Karawang-Bekasi, dari Puisi Menjadi Koran

Ini adalah tentang semangat melanjutkan perjuangan para pejuang. Perwujudannya dalam bentuk menerbitkan sebuah suratkabar nasional dengan nama “Karawang Bekasi”. Nama dua kota di timur Jakarta, yang tidak sekadar bermakna dua daerah kabupaten. Karawang – Bekasi, juga bermakna ribuan mayat berkalang tanah, dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Simak puisi Chairil Anwar berikut ini:

Karawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Puisi di atas, menggambarkan pembantaian rakyat Karawang – Bekasi oleh tentara KNIL, tentara penjajah Belanda yang berniat merangsek kembali ke Tanah Air. Membonceng tentara NICA (tahun 1946), mereka hendak melanggengkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda, dan membunuh embrio NKRI yang baru saja diproklamasikan oleh Bung Karno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia.

Adalah sekelompok laskar pejuang pimpinan Lukas, yang pada malam hari menyusup ibukota dan melakukan serangan sporadis terhadap sentral-sentral tentara Belanda. Setelah berhasil menyerang, mencuri senjata, mereka melarikan diri ke arah timur, antara Karawang – Bekasi. Begitu dilakukan berkali-kali, hingga tentara KNIL murka dan melakukan sweeping ke daerah Karawang – Bekasi.

Para laskar pejuang yang dicari tidak ketemu, maka rakyat antara Karawang – Bekasi digelandang ke area terbuka kemudian diberondong senapan. Dibunuh dengan bengisnya. Yang mati tidak hanya para pemuda, tetapi juga orang tua, wanita, bahkan anak-anak tak berdosa. Peristiwa itu terjadi tahun 1947, dan kini diabadikan dalam monumen Rawagede, Karawang.

Chairil Anwar, penyair yang menyaksikan langsung ribuan mayat terkapar di sepanjang Karawang – Bekasi, lantas mengekspresikannya dalam puisi yang sangat legendaris tersebut. Puisi yang sangat menyentuh, terlebih jika kita mengenangkan peristiwa tragedi pembantaian itu. Mereka mati, tanpa pernah lagi bisa melawan. Mereka mati tanpa pernah tahu, apakah kemerdekaan akan langgeng. Mereka tidak tahu, apakah dirinya akan tinggal menjadi tulang-belulang diliputi debu, atau sebuah pengorbanan yang sepadan untuk kemerdekaan. “Kenang-kenanglah kami”, rintih para jenazah yang disuarakan Chairil Anwar.

Spirit perjuangan, spirit pengorbanan untuk kemerdekaan, telah merasuki sejumlah jurnalis, senior dan muda, untuk menghimpunkan diri dalam kerja tim menerbitkan sebuah suratkabar nasional dengan mengabadikan nama “Karawang – Bekasi”. Pemimpin Umum suratkabar itu adalah seorang nasionalis, Sukarnois asal suku Sabu, NTT, Peter A. Rohi. Sedangkan Roso Daras (ehm…) menjabat Pemimpin Redaksi. Suratkabar ini telah diluncurkan di Karawang, Kamis, 14 November 2013. Mohon doa restu. (roso daras)

launching karbek

Iklan
Published in: on 14 November 2013 at 14:50  Comments (4)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/11/14/karawang-bekasi-dari-puisi-menjadi-koran/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Selamat …. Semoga Sukses

    • Terima kasih bung Pribadiworo! Merdeka!!!

  2. mudah2an menjadi surat kabar yg membanggakan dan menyalurkan aspirasi bangsa.

  3. Kalau ada korannya sy siap bergabung jadi wartawannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: