Bung Karno Putra Maninjau

danau maninjau

Ah, ada-ada saja Bung Karno ini. Mengaku diri sebagai putra Maninjau, bukankah berlebihan? Bukankah dia lahir di Surabaya, berayahkan Jawa dan beribukan Bali? Dari mana silsilah mesti ditelusur, untuk membenarkan pernyataan Si Bung Besar ini?

Kiranya, inilah “risiko menjadi anak rakyat”. Dia banyak direngkuh sebagai anak. Dirangkul sebagai saudara. Dipinang bak putra mahkota. Tahun 1948, ketika mengunjungi Maninjau, sebagai presiden dari republik yang masih tertatih-tatih jalannya, Bung Karno menjlentrehkan asal-usulnya sebagai “putra Maninjau”.

Di hadapan rakyat yang menyemut, dia pun berpidato, “Maninjau yang indah permai,” kata Bung Karno seraya melanjutkan, “dengan danaunya yang dahsyat, dengan sawahnya bersusun, dengan jalannya berkelok, terlukis dalam sanubari Bung Karno sebagai negerinya sendiri. Tahukah Saudara-saudara, bahwa Bung Karno ini adalah anak Maninjau?” Nah, itulah awal dia menyebut diri putra Maninjau. Sontak, ribuan pasang mata saling beradu tatap. Orang pun heran!

Segera dia melanjutkan pidatonya, “Bung Karno tidak main-main. Bung Karno adalah anak emasnya orang Maninjau, eere burger-nya orang Maninjau. Ketika Almarhum Haji Rasul, Dr. A Karim Amrullah masih hidup di Jakarta, dia telah berkata kepadaku, ‘Engkau adalah anakku hai Karno!’ Sebab itu, pandanglah Bung Karno sebagai memandang orang Maninjau sendiri.”

Begitulah, dia menjelaskan asal-usulnya sebagai “orang Maninjau”. Eere burger, artinya warga kehormatan. Sedangkan almarhum Haji Rasul, adalah tokoh Maninjau, Agam, Sumatera Barat yang sangat disegani. Terlahir dengan nama Muhammad Rasul. Dia bergelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Haji Rasul dikenal juga sebagai Dr. A. Karim Amrullah. Salah satu putranya, adalah HAMKA (nama pena dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Itu artinya, Bung Karno dan Hamka “bersaudara” bukan? Ini menarik, karena mereka juga memiliki kisah unik yang patut dikenangkan seluruh anak bangsa. Tapi, kita kembali dulu ke Bung Karno dan Maninjau, danau dengan luas 99,5 km persegi yang disebut Bung Karno “dahsyat” itu.

Bahkan khusus untuk Maninjau, Bung Karno spesial membuatkan sebuah pantun, sebagai berikut:

“Jika adik memakan pinang

Makanlah dengan sirih yang hijau

Jika adik datang ke Minang

Jangan lupa datang ke Maninjau”

Berbahagialah Maninjau, pemilik Sukarno. Seperti halnya Ende dan Bengkulu tempat sebagian hidupnya dihabiskan sebagai interniran. Juga Brastagi, Parapat yang nyaris menjadi hari terakhir dalam hidupnya. Itu artinya, jangan lagi kita heran, jika suatu hari, sejarah merilis bahwa ternyata, Bung Karno juga putra Aceh, anak Kalimantan, putra Sulwesi, Maluku, bahkan Papua. Dialah sebenar-benarnya putra Ibu Pertiwi. (roso daras)

roso daras di maninjau

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2014/07/24/bung-karno-putra-maninjau/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nasionalis sejati yang memahami denyut nadi bangsanya, merangkul keberagaman yang sudah ada di bumi nusantara.

  2. Salam kenal pak, izinkan saya bertanya, apakah bisa anda memberikan informasi kontak (no hp dsb) Bapak Permadi S.H.?

    Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan kepada beliau

    Terima kasih

    A. R. Qomareza (17)
    Blitar
    qomareza@gmail.com
    facebook.com/qomareza

  3. Bung Karno adalah pemimpin yg sangat luar biasa dan harum namanya di bumi pertiwi. Ideologinya sungguh hebat.

  4. Pak lek, boleh minta contact panjenengan yg bisa dihubungi..?
    Pin bb ato e-mail panjenengan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: