Swerdlovsk, di Antara Besi Baja dan Anak-anak yang Bahagia

Swerdlovsk2

Laporan berikutnya, mengabarkan Bung Karno sudah tiba di Kota Swerdlovsk. Salah satu pusat industry paling besar di Uni Soviet. Bung Karno dan rombongan mengunjungi pabrik Uralmasj Sergo Ordjonikidze di mana dibikin mesin-mesin berat.

Pabrik raksasa itu membikin peralatan bagi industri logam dan pertambangan untuk seluruh negeri Soviet dan juga untuk diekspor. Pabrik itu adalah lambang berkembangnya industri ural, atau salah satu basis industri biji besi di negara itu. Apalagi kalau diingat bahwa sejarahnya, kurang lebih seperempat abad yang lalu, hanya hutan dan rawa saja yang terdapat di situ.

Di Pabrik Uralmasj terdapat mesin-mesin besar, serta dapur yang melelehkan baja yang menyala-nyala. Bising palu uap yang mengetok-ngetok memberikan kesan yang tidak bisa dilupakan. Tamu-tamu berhenti melihat mesin penekan (press) yang besar yang kekuatan tekanannya sampai 10.000 ton. Mesin itu mengolah potongan logam yang 160 ton beratnya. Presiden Sukarno bercakap-cakap dengan seorang buruh yang terkemuka di pabrik itu, bernama Yakov Lipin.

Uralmasj Sergo Ordjonikidze“Kalau perlu buat Indonesia,” demikian Yakov Lipin, “sudilah kiranya kirim buruh Indonesia ke pabrik kami ini. Kami sedia menyampaikan kami punya pengalaman kepada mereka”. Bung Karno tersenyum dan membalas tawaran baik Lipin, “Baik, kalau mungkin nanti kami kirim.”

Rombongan Presiden diantar antara lain oleh seorang tukang palu yang terkenal Timofei Oleinik yang memberi penjelasan-penjelasan. Di salah satu tempat dia mengatakan, “Di bagian pabrik yang kami lewat ini dibikin peralatan bagi mesin walz yang dipesan oleh India”.

Setelah cukup meninjau pabrik peleburan besi terbesar itu, Bung Karno dan rombongan pun berpamitan. Tak disangka, baru saja tamu-tamu meninggalkan lokasi pabrik “Uralmasj” tampak beribu-ribu penduduk dari kampung buruh “Uralmasj” berkumpul di Lapangan “Plan Lima Tahunan Pertama”, yang letaknya di muka pabrik “Uralmasj”. Mereka pun mendaulat Bung Karno untuk berpidato.

SwerdlovskDalam pidatonya di rapat raksasa itu Presiden Sukarno mengatakan antara lain: “Di dalam Uralmasj ini saya melihat mesin-mesin, melihat alat-alat, melihat segala macam mesin-mesin yang diperlukan untuk industri. Mesin-mesin seperti itu pernah dipergunakan oleh bangsa lain untuk menindas rakyat kita, menghisap kita. Itu terjadi karena stelsel, sistemnya masyarakat di negeri yang menjajah kami itu adalah salah. Tetapi mesin-mesin yang ada di ‘Uralmasj’ bukan untuk menghisap manusia, bukan untuk menindas bangsa-bangsa lain. Mesin-mesin itu diperuntukkan buat membawa kesejahteraan dan kemakmuran untuk segala bangsa di Uni Soviet dan bahkan untuk menyumbang kepada kemakmuran dan kesejahteraan bangsa-bangsa lain.”

Di Swerdlovsk tamu-tamu melihat museum geologi di mana distelongkan beribu-ribu macam batu yang terdapat di dalam bumi Ural yang kaya itu. Secara meriah utusan-utusan Indonesia disambut oleh pelajar-pelajar sekolah di Istana Pionir Swerdlovsk. Sesudah melihat kamar-kamar yang terang dan besar di mana terdapat segala apa saja untuk mengembangkan bakat angkatan muda Soviet, maka Presiden Sukarno mengatakan, “Anak-anak berbahagia di sini”.

Dalam buku kesan, Presiden Sukarno menulis bahwa beliau ingin membangun istana-istana seperti di Swerdlovsk itu bagi anak-anak di Indonesia. Kesan itu ditandatangani Bung Karno. Tak lupa, murid-murid sekolah Soviet minta sampaikan salamnya yang hangat kepada anak-anak di Indonesia. (roso daras)

Di Petrodvorets, Bung Karno Terkenang Revolusi Rusia 1917

petrodvorets-10

Sebelum banyak terselip oleh postingan yang lain, ibarat mister Tukul berkata, “kembali ke laaaap…toppp!!!” maka kita kembali ke kisah kunjungan Presiden Sukarno (dan rombongan) ke Moskow, Uni Soviet, tahun 1956. Ya, kunjungan Bung Karno antara tanggal 28 Agustus – 12 September 1956 itu menjadi kunjungan yang sangat membekas bagi kedua bangsa ketika itu.

Perjalanan berkeliling negara yang sangat besar itu, baru dimulai tanggal 31 Agustus malam waktu utusan-utusan Indonesia berangkat dari Moskow ke Leningrad dengan naik kereta api. Pada kisah terdahulu, tergambar betapa besar pengaruh Bung Karno di negara itu. Bahkan dalam rapat akbar, puluhan ribu rakyat memadati stadion tempat acara itu digelar. Dengan pidato yang berapi-api, tak lupa, Bung Karno membakar semangat massa dengan mengajak meneriakkan pekik ‘MER-DE-KA”. Lima kali bilangannya.

Tamu-tamu Indonesia tinggal di Leningrad selama dua hari. Tempat lain yang dikunjungi adalah pabrik pembuat alat-alat turbin air dan uap untuk pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Berikutnya, mengunjungi museum Ermitas yang kesohor, di mana diperlihatkan budaya adiluhung, tidak saja budaya Soviet, tetapi juga dari manca negara.

Museum itu terletak di bangunan tua yang disebut Petrodvorets. Bangunan yang dibangun tahun 1711 oleh Peter Agung atau Pyotr Alexeyevich (1672 – 1725), yang terkenal. Bangunan yang berada di kota St Petersburg itu, sangat megah dan indah, dengan pancaran airnya yang terletak di Park Bawahan.

“Di sini sejarahlah yang nampak di mana-mana,” demikian utusan-utusan bangsa Indonesia berkata waktu melewati jalanan-jalanan Leningrad yang datar dan indah. Rombongan Bung Karno terkagum melihat kompleks gedung-gedung di Leningrad yang dari sudut seni bangunanya tiada bandingannya. Nama St Petersbug dan Leningrad, ada sejarahnya sendiri. Dua nama ini sejatinya menunjuk lokasi yang sama. Awalnya disebut St Petersbug, kali lain diganti menjadi Leningrad, dan kembali lagi ke St Petersbug. Biasa… romantika sejarah.

Di St Petersbug atau Leningrad, Bung Karno dan rombongan melihat jalanan Nowski, Lapangan Senat, Sungai Newa, dan lain-lain. Yang tak kalah mengesankan adalah kunjungan ke Smolni yaitu pusatnya Revolusi Oktober tahun 1917.

Revolusi Rusia pada tahun 1917 dipicu oleh kombinasi keruntuhan ekonomi, persang saudara, dan ketidak-puasan terhadap sistem pemerintahan otokratis. Bersatunya kaum liberal dan moderat sosialis, berhasil merebut kekuasaan dari dominasi kekaisaran pada revolusi yang pertama, Februari 1917. Akan tetapi tidak lama, terjadi perebutan kekuasaan oleh komunis Bolshevik pada 25 Oktober 1917. Dukungan kaum buruh makin memudahkan kaum komunis Bolshevik menggulingkan Tsar dan mengakhiri sistem monarki yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Revolusi Rusia 1917, juga bisa disebut sebagai tonggak berdirinya Uni Soviet.

revolusi bolshevik

Karena itulah, Bung Karno tidak henti-henti menyebut kota St Petersbug atau Leningrad sebagai kota yang sangat bersejarah. Tidak heran jika Bung Karno dan rombongan relatif lebih lama tinggal di kota ini dibanding kota-kota lain yang dikunjunginya. Di kota itu, tepatnya di stadion S.M. Kirov tamu-tamu dengan penuh perhatian menonton pertandingan sepakbola antara kesebelasan Leningrad dan kesebelasan Indonesia.

Dalam perjalanan lanjutan berkeliling Soviet, maka pada tanggal 2 September 1956 utusan-utusan dari Indonesia sampai di salah satu kota yang letaknya lebih dari 2.000 km sebelah timur dari Leningrad yaitu kota Swerdlovsk. Ada apa di sana? (roso daras)

Prabowo atau Jokowi?

capres-cawapres

Pertanyaan “seksi”, “Bagaimana menurut Bung Roso, Prabowo atau Jokowi?” Sungguh, pertanyaan itu bertubi-tubi ditujukan ke saya, baik melalui kontak BBM, sms, FB, telepon, bahkan saat bertemu-muka. Atas itu semua, pada 22 April 2014, saya menulis di akun FB begini: “Saudara-saudara… bersama ini saya tegaskan, sebagai manusia yang sedang dan terus belajar menjadi Sukarnois, saya bukan dan tidak identik dengan PDIP dan segala turunannya. Saya tidak berada di parpol apa pun! Tidak berada di kubu tim sukses siapa pun. Sukarno itu bapak bangsa. Milik semua rakyat Indonesia. Terima kasih.”

Mestinya cukup jelas bukan? Entah mengapa, masih juga banyak kawan yang menyeret-nyeret saya untuk mendukung salah satu kandidat capres. Dalam skala yang paling kecil, ya itu tadi, sekadar bertanya, tentang siapa calon presiden pilihan saya. Tentu saja saya masih berusaha konsisten untuk tidak terjebak pada politik praktis.

Meski begitu, bukan berarti saya berbeda dengan Anda, sidang pembaca blog yang mulia. Bahwa saya, seperti halnya Anda, juga memiliki pemikiran terhadap Prabowo dan Jokowi. Pemikiran saya bisa sama persis, bisa mirip, bisa berbeda, bahkan bisa bertentangan sama sekali dengan pemikiran Anda. Akan tetapi, bukankah perbedaan adalah rahmat?

Tetapi meruncingkan perbedaan, bukan ide yang baik, terlebih saat ini, saat bangsa sedang dalam tensi tinggi jelang Pilpres. Akibat sistem demokrasi liberal hasil amandemen UUD 1945, kita menjadi bangsa yang terjebak pada politik ugal-ugalan. Mencermati “perang-opini” yang ada di sosial-media, terkadang saya miris. Mengapa hanya untuk mendukung salah satu Capres (yang ironisnya, capres itu tidak kenal dengan orang-orang itu), harus tega mengeluarkan kata-kata kasar. Sadis, menurut saya.

Gelar Pilpres akan selesai (diperkirakan satu putaran) pada 9 Juli 2014. Ya, tidak lama lagi. Setelah itu, suka atau tidak suka, salah satu di antara Prabowo dan Jokowi akan menjadi Presiden RI ke-7. Kemudian, kita akan “menikmati” kepemimpinan satu di antara mereka. Puaskah? Ada yang puas dan ada yang tidak. Sama seperti para pemilih SBY yang kemudian tidak puas dengan kinerja SBY. Di sisi  lain, tentu saja ada yang puas dengan kepemimpinan SBY.

Pada 21 September 2012, saya menulis di blog ini, Bung Karno: Jangan Jadi Salon Politisi. Isinya, menyitir Bung Karno (seperi biasa), dan menyandingkan dengan pendapat saya tentang kemenangan Jokowi atas Fauzi Bowo dalam Pilkada DKI Jakarta. Tulisan itu, dengan sadar saya posting setelah Jokowi menang, dan tinggal menunggu tanggal pelantikan. Artinya, dengan sadar pula saya membuat tulisan itu tidak akan mempengaruhi hasil Pilkada DKI.

Apa yang terjadi? Pasukan pembela Jokowi memberondong saya dengan komentar-komentar yang beraneka ragam. Dari yang nyinyir sampai sumpah serapah. Saya toh harus menggumam, “Indahnya perbedaan”… sambil tersenyum kecut, meratapi segelintir anak negeri yang kurang cerdas.

Sama seperti momen Pilpres ini. Tanpa diseret, tanpa ditanya, saya pun akan membuat tulisan tentang Prabowo atau Jokowi dari perspektif saya, dengan cantelan Bung Karno, tentunya. Ya, supaya jelas koridornya, saya harus membingkai dengan Bung Karno. Tetapi bukan sekarang. Bukan hari ini, dan bukan besok. Tapi SETELAH tanggal 9 Juli. Mengapa? Ya, karena saya tidak ingin, apa pun tulisan saya tentang Prabowo atau Jokowi, mempengaruhi opini publik, dan diangggap saya berkampanye untuk kepentingan salah satu di antara keduanya.

Alhasil, sedikit saja imbauan saya buat sidang pembaca blog yang mulia…. Jaga kerukunan bangsa. Jaga persatuan nasional. Berkata menyakiti, kadang dengan mudah akan dimaafkan (pada akhirnya), tetapi bekas itu tidak akan segera hilang. Luka-luka bekas pertikaian sesama anak negeri, sesungguhnya suatu bentuk penggerogotan atas jiwa dan semangat gotong-royong kita sebagai bangsa. Bangsa besar bernama Indonesia. (roso daras)

Published in: on 8 Juni 2014 at 04:29  Comments (11)  
Tags: , , , ,

Demokrasi dan Ratu Adil

irsoekarno1Memasuki bulan Juni, Bulan Bung Karno, menarik kiranya kalau sejenak kita mengenang pidato Pancasila Bung Karno, 1 Juni 1945. Pidato lengkap sudah pernah diposting. Berikut ini adalah cuplikan yang layak kita jadikan renungan di bulan Juni ini. Begini Bung Karno berkata:

Saudara-saudara, saya usulkan. Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indoneia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politiek democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama, saudara-saudara di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal!

Kalimat di atas, kini seolah menjadi alunan mimpi… mengingat kondisi demokrasi Indonesia sudah jauh melenceng dari yang digagas Bung Karno. Di bulan Bung Karno inilah, semestinya, kaum nasionalis Indonesia, khususnya para Sukarnois, mengkaji kembali ide-ide Bung Karno kemudian berjuang untuk mewujudkannya.

Pergeseran warna demokrasi di Indonesia, sejak Indonesia merdeka, kemudian di era demokrasi terpimpin, hingga demokrasi liberal yang menopang rezim orde baru, adalah sebuah keniscayaan sejarah. Tidak ada yang perlu disesali, apalagi diratapi.

Jika pertahanan ideologi adalah sebuah pertarungan, Pancasila sejatinya sedang mengalami kekalahan telak. Dia tidak akan pernah bisa bangkit dan kembali unjuk gigi, manakala para pewaris ajaran Bung Karno diam dan pasrah.

Kini saatnya para Sukarnois menyusun kekuatan untuk memperjuangkan kemurnian ideologi Pancasila berikut turunan di bidang ekonomi, sosial-politik, dan budaya. Strategi mengembalikan ideologi Pancasila inilah yang dibutuhkan untuk mengerem laju liberalisme dan pada akhirnya menghentikan sama sekali untuk kemudian mengembalikan ke rel yang semestinya.

Jika dalam pidato To Build the World Anew di PBB tahun 1960, Pancasila diteriakkan Bung Karno dan mewarnai dominasi dua ideologi Barat dan Timur, maka sejatinya Pancasila itu sendiri sudah teruji sebagai ideologi alternatif dunia. Jika banyak negara mengkaji bahkan mengadopsi Pancasila, lantas mengapa kita justru membiarkan Pancasila tercabik-cabik di negerinya sendiri (oleh ideologi Barat?). (roso daras)

Published in: on 2 Juni 2014 at 16:23  Comments (6)  
Tags: , ,