SEMANGAT SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928

Oleh : Didiek Poernomo

(Yayasan Renaissance Jakarta)

Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda 2013, dan melanjutkan artikel saya dalam memperingatan Sumpah Pemuda 2012 yang lalu, mengajak generasi muda, pemuda pemudi untuk berwawasan kebangsaan menuju masyarakat adil dan makmur.

Perjuangan menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, merdeka dan berdaulat memerlukan waktu yang panjang, dan memerlukan estafet yang baik, antar generasi agar berkesinambungan. Sumpah Pemuda (angkatan 1928) bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri tetapi dilandasi oleh perjuangan angkatan 1908, angkatan 1908 dilandasi oleh perjuangan angkatan sebelumnya. Angkatan 1945 dilandasi oleh perjuangan angkatan 1928, jadi produk-produk kebangsaan dan kenegaraan Indonesia merdeka merupakan hasil perjuangan antar generasi tersebut di atas secara berkesinambungan. Sumpah Pemuda merupakan keputusan politik pemuda-pemudi Bumi Putera untuk Berbangsa Satu Bangsa Indonesia, Bertanah Air Satu Tanah Air Indonesia, Berbahasa Satu Bahasa Indonesi. Oleh karena itu nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menyiratkan Amanat Penderitaan Rakyat di masa penjajahan serta menuju Indonesia yang adil makmur dan berdaulat.

Semangat atau Api Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah Menuju Masyarakat Indonesia yang Adil dan Makmur serta Berdaulat.

Di abad 21, era digital dan komunikasi yang sangat cepat serta jumlah manusia penghuni bumi yang semakin padat, semangat sumpah pemuda yang oleh Bung Karno disebut Amanat Penderitaan Rakyat, pada intinya seperti tercantum dalam Pancasila :
1. Persatuan Indonesia
2. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Persatuan Indonesia wujudnya adalah Negara Kesatuan Repulik Indonesia yang di dalamnya berisi Masyarakat Adil dan Makmur. Negara merupakan sarana untuk menyelenggarakan dan mencapai kemakmuran. Kalau Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menyatakan Satu Bangsa dengan tujuan menjadi bangsa yang adil makmur dan berdaulat, sedangkan pemuda sekarang seharusnya mempertahankan Negara Kesatuan Repulik Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang berdaulat dan menyelenggarakan kenegaraan yang baik agar mencapai masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia yang adil dan makmur, seperti yang tertulis dalam Pembukaan UUD’45.

Di dalam gelombang dan geliatnya masyarakat internasional saat ini, untuk menjalankan Amanat Penderitaan Rakyat membutuhkan ketegaran, keteguhan, dan keuletan dalam perjuangan. Gejolak politik di negara-negara kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah, sengketa teritorial di wilayah Timur Jauh, sengketa ekonomi, dsb. kesemua peristiwa dunia itu tentu berdampak pada Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional yang harus ikut menjaga perdamaian dan ketentraman dunia. Salah satu alat untuk mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur adalah kader, kader terdiri dari orang-orang yang cerdas, mampu memimpin, berilmu pengetahuan (knowhow), kreatif, dan mempunyai visi.

Pemuda pemudi merupakan penerus perjuangan mencapai keadilan dan kemakmuran, oleh karena itu Bung Karno selalu mengatakan revolusi belum selesai, revolusi menuju masyarakat adil dan makmur, kemerdekaan hanyalah sebuah jembatan emas untuk menyeberang, bukan revolusi penuh dengan kekerasan tetapi revolusi dengan penuh rasa humanity (kemanusiaan). Perjuangan generasi penerus antara lain :

1. Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mengapa?, karena wilayah itu adalah Tanah Air Indonesia di mana Bangsa Indonesia berada, negara adalah wadah/sarana untuk menjadikan masyarakat/bangsa Indonesia mencapai adil dan makmur.

2. Membenahi luka kejiwaan (mental) berbangsa yang ada sejak era pra-kemerdekaan, akibat perbedaan cara perjuangan. Hal ini harus diakui sampai hari ini masih menjadikan masalah dalam perjalanan perjuangan mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur. Sebagai indikatornya, peristiwa berdarah 1965, dan dari era presiden Sukarno sampai era Suharto belum pernah dilaksanakannya UUD45 (asli) secara menyeluruh, apalagi di era Reformasi, salah satu akibat buruk yang dapat kita rasakan adalah terjadinya sangat liberal tatanan masyarakat kita, sebagai konsekuensi diamandemennya UUD45 yang tidak mencerminkan nilai-nilai Pembukaan UUD45 sebagai meta yuridis Konstitusi Republik Indonesia, di mana Pancasila terkandung di dalamnya.

UUD45 amandemen diumpamakan mobil stir kiri, mobilnya bagus aman dipakai di Amerika Serikat, Eropa Barat, tapi untuk di Indonesia tidak cocok yang kebiasaan menggunakan mobil stir kanan, kemungkinan terjadi kecelakaan cukup tinggi. UUD atau Konstitusi harus cocok dengan sosial budaya yang menggunakannya.

Pemuda-pemudi Indonesia harus benar-benar memegang Semangat Sumpah Pemuda untuk membendung subversi mental yang akan merusak mind set (pola pikir) seperti rusaknya mental akibat candu/narkoba, kehilangan nilai-nilai Kepribadian Bangsa Indonesia dan kemanusiaan.

Mendorong warganegara yang tidak berjiwa nasionalis, warga yang merasa bahwa tanah yang dipijak, udara yang dihirup bukan tanah airnya, bukan ibu pertiwinya, menjadi sadar akan kewajiban sebagai warga bangsa, mungkin keputusan politik sebagai Bangsa Indonesia perlu dibenahi lagi bagi sebagian warganegara Indonesia.

3. Mengisi kemerdekaan, mencerdaskan Sumber Daya Manusia Indonesia (human investment), membangun infra-struktur untuk kegiatan kehidupan seluruh rakyat, menjaga dan mengelola Sumber Daya Alam sesuai dengan amanat UUD45.

Dalam menanggapi dinamika masyarakat dunia memerlukan kemampuan analisa yang sangat akurat, agar hasilnya optimum dalam menentukan sikap terhadap perkembangan dunia tersebut, berpikir secara dialektika terhadap semua variable pergerakan masyarakat sangat diperlukan. Variable itu adalah semua kondisi dan seluk beluk sosial, politik, budaya, dan geografi Indonesia. Sejak jaman dahulu kala leluhur bangsa Indonesia menggunakan dialektika dalam menyikapi perjalanan hidup, seperti yang diajarkan pada episode-episode cerita wayang, bahwa setiap keputusan yang diambil memberikan konsekuensi yang harus diterima.

Pemuda-pemudi hendaknya selalu belajar dari sejarah perkembangan bangsa dan dipakai sebagai pijakan agar tidak mengambang serta terarah dalam bersikap, tanpa ada kesamaan sikap dalam mengisi kemerdekaan tidak akan pernah tercapai cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur.. Bangsa di Nusantara sudah berinteraksi dengan bangsa-bangsa di Afrika ( melalui Madagaskar) dan Amerika (Easter Island Polinesia) di era Sebelum Masehi yang telah dibuktikan secara ilmiah oleh para arkeolog dan antropolog. Nilai-nilai dalam bermasyarakat sudah dikenal manusia di Nusantara ribuan tahun yang lalu, untuk apa keluarga keturunan Firaun (Pharao) membentuk komunitas di Nusantara? (terbukti adanya Sarcofagus di Samosir, Bali, Kalimantan) dan Migran dari Asia Barat membuat polis (kota) di Batujaya Krawang dan Muaro Jambi, kalau bukan karena peradaban di Nusantara sudah tinggi saat itu. Mesir merupakan Negara pertama yang mendukung kemerdekaan Indonesia mungkin karena catatan sejarah tersebut di atas. Generasi muda melanjutkan dasar-dasar sendi kehidupan yang sudah dibangun pendahulu kita dalam menuju masyarakat adil dan makmur serta kedamaian dunia tanpa kekerasan.

Pemuda-pemudi harus pandai memahami dan mengkritisi terkait dengan hal-hal yang sangat mendasar, sebagai contoh ungkapan “ 4 (Empat) Pilar : Pancasila, NKRI, UUD45, Bhineka Tunggal Ika “ yang menurut saya sudah salah kaprah, tidak ada 4 Pilar tetapi hanya satu yaitu PANCASILA sebagai dasar filsafat negara/philosophische grondslag. Di dalam Pancasila sudah tercantum Persatusan Indonesia (NKRI dijabarkan dalam pasal 1 ayat 1 UUD45), Bhineka Tunggal Ika sudah ada pada lambang Garuda Pancasila dan pengertiannya tidak terbatas hanya dalam hal beraneka suku tetapi pada dasarnya kita hidup dalam kemajemukan yang menyatu bersinergi menjadi satu kehidupan yang harmonis, UUD45 merupakan Petunjuk Pelaksanaan Pancasila yang tertulis pada Pembukaan UUD45 sebagai hukum dasar atau konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara etimologi pengertian Pilar dan Falsafah Dasar juga berbeda.

Amandemen UUD45 tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang nomenklaturnya ada pada Pembukaan UUD45, sebagai contoh : sila ke 4 – Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dari kata dan kalimat sila ini tidak ada yang bisa diartikan bahwa demokrasi Pancasila adalah demokrasi langsung (one man one vote). Demokrasi Pancasila adalah demokrasi ala Indonesia, kebijakan negara dilakukan pemimpin di setiap tingkatan melalui hasil keputusan secara musyawarah oleh para perwakilannya. Pasal 33 ayat 1,2,3 : jelas berwatak sosialis, sedangkan ayat 4 hasil amandemen : Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan…….Kata atau kalimat demokrasi ekonomi dan kata efisien, jelas domain dari pola ekonomi kapitalistik, sedangkan dalam memenuhi kebutuhan rakyat negara tidak harus mempertimbangkan hal itu, misalnya hal-hal yang terkait dengan pelayanan umum.

Situasi politik internasional harus disikapi secara serius, terjadinya perang saudara di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah tidak pisah dipisahkan dengan perubahan atau pergeseran kekuatan ekonomi dunia dari barat ke timur. Kondisi Indonesia yang belum berdaulat dalam bidang politik dan berkari di bidang ekonomi, bukanlah tidak mungkin terkena efek domino situasi perang saudara tersebut. Untuk mempertahankan agar tidak terpengaruh situasi internasional harus memperkuat keBhineka-Tunggal-Ikaan dalam segala hal.

Jakarta, Oktober 2013

 

Published in: on 29 Oktober 2013 at 05:11  Comments (3)  
Tags: ,

Mengira Sukarno-Hatta Satu Orang

sukarno-hattaSudah buka yahoo hari ini? Selasa 29 Oktober 2013, mengutip berita merdeka.com, yahoo menyajikan tulisan “Tak tahu sejarah, anak muda kira Soekarno-Hatta itu satu orang“. Berita yang mengutip keterangan Kepala Museum Sumpah Pemuda, Agus Nugroho. Sungguh berita itu membuat shock, geram, sekaligus sedih.

Mungkin seorang muda “tolol” yang disebut Agus Nugroho tadi tergolong minoritas. Persoalannya bukan di situ. Bahwa bangsa yang sudah merdeka 68 tahun ini, masih memiliki generasi penerus yang tidak tahu siapa bapak bangsanya. Dari sudut pandang “pembinaan generasi muda”, realita yang disuguhkan Agus tadi sungguh menunjukkan betapa kurang masifnya gerakan “mencintai sejarah bangsanya sendiri”.

Saya jadi teringat, sendi kehidupan berbangsa-bernegara lain yang bisa kita indikasikan betapa pemerintah sendiri masih kurang memberi penghargaan yang pantas kepada presiden pertamanya. Coba tengok di sekitar, dari 33 ibukota provinsi, dari 460 kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia, berapa kota/kabupaten yang memiliki nama jalan “SUKARNO” (atau Soekarno, atau Bung Karno)?

Di Jakarta saja, Ibukota Negara Republik Indonesia (mohon dikoreksi kalau keliru), belum ada nama jalan Sukarno. Pernah suatu kali, elemen masyarakat mengajukan nama jalan Sukarno di kota Surabaya. Keputusan pemerintah daerah setempat, hasil rapat antara eksekutif dan legislatif, menyetujui nama jalan “Sukarno-Hatta”. Elemen pengusul nama jalan Sukarno itu kemudian protes.

“Tidak bisakah nama Sukarno berdiri sendiri tanpa Hatta? Dua-duanya adalah pahlawan proklamator, pahlawan nasional. Masing-masing memiliki jasa dan sejarahnya sendiri. Mengapa nama jalan Sukarno tidak berdiri sendiri? Mengapa nama Hatta tidak berdiri sendiri? Tanpa digandengkan pun, nama kedua tokoh bangsa itu patut dan sungguh layak diabadikan sebagai nama jalan,” kurang lebih begitu gugatan yang dilayangkan ke pemerintah kota Surabaya.

Setelah melalui proses yang cukup alot dan berbelit, alhamdulillah, Kota Surabaya, kota di mana Bung Karno dilahirkan, akhirnya memiliki nama jalan SUKARNO. Bagaimana dengan kota lain? Sependek pengetahuan saya (lagi-lagi mohon dikoreksi kalau saya keliru), kota-kota yang sudah lebih dulu, jauh lebih dulu mengabadikan nama Sukarno sebagai nama jalan adalah Kupang dan Ende, keduanya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di Jawa, baru kota Blitar yang memiliki nama jalan Sukarno. Sekali lagi, mohon sidang pembaga mengecek kebenarannya.

Bisa jadi, memang sependek itu pengetahuan saya. Tetapi saya sungguh akan mensyukuri kependekan pengetahuan saya itu jika memang ternyata keliru. Jika ternyata sudah ada nama jalan Sukarno di 460 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sering saya tergelitik tanya, tidak adakah sedikit saja keinginan dari seorang presiden, anggota DPR, gubernur, bupati, walikota untuk memberi penghargaan kepada presiden pertamanya? Bagaimana mereka, beliau-beliau, para tuan yang terhormat, berkehendak dikenang generasi penerus, kalau dalam dirinya tidak ada perasaan ingin mengenang jasa orang yang telah berkorban begitu besar demi meraih kemerdekaan kita? (roso daras)

Published in: on 29 Oktober 2013 at 05:03  Comments (12)  
Tags: , , ,

Huijtink, Bouma, dan Bung Karno

huijtink-bouma-sukarno

Adalah Pastor P. Gerardus Huijtink, yang banyak disebut Bung Karno, ketika berbicara tentang masa-masa pembuangannya di Ende (14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938). Seorang pastor lain yang juga diingat dengan baik oleh Bung Karno adalah Pastor Dr. Jan (Johanes) Bouma. Kedua orang Belanda inilah yang menjadi teman berbincang sekaligus lawan diskusinya.

Sungguh bukan hal sulit bagi seorang Sukarno untuk bisa lekas menjadi “sahabat”, sekalipun kepada orang yang berbeda kewarganegaraan, berbeda suku, bahkan berbeda agama. Saat itu, sebagai orang buangan politik, Bung Karno diawasi sangat ketat. Opas Belanda melakukan pengawasan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu…. Jika hendak keluar melebihi radius 2 kilometer dari Kota Ende, ia harus mengajukan izin kepada meneer Residen Ende.

Ketika itu, penduduk kota Ende tak lebih dari 5.000 jiwa. Sebagian besar di antara mereka adalah kaum petani, nelayan, buruh kasar, dan rakyat jelata dengan pekerjaan rendah. Sebagian kecil lainnya adalah pejabat Belanda di karesidenan Ende, para ambtenar, para pemilik toko (umumnya keturunan Cina, Makassar, bahkan Arab), dan keluarga raja. Bagian terkecil yang lain adalah komunitas paroki yang terdiri atas pastor-partor dan bruder-bruder.

Di bagian terbesar dari penduduk Ende tadi, sebagian besarnya terdiri atas rakyat yang takut mendekati Bung Karno. Bukan saja karena dia distigmakan sebagai orang berbahaya, lebih dari itu, siapa saja yang berani menemuinya, apalagi berbicara, kontan digelandang ke kantor polisi untuk diinterogasi. Jadi, lazim terjadi, seseorang warga jelata, yang mendadak balik kanan, belok kanan, atau belok kiri ketika sadar akan berpapasan dengan Bung Karno.

Sedangkan kelompok ambtenar dan keluarga raja, adalah kelompok yang sedikit terpelajar tetapi terkadang sikapnya lebih Belanda dari orang Belanda. Awalnya, mereka bahkan membuang muka, atau bahkan meludah setiap melihat Bung Karno. Sedangkan golongan pedagang yang terbilang kaya, para pemilik toko, sikapnya lebih pragmatis: “Ane jual, ente beli, abis perkara….”

Adapun lingkungan paroki, cenderung memiliki concern sendiri dengan misi yang mereka emban. Dalam banyak hal, kehidupan paroki relatif steril dari kepentingan penjajah. Ini terlihat dari sejarah panjang kepastoran di Ende, hingga fase datangnya Bung Karno. Seperti ditulis sosiolog Flores, Ignas Kleden dalam hidupkatolik.com, ketika Soekarno tiba di Ende pada 1934, Flores dan Timor sudah menjadi wilayah misi biarawan SVD (Serikat Sabda Allah), setelah terjadi peralihan misi dari para biarawan Jesuit.

Proses peralaihan itu tercatat pada tanggal 1 Maret 1913 di Lahurus, Timor. Serah-terima ini membutuhkan waktu. Dua imam Jesuit, P. Hoeberechts SJ dan P. van de Loo SJ, baru meninggalkan Larantuka di Flores Timur pada 1917, sedangkan empat imam Jesuit dan dua bruder Jesuit meninggalkan Sika-Maumere dan kembali ke Jawa pada bulan Desember 1919 dan Februari 1920.

Para biarawan SVD kemudian melanjutkan pembangunan Gereja Katolik di Ende. Paroki pertama di Ende terbentuk pada 1927, dan seorang pastor paroki pertama di sini adalah P. Gerardus Huijtink SVD. Sedangkan Bouma menjabat Pemimpin para Pastor Serikat Sabda Allah (SVD) se-Flores.

Tujuh tahun kemudian, di tahun 1934 datanglah Sukarno di Ende. Sejarah mencatat mereka lantas terlibat persahabatan rapat. Persahabatan terjalin karena berpautnya banyak faktor. Bung Karno memerlukan teman diskusi yang seimbang. Para pater membutuhkan teman bicara yang dalam berdialog bisa terjadi tanya-jawab, umpan-balik, dan perdebatan. Sesuatu yang tidak didapatkan ketika mereka menjalankan tugas misi, hingga ketika mereka melakukan kunjungan ke stasi-stasi.

Stasi adalah istilah kewilayahan dalam Gereja Katolik. Ibadat atau misa di stasi masih tergantung jadwal imam dan diakon di Paroki yang menaunginya. Stasi juga bisa terbentuk kelompok doa. Nah, sebagai wilayah binaan, tentu saja para pastor sering melakukan kunjungan ke stasi-stasi yang tersebar di wilayah Ende.

Kedekatan Bung Karno dengan Huijtink dan Bouma setidaknya bisa dilukiskan dengan kepercayaan Huijtink yang begitu besar kepada Bung Karno. Diriwayatkan, ketika mereka sudah begitu dekat, tak jarang Huijtink menitipkan kunci pintu ruang kerjanya kepada Bung Karno. Maksudnya adalah, jika Bung Karno memerlukan bacaan yang ada di ruang kerjanya, ia bisa datang kapan saja, dan membaca sepuasnya. (roso daras)

Published in: on 14 Oktober 2013 at 02:27  Comments (1)  
Tags: , , ,

Bung Karno dan Pesona Teluk Numba

Dalam empat tahun lebih masa pembuangannya di Ende, Bung Karno mengisinya dengan menikmati keindahan alam setempat. Salah satu objek pemandangan yang sangat disenangi adalah Teluk Numba, sekitar 12 kilometer ke arah barat dari kota Ende. Ia bahkan meminta pelukis besar, Basuki Abdullah untuk menuangkannya ke dalam kanvas, kemudian mengoleksinya sebagai kenang-kenangan bersejarah.

Ini memang tulisan tentang salah satu objek lukisan berjudul “Pantai Flores” karya pelukis besar Basuki Abdullah. Lukisan itu, bisa dipastikan sangat spesial. Setidaknya, itu adalah salah satu lukisan yang dikoleksi Bung Karno, dan dipajang di ruang tengah Istana Bogor. Perhatikan foto berikut:

Omi-BK-Asmarahadi-Teluk Numba

Foto Bung Karno diapit anak angkat kesayangan, Ratna Djuami atau akrab disapa Omi (meninggal 23 Juni 2013), dan suaminya, Asmarahadi. Foto ini diambil tahun 1956, di Istana Bogor. Bung Karno secara khusus mengajak Omi dan Asmarahadi berfoto dengan latar belakang lukisan “Pantai Flores” yang tak lain adalah Teluk Numba ankah itu sangat menyentuh? Inilah lukisan aslinya:

Pantai Flores - Basuki Abdullah

Omi, sangat boleh jadi, dan bisa dipastikan, turut serta ke Teluk Numba, menemani papinya menikmati keindahan Teluk Numba. Asmarahadi? Bisa jadi ada di Teluk Numba pula saat Bung Karno ke sana. Sebab, Asmarahadi sempat dipanggil ke Ende oleh Bung Karno untuk mengajar Omi dan Kartika (anak angkat Bung Karno – Inggit yang lain), agar tidak tertinggal pendidikannya, meski berada di tanah buangan. Bung Karno tegas-tegas menolak menyekolahkan Omi di sekolah Belanda yang ada di Ende.

Kembali ke foto bersejarah itu. Perhatikan latar belakangnya. Itulah lukisan Basuki Abdullah yang dipesan khusus oleh Bung Karno. Lalu, perhatikan foto Teluk Numba 12 Oktober 2013 di bawah ini. Kiranya, dari sudut inilah Basuki Abdullah melukis “Pantai Flores” yang tak lain adalah Teluk Numba.

Teluk Numba kini

Ya, kiranya, inilah objek lukisan yang digemari Bung Karno karena nilai sejarahnya. Bagi pelalu-lintas rute Ende – Labuan Bajo, tentu akrab dengan pemandangan ini. Sebab, letak Teluk Numba di bibir jalan provinsi antarkota di Flores bagian selatan. Dari pusat kota Flores, berjarak kurang lebih 12 kilometer ke arah barat. Tidak terlalu jauh dari lokasi sungai Nangaba, tempat Bung Karno gemar berendam.

Di sepanjang jalur Ende – Teluk Numba, dan masih jauh setelahnya, sangat banyak pemandangan yang begitu indah, perpaduan dari gunung karst di kanan jalan, dan hamparan laut di kiri jalan. Nah, yang menarik adalah, alam seperti sudah menyediakan space untuk menikmati keindahan pemandangan Teluk Numba. Titik pandang foto itu, diambil dari semacam semenanjung, yaaa… tepatnya tanah-lebih yang menjorok ke arah laut, sehingga bisa untuk memarkir kendaraan, dan turun menikmati keindahan Teluk Numba. Tanah lapang yang saya maksud seperti tampak dalam foto di bawah ini. Di pinggir kanan foto itulah tanah lapang tempat Basuki Abdullah melukis dulu.

Sayang, dalam buku “Koleksi Lukisan Bung Karno” yang terdapat lukisan “Pantai Flores” karya Basuki Abdullah itu, tidak menyebutkan tanggal kapan dilukis. Jika Basuki Abdullah berangkat ke Ende (untuk melukis Teluk Numba) bersama Bung Karno, ada dua kemungkinan, yakni tahun 1950 dan 1954.

DSC04689

Jika saja kita layangkan imajinasi ke tahun antara 1934 – 1938, bentang waktu selama Bung Karno dibuang di Ende, yang pertama terlintas di benak adalah, “Bung Karno memang tidak bisa diam berpangku tangan”. Di tanah interniran ini, ia gunakan waktu sebaik-baiknya. Dari yang lazim diketahui, tentang perenungannya di bawah pohon sukun, tentang aktivitasnya melatih grup tonil Kelimutu, tetapi kini kita tahu, bahwa Bung Karno juga memanjakan dahaga mereguk indahnya Indonesia melalui kunjungan ke lokasi-lokasi yang memang sangat indah.

Seperti kata Bung Karno kepada penulis biografinya, Cindy Adams, dia akan menghela nafas panjang manakala menyaksikan indahnya bumi Indonesia. Tahun 30-an, kawasan Teluk Numba tentunya jauh lebih alami, jauh lebih indah. Belum ada hiruk-pikuk kendaraan bermotor. Dan Bung Karno pun bisa menikmati Teluk Numba dari “semenanjung” kecil yang tampak di foto atas.

Roso Daras di Teluk NumbaEnde benar-benar menjadi bumi inspirasi bagi Bung Karno. Inspirasi bagi gagasan landasan negara yang kemudian dikenal dengan Pancasila, maupun inspirasi bagi lahirnya karya-karya seni dari otak dan tangannya. Ia menulis belasan naskah tonil. Ia melukis set-dekor panggung pertunjukan tonil. Ia melukis berbagai objek alam dan kehidupan manusia, di atas kanvas. Ia menanam bunga dan sayuran. (roso daras)

Published in: on 13 Oktober 2013 at 10:16  Comments (3)  
Tags: , , , , , ,

Mengenang Ibu Amsi, Mertua Bung Karno

ibu amsiHari ini, 12 Oktober 2013, adalah hari  wafat Ibu Amsi. Ya, 78 tahun yang lalu, tepatnya 12 Oktober 1935, ibu dari Inggit Garnasih, ibu mertua Bung Karno wafat terserang malaria. Lima hari tergolek di tempat tidurnya, di rumah pengasingan Bung Karno di Ambugaga, Ende, Flores. Diriwayatkan, hanya sekali ibu Amsi sadarkan diri, setelah itu tergolek tak sadar, hingga ajat menjemput. Ibu Amsi wafat di pangkuan Bung Karno, menantu kesayangan.

Ketika itu, cucu ibu Amsi, anak angkat Bung Karno – Inggit, Ratna Djuami juga terserang malaria. Bedanya, Omi, begitu ia dipanggil, pulih, sedangkan Tuhan menghendaki Ibu Amsi wafat di tanah interniran, di tanah buangan, nun jauh dari Bandung. Pemerintahan kolonial, karesidenan Ende, sama sekali tidak mau mengulurkan tangan untuk memberinya bantuan perawatan. Bahkan, setelah meninggal dunia pun, jenazahnya dilarang dikubur di dalam kota.

Bung Karno dan kawan-kawannya, harus menggotong jenazah Ibu Amsi jauh naik bukit, masuk ke tengah hutan. Ke tempat yang ditunjuk dan dibolehkan Belanda untuk memakamkan ibu Amsi. Bung Karno pula yang turun ke dasar lahat, menerima jazad ibunda mertua, meletakkannya di tanah menghadapkannya  ke arah kiblat, menutup dan mengurug.

Bukan hanya itu. Tangan Bung Karno sendiri yang memahatkan tulisan IBOE AMSI di dinding nisan sebelah utara. Bersama teman-temannya, Bung Karno naik ke pegunungan, mengambil bongkahan batu karst yang keras, dan memahatnya menjadi seukuran batako, kemudian meletakkannya di sekeliling-pinggir-atas permukaan nisan. Jumlahnya 21.

Ibu Amsi, seperti halnya Inggit, dan jutaan rakyat Indonesia, termasuk pengagum berat Bung Karno. Syahdan, ketika Inggit berunding bersama saudara-saudaranya di Bandung, tentang ikut-tidaknya Inggit ke pembuangan, Ibu Amsi muncul mendadak dan menyatakan sikapnya, “Saya juga ikut (ke pembuangan)”.

Inggit dalam buku “Kuantar ke Gerbang” menuturkan, di antara kerabatnya, terdapat silang pendapat. Antara yang setuju Inggit mendampingi Bung Karno ke pembuangan, dengan pendapat yang menyatakan sebaiknya Inggit tidak ikut. Dalam penuturannya, Inggit juga mengisahkan, jauh di dasar hati, sudah terpancang tekad akan setia mendampingi Bung Karno.

Bung Karno sendiri sempat bertanya ragu kepada Inggit, “Kumaha Enggit, enung, bade ngiring? (Bagaimana Inggit, sayang, akan ikut?). Akan ikut ke pembuangan atau tinggal di Bandung saja? Yang dibuang itu tidak tahu kapan ia akan kembali. Entah untuk lama, entah untuk sebentar. Entah untuk selama-lamanya. Tak berkepastian. Terserah kepadamu, Enggit….”

Inggit cepat menjawab, “Euh kasep (Ah, sayang), jangankan ke pembuangan, sekalipun ke dasar lautan aku pasti ikut. Kus jangan was-was mengenai itu, jangan ragu akan kesetiaanku”.

Keesokan harinya, di stasiun Bandung, betapa gembira Bung Karno saat melihat Inggit menyertai, diikuti pula ibu mertuanya, Ibu Amsi, beserta Ratna Djuami, dan dua orang pembantu, Muhasan (Encom) dan Karmini. Sungguh besar makna Ibu Amsi. Sekalipun dia sudah cukup usia, dan sering sakit-sakitan, tetap menunjukkan semangat mengikuti anak, cucu, dan menantu ke tanah interniran yang tak terbayang di mana letak dan jauhnya.

Di Ende, di tanah buangan, dalam banyak kisah dilukiskan, betapa Ibu Amsi menyemangati Inggit untuk menyemangati Bung Karno. Jika dilihatnya Bung Karno duduk murung di belakang rumah, Ibu Amsi segera mencari Inggit. Apa pun yang sedang dikerjakan Inggit, memasak atau menjahit, dimintanya untuk segera dihentikan. Inggit disuruhnya menemani Bung Karno, mengajak bicara, membangkitkan semangatnya, dan mencerah-ceriakannya kembali.

Ibu Amsi pula yang meminta Inggit menyiapkan makanan-makanan kesukaan Bung Karno di Bandung, di antaranya sari kacang ijo, sayur lodeh, dan lain-lain. Ibu Amsi, ibu mertua yang sadar peran dan fungsi, dalam ikut menjaga semangat Bung Karno. Semangat menggelora untuk memerdekakan bangsanya. Di  akhir riwayat, Bumi Ende-lah yang ditetapkan Tuhan, untuk memeluk jazad wanita mulia itu.

Bumi Ende dan masyarakat Ende, bisa dikata telah menyatu dengan Ibu Amsi. Tanpa diminta, warga Ende, terutama kerabat dan keturunan sahabat-sahabat lama semasa pembuangan Bung Karno, masih menziarahinya. Tragedi gempa bumi di Ende tahun 1992, mengakibatkan makam Ibu Amsi terurug longsoran tanah sehingga tak lagi tampak wujud nisannya. Adalah seorang warga bernama Abdullah, yang tinggal tak jauh dari makam Ibu Amsi, spontan menyingkirkan longsoran tanah, membersihkan makam Ibu Amsi, diikuti warga yang lain, sehingga makam itu tetap terjaga sampai sekarang.

Ini adalah sekelumit catatan buat mengenangmu, Ibu Amsi…. Seorang ibu, Ibu Inggit Garnasih, Ibu mertua Bung Karno, yang sekalipun samar, tak  layak dan tak boleh dihapus dari catatan sejarah bangsa. (roso daras)

Published in: on 12 Oktober 2013 at 05:06  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Ketika Bung Karno Merasa Kalah

Inggit-BKUntuk sekian lama… bumi Ende dengan masyarakatnya, nyaris menenggelamkan Bung Karno secara intelektual. Ketika itu, ia belum melakukan korespondensi dengan T.A. Hassan di Bandung untuk berbicara tentang Islam. Ketika itu, dia belum berjumpa dengan Pastor Paroki di Ende, P.G. Huijtink SVD (Serikat Sabda Allah).

Inggit Garnasih, istri yang setia mendampingi Bung Karno, dalam penuturannya kepada Ramadhan KH (Kuantar ke Gerbang) mengisahkan dalam satu bagiannya. Ketika Bung Karno tampak murung, tidak seperti biasa, Inggit tahu benar perubahan roman wajah suami yang ia panggil Kus (Ngkus) itu. Inggit tahu benar, bahwa Bung Karno tidak boleh patah semangat. Bung Karno tidak boleh kehilangan harapan.

Saat malam tiba, Inggit pun mendesak lembut… Inggit berusaha keras mengeluarkan gumpalan gundah yang ada di dasar sanubari sang “kasep” Ngkus-nya. “Pengasingan ini sudah mengubah segalanya. Saya khawatir melihat Ngkus….”

Bung Karno masih berusaha menyembunyikan gundah. Inggit pun mengeluarkan kalimat pamungkas, “Saya tahu Kusno…. Semua terasa di sini… di batin. Kalau Ngkus senang, saya merasa senang. Ngkus sedih dan takut, saya merasa lebih sedih, lebih takut”.

Inggit melanjutkan, “Saya tahu Ngkus tidak bisa sendiri. Ngkus harus selalu didengar banyak orang. Ngkus harus selalu memimpin banyak orang. Di sini, di tanah pembuangan, saya tidak melihat Bung Karno singa podium yang gagah itu. Di mana semangatmu yang begitu menggelora, Ngkus kasep? Itu yang saya khawatirkan….”

Bung Karno masih diam. Tapi di keremangan malam, Inggit bisa melihat mata suaminya yang berkaca-kaca. Inggit meraih pundak suaminya, menatapnya lembut, “Menangis saja, Ngkus-ku…. Tumpahkan segala kekesalan, kegelisahan, ketakutan, kemarahanmu…. Jangan pernah malu di depan istrimu ini. Saya lebih takut jika tak tahu perasaan Ngkus yang sebenar-benarnya…. Saya lebih takut itu, Ngkus….”

Demi mendengar kata-kata istrinya, ketulusan dan kelembutannya… Bung Karno pun menangis…, “Maafkan saya Enggit… Maafkan… Singa podium itu sudah kalah…. sudah kalah….”

Inggit harus menangis… harus!!! Tapi dia mampu membendung air matanya, dan tidak ikut larut. Inggit sadar, menemani Bung Karno dalam kesedihan, hanya akan membuat Bung Karno makin dalam terbenam dalam keputus-asaan. Masih dengan elusan lembut, meluncur kalimat yang tak kalah lembutnya, berbisik di telinga Kusno…. “Ngkusku… kasepku… tolong kasih tahu, apa-apa saja yang bisa saya lakukan buatmu…. akan Inggit lakukan, asal Ngkus tidak putus asa seperti ini….”

Kusno makin dalam membenamkan kegalauan hatinya di pelukan Inggit…. “Nuhun Enggit… Nuhun… sudah sedemikian banyak pengorbanan Enggit buat saya…. Maafkan Ngkus, membuat geulis harus menanggung risiko yang berat ini….”

Inggit memeluk erat Bung Karno, mengusap kepalanya, dan sejurus kemudian menatap wajah Kusno…, “Cinta kadeudeuh saya kepada Ngkus tidak bisa diukur hanya dengan saya ikut ke tanah pembuangan ini. Saya senang, selalu senang bisa berbakti kepada suami. Saya senang, kaseeeppp…, asal Ngkus janji. Janji yaaa… Ngkus harus bangkit lagi.”

Inggit segera mengusap air mata suaminya…. Mata Enggit menatap dalam mata Ngkus… Kusno… Sukarno, suami yang selalu dipuji-puji kegantengannya itu, (kasep: Sunda = ganteng). Di keremangan malam, Inggit melihat sesungging senyum di bibir Kusno.

Seperti dituturkan dalam bukunya, Inggit mengakhirinya dengan kalimat…. “Seperti biasa… saya harus pandai membuatnya tenang, membuatnya senang, hingga tertidur pulas setelahnya….” (roso daras)

Published in: on 11 Oktober 2013 at 03:19  Comments (4)  
Tags: , , ,

Nangaba, Pemandian Bung Karno

Bung Karno berenang di NangabaBung Karno (tertawa) dan enam orang sahabatnya, berendam di Nangaba.

Nangaba, sebuah sungai yang mengalir jernih, terletak sekitar delapan kilometer dari kota Ende. Di tempat inilah dulu, semasa pembuangan antara tahun 1934 – 1938, Bung Karno dan kawan-kawan sering menghabiskan waktu untuk berendam. Ya, berendam, karena airnya relatif dangkal, sehingga kurang pas kalau disebut berenang, bukan?

Dalam foto kenangan di Nangaba, Bung Karno tampak paling kanan, di antara enam kawan yang lain. Di kejauhan, tampak seseorang berbaju putih, berdiri di tengah sungai, dengan kedalaman selutut saja. Kini, sekitar 76 – 79 tahun kemudian, di tahun 2013, suasana di Nangaba tentu saja tidak serimbun dulu.

Masyarakat sekitar menceritakan, dulu, di Sungai Nangaba banyak sekali batu besar berdiameter satu hingga dua meter. Kini, pemandangan itu tak ada lagi. Kalaupun ada batu besar, diameternya tak lebih dari setengah meter. Itu pun relatif tidak banyak. Sekalipun begitu, menurut warga sekitar, kodisi dasar sungai, relatif sama. Yakni terdiri dari bebatuan aneka warna.

Melihat dari permukaan, sangat jelas terlihat batu-batu di dasar sungai yang begitu indah karena corak dan warnanya yang beragam. Ukuran batu di dasar sungai, dari yang seujung jempol, sampai yang sekepal-dua-kepalan tangan. Di sana-sini tampak ikan-ikan kecil berenang kian-kemari dengan gesitnya. Di dinding batu besar, biasanya menempel ikan-ikan kecil. Ya, menempel seperti lintah. Entah jenis ikan apa, dan apa pula namanya.

Dulu, menurut penuturan anak angkatnya, Kartika, kalau Bung Karno nyemplung Sungai Nangaba, ia langsung memerintahkan teman-teman, termasuk Kartika, Ratna Djuami, membuat tanggul dari batu-batu yang ada. Dengan membedung sungai, sekalipun air tetap saja mengalir, setidaknya bisa meninggikan permukaan air di tempat Bung Karno berendam. Walhasil, jika kita perhatikan foto di atas, dalam posisi duduk, permukaan air bisa seleher.

Begitu rimbun alam sekitar, serta begitu jernih air sungai yang mengalir, membuat siapa pun akan menikmati suasana Nangaba. Tidak salah, Bung Karno sang pecinta keindahan itu begitu gemar mandi di sini, sampai-sampai menyempatkan diri mengajak teman-teman dan juru foto….

Hingga tahun 70-an, menurut penuturan masyarakat di sana, acap orang datang berendam dengan tujuan “ngalap berkah” Bung Karno. Ada yang berendam malam-malam, ada pula yang berendam siang-siang. Maklum, bagi sebagian masyarakat Ende, nama Bung Karno begitu dimuliakan. Bahkan bagi sebagian orang, hingga periode tertentu, Bung Karno cenderung dikultuskan.

Roso Daras di NangabaKini? Nangaba masih Nangaba. Beda masa, sudah beda pula pemandangannya. Kondisi air memang masih sangat-sangat jernih, tetapi pinggiran sungai tidak begitu bersih. Banyak sampah plastik di sana.

Di beberapa ruas sungai, tampak aktivitas sehari-hari masyarakat. Ada orang mencuci mobil, ada sekelompok perempuan mencuci pakaian, ada pula sekelompok anak bermain-main. Dan, …ada pula pemilik blog ini yang berendam di sana….. (roso daras)

Published in: on 10 Oktober 2013 at 09:04  Comments (3)  
Tags: , , , , , ,

Rumah Ende, 20 Tahun Kemudian

rumah ende

Perhatikan caption (keterangan foto) di atas: “Pengresmian rumah museum (bekas rumah kediaman Bung Karno di Ende) oleh P.J.M. Presiden Rep. Indonesia, pada hari Minggu, tgl 16 Mei 1954.”

Akhirnya, 20 tahun kemudian, Bung Karno “pulang” ke rumah Ende. Bukan sebagai orang interniran (buangan) penjajah seperti yang ia alami tahun 1934, tetapi sebagai Presiden Republik Indonesia, pada tahun 1954.

Sejak itu, rumah tadi menjadi situs peninggalan sejarah yang dipelihara pemerintah. Sebelumnya, Bung Karno sudah meminta Kepala Daerah Flores di Ende, Monteiro untuk melakukan proses pembelian rumah yang terletak di kawasan bernama Ambugaga itu. Monteiro pun langsung menghubungi sang pemilik, salah satu orang berada di sana, Haji Abdul Amburawuh. Transaksi pun terjadi, dan selanjutnya, menjadi aset pemerintah hingga sekarang.

Membayangkan peta kota Ende, tahun 1934, barangkali kawasan Ambugaga terbilang jauh kemana-mana. Tetapi dalam peta kota sekarang, rumah yang oleh ibu Inggit dilukiskan sebagai cukup luas, tetapi beratap pendek, dan pengap di dalamnya itu, berada di tengah kota. Jalan di depannya sudah beraspal. Jalan Perwira, adalah nama jalan yang melintang di depan rumah bersejarah itu.

Jika dahulu ada kesan jauh, bisa dimaklumi, karena jarak antar satu rumah dan rumah lain berjauhan. Dengan kata lain, populasi kota Ende belum sepadat sekarang. Padahal, kalau berbicara dari ukuran atau jarak, nyata, bahwa lokasi itu relatif dekat ke mana-mana.

Menyandingkan foto lama dengan foto sekarang, tampak benar bedanya. Pada foto lama, masih tampak latar belakang pepohonan, tetapi sekarang nyaris tak berpohon. Kiri-kanan-depan-belakang sudah padat dengan perumahan warga. Sayang memang, rumah bersejarah itu tidak dikembalikan pada keluasan semula. Kalau saja pemerintah membebaskan rumah-rumah di sekelilingnya, setidaknya masyarakat sekarang bisa melihat kondisi rumah itu dalam perspektif yang sebenarnya.

Kini, dengan dikelilingi pagar tembok, “rumah Bung Karno” di Ende itu lebih bersih. Menilik ruang-ruang di dalamnya, jauh dari kesan pengap. Apalagi di halaman belakang…. Lebih tertata rapi. Ya, tentu saja telah dilakukan penggantian material rumah. Tetapi otoritas pemugar rumah itu cukup baik, dengan tidak merombak struktur bangunan inti. Hanya sayang, mushola yang dibangun Bung Karno di sudut belakang rumah sudah hilang, dan beralih fungsi menjadi rumah warga.

Setidaknya, Bung Karno telah “menyelamatkan” situs itu menjadi peninggalan bersejarah. Dalam catatan, setidaknya dua kali Bung Karno (selama menjadi Presiden RI) berkunjung ke Ende. Dan dalam dua kali kunjungannya itu, selalu saja Bung Karno memanfaatkannya untuk mengenang masa-masa pembuangan di Ende. Salah satunya, dengan mengistirahatkan pasukan pengawal. Bung Karno minta dicarikan Riwu Ga, ya, putra Sabu yang ikut keluarga Bung Karno – Inggit, bahkan menyertainya hingga Bengkulu, sebagai “penjaga”-nya.

Riwu, pemuda Sabu, adalah pembantu setia Bung Karno, yang dalam perannya, acap bertugas pula sebagai pengawal sekaligus penjaga. Selama kunjungannya, Bung Karno menginap di rumah negara (rumah dinas kepala daerah), Riwu pun dihadirkan. Apakah untuk kembali mengawal Bung Karno? Itu barangkali bahasa resminya. Tetapi, hampir dapat dipastikan, Bung Karno hanya ingin bernostalgia bersama Riwu. Dengan Riwu di sisinya, maka keberadaan Bung Karno di Ende, tentu menjadi lebih bermakna. (roso daras)

foto di rumah ende

Foto lama. Duduk, Ibu amsi (kiri) dan Inggit Garnasih (kanan). Berdiri, dari kanan: Bung Karno, Asmarahadi, Ratna Djuami (Omi). Paling kanan, sahabat Bung Karno di Ende bersama istrinya (berdiri nyender di samping kanan Ibu Amsi). Hingga tulisan ini posting, belum terkonfirmasi nama kedua sahabat keluarga Bung Karno di Ende itu.

DSC04592

Jika foto lama di atas diambil dari sisi kiri rumah, maka foto tahun 2013 di atas, diambil dari sisi kanan. Bentuk masih asli. Dan tentu saja lebih terawat, setelah mengalami restorasi seperlunya.

DSC04594

Berfoto di samping rumah pembuangan Bung Karno di Ende. Dari kiri: Peter A. Rohi (wartawan senior), Tito Asmarahadi (putra ke-4 pasangan Ratna Djuami – Asmarahadi), Roso Daras.

Published in: on 10 Oktober 2013 at 02:09  Comments (5)  
Tags: , , , , ,

Tongkat Monyet Bung Karno

DSC04585Di satu sudut rumah pembuangan Bung Karno di Ende, Flores, terdapat boks kaca berisi dua buah tongkat. Ya, tongkat yang biasa digunakan Bung Karno. Bukan tongkat komando, tentunya, melainkan tongkat yang acap digunakan kaum lelaki tempo dulu. Fungsi tongkat itu bagi Bung Karno, tentu berbeda dengan fungsi tongkat sejenis jika digunakan lelaki lanjut usia.

Tongkat bagi lelaki uzur, berfungsi untuk membantu menyangga tubuh ketika berjalan kaki. Sebaliknya, tongkat bagi lelaki yang relatif masih muda, dan belum perlu tongkat penyangga, lebih berfungsi sebagai “properti”, penunjang penampilan. Bahkan zaman dulu, lelaki bertongkat tampak lebih bergaya. Bukankah Bung Karno lelaki yang bergaya?

Nah, dua tongkat milik Bung Karno, masih tesimpan utuh di sana, di salah satu sudut rumah pembuangannya di Ende. Satu tongkat digunakan saat Bung Karno berjalan-jalan di tengah kota. Satu lagi, tongkat yang selalu ia bawa ketika berjalan-jalan keluar kota Ende, seperti misalnya berpesiar ke Kelimutu, hendak berenang di sungai Nangaba, dan ke lokasi-lokasi lain jauh dari Ende, yang untuk melakukannya, Bung Karno harus mengajukan izin terlebih dahulu kepada polisi Hindia Belanda di Ende.

DSC04588Yang unik adalah tongkat yang Bung Karno gunakan setiap kali berjalan-jalan di dalam kota Ende. Pada kepala tongkat, terdapat pahatan terbentuk sosok binatang monyet, kera. Jika ia bertemu orang-orang Belanda, atau cecunguk-cecunguk Belanda, Bung Karno mengarahkan kepala tongkatnya ke mereka. Demikian juga manakala Bung Karno terlibat pembicaraan dengan mereka, maka ujung tongkat diacung-acungkan ke Belanda-Belanda itu (atau para cecunguknya). “Sesungguhnya, kamu tak lebih dari seekor monyet,” begitu mungkin pikir Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 9 Oktober 2013 at 00:11  Comments (3)  
Tags: , ,

Indahnya Kelimutu

IMG-20131001-01263Pintu gerbang masuk ke kawasan Taman Nasional Kelimutu.

IMG-20131001-01265Jalan mendaki ke Gunung Kelimutu.

IMG-20131001-01266Ambil arah kiri… Kawah hijau dan biru bisa dilihat dari atas tiang petunjuk ini. Lihat jejak pendakian pengunjung. Jika beruntung, bisa sampai ke atas menikmati sensasi keindahan kawah dua warna (hijau dan biru cerah). Sebaliknya jika Anda kurang beruntung, akan langsung dipergoki petugas jaga yang segera menghardik dan mengusir Anda turun. Maksudnya baik, supaya Anda selamat dan tidak tergelincir masuk kawah…..

IMG-20131001-01268Alhamdulillah, saya beruntung bisa mendaki ke “rute terlarang” tadi dan kebetulan tidak ada petugas jaga, sehingga bisa mendapatkan pemandangan yang sangat-sangat indah ini, dari bibir kawah berwarna hijau.

IMG-20131001-01296Ini kawah dua warna dari sudut  yang lain. Satu kawah lagi yang berwarna hitam, terletak cukup jauh dari kedua kawah ini. Nanti Anda akan menyaksikannya.

IMG-20131001-01353Masih pemandangan kawah dua warna, dari sudut pengambilan bibir kawah yang berwarna biru  cerah.

IMG-20131001-01375IMG-20131001-01380Jalan mendaki ke puncak. Di atas (tampak kecil) monumen berupa tugu. Dari puncak sana, kita bisa memandang tiga kawah beda warna. Menengok ke arah kanan kita melihat kawah dua warna, dan menengok ke kiri, melihat satu kawah yang berwarna hitam, seperti foto di bawah ini.

IMG-20131001-01383Inilah kawah berwarna hitam. Masyarakat setempat percaya, Bung Karno pernah menuruni tebingnya, dan “nyemplung” ke kawah ini. Ketiga kawah, oleh masyarakat setempat sangat disakralkan.

IMG-20131001-01384Tugu di puncak Kelimutu. Dari sini, ke mana pun pandangan ditebar, yang tampak hanya keindahan dan keindahan. Tentu bukan suatu kebetulan, jika kemudian Bung Karno sang pecinta keindahan itu dibuang ke Ende. Alam Ende yang begitu indah, adalah spirit bagi Bung Karno untuk tidak berhenti berpikir. Memikirkan “Indonesia merdeka”. (roso daras)

Published in: on 8 Oktober 2013 at 04:22  Comments (2)  
Tags: , ,