Prabowo atau Jokowi?

capres-cawapres

Pertanyaan “seksi”, “Bagaimana menurut Bung Roso, Prabowo atau Jokowi?” Sungguh, pertanyaan itu bertubi-tubi ditujukan ke saya, baik melalui kontak BBM, sms, FB, telepon, bahkan saat bertemu-muka. Atas itu semua, pada 22 April 2014, saya menulis di akun FB begini: “Saudara-saudara… bersama ini saya tegaskan, sebagai manusia yang sedang dan terus belajar menjadi Sukarnois, saya bukan dan tidak identik dengan PDIP dan segala turunannya. Saya tidak berada di parpol apa pun! Tidak berada di kubu tim sukses siapa pun. Sukarno itu bapak bangsa. Milik semua rakyat Indonesia. Terima kasih.”

Mestinya cukup jelas bukan? Entah mengapa, masih juga banyak kawan yang menyeret-nyeret saya untuk mendukung salah satu kandidat capres. Dalam skala yang paling kecil, ya itu tadi, sekadar bertanya, tentang siapa calon presiden pilihan saya. Tentu saja saya masih berusaha konsisten untuk tidak terjebak pada politik praktis.

Meski begitu, bukan berarti saya berbeda dengan Anda, sidang pembaca blog yang mulia. Bahwa saya, seperti halnya Anda, juga memiliki pemikiran terhadap Prabowo dan Jokowi. Pemikiran saya bisa sama persis, bisa mirip, bisa berbeda, bahkan bisa bertentangan sama sekali dengan pemikiran Anda. Akan tetapi, bukankah perbedaan adalah rahmat?

Tetapi meruncingkan perbedaan, bukan ide yang baik, terlebih saat ini, saat bangsa sedang dalam tensi tinggi jelang Pilpres. Akibat sistem demokrasi liberal hasil amandemen UUD 1945, kita menjadi bangsa yang terjebak pada politik ugal-ugalan. Mencermati “perang-opini” yang ada di sosial-media, terkadang saya miris. Mengapa hanya untuk mendukung salah satu Capres (yang ironisnya, capres itu tidak kenal dengan orang-orang itu), harus tega mengeluarkan kata-kata kasar. Sadis, menurut saya.

Gelar Pilpres akan selesai (diperkirakan satu putaran) pada 9 Juli 2014. Ya, tidak lama lagi. Setelah itu, suka atau tidak suka, salah satu di antara Prabowo dan Jokowi akan menjadi Presiden RI ke-7. Kemudian, kita akan “menikmati” kepemimpinan satu di antara mereka. Puaskah? Ada yang puas dan ada yang tidak. Sama seperti para pemilih SBY yang kemudian tidak puas dengan kinerja SBY. Di sisiĀ  lain, tentu saja ada yang puas dengan kepemimpinan SBY.

Pada 21 September 2012, saya menulis di blog ini, Bung Karno: Jangan Jadi Salon Politisi. Isinya, menyitir Bung Karno (seperi biasa), dan menyandingkan dengan pendapat saya tentang kemenangan Jokowi atas Fauzi Bowo dalam Pilkada DKI Jakarta. Tulisan itu, dengan sadar saya posting setelah Jokowi menang, dan tinggal menunggu tanggal pelantikan. Artinya, dengan sadar pula saya membuat tulisan itu tidak akan mempengaruhi hasil Pilkada DKI.

Apa yang terjadi? Pasukan pembela Jokowi memberondong saya dengan komentar-komentar yang beraneka ragam. Dari yang nyinyir sampai sumpah serapah. Saya toh harus menggumam, “Indahnya perbedaan”… sambil tersenyum kecut, meratapi segelintir anak negeri yang kurang cerdas.

Sama seperti momen Pilpres ini. Tanpa diseret, tanpa ditanya, saya pun akan membuat tulisan tentang Prabowo atau Jokowi dari perspektif saya, dengan cantelan Bung Karno, tentunya. Ya, supaya jelas koridornya, saya harus membingkai dengan Bung Karno. Tetapi bukan sekarang. Bukan hari ini, dan bukan besok. Tapi SETELAH tanggal 9 Juli. Mengapa? Ya, karena saya tidak ingin, apa pun tulisan saya tentang Prabowo atau Jokowi, mempengaruhi opini publik, dan diangggap saya berkampanye untuk kepentingan salah satu di antara keduanya.

Alhasil, sedikit saja imbauan saya buat sidang pembaca blog yang mulia…. Jaga kerukunan bangsa. Jaga persatuan nasional. Berkata menyakiti, kadang dengan mudah akan dimaafkan (pada akhirnya), tetapi bekas itu tidak akan segera hilang. Luka-luka bekas pertikaian sesama anak negeri, sesungguhnya suatu bentuk penggerogotan atas jiwa dan semangat gotong-royong kita sebagai bangsa. Bangsa besar bernama Indonesia. (roso daras)

Published in: on 8 Juni 2014 at 04:29  Comments (11)  
Tags: , , , ,