Bung Karno dan Kelimutu

monyet di kelimutu

Bagi masyarakat Ende atau Flores pada umumnya, nama Kelimutu sangat lekat dengan Bung Karno. Selain karena nama itu kemudian diabadikan dalam nama grup sandiwara (tonil) pimpinan Bung Karno selama pembuangan di Ende, Bung Karno juga relatif sering rekreasi ke Kelimutu diiringi keluarga dan teman-temannya.

Nah, berikut sekilas tentang Kelimutu. Gunung Kelimutu, Ende, Flores, termasuk gunung berapi yang masih aktif. Perubahan warna air dari masing-masing danau merupakan indikasi adanya aktivitas tersebut. Berdasarkan catatan sejarah aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu tidak begitu banyak. Umumnya kegiatan vulkanik yang terjadi berupa letusan freatik dan perubahan warna air danau kawah. Tercatat aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu sejak tahun 1830 sampai dengan 1997 sekitar 11 kali aktivitas vulkanik.

Ketiga danau kawah selalu mengalami perubahan warna air. Perubahan warna air kawah itu erat terkait dengan aktivitas vulkanik dan perubahannya tidak memiliki pola yang jelas tergantung kegiatan magmatiknya. Kalangan ilmuwan dan peneliti memberikan informasi bahwa kandungan kimia berupa garam besi dan sulfat, mineral lainnya serta tekanan gas aktivitas vulkanik dan sinar matahari adalah faktor penyebab perubahan warna air.

Sebagai gunung api aktif, perubahan warna air kawah merupakan salah satu parameter yang dipakai dalam penentuan status kesiapsiagaan bencana gunung api. Perubahan warna air tercatat dari tahun 1915 sampai dengan 2011.

Kawah Tiwu Ata Polo (saat ini kawah berwarna hijau dengan luas 4 hektare dan kedalaman 64 meter) telah mengalami sekitar 44 kali perubahan warna, Tiwu Nua Muri Koo Faai (saat ini berwarna biru cerah, seluas 5,5 hektare dan kedalaman 127 meter) sekitar 25 kali perubahan warna, Tiwu Ata Mbupu (kawah yang saat ini berwana hitam, seluas 4,5 hektare dan kedalaman 67 meter) telah mengalami sekitar 16 kali perubahan warna.

Sedikit berbeda dengan sikap masyarakat tradisional, yang masih mengaitkan hal-hal gaib di seputar Kelimutu. Bahkan masyarakat di sekitar Kelimutu percaya, Bung Karno memiliki tempat khusus di bawah kawah Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Faai yang biasa digunakan untuk bersemedi. Sementara di kawah yang berwarna hitam, masyarakat percaya, Bung Karno pernah turun dan masuk ke kawah tersebut.

Satu hal yang menarik adalah berkembang-biaknya monyet-monyet di hutan sekitar gunung Kelimutu. Diyakini, monyet-monyet itu adalah keturunan dari monyet yang pertama kali dilepas Bung Karno di sana, antara 1934 – 1938. Daripada berpanjang-panjang narasi, lebih menarik kalau kita lihat foto-foto yang saya abadikan dari kamera handphone….. (roso daras)

IMG-20131001-01294Kawah Tiwu  Ata Polo  dan Tiwu Nua Muri Koo Faai.

 

IMG-20131001-01383Kawah Tiwu Ata Mbupu

Published in: on 8 Oktober 2013 at 00:55  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/10/08/bung-karno-dan-kelimutu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Indaah sekali tanah air Indonesia…
    Pengen ke Ende😀

  2. Reblogged this on Untitled.

  3. bagi masyarakat Ende, mungkin Bung Karno itu setengah dewa. seperti Jepang memandang Tenno Heika, dulu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: