Mesir di Hati Bangsa Indonesia

Nasser-Bung Karno-Nehru

Mesir bergolak, Mohammad Mursi ditumbangkan, berbuntut perang saudara. Hampir bisa saya pastikan, apa yang terjadi di Mesir saat ini, erat terhubung dengan Amerika Serikat dan sekutunya, baik langsung maupun tidak langsung. Praktik seperti ini pada galibnya sudah berlangsung lama. Setidaknya kita tahu gerakan mereka menumbangkan Bung Karno. Di negara  lain, yang belum terlalu lama terbenam dalam lumpur sejarah, setidaknya kita mengetahui tragedi di Irak diikuti sejumlah negara di Timur Tengah lain, hingga yang terbaru, Mesir.

Saya hanya membayangkan, seandainya Bung Karno masih hidup, dia akan murka sejadi-jadinya. Terlebih adanya hubungan historis yang begitu dalam antardua bangsa: Mesir dan Indonesia.

Mengapa nama (negara) Mesir begitu lekat di (kebanyakan) rakyat Indonesia? Setidaknya ada dua sebab. Pertama, terkait hitoris religius, di mana Mesir dikenal sebagai negara yang melahirkan banyak pemikir-pemikir Islam modern, dan kedua, tak lepas dari kesamaan sikap dua presiden yang sangat terkenal, yakni Gamal Abdul Nasser dan Sukarno.

Menilik perjalanan sejarah dua negara, pada galibnya, Mesir merupakan inspirasi perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Juga inspirasi bagi bertumbuhnya semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Dari sisi Islam, Mesir dengan pembaruan yang mereka gelindingkan, salah satunya melalui Universitas Al-Azhar, merupakan salah satu mercu suar bagi modernisasi jiwa Islam di Indonesia.

Untuk melacak kesaksian di atas, rasanya tidak terlalu sulit. Kita bisa mempelajari kembali tulisan-tulisan Bung Karno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansur, Haji Agus Salim, bahkan HOS Tjokoraminoto sekalipun. Mereka dan para pendekar Islamisme dan Nasionalisme pada tahun 20-an dan tahun 30-an, sering menyitir kisah partai Wafd di Mesir yang radikal, melawan kolonialisme Inggris, dengan barisan pemimpin-pemimpinnya yang patriotik-revolusioner seperti Ghasi Zaglul Pasha, Mustapha Nahas Pasha dan lain-lain. Para pendiri bangsa kita, sering menyebut-nyebut perjuangan pahlawan Mesir melawan Inggris sebagai sebuah contoh.

Nah, dalam hal pemikiran Islam modern, para ulama besar Indonesia  pun banyak yang berkiblat ke ulama besar Mesir. Sejak dahulu kala, Universitas Al-Azhar sering dikunjungi tokoh agama dan pemuda kita. Al-Azhar bahkan kita sebut sebagai Islamic World’s Linghhouse, suatu mercu suar bagi dunia Islam. Rasanya, fenomena itu masih berlangsung hingga kini. Nama-nama rektor dan imam besarnya, seperti Sheikh Mohammad Abduh, Sheikh Mohammad Shaltout, Sheikh Gad El-Haq, dan seterusnya, dipandang sebagai tokoh-tokoh penggerak Islam dari era kebekuan ke era pencairan, dari alam kolot ke alam modern.

Kedekatan emosional dua bangsa diperkokoh dengan momentum Konferensi Asia Afrika di Bandung, April 1955. Konferensi yang melahirkan NEFP (new emerging forces) ini, tak lepas dari peran aktif Indonesia dan Mesir (di samping India, Pakistan, Ghana, Birma, dan lain-lain). Ada yang menarik dalam momentum itu, saat Bung Karno dan Nasser berbincang, disaksikan Roeslan Abdulgani, salah satu tangan kanan Mr Ali Sastroamodjojo sebagai Menlu yang bertindak selaku ketua panitia KAA Bandung.

Kepada Nasser, Bung Karno berkata, “Mesir secara geopolitis penjaga Timur Tengah, di pokok paling barat dari benua Asia, di  mana juga bertemu benua Afrika dan benua Eropa. Indonesia secara geopolitis penjaga Asia Tenggara, di pojok paling timur dari benua Asia, dandi tengah-tengah dua benua dan dua samudera.  Kedua-duanya,  yaitu Mesir dan Indonesia, berada di tengah-tengah garis hidup atau life line dari kolonialisme Eropa Barat, yang melalui laut Mediterania dan Samudera Indonesia menuju ke Tiongkok!”.

Dari ungkapan Bung Karno kepada Mesir tadi, dapat disimpulkan betapa dua negara ini, Mesir dan Indonesia, menjadi negara yang vital dalam berperan aktif membendung kolonialisme dan imperialisme. Konteks itu tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Alhasil, jika hari ini, pemerintah Indonesia bersikap “dingin” atas kemelut yang terjadi di Mesir, sejatinya merupakan pengingkaran sejarah. Bahkan pengkhianatan terhadap sejarah. (roso daras)

Published in: on 19 Agustus 2013 at 09:43  Comments (3)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/08/19/mesir-di-hati-bangsa-indonesia/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya Sangat Setuju, Apalagi Di Alinea Terakhir. Semakin Terlihat Betapa Hilangnya Jati Diri Bangsa. Bagai Seseorang Yang Hilang (dihilangkan) Ingatan Masa Lalunya. Dan Tak Tau Arah Tujuan Kedepan.

    Semoga Suatu Saat Saya Bisa Bertemu Langsung Dgn Bpk.
    Salam.

  2. “djasmerah” para pemimpin kita masih tersimpan rapi di dalam lemari-lemari mewah mereka sehingga tidak memiliki kepekaan sama sekali terhadap nilai-nilai sejarah kedua bangsa.

  3. Bila menelesik kedalam, buka lembaran sejarah pasca ditumbangkannya Bapak Bangsa ~ SUKARNO

    INDONESIA telah kehilangan banyak tokoh2 panutan…
    Yang ada hanya pengkhianat2 dan pengingkar Sejarah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: