Surat Dewi kepada Soeharto (2)

Dalam surat bagian pertama, Dewi secara terang-terangan sudah membuka tentang praktik politik licik yang dijalankan Soeharto. Dewi juga menyoal pembunuhan massal bagi rakyat Indonesia yang terlibat, diduga, atau terindikasi anggota atau simpatisan PKI. Soeharto ada di balik peristiwa tersebut, dan Sarwo Edhie Wibowo, mertua Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) adalah penanggungjawab eksekusi atas sebagian bangsanya sendiri.

Pada penggalan kedua surat Dewi berikut ini, Dewi masih menyoal “kejahatan” Soeharto yang bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan ribu, bahkan ada versi yang menyebutkan jutaan rakyat Indonesia, dengan dalih “menumpas PKI”. Berikut kutipannya:

Ratna Sari DewiMengapa harus terjadi pertumpahan darah besar-besaran terhadap orang-orang yang tak bersalah? Dan mengapa masyarakat dunia membisu seribu bahasa? Bila satu orang saja meninggal di tembok Berlin, seluruh dunia gegap gempita. Teapi bila 800.000 orang Asia dalam masa damai dibunuh secara terencana, adem ayem saja di Barat.

Tentu, di antara yang terbunuh itu pasti ada yang komunis. Tetapi apa yang terjadi dengan kebebasan serta hak asasi manusia, bnila mereka bekerja dengan mempergunakan cara-cara tertentu terhadap suatu gerakan di bawah tanah, yang tidak berkenan di hati pemerintah. Akan lebih bisa diterima bila cara-cara tertentu itu diambil, setelah PKI dilarang secara undang-undang dasar. Tetapi justru karena kebebasan manusia harus dihormati ditinjau dari sudut kemanusiaan, tidaklah dapat dibenarkan mengadakan pembantaian di antara pemberontak. Lepas dari persoalan ideology, yang terjadi itu merupakan kejahatan nasional.

Tuan Soeharto, ke mana pun Anda berpaling untuk mengesahkan kejahatan ini, suatu kejahatan di mana orang yang tidak berdaya dan yang tak terlindung dibunuh dan sebagian lain seolah-olah dibebaskan, terus terang, saya tidak menyetujui apa yang telah terjadi. Bukanlah suatu fakta bahwa pemerintah baru di bawah bendera Orde Baru mempergunakan slogan “menumpas PKI?” Apakah Anda begitu ketakutan bahwa kekuasaan Sukarno akan kembali dan bahwa pengikut-pengikutnya akan muncul kembali, karena Anda tahu benar bahwa lebih dari separo orang Indonesia setia padanya? Hal ini tentu belum Anda lupakan, bukan?

Barangkali Anda telah berpendapat bahwa 30 September telah merupakan masa lalu. Menurut saya tidaklah demikian halnya karena sangat banyak pertanyaan yang belum jelas dan disembunyikan. Saya bersyukur bahwa saya mengalami kejadian-kejadian itu dari dekat dan mengambil hikmah darinya, bahwa kejadian-kejadian sebenarnya dalam sejarah selalu diinterpretasikan ulang oleh mereka yang sedang berkuasa, agar dapat memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan politik mereka. Saya juga menyadari pengaruh yang amat besar dari media publisitas. Betapa mudahnya bagi pemimpin-pemimpin politik tergiur menerima propaganda yang akan menunjang tujuan-tujuan merek.

Marrilah kita berhenti pada peristiwa 30 September, atau menurut fakta, pada dini hari 1 Oktober 1965. Inti dari insiden ini adalah kesimpulan, diperkuat oleh Dewan Revolusioner yang dipimpin oleh salah seorang anggota pengawal pribadi Sukarno, Letkol Untung.

“Sekelompok tertentu dari para jenderal berencana untuk menggulingkan pemerintah dan membunuh Presiden Sukarno. Mereka telah membentuk Dewan Jenderal yang dibentuk dengan tujuan membentuk kekuasaan militer. Lagipula coup itu akan dilaksanakan pada hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober”. Untuk mencegahnya, enam jenderal dibunuh, satu di antaranya menteri pertahanan, yakni Jenderal Yani, demikian Dewan Revolusi.”

Anda telah membuat umat manusia percaya, bahwa komplotan yang melakukan peristiwa 30 September adalah anggota PKI. Buknakah pembunuh-pembunuh sebenarnya dari keenam jenderal itu adalah perwira-perwira Angkatan Bersenjata, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan polisi nasional?

Saya meragukan apakah pembunuh-pembunuhnya khusus orang-orang komunis. Dan siapa sebenarnya orang yang mengorbankan perasaan dendam rakyat Indonesia dan menyulut api dengan menyatakan, “Itu adalah persekongkolan komunis!” Dan itu malah terjadi sebelum ditemukan suatu bukti mengenai persekongkolan komunis.

Menteri Pertahanan, Jenderal Nasution, yang sebenarnya juga harus dibunuh oleh “Dewan Jenderal”, mengucapkan pidato yang mengharukan saat keenam jenderal dimakamkan pada Hari Angkatan Bersenjata, 5 Oktober 1965. Dikatakannya, “Sampai hari ini Hari Angkatan Bersenjata selalu merupakan hari yang penuh rahmat, yang menyinarkan kemenangan. Tetapi hari ini dinodai oleh pengkhianatan dan penyiksaan….. Walaupun difitnah oleh para pengkhianat, di dalam hati kami percaya bahwa Anda sekalian termasuk pahlawan dan bahwa akhirnya kebenaran akan menang. Kami difitnah, tetapi kami tidak akan melakukannya terhadap musuh-musuh kami”.

Di dalam pidato Nasution, tidak ditemukan petunjuk sekecil apa pun, bahwa pembunuhan terhadap keenam jenderal telah dilakukan oleh para komunis. Sebaliknya, segala sesuatu yang diucapkannya menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi karena adanya bersengketaan di dalam kekuatan-kekuatan Angkatan Bersenjata sendiri. (Roso Daras – Bersambung)

Surat Dewi kepada Soeharto (1)

Memasuki bulan September, masyarakat Indonesia akan dikenangkan oleh peristiwa G-30-S/PKI atau Gestok (Gerakan Satu Oktober). Memperingati itu, menarik kiranya kita mengkaji ulang surat terbuka yang pernah dilayangkan Ratna Sari Dewi Sukarno kepada Presiden Soeharto. Surat itu ditulis dan dikirim dari Paris, Perancis pada April 1970.

Mengingat panjangnya surat terbuka Dewi kepada Soeharto, saya mempostingnya dalam beberapa bagian. Berikut adalah surat  Dewi kepada Soeharto bagian pertama.

Ratna Sari Dewi - 1970Yang Mulia, Presiden Soeharto

Sekali-kali bukanlah maksud saya untuk mengingatkan Anda akan hal-hal yang rupanya ingin Anda lupakan. Tetapi karena saya mengikuti kejadian-kejadian di Indonesia  dari dekat, saya anggap tugaskulah untuk berbicara. Mungkin akan lebih bijaksana untuk tetap membisu seperti sphink. Pertanggungjawaban untuk melanggar tabu biasanya amat berat, karena itu saya juga sadar bahwa saya  akan dikucilkan. Barangkali lebih berat daripada yang saya pikirkan.

Baik di dunia maupun di Indonesia lambat-laun akan beredar cerita-cerita yang dipalsukan bahwa saatnya  sudah tiba saya membeberkan kejadian-kejadian dari sudut pandang saya. Saya telah memutuskan untuk menyampaikan surat kepada Anda sebagai warrga negara Indonesia. Selain itu saya mengharapkan agar tidak timbul keragu-raguan bahwa keputusan saya untuk mengirimkan surat terbuka kepada Anda, maupun isinya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Sukarno, mantan Presiden Indonesia.

Sekarang sudah terlambat untuk membicarakan para perwira yang telah dihukum mati sebagai “kontra-revolusioner” dan sebagai “pelaku maker terhadap negara”. Sudah sejak dahulu, sejak hari-hari Sukarno masih berkuasa, saya tidak setuju dengan pendapat bahwa “kekuasaan selalu menang”. Saya juga tidak setuju bila kepala negara mengelilingi dirinya dengan yes-man. Saya masih saja berpendapat bahwa di sekitar Anda masih terlalu banyak orang berkumpul, yang selalu bungkam, yang pura-pura setuju dan menaati Anda, agar mendapatkan lebih banyak kekuasaan untuk dirinya.

Yang pertama-tama saya kutuk ialah yang disebut proses-proses, di mana orang dihukum mati untuk “kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap negara” tanpa mengindahkan norma-norma yang lazim dilakukan dalam suatu proses di pengadilan. Proses-proses itu berlangsung dalam suasana kekerasan dan terror.

Mereka, yang di bawah pimpinan Sukarno hampir tidak punya suara, kemudian melampiaskan diri dengan sangat tidak bertanggung-jawab dan membunuh serta menteror dari posisi kekuasaan yang baru mereka peroleh. Bila suatu waktu nanti tempat Anda kosong untuk diisi oleh orang lain, bisa saja terjadi, bahwa mereka yang menonjol dalam rezim Anda, termasuk di dalamnya tentu Anda sendiri, dan sejumlah  mitra militer Anda, akan  dihukum mati karena pengkhianatan terhadap negara dan kejahatan-kejahatan lain, misalnya korupsi yang telah menyebar luas kemana-mana.

Mengapa Anda memberikan contoh seburuk itu kepada negara semuda Indonesia? Dalam hal ini yang saya maksud tidak hanya proses-proses politik yang telah Anda selenggarakan. Tetapi yang teringat olehku adalah orang-orang yang terbunuh oleh yang dinamakan “pembersihan merah” menyusul peristiwa 30 September 1965. Berapa dari orang-orang ini hanyalah pengikut-pengikut Sukarno? Berita yang merebak menyebutkan bahwa tidak kurang dari 800.000 orang Indonesia, termasuk perempuan dan anak-anak, telah dibunuh karena mereka merupakan pengikut PKI (Partai Komunis Indonesia).

Januari 1966, London Times menulis, “Setelah kejadian-kejadian di Indonesia, tiga bulan yang lalu, telah dibunuh seratus ribu komunis, angka itu menurut diplomat-diplomat Barat amat rendah. Laporan itu selanjutnya menyebutkan ‘Para usahawan dan turis Eropa, yang baru kembali dari Indonesia mengabarkan bahwa mereka melihat sebuah sungai penuh dengan mayat tanpa kepala, sedangkan di desa-desa anak-anak bermain sepakbola dengan kepala korban’. Tiga bulan setelah peristiwa 30 September merupakan mimpi buruk dengan kekejaman-kekejaman yang tak terlukiskan yang diwarnai darah – tanpa tandingan dalam sejarah Indonesia.

Seorang koresponden “Washington Post” menulis dari Jakarta, bahwa di Jawa Timur saja telah dibunuh 250.000 orang menurut juru bicara pihak Islam. Koran itu kemudian memberitahukan bahwa “pembunuhan mencapai puncaknya pada bulan November 1965. Kepala orang dipakai sebagai dekorasi di atas jembatan. Di tempat lain orang melihat jenazah-jenazah tanpa kepala berjajar di atas perahu-perahu di sungai. Apa yang terjadi di sini sungguh tak bisa dibayangkan. Rupanya seperti di neraka. Bengawan Solo yang didendangkan dengan begitu indah memuat demikian banyhaknya jenazah, sehingga arinya pun kadang-kadang tam tampak. Beberapa pengamat berbicara tentang dasar sungai yang berwarna merah karena darah”, demikian Washington Post. Koran Inggris “The Economist” memperkirakan korban pembunnuhan missal berjumlah satu juta. (Roso Daras – BERSAMBUNG)

Published in: on 29 Agustus 2013 at 09:20  Comments (7)  
Tags: , , , ,

Spiritualitas Bung Karno

BK dan CastroSalah satu dimensi seorang Bung Karno, adalah dimensi spiritual. Ini tak bisa dipungkiri. Pada wilayah ini, fokus bahasan Sukarnois tak jauh dari hal-hal terkait kehidupan spiritualitas Bung Karno, baik semasa hidup, ataupun setelah wafat.

Kata spiritual itu sendiri, awalnya bermakna segala sesuatu yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Dalam perkembangannya, orang memakai kata spiritual untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan olah batin, kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan hal-hal gaib.

Kehidupan seseorang dalam kaitan tata cara ibadah, menurut agama dan keyakinannya, sejatinya juga bagian dari laku spiritual. Begitu meluasnya arti spiritual, sampai-sampai penguasaan “ilmu” atau “kesaktian” seseorang, juga dikaitkan dengan spiritualisme.

Bung Karno sebagai manusia “linuwih”, tak luput dari sorotan sisi spiritualitasnya. Bagi pengkaji Islam, agama yang dianut Bung Karno, maka sudut pandang spiritualitasnya dikaitkan dengan langkah-langkah pembaruan Islam yang digiatkan Bung Karno. Dari sisi ini, misalnya, terbit buku “Surat-surat  Islam  dari Ende”. Atau buku Bung Karno dan Kehidupan Berpikir Dalam Islam (Solichin Salam: 1964).

Bayangkan, dalam periode pembuangan di Ende, antara 1934 – 1938, Bung Karno mengkaji Islam dengan sangat dalam. Dia memesan literatur Islam melalui A. Hassan, seorang ulama Islam terkenal dan tokoh organisasi Persatuan Islam (Persis) Bandung. Bung Karno pun berkorespondensi dan berdiskusi tentang Islam dengan Hassan. Surat-menyurat ini berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936. Saking mendalamnya pemahaman Bung Karno tentang Islam, saya pribadi tidak ragu berandai-andai, “Jika Bung Karno ditakdirkan sebagai ulama, niscaya akan lahir aliran atah mahzab Sukarno, atau mungkin Sukarnoiyah.

Nah, dari sisi paranormal, lebih gemar menyorot kemampuan spiritual Bung Karno, dikaitkan dengan fenomena-fenomena menakjubkan yang melekat pada dirinya, Di komunitas ini, topik yang tak habis dikupas misalnya seputar tongkat komando Bung Karno, cincin, hingga kopiahnya. Benda-benda yang melekat pada sosok Sukarno itu, dilihat dari sisi spiritualitas klenik. Dari sana misalnya, bergulir kisah pengawal Presiden AS, Eisenhower yang tidak kuat mengangkat tongkat komando Bung Karno, yang tertinggal di salah satu ruangan di Gedung Putih.

Dari sisi ini, bergulir pula kisah kopiah Bung Karno yang memancarkan aura wibawa laksana mahkota raja. Juga cerita seputar cincin Bung Karno yang memiliki kekuatan tertentu, salah satunya adalah kekuatan untuk “dicintai” (atau digilai?) wanita.

Bahkan, ada yang menyoal jimat tertentu yang  selalu dibawa Bung Karno. Dan jimat itu yang menyelamatkannya dari tujuh kali usaha pembunuhan oleh lawan-lawan politiknya,

Klarifikasi  Bung  Karno tentang kekuatan-kekuatan magis yang melekat pada dirinya, sesungguhnya cukup jelas. Soal luput dari pembunuhan, misalnya, dia menukas, “Kapan manusia mati, itu Tuhan yang menentukan. Jika saya tidak ditakdirkan mati ditembak,  maka saya tidak akan mati karenanya. Dan itu (usaha pembunuhan) tidak membuat saya takut.”

Saya pribadi acap ditanya seputar spiritualitas Bung Karno. Jujur, saya gamang bersikap. Mengapa? Pemahaman saya tentang Islam, sama sekali tidak layak untuk menilai keislaman Bung Karno. Sebaliknya, saya juga bukan peminat spiriitual dalam konteks klenik. Di atas segalanya, spiritualitas manusia, pada galibnya mutlak hanya manusia dan Tuhannya saja yang tahu. Atas dasar apa, kita (sebagai manusia) menilai (apalagi menyimpulkan) kadar spiritualitas manusia lain? (roso daras)

Published in: on 26 Agustus 2013 at 13:17  Comments (7)  
Tags: , , , ,

Mesir di Hati Bangsa Indonesia

Nasser-Bung Karno-Nehru

Mesir bergolak, Mohammad Mursi ditumbangkan, berbuntut perang saudara. Hampir bisa saya pastikan, apa yang terjadi di Mesir saat ini, erat terhubung dengan Amerika Serikat dan sekutunya, baik langsung maupun tidak langsung. Praktik seperti ini pada galibnya sudah berlangsung lama. Setidaknya kita tahu gerakan mereka menumbangkan Bung Karno. Di negara  lain, yang belum terlalu lama terbenam dalam lumpur sejarah, setidaknya kita mengetahui tragedi di Irak diikuti sejumlah negara di Timur Tengah lain, hingga yang terbaru, Mesir.

Saya hanya membayangkan, seandainya Bung Karno masih hidup, dia akan murka sejadi-jadinya. Terlebih adanya hubungan historis yang begitu dalam antardua bangsa: Mesir dan Indonesia.

Mengapa nama (negara) Mesir begitu lekat di (kebanyakan) rakyat Indonesia? Setidaknya ada dua sebab. Pertama, terkait hitoris religius, di mana Mesir dikenal sebagai negara yang melahirkan banyak pemikir-pemikir Islam modern, dan kedua, tak lepas dari kesamaan sikap dua presiden yang sangat terkenal, yakni Gamal Abdul Nasser dan Sukarno.

Menilik perjalanan sejarah dua negara, pada galibnya, Mesir merupakan inspirasi perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Juga inspirasi bagi bertumbuhnya semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Dari sisi Islam, Mesir dengan pembaruan yang mereka gelindingkan, salah satunya melalui Universitas Al-Azhar, merupakan salah satu mercu suar bagi modernisasi jiwa Islam di Indonesia.

Untuk melacak kesaksian di atas, rasanya tidak terlalu sulit. Kita bisa mempelajari kembali tulisan-tulisan Bung Karno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansur, Haji Agus Salim, bahkan HOS Tjokoraminoto sekalipun. Mereka dan para pendekar Islamisme dan Nasionalisme pada tahun 20-an dan tahun 30-an, sering menyitir kisah partai Wafd di Mesir yang radikal, melawan kolonialisme Inggris, dengan barisan pemimpin-pemimpinnya yang patriotik-revolusioner seperti Ghasi Zaglul Pasha, Mustapha Nahas Pasha dan lain-lain. Para pendiri bangsa kita, sering menyebut-nyebut perjuangan pahlawan Mesir melawan Inggris sebagai sebuah contoh.

Nah, dalam hal pemikiran Islam modern, para ulama besar Indonesia  pun banyak yang berkiblat ke ulama besar Mesir. Sejak dahulu kala, Universitas Al-Azhar sering dikunjungi tokoh agama dan pemuda kita. Al-Azhar bahkan kita sebut sebagai Islamic World’s Linghhouse, suatu mercu suar bagi dunia Islam. Rasanya, fenomena itu masih berlangsung hingga kini. Nama-nama rektor dan imam besarnya, seperti Sheikh Mohammad Abduh, Sheikh Mohammad Shaltout, Sheikh Gad El-Haq, dan seterusnya, dipandang sebagai tokoh-tokoh penggerak Islam dari era kebekuan ke era pencairan, dari alam kolot ke alam modern.

Kedekatan emosional dua bangsa diperkokoh dengan momentum Konferensi Asia Afrika di Bandung, April 1955. Konferensi yang melahirkan NEFP (new emerging forces) ini, tak lepas dari peran aktif Indonesia dan Mesir (di samping India, Pakistan, Ghana, Birma, dan lain-lain). Ada yang menarik dalam momentum itu, saat Bung Karno dan Nasser berbincang, disaksikan Roeslan Abdulgani, salah satu tangan kanan Mr Ali Sastroamodjojo sebagai Menlu yang bertindak selaku ketua panitia KAA Bandung.

Kepada Nasser, Bung Karno berkata, “Mesir secara geopolitis penjaga Timur Tengah, di pokok paling barat dari benua Asia, di  mana juga bertemu benua Afrika dan benua Eropa. Indonesia secara geopolitis penjaga Asia Tenggara, di pojok paling timur dari benua Asia, dandi tengah-tengah dua benua dan dua samudera.  Kedua-duanya,  yaitu Mesir dan Indonesia, berada di tengah-tengah garis hidup atau life line dari kolonialisme Eropa Barat, yang melalui laut Mediterania dan Samudera Indonesia menuju ke Tiongkok!”.

Dari ungkapan Bung Karno kepada Mesir tadi, dapat disimpulkan betapa dua negara ini, Mesir dan Indonesia, menjadi negara yang vital dalam berperan aktif membendung kolonialisme dan imperialisme. Konteks itu tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Alhasil, jika hari ini, pemerintah Indonesia bersikap “dingin” atas kemelut yang terjadi di Mesir, sejatinya merupakan pengingkaran sejarah. Bahkan pengkhianatan terhadap sejarah. (roso daras)

Published in: on 19 Agustus 2013 at 09:43  Comments (3)  
Tags: , , , ,

Tentang Bung Karno di DAAI TV

syuting DAAI TV

“Selamat sore pak Roso, tayangan wawancara dengan bapak tentang Sukarno tayang 16 Agustus 2013 pukul 18.00 dan 21.30 WIB dan tayang ulang (re-run) tanggal 17 Agustus 2013 pukul 11.00 dan 15.30 WIB. Terima kasih pak” – Jufril, DAAI TV.

Begitu pesan singkat Jufril, produser DAAI TV yang awal Ramadhan lalu menghubungi saya dan meminta waktu untuk wawancara seputar Bung Karno dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Wawancara itu sendiri sudah direkam kira-kira pertengahan Ramadhan, di areal Global Islamic School, Condet, Jakarta Timur.

Durasi wawancara sendiri lumayan panjang, tak kurang dari 30 menit. Meski begitu, hingga posting ini diunggah, saya belum tahu, versi edit-nya. Entah bagian mana yang dipenggal, entah bagian mana yang ditayangkan, serta berapa lama waktu tayangnya. Biar saja, tim redaksi DAAI TV yang punya wewenang.

Menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia, memang banyak stasiun televisi yang membuat program terkait tema tersebut. Lepas dari substansi dan materi yang diangkat, saya melihat hal itu sebagai fenomena positif.

Lewat postingan ini, saya kembali meminta maaf kepada redaksi Metro TV, khususnya program “8 – 11”, terkait undangan menjadi narasumber seputar proklamasi yang gagal saya penuhi, karena saya masih “mudik”. Semoga, ada kesempatan lain.

Sejatinya, momen proklamasi seperti ini, adalah momen yang sangat bagus untuk kembali mengenang jasa para pendiri bangsa, khususnya proklamator kemerdekaan kita Bung Karno – Bung Hatta. Percayalah, memang hanya bangsa besar yang menghargai jasa para pahlawannya.

Jika saat ini bangsa Indonesia belum sebesar yang dicita-citakan proklamator dan para pendiri bangsa,  bisa jadi (salah satunya) karena kita (sebagai bangsa) belum meresapi benar jasa para pahlawan, serta memberi penghargaan sepatutnya. (roso daras)

syuting DAAI TV-2

Published in: on 16 Agustus 2013 at 07:50  Comments (5)  
Tags: , , ,

Selamat Idul Fitri 1434 H

IDUL FITRI 1434 H

Published in: on 7 Agustus 2013 at 08:38  Tinggalkan sebuah Komentar