduanya sudah bertemu, obrolan mereka umumnya wayang. Dari sekian banyak tokoh wayang, Sukarno paling tertarik dengan tokoh Bima, sang penegak Pandawa.

Meski begitu, sesekali, Sukarno melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang “terlalu-tua” untuk bocah seusianya. Misalnya, pertanyaan, “Mengapa engkau begitu miskin?” Dengan penuturan versi Wagiman, Sukarno kemudian bisa merekonsruksinya menjadi sebuah pelajaran berharga tentang betapa penjajahan tak lebih dari pemelaratan rakyat.

Tentu saja, topik-topik filosofi wayang, ilmu politik, ilmu tata-negara, tidak didapatnya di bangku sekolah desa tempat ia bersekolah. Bukan karena cabang-cabang ilmu tidak ada, melainkan, materi itu memang bukan materi pelajaran bagi siswa sekolah dasar tingkat dewa. Di negeri jajahan pula. Terhadap murid-murid inlander pula. Bisa jadi, ini yang membuat Sukarno menjadi murid yang malas untuk menyimak pelajaran di sekolah. Ia lebih senang menggambar wayang, sambil imajinasinya mengembara kemana-mana.

Mungkin saja, ia sedang berimajinasi menjadi seorang Bima yang kemudian dengan gagah-berani menghapus keangkara-murkaan di atas bumi. Mungkin saja ia sedang membayangkan menjelma menjadi Bima, kemudian memakmurkan orang-orang miskin di negaranya. Bisa jadi, ia sedang berkhayal menjadi seorang Bima menjadi panglima bagi tegaknya kebenaran dan keadilan di jagat-raya. Ah, entahlah.

Yang pasti, ketika guru menyuruh murid-murid menirukan gerakan menulis huruf demi huruf, Sukarno malah menggambar profil wayang Bima yang gagah, dengan gelung sinupiturang, lengkap dengan kuku pancanakanya. Ya, Sukarno bukannya memperhatikan pelajaran guru, melainkan menggambar wayang Bima! (roso daras)

Lokat Kembang Hinis Jati buat Inggit

inggit-roso darasBermula dari sebuah “tag” di akun FB, ihwal pameran foto dan artefak Inggit Garnasih di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, saya tergerak untuk menyaksikannya. Selasa sore, 24 Februari 2015, saya meluncur ke Kota Kembang. Percayalah, gedung Indonesia Menggugat, relatif tidak asing buat saya, tetapi “Ini Bandung Bung!”…. Artinya, tetap saja tidak bisa mencapainya tanpa bertanya.

Kalau saja saya gunakan aplikasi waze, mungkin lebih mudah, toh saya memilih cara yang lebih sulit. Secara manual saya bertanya arah… Dari empat kali bertanya, saya acak, memilih dari anak muda, hingga yang kisaran umur 50-an. Jangan ditanya, mengapa untuk bertanya saja saya memilah usia? Saya sudah katakan, “memilih cara yang lebih sulit?”

Kepada sekelompok anak muda di depan BIP saya bertanya, “Maaf dik, boleh saya bertanya? Arah mana menuju Gedung Indonesia Menggugat?” Saya perhatikan ekspresi dan responsnya. Ternyata mereka hanya saling pandang, gagap. Saya timpali dengan pertanyaan kedua, “Itu lho, gedung bersejarah tempat Bung Karno dulu diadili Belanda….” Saya nantikan responsnya, …. Blank!!!

Sejatinya, peristiwa itu tidak berarti apa-apa, jika kita melihatnya dalam konteks, bahwa Gedung Indonesia Menggugat bukan tempat yang asyik buat dikunjungi. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat tidak semenarik mal atau tempat kongkow lain. Bahwa Gedung Indonesia Menggugat, kurang penting. Bahwa saya prihatin, iya!

Nah, karena memilih cara sulit itulah, saya tiba di lokasi terlambat 30 menit. Meski begitu, saya masih kebagian prosesi pembukaan acara. Kesimpulannya, belum telat-telat amat…..

Bukan pejabat, bukan kerabat Inggit, bukan juga tokoh masyarakat… melainkan empat orang Marhaen yang diberi kehormatan panitia untuk menggunting seutas-tali-berpita-merah-putih-di-tengah, tanda diresmikannya pameran foto dan artefak Inggit Garnasih. Mereka adalah Achmad (juru pelihara penjara Banceuy), Akhmad (juru pelihara Gedung Indonesia Menggugat), Jajang (juru pelihara rumah bersejarah Inggit), dan Oneng (juru pelihara makam Inggit).

Tali digunting sudah. Dua daun pintu besar peninggalan Belanda itu pun dikuak…. Gelap… berasap… beraroma dupa. Memasuki ruang tengah, tampak sebuah ritual tengah digelar. Dari Budi Gunawan, salah satu personel panitia saya beroleh gambaran tentang ritual yang tengah digelar itu.

pembukaan pameran inggit

“Lokat Kembang Hinis Jati”, adalah tagline ritual magis tersebut. Budi menggambarkan, bahwa ritual ini merupakan persembahan kepada Ibu Inggit Garnasih. Persembahan sekaligus ungkapan rasa bangga tiada tara kepada sosok perempuan yang sangat tajam melihat masa depan bangsanya. Selain itu, ritual ini juga sebagai penghargaan atas keteguhannya menghadapi berbagai rintangan. Bahkan Inggit begitu kuat serta berani berkorban menghadapi segala tantangan demi Indonesia merdeka.

“Kembang” dimaknai sebagai perjuangan Inggit yang tetap mewangi, menghampar di persada bangsa untuk selamanya. “Hinis” adalah pengibaratan ketajaman intuisi Inggit Garnasih seperti tajamnya (hinis) bambu. Sejarah hidup dan kehidupannya telah menunjukkan ketajaman batin melihat Indonesia jauh ke depan.”Jati” adalah pohon yang kuat sekaligus kokoh. Ini adalah perlambang bagi seorang Inggit yang kuat dan kokoh menghadapi segala macam cobaan dan ujian dalam hidup.

Tampak, sembilan orang (satu perempuan) duduk melingkar. Di tengah, seorang penari cantik bersimpuh di hamparan bunga-bunga. Kesepuluh pelaku ritual itu adalah Neneng S Dinar, Ki Ustad Ridwan CH, Bah Enjum, Neneng R Dinar, Doni Satia Eka, Deni Rahmat, Bah Nanu, Neng Enok, Asep Gunawan, dan Gunadi.

Mereka membakar dupa…. tiupan suling menyayat-nyayat hati… ditingkah tembang Sunda yang melantun-mendayu…. Sejurus kemudian, sang penari memupus diam, dan melenggangkan gerakan pelan penuh penghayatan. Di sudut sana, meningkahi dengan mantram, doa, dan cucuran kata-kata puisi bermuatan kritik-sosial.

ritual inggit

Tak lebih 30 menit, ritual pun usai. Byarrrr lampu menyala…. Pelaku ritual menepi, dan panitia menyilakan hadirin untuk melihat-lihat materi pameran.

tito-roso-inggit-okAlhamdulillah saya bisa hadir di acara itu. Terlebih, saya bisa bersilaturahmi dengah “saudara” Tito Asmarahadi, cucu mendiang Inggit, putra pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi. Tentunya berkat kata-kata “setuju” dari Tito-lah pameran ini tergelar.

Tito pula yang mengizinkan sejumlah artefak seperti alat membuat jamu yang digunakan Inggit, dipamerkan dalam kesempatan itu. Bukan hanya itu, Tito juga mengizinkan meja belajar Bung Karno semasa kuliah di THS dipamerkan juga. “Masih ada artefak lain, tapi karena soal teknis, belum bisa dipamerkan semua,” ujar Tito.

Akhirnya, saya bersyukur bisa berada di tengah komunitas pecinta Inggit Garnasih, dus… pecinta Bung Karno juga. (roso daras)