Buku Tua Kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet

Buku Kunjungan BK ke SovietJalan menemukan jejak-jejak sejarah Bung Karno selalu saja terkuak tanpa rencana. Seperti berkah silaturahmi di suatu hari ke kediaman seniman Teguh Twan di Jl. Pemuda, Kebumen beberapa waktu lalu. Tanpa dinyana, seniman keturunan Tionghoa yang nasionalis itu menyimpan satu buku tua yang sangat langka: Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Sowjet Uni. Di bagian bawah tertulis Penerbit Seni Lukis Negeri, Moscow, 1956.

Buku yang hampir semua halamannya sudah “mreteli” (terlepas jadi lembar-lembar terpisah) itu, berisi narasi singkat tentang kunjungan Bung Karno yang disertai sejumlah petinggi negeri itu ke sana. Selebihnya, berisi foto-foto otentik dan langka, yang menangkap momen-momen bersejarah selama Bung Karno berkunjung ke Soviet (sekarang Rusia).

Menyimak buku tersebut, terbayang, betapa rombongan Bung Karno disambut dengan begitu agung. Begitu mendarat, semua petinggi negeri komunis itu menyambut di bandara internasional setempat. Dalam perjalanan ke Kremlin, Bung Karno dan petinggi Soviet menaiki mobil terbuka. Di sepanjang jalan, berjejer lautan rakyat mengelu-elukan Bung Karno dengan bentangan spanduk bertuliskan kalimat-kalimat bersahabat.

Bukan hanya itu, dalam setiap kunjungan Bung Karno ke negara-negara bagian Soviet (yang saat ini sudah menjadi negara merdeka pasca pecahnya Soviet), Bung Karno senantiasa dielu-elukan masyarakat. Di setiap kota yang dikunjungi, selalu digelar rapat akbar yang dihadiri lautan masa. Bahkan dalam salah satu kunjungan, digelar khusus pertandingan persahabatan antara tim sepakbola Indonesia melawan tim sepakbola Uni Soviet.

Pesan-pesan rakyat Soviet kepada rakyat Indonesia tergambar dalam buku itu. Sangat menyentuh, meski dalam narasi yang tidak lagi up-to-date untuk konteks sekarang. Sempat terpikir untuk meng-up-date buku itu dan menerbitkannya kembali sebagai sumber referensi anak negeri.

Postingan selanjutnya, akan saya tuliskan narasi berikut foto-foto kunjungan Presiden Sukarno ke Soviet. Saat ini, saya tengah mengedit dan menyempurnakan narasi, agar lebih tergambar suasana kunjungan, serta lebih mudah ditangkap pembaca generasi sekarang. Tunggu yaaa…. (roso daras)

Published in: on 30 Desember 2013 at 11:40  Comments (15)  
Tags: , , ,

Bung Karno Sang Singa Podium

BK Singa PodiumSungguh saya bersyukur sekaligus mengapresiasi langkah Rhien Soemohadiwidjojo yang telah menulis dan memplublikasikan buku: “Bung Karno Sang Singa Podium”. Syahdan, penulis yang bernama asli Arini Tathagati ini beberapa bulan lalu menghubungi saya, meminta tulisan untuk endorsement buku setebal 427 halaman itu.

Seperti biasa, saya merasa tersanjung disusul mongkog hati, besar rasa, untuk meluluskan permintaan Arini, sesibuk apa pun. Apalah arti kesibukan rutin, dibanding memenuhi permintaan seorang penulis yang telah bersusah payah menulis buku tentang Bung Besar.

Buku terbitan Second Hope ini sudah beredar di  pasaran. Akan tetapi, terus terang, saya baru tahu setelah Arini berkirim email, mengabarkan ihwal telah beredarnya buku itu. Alhamdulillah, dia menanyakan alamat diiringi niatnya mengirim satu copy buku sebagai komplimen buat saya, tentu saja disertai  bubuhan tanda tangan sang penulis. Terima kasih. Buku sudah saya terima.

Buku ini berisi 8 (delapan) bab. Bab 1 Siapa tak Kenal Bung Karno. Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Bab 3 Pidato Bung Karno Pra Proklamasi. Bab 4 Pidato Bung Karno di Masa Proklamasi dan Perang Kemerdekaan (1945 – 1950). Bab 5 Pidato Bung Karno di Masa 1950 – 1958. Bab 6 Pidato Bung Karno di Masa Demokrasi Terpimpin. Bab 7 Pidato Bung Karno Setelah 1965. Bab 8 Kutipan-kutipan  BungKarno.

Sekalipun judulnya Bung Karno Sang Singa Podium, tetapi Arini yang menggunakan nama penulis Rhien Soemohadiwidjojo itu melengkapinya dengan sejarah Bung Karno. Akan tetapi, ruh buku ini sejatinya tersaji di Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Tak heran jika penulis dan penerbit menyepakati bab ini sebagai judul besar buku.

Bab 2 ini diawali dengan sub bab tentang Bung Karno Sang Orator Ulung. Sub bab kedua, tentang tema pidatto-pidato Bung Karno.  Sub bab ketiga mengupas rahasia pidato-pidato Bung Karno. Sub bab keempat tentang tanggapan para pendengar pidato-pidato Bung Karno. Sub bab kelima tentang pidato religius Bung Karno. Sub bab keenam tentang penerjemah pidato Bung Karno. Terakhir, sub bab ketujuh tentang peran para ajudan Bung Karno.

Seperti biasa, saya selalu risih jika melihat atau membaca penulisan Sukarno dengan “oe” (Soekarno). Sayangnya, saya menemukannya di buku ini. Tentang penulisan Sukarno dan Soekarno, saya pernah menulis secara khusus di blog ini, mengutip statemen Bung Karno kepada Cindy Adams. Intinya, dia yang memberlakukan ejaan yang disempurnakan, maka secara konsekuen dia pun mengubah penulisan namanya dari Soekarno menjadi Sukarno. Ihwal tanda tangannya yang menggunakan “oe” dia berdalih, sebagai hal yang berbeda. Tanda tangan yang sudah diguratkannya dengan “oe” sejak ia sekolah, tentu tidak mudah untuk diubah.

Terakhir, (ehm…) buku ini tetap menarik karena di halaman belakang ada endorsement dari pemilik blog ini…. 🙂 (roso daras)

Pahlawan Tan Malaka dan Alimin

Tan MalakaSiapa Tan Malaka dan Alimin? Dua tokoh nasional yang berkibar pada tahun 40-an. Keduanya juga dikenal sebagai tokoh komunis Indonesia. Lantas apa hubungannya dengan status pahlawan mereka? Erat sekali hubungannya, karena keduanya tercatat sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.

Tan Malaka ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 28 Maret 1963, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 53 Tahun 1963. Sementara, Alimin, ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 26 Juni 1964 melalui Keppres No. 163 Tahun 1964.

Gelar Pahlawan Nasional ditetapkan oleh presiden. Sejak dilakukan pemberian gelar ini pada tahun 1959, nomenklaturnya berubah-ubah. Untuk menyelaraskannya, maka dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 disebutkan bahwa gelar Pahlawan Nasional mencakup semua jenis gelar yang pernah diberikan sebelumnya, yaitu:

  • Pahlawan Perintis Kemerdekaan
  • Pahlawan Kemerdekaan Nasional
  • Pahlawan Proklamator
  • Pahlawan Kebangkitan Nasional
  • Pahlawan Revolusi
  • Pahlawan Ampera

Tan Malaka adalah nama populer. Nama aslinya Ibrahim. Kemudian dari garis ningrat ibunya (Sumatera Barat), ia mendapat gelar kebangsawanan, sehingga nama lengkapnya menjadi Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Sejak kecil sudah mengenyam pendidikan Belanda. Tahun 1913, saat usianya menginjak 16 tahun, ia melanjutkan studi di Belanda.

Dalam garis sejarah berdirinya Republik Indonesia, nama Tan Malaka tidak boleh hilang. Ia memiliki andil besar melalui gerakan-gerakan bawah tanahnya, maupun melalui publikasi-publikasi yang banyak menginspirasi banyak tokoh pergerakan lainnya. Majalah Tempo sempat menulis tokoh ini dengan judul “Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan”. Apa dan siapa Tan Malaka, sangat banyak referensi yang bisa dirujuk.

Bagaimana dengan Alimin?

aliminAlimin bin Prawirodirdjo (Solo, 1889 – Jakarta, 24 Juni 1964) adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia serta tokoh komuinis Indonesia. Berdasarkan SK Presiden No. 163 Tahun 1964 tertanggal 26 – 6 – 1964, Alimin tercatat sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Sejak remaja Alimin telah aktif dalam pergerakan nasional. Ia pernah menjadi anggota Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Insulinde, sebelum bergabung dengan PKI dan akhirnya menjadi pimpinan organisasi tersebut. Ia juga adalah salah seorang pendiri Sarekat Buruh Pelabuhan (dulu namanya Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan).

Pada awal 1926, sebagai pimpinan PKI Alimin pergi ke Singapura untuk berunding dengan Tan Malaka dalam rangka menyiapkan pemberontakan. Tapi sebelum Alimin pulang, pemberontakan sudah meletus 12 November 1926. Alimin dan Musso ditangkap oleh polisi Inggris.

Setelah ia keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern (Komunis Internasional). Alimin tidak lama di sana karena bertemu dengan Ho Chi Minh dan diajak ke Kanton (Guangzhou). Pada saat itu ia terlibat secara ilegal untuk mendidik kader-kader komunis di Vietnam, Laos, dan Kamboja untuk melawan penjajah dan merebut kemerdekaan dari jajahan Perancis.

Ketika Jepang melakukan agresi terhadap Cina, Alimin pergi ke daerah basis perlawanan di Yenan dan bergabung bersama tentara merah di sana. Ia pulang ke Indonesia pada tahun 1946, setahun setelah Republik Indonesia diproklamasikan.

Ketika DN Aidit mendirikan kembali PKI secara legal pada awal tahun 1950-an dan kemudian menjadi Ketua Komite Sentralnya, Alimin termasuk tokoh komunis yang tidak diindahkannya. Namun Alimin masih banyak didatangi oleh para pengikutnya sampai dengan saat meninggalnya pada tahun 1964.

Begitu sederet alina yang saya kutipkan dari Wikipedia. Masih banyak lagi literatur tentang Alimin berikut sepak terjangnya.

Ini adalah postingan untuk me-refresh memori bangsa tentang  tokoh-tokoh penting dengan predikat pahlawan nasional, yang kemudian terkubur karena ideologi komunis yang mereka anut. Sebagai ideologi, komunis bukanlah suatu kejahatan. Ideologi itu pernah dianut oleh sebagian bangsa kita secara legal. Namun ketika Orde Baru berkuasa, ideologi ini diberangus. PKI dibubarkan, tokoh-tokohnya dieksekusi, bahkan simpatisan pun turut disikat, serta tidak sedikit rakyat jelata yang tahu juntrungannya, menjadi korban.

Pemakluman kita atas tragedi tersebut, berhenti pada kenyataan sejarah bahwa rezim Soeharto berdiri dan ditopang oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Disokong oleh negara-negara liberal, negara-negara yang memusuhi komunisme. Maka, wajar saja jika kemudian rezim ini diawali dengan pembekuan hubungan diplomatik dengan RRC (baru dicairkan tahun 1990).

Kiblat negara kita sontak ke Barat. Politik luar negeri bebas-aktif yang dicanangkan Bung Karno, usai sudah. Pelan tapi pasti, gerakan non-blok tak lebih dari seremoni negara-negara yang bimbang. Kebijakan ke dalam, menghapus dan mengubur dalam-dalam semua hal yang memiliki keterkaitan (baik langsung atau tak langsung) dengan komunis. Momok “ekstrem kiri” hampir setiap hari dicekokkan pemerintah Orde Baru untuk menakut-nakuti rakyat.

Setelah 15 tahun rezim orde baru tumbang, masih saja banyak pejabat (dan sebagian masyarakat) yang phobi terhadap komunisme. Lagi-lagi, ini bisa kita maklumi mengingat mereka tumbuh dalam didikan Orde Baru. Tapi bukan berarti sebagai anak bangsa kita harus berpikir picik, dengan menafikan jasa para pahlawan yang memiliki ideologi komunis. (roso daras)

Published in: on 6 Desember 2013 at 09:23  Comments (10)  
Tags: , , , , , , ,

Sekadar Brosur di Rumah Ende

brosur endeKalau saja Ende sedekat Yogyakarta. Kalau saja Ende ada di Jawa, niscaya saya pasti mengunjunginya secara reguler. Berada di rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Flores, serasa berkunjung ke rumah orangtua, ke rumah guru, ke rumah sahabat sekaligus. Entahlah, aura apa yang ada di sana.

Berdiam di ruang depan, berada di ruang tamu, bahkan duduk-duduk di serambi belakang saja, rasanya ingin menghentikan detak-detik jarum jam. Bayangkan saja. Ketika berada di ruang depan, mengamati satu per satu koleksi peninggalan yang tersusun rapi di meja kaca, imaji langsung melayang ke suasana tahun 1934 – 1938. Terbayang juga suasana pengajian dua kali dalam seminggu di ruang itu. Bung Karno mendidik puluhan rakyat jelata dengan dogma-dogma Islam modern.

Berada di ruang tamu, sekaligus ruang kerja Bung Karno, terbayang jam-jam yang berlalu, saat Bung Karno dengan tekun menulis surat-surat Islam kepada T.A. Hassan. Terbayang saat-saat Bung Karno dengan serius menulis naskah-naskah tonil bagi klub tonil Kelimutu yang dibentuknya.

Di ruang tidur Bung Karno, selain tempat tidur, masih tersisa lemari kayu yang sudah lapuk, gantungan baju, dan sejumlah lukisan tua. Hmm… di kamar ini, Bung Karno menatap langit-langit kamar dengan sejuta gundah. Gundah akan masa depan perjuangan mencapai kemerdekaan yang dengan gigih ia kobarkan di Bandung. Gundah akan kepastian masa depan hidup dan kehidupannya. Masa depan bangsanya. Di kamar itu pula, Inggit dengan setia dan sabar memberinya dorongan semangat dengan elusan mesra seorang istri yang begitu setia dan mencintainya.

Berhadap-hadapan dengan kamar Bung Karno adalah kamar tempat tidur ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami (Omi). Sungguh kamar yang mengguratkan kedukaan yang dalam. Di kamar itu, Bung Karno selama empat hari menunggui sakitnya Ibu Amsi. Menjaga ibu Amsi yang tak kunjung siuman. Bahkan meratapinya dengan tangis sejadi-jadinya demi akhirnya mengetahui ibu mertua terkasih, wafat di pangkuannya karena serangan malaria.

Tengoklah di bagian belakang. Ada sebuah ruang berukuran sekitar 2,4 x 3,5 meter, tempat yang awalnya digunakan Bung Karno untuk sholat dan berdzikir. Ruang yang pada lantainya masih tertinggal bekas telapak tangan dan kening ketika bersujud. Ketika Bung Karno membangun sebuha mushola kecil di belakang rumah, terpisah dari bangunan utama rumah, ruang itu digunakan Inggit untuk menjahit. Hmm, sungguh ruang kecil lagi sederhana yang menyimpan berjuta kenangan suram, dalam hari-hari hidup di pengasingan.

Pada bagian lain di belakang rumah, berderet sebuah ruang yang biasa dipakai istirahat para pembantu, kemudian dapur, dan kamar mandi, serta sumur tua yang airnya begitu segar diminum, meski tidak dimasak. Di area ini pula, Karmini, Encom, Riwu, Bertha dan sejumlah pembantu lain menjadi saksi atas hidup dan kehidupan Bung Karno dan keluarganya.

Suatu saat, ketika saya mengunjungi situs itu tengah malam, saya minta Safrudin atau yang akrab disapa Udin, penjaga situs, untuk mematikan semua lampu. Spontan rumah menjadi gelap. Bagian luar, cukup tersinari oleh lampu-lampu neon dari rumah-rumah tetangga. Menatap rumah dalam keadaan gelap, kemudian melayangkan pandangan ke langit… langit berawan. Selang beberapa saat, awan-awan itu bergerak menyingkir, lalu tampaklah berjuta bintang beradu terang dengan rembulan separuh bulatan.

Bagaimana hati saya tidak tertinggal di sana, demi melihat dan merasakan itu semua? Benar-benar sepanggal waktu, yang begitu berharga. Menyesal sekali, ketika tiga minggu berlalu, dan saya harus kembali ke Jakarta, seperti ada keengganan untuk beranjak dari rumah pengasingan itu.

Spontan terpikir, bagaimana saya bisa “hadir” di rumah pembuangan itu setiap saat? Saya menemukan satu ide kecil yang akhirnya meringankan langkah saya meninggalkan Ende. Ya, saya akan membuatkan sebuah brosur. Brosur buatan saya sendiri, brosur berisi ringkasan kisah tentang rumah pembuangan Bung Karno di Ende. Berisi juga beberapa reportase saya ke Nangaba, Kelimutu, Teluk Numba, dan lain-lain. “Udin, saya tidak melihat ada brosur di sini. Para pengunjung datang dan pergi tanpa bisa membawa selembar brosur pun. Bagaimana kalau saya buatkan brosur?” saya menawarkan kepada Udin sang penjaga.

Ya, Udin menerima dengan sangat baik. Sebab, sebagai situs yang dikelola pemerintah, statusnya yang honorer Kemendikbud, memang tak ada yang bisa dilakukannya kecuali bertugas sesuai tugasnya sebagai tenaga honorer penjaga situs rumah pengasingan itu. Ia juga mengakui, tidak adanya brosur, sehingga dirinya acap kewalahan untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan para pengunjung. “Kalau ada brosur, tentu sangat baik,” sambutnya.

Begitulah. Dengan sedikit kebisaan menulis, memotret, mengoperasikan program pagemaker dan photoshop, kemudian memformatnya dalam bentuk PDF, jadilah brosur satu halaman bolak-balik dengan nuansa merah-putih. Saya mengemailnya ke percetakan langganan. Saat saya memposting tulisan ini, proses pencetakan sedang berlangsung. Insya Allah, seminggu lagi, brosur itu sudah ada di situs rumah pengasingan Bung Karno di Ende. Saya pun merasa tetap hadir di sana. Alhamdulillah. (roso daras)

Published in: on 1 Desember 2013 at 05:23  Comments (7)  
Tags: , , , , , ,