Yang Pertama Dikunjungi Bung Karno di Kupang

Four Freedom's

Pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya, ternyata memiliki mata rantai panjang hingga ke Kupang. Jika sejarah lebih mengenal kisah-kisah heroik para pemuda merobek  bendera merah-putih-biru menjadi merah-putih saja, sejatinya belum lengkap. Jika sejarah 10 November hanya dikenal banyak orang  dengan ketokohan Bung Tomo, sejatinya belumlah utuh.

Selain beberapa kisah di atas, pertempuran melawan agresi kedua Sekutu di Surabaya yang menegaskan Jenderal Mallaby itu, sejatinya masih banyak kisah-kisah tercecer yang tak bisa dipandang remeh. Fakta bahwa pertempuran 10 November juga melibatkan para pejuang gigih dari masyarakat luar Surabaya, adalah sebuah fakta yang hanya lamat-lamat terdengar.

Pertempuran 10 November, selain melibatkan arek-arek Suroboyo, juga melibatkan banyak sekali masyarakat  dari daerah lain yang bermukim di sana. Di antara mereka, terdapat para pejuang gigih yang berasal dari Timor (Nusa Tenggara  Timur). Jejak mereka tertancap kokoh melalui sebuah tugu atau monumen di pusat kota Kupang, Ibukota NTT.

Monumen “Four Freedom’s” adalah jejak sejarah 10 November yang tergelar di NTT. Pasalnya, monumen ini dibangun oleh para pejuang yang ikut bertempur pada 10 November di Surabaya. Tahun 1946, mereka bersama-sama pulang ke Kupang, dan memprakarsai pembangunan monumen yang mereka beri nama “Four Freedom’s” (empat kebebasan).

Monumen setinggi kirang lebih 17 meter ini, sekilas tampak sederhana, tetapi jelas sarat makna. Selain bentuk atas yang meruncing, di bawahnya terhadap lima garis, yang melambangkan kelima sila dalam ideologi negara kita, Pancasila.

Bukan hanya  itu, monumen yang berdiri di simpang tiga, tak jauh dari Jalan Soekarno, Kupang itu, memiliki makna yang sangat esensial terkait “human right” atau hak asasi manusia. Dari segi penamaan, “Four Freedom’s” jelas sarat dengan makna kebebasan, makna anti kolonialisme dan imperialisme. Bahkan, teman saya asal daerah itu, Peter A. Rohi menyebutkan, “Sebelum deklarasi of human  right tahun 1948, monumen ini sudah lebih dulu ada. Monumen ini dibangun  tahun 1946,” ujar wartawan senior itu.

Benar.  Pada  salah satu dinding,  terpampang plakat yang sudah samar tapi terbaca jelas, tulisan 17 Agustus 1945 – 23 Oktober 1949. Di bawah tulisan tahun pembuatan, tertera tulisan “SATU: BANGSA, BAHASA, BENDERA, TANAH AIR, LAGU KEBANGSAAN. Sementara di dinding tugu sebaliknya, terpampang plakat kuno bertuliskan “EMPAT KEMERDEKAAN” – “FOUR FREEDOM’S”, dikuti empat kebebasan di bawahnya: DARI RASA KETAKUTAN, DARI KEKURANGAN, BERIBADAT, BERBICARA. Di sebelah teks bahasa Indonesia, tertulis: FOUR FREEDOM’S: FROM FEAR, FROM WANT, OF WORSHIP, OF SPEECH.

Sungguh, satu monumen sederhana dengan makna yang begitu kaya. Ia bahkan lahir sebelum declaration of human right tahun 1948. Dan menjadi lebih bermakna, karena monumen itu dibangun tak jauh (menghadap) benteng pasukan Australia (pro Hindia Belanda). Sungguh, sebuah monumen yang tidak saja menentang penjajahan, tetapi juga menantang pasukan penjajah yang masih bercokol dan tetap ingin bercokol di Tanah Air.

Tak heran, jika dalam setiap kunjungan ke Kupang, hal pertama  yang dilakukan Bung Karno adalah berjalan menuju monumen itu, meletakkan karangan bunga dan memberi hormat sekhidmat-khidmatnya. “Saya masih SD tahun 1950, ketika Bung Karno pertama kali ke Kupang. Saya ikut berbaris menyambut dan menyaksikan Bung Karno turun dari pesawat catalina, yang ketika itu letaknya di bibir jalan yang terletak  monumen “EMPAT KEMERDEKAAN” itu. Dia langsung menuju monumen itu dan meletakkan karangan bunga serta memberinya hormat.”

Ironisnya, nilai-nilai sejarah itu, sama sekali tak berlanjut oleh penguasa negara penggantinya. Megawati sekalipun! Bahkan di era Orde Baru, monumen itu dicat hitam pekat, menutup plakat bersejarah yang ada di kedua bagian monumen. Saat ini, kondisi monumen sudah dicat putih bersih. Pada kelima garis, dicat warna merah. Sayang, dasar monumen sebagian sudah tenggelam karena ditimpa peninggian aspal jalan.

Menapak tilas monumen-monumen sejarah seperti MONUMEN FOUR FREEDOM’S di Kupang, senantiasa mengguratkan nilai-nilai kejuangan yang kental dari segenap anak bangsa. Sayangnya, elite politik kita sangat rendah akan kesadaran sejarah bangsanya sendiri.

Menurut Peter pula, jangankan presiden, bahkan anggota Komnas HAM pun belum pernah ada yang memperhatikan monumen HAM di Kupang tersebut. Oleh masyarakat setempat,  monumen itu juga disebut “Tugu Selam”, karena letaknya tak jauh dari kampung para penyelam mutiara. (roso daras)

 

Published in: on 29 September 2013 at 02:31  Comments (5)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/09/29/yang-pertama-dikunjungi-bung-karno-di-kupang/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. sungguh kasihan dan memprihatinkan monumen itu

    • masih mending pada masa SBY ini peninggalan BK banyak dipugar (rumah pembuangan,taman pancasila dan tugu sederhana di NTT)… jaman ‘HARTO boro2x ada perhatian serius malah kesannya terbengkalai

  2. ORDE BARU sebuah ORDE TERLAKNAT dalam SEJARAH INDONESIA..
    Benar2 ingin menghapus sejarah heroik para pejuang..
    Yang ada menampilkan heroik picisan kroni2 pengkhianat !

    Tambang freeport Grasberg mine has damaged surrounding river systems, such as the Ajikwa river above

    Dan hingga 2006 lalu saja diperkirakan sudah membuang hingga tiga miliar ton tailing yang sebagian besar berakhir di lautan. Sedimentasi laut dari limbah pertambangan hanyalah satu dari berbagai ancaman yang merusak masa depan lautan kita.

    Puncak Jaya di Irian Jaya pada latar belakang dan Muller Glacier pada latar depan, tahun 1990-an Keterangan 2 foto dibawah: tampak semakin berkurangnya salju atau es di Puncak Jaya Papua.

    Freeport juga merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini di era Suharto, dari sipil hingga militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya.

    Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

    Itu pula yang menjadi salah satu sebab, siapapun yang akan menjadi presiden Indonesia kedepannya, tak akan pernah mampu untuk mengubah perjanjian ini dan keadaan ini. Karena, jika presiden Indonesia siapapun dia, mulai berani mengutak-atik tambang-tambang para elite dunia, maka mereka akan menggunakan seluruh kekuatan politik dengan media dan militernya yang sangat kuatnya di dunia, dengan cara menggoyang kekuasaan presiden Indonesia. Kerusuhan, adu domba, agen rahasia, mata-mata, akan disebar diseluruh pelosok negeri agar rakyat Indonesia merasa tak aman, tak puas, lalu akan meruntuhkan kepemimpinan presidennya siapapun dia.

    Inilah salah satu “warisan” orde baru, new order, new world order di era kepemimpinan rezim dan diktator Suharto selama lebih dari tiga dekade~

    Suharto, presiden Indonesia selama 32 tahun yang selalu tersenyum dengan julukannya “the smilling General” , presiden satu-satunya di dunia yang sudi melantik dirinya sendiri menjadi Jenderal bintang lima, namun masih banyak yang ingin menjadikannya pahlawan nasional, karena telah sukses menjual kekayaan alam dari dasar laut hingga puncak gunung, dari Sabang hingga Merauke, yaitu negeri tercinta ini, Indonesia yang besar, Indonesia Raya.

    Indonesia, negeri yang seharusnya memiliki masyarakat nan makmur sebagai Mercu Suar Dunia, yang berguna untuk membantu puluhan negara-negara miskin yang rakyatnya masih banyak dihantui kelaparan berkepanjangan, kini, justru jadi bangsa pengemis.

    • ever onward never retreat comrade!!! suharto CS tidak lengah untuk trus memblowup jargon “….PIYE KABARE [CUK!] UENNNAKKK TENNNAN [KORUPSI] JAMANKU TOOOH…”😛

  3. Konsep 4 Freedom, adalah konsep yang digagas oleh Presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt, “melanjutkan” konsep yang dikenal dengan Piagam Atlantik dari Perdana Mentri Inggris yaitu W. Churcill.
    Konsep 4 kebebasan ini dikemukanan oleh Roosevelt di muka Kongres Amerika Serikat pada 6 Januari 1941.
    Rupa-rupanya konsep ini dipelajari oleh para pejuang tersebut, kemudian dijadikan salah satu prinsip mereka (mengingat konsep 4 kebebasan tersebut memang cukup populer, sebelum munculnya UDHR aka DUHAM), kemudian diabadikan dalam bentuk monumen. Ada kemungkinan lain, sekalipun cuma asumsi saya saja, bisa jadi monumen tersebut ada hubungannya dengan tentara Australia yang ada di sekitar tempat tersebut, berdasarkan pada informasi yang ada pada artikel ini.
    Yah, saya rasa perlu banyak penyelidikan sejarah yang mendalam lagi, sebelum kita terburu-buru berbangga hati…

    *cuma sharing…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: