Yang Lain Kuncung, Sukarno Gundul

Rumah R Hardjodikromo TulungagungKediaman kakek Bung Karno, Raden Hardjodikromo di Kepatihan, Tulungagung.

Apa masih ingat potongan rambut striker Brazil, Ronaldo di Piala Dunia Korea-Jepang tahun 2002? Rambut potongan kuncung. Modelnya ada sejumput rambut di atas jidat, sementara bagian lainnya gundul. Itulah potongan rambut anak-anak (khususnya di Jawa) zaman dulu. Hampir semua anak laki-laki memakai potongan rambut model itu.

Apa hubungan rambut kuncung dengan Sukarno kecil? Tidak ada. Justru karena Sukarno kecil –mungkin– menjadi satu-satunya anak laki-laki pada zamannya, yang tidak berambut kuncung. Kakeknya. Raden Hardjodikromo, mencukur gundul. Jadilah ia anak yang “berbeda” dari kebanyakan teman bermainnya.

Ya, Sukarno kecil hidup bersama kakek-neneknya di Tulungagung, Jawa Timur. Bersama mereka, Sukarno hidup sehat, trengginas, kuat, dan menjadi boss bagi teman-teman sebaya (bahkan teman yang lebih besar darinya). Berbeda dengan ketika ia tinggal di Surabaya bersama bapak-ibunya. Sakit-sakitan. Kurus. Pucat-pasi.

Alhasil, Tulungagung menjadi bumi yang dipercaya Tuhan untuk melindunginya dari segala jenis penyakit. Tulungagung, seperti halnya sang kakek, ikut memanjakan Sukarno kecil. Bahkan, terkesan membiarkan saja, ketika Sukarno menjadi bocah kecil yang ugal-ugalan.

Dalam setiap bermain, Sukarno memang paling “bengal”. Ia paling berani. Jika yang lain memanjat pohon pada dahan yang rendah, tidak Sukarno. Ia akan memanjat hingga dahan yang paling tinggi. Ya, tentu saja setinggi pohon yang bisa dipanjat oleh anak usia tiga tahunan.

Singkatnya, Sukarno segera saja terkenal di desa yang sekarang disebut Desa Kepatihan atau Desa Bago. Desa Kepatihan dan Desa Bago adalah dua desa yang saat ini secara administratif merupakan dua desa yang berbeda, termasuk wilayah Kecamatan Tulungagung. Letak keduanya berdampingan searah barat-timur. Itu Kepatihan/Bago yang sekarang.

Kepatihan/Bago tahun 1904, tentu berbeda keadaannya. Kita hanya bisa berimajinasi tentang sebuah desa yang rimbun dengan sedikit rumah, sedikit anak-anak, sedikit aktivitas. Dalam masa-situasi seperti itulah Sukarno tumbuh menjadi anak yang paling kesohor.

Menurut penuturan penulis buku “Sukarno Sebagi Manusia” (sebagi = sebagai), Im Yang Tjoe, teman-teman bermainnya selalu tunduk dan patuh atas perintah Sukarno. Ia melukiskannya, bukan ketakutan yang berkonotasi inferior, melainkan lebih kepada sikap patuh karena mengagumi.

Beda lagi anggapan sang kakek, Raden Hardjodikromo. Lelaki alim yang disegani seluruh penduduk Kepatihan/Bago itu, sudah mengetahui, Sukarno memiliki sorot mata seperti mata kucing candramawa, tajam-menyala, sekaligus mampu menyihir siapa pun yang ditatap, menjadi berada di bawah pengaruhnya. Pendeknya, Hardjodikromo yang notabene masih keturunan Sultan Hamengku Buwono II itu yakin betul, Sukarno “bukan anak biasa”.

Tentang mata Sukarno, suatu hari, sang kakek pernah mengungkapkannya langsung kepada sang cucu, “Matamu seperti mata kucing candramawa….”

Sukarno kontan menyergah, “Bukan, aku Bima!” Berkata begitu sambil membusungkan dada, menegakkan badan, membesar-besarkan postur tubuhnya yang masih kecil itu. Keruan saja, sang kakek pun tertawa terpingkal-pingkal.

Tokoh Bima memang menjadi idola Sukarno sejak kecil. Tak heran jika kelak, ketika usianya menginjak 15, dan menjadi siswa HBS di Surabaya, ia memakai nama itu dalam setiap artikel yang ditulisnya. Tokoh Bima, mematrikan sebuah watak menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.

Kebedaan Sukarno pun tampak dari kesukaannya menonton pakeliran wayang kulit purwa. Jika anak-anak sebaya sudah terkantuk-kantuk sebelum malam berada di pucuknya, maka Sukarno betah melek hingga pagelaran wayang usai di subuh hari. (roso daras)

Published in: on 21 Februari 2015 at 08:44  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2015/02/21/yang-lain-kuncung-sukarno-gundul/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bung Karno telah tiada, tetapi sisi2 kehidupannya selalu memberikan pesona tersendiri. Jejak2 yg selalu pantas untuk dikenang.

  2. Lucu bacanya…. Tapi, senang bisa menemukan blog ini dari sebuah artikel di Detik.com. Saya akan sering berkunjung ke blog ini. Keep posting pak Roso.
    Salam kenal, saya Adit, anak mantan pengawal Bung Karno.

    • terima kasih adit…. BTW, orang tua masih ada? Kalau masih, saya pengen sekali bisa ngobrol2 tentang pengalaman beliau menjadi pengawal Bung Karno.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: