Rachmawati dan Film Bung Karno

FILM BK dan Rachma

Tulisan ini di-posting 30 September 2013. Mengapa tidak mengangkat tema G-30-S/PKI atau Gestok? Alasannya ada dua. Pertama, sejak awal September, blog ini sudah memuat surat Ratna Sari Dewi kepada Soeharto. Saking panjangnya surat itu, pemuatannya harus berseri. Alasan kedua, belum ada hal baru yang ingin diposting.

Lantas mengapa menyoroti “perseteruan” Rachmawati Soekarnoputri dengan Multivision ihwal film Soekarno: Indonesia Merdeka? Ada dua alasan juga. Pertama, lelah ditanya-tanya teman. Kedua, saya sendiri sedang terlibat dalam produksi film “Ketika Bung di Ende“, produksi Kementerian Pendidikan Nasional.

Sejak mencuat perseteruan Rachma dan Multivision (Hanung Bramantyo di dalamnya), tak terhitung teman yang meminta komentar atau pendapat saya. Pendapat saya yang datar adalah, “Tidak semestinya hal itu terjadi. Siapa pun, terlebih anak Bung Karno, seharusnya berterima kasih kepada para pihak yang berkenan memfilmkan bapaknya.”

Atas jawaban itu, ada juga yang ingin memperpanjang dengan pernyataan, “Tapi bagaimana kalau pemerannya tidak cocok? Atau jalan ceritanya tidak benar?” Cocok atau tidak cocok, itu mutlak tanggung jawab kreatornya. Kalau cocok, tentu akan dipuji, kalau tidak cocok, kratornya pasti akan menuai kritik. Biarkan saja. Akan halnya jalan cerita…. Jangankan film, buku-buku karangan profesor, doktor, dan penulis-penulis besar pun banyak yang tidak benar.

Bukan itu saja. Buku sejarah untuk anak-anak sekolah di Indonesia pun pernah diselewengkan. Ada yang menulis kelahiran Bung Karno di Blitar (padahal di Surabaya), ada yang menulis Bung Karno pengkhianat, dan lain sebagainya. Sikap saya (tentang hal itu) sudah jelas, “Bung Karno tidak akan lebih besar jika kita puja-puji, Bung Karno tidak akan lebih kecil kalau kita caci-maki”. Sejarah Bung Karno, seperti sejarah yang lain, akan mengalir menemukan jalan kebenarannya sendiri.

Karena itu, atas pertanyaan teman ihwal “perselisihan” Rachma dan Multivision, pernah juga terlontar jawaban saya, “Sikap Rachma tidak pantas sebagai anak seorang Sukarno!” Terlalu vulgarkah komentar itu? Biarkan saja. Anak Sukarno, toh tidak selalu benar. Anak Sukarno bisa juga khilaf. Anak Sukarno bisa saja keliru, dan anak Sukarno, bisa saja melakukan perbuatan kontroversi. Anak Sukarno, bisa saja melakukan hal-hal yang –seandainya masih hidup— membuat Bung Karno murka.

Bung Karno bukan saja “milik” anak-anak biologisnya. Bung Karno adalah milik bangsa. Setelah dijatuhkan secara biadab oleh Soeharto, disusul pelarangan semua ajaran Bung Karno, disusul praktik-praktik pemutar-balikan sejarah, dilengkapi gerakan-gerakan desukarnoisasi, mengakibatkan semua kebesaran Sukarno seolah tertutup awan tebal. Tiga dasawarsa, bangsa ini seperti dilarang membicarkaan Bung Karno (kecuali yang mendiskreditkan).

Ario Bayu (pemeran Bung Karno pilihan Hanung) adalah generasi yang “tidak tahu” siapa Bung Karno. Pernyataannya sebagai seorang yang bukan nasionalis, sontak membuat Rachma menolak. Rachma seperti lupa, bahwa casting bukanlah rekruitmen kader partai. Hanung tidak butuh aktor nasionalis tetapi tidak memenuhi kualifikasi pemeran Sukarno seperti yang ada dalam alam kreatifnya.

Rachma tidak pernah berhitung, sukses Ario Bayu memerankan tokoh Bung Karno, justru bisa menumbuhkan dan melahirkan ribuan, bahkan jutaan Sukarnois baru. Keberhasilan Ario Bayu melakonkan Bung Karno, bisa meninggikan derajat Bung Karno yang telah dikhianati oleh anak bangsanya sendiri. Masih banyak hal positif lain terkait Bung Karno dan nasionalisme yang akan tumbuh subur jika film ini sukses menyedot penonton. Jika itu terjadi, Rachma sudah seharusnya malu. Malu besar!!!

Satu lagi yang cukup mengganggu saya. Aksi mengembalikan uang dua ratus juta rupiah dalam pecahan sepuluh-ribu-an, kepada pihak Multivision.  Sungguh menggelikan. Entah apa yang ada dalam pikiran Rachma saat melakukan aksi itu. Mungkin jengkel karena “Bung Karno” idolanya, Anjasmara, ditolak Hanung. Mungkin juga ada alasan lain yang tidak dia ungkap kepada publik.

Bung Karno kita kenal sebagai manusia istimewa. Keistimewaannya terutama karena dia lebih mengutamakan rakyat dibanding diri-pribadi maupun keluarganya. Keistimewaannya terutama sekali karena dia begitu humanis. Keistimewaannya terutama pula karena dia tidak hanya berkawan dengan kaum nasionalis, tetapi juga berkawan dengan komunis, agamis, bahkan yang tak berpaham sekalipun.

Mengingat itu semua, saya merasa harus lebih bekerja keras untuk syiar Bung Karno. Terutama ketika perbuatan anaknya, setidaknya di mata saya, disadari atau tidak disadari, justru (dalam bahasa anak muda) “bukan Sukarno bangeeeets”….

Nah ihwal keterlibatan saya dalam proyek film Bung Karno yang lain, garapan Kementerian Pendidikan Nasional, ini juga alasan mengapa saya tertarik memposting tulisan ini. Dalam film non-komersial yang didanai APBN ini, judulnya Ketika Bung di Ende. Film yang hanya memotret sebuah fase dalam perjalanan hidup Bung Karno, yakni fase antara tahun 1934 – 1938 ketika ia dibuang ke Ende, Flores (Pulau Bunga).

Pemeran Bung Karno di film ini adalah aktor Baim Wong. Menurut saya, kondisi awalnya “lebih parah” dibanding Ario Bayu yang mengaku bukan nasionalis. Baim bahkan mengaku, (awalnya) dia adalah pengagum Soeharto!!! Setelah menerima peran itu, secara profesional dia mendalami Bung Karno, membaca buku-buku tentang Bung Karno, berdiskusi (salah satunya dengan saya) tentang Bung Karno…. apa kata Baim sekarang? “Tidak ada pemimpin Indonesia sehebat Bung Karno!”

Tentang film “Ketika Bung di Ende”, tunggu tanggal postingnya…. (roso daras)

Published in: on 30 September 2013 at 15:00  Comments (24)  
Tags: , , , ,