Tak Mudah Jadi Penyambung Lidah

Permadi dan Roso Daras

Sebuah kehormatan, manakala melihat layar HP muncul “incoming call” dari Permadi SH. Sosok nasionalis yang mendeklarasikan diri sebagai “Penyambung Lidah Bung Karno”. Sebagai wartawan, setidaknya dua kali saya bersinggungan dengan beliau. Pertama sekitar tahun 1995 di Semarang, dalam forum “Seminar Tuyul”. Ketika itu, Permadi dalam kapasitas sebagai parapsikologi atau paranormal. Kedua, di Bali, dalam forum simposium raja-raja Nusantara tahun 2000-an.

Dalam dua persinggungan itu pun, sama sekali tidak pernah bersoal-jawab tentang Bung Karno. Itu artinya, intensitasnya pun sebatas dia narasumber, dan saya reporter. Tidak lebih dari itu. Bahwa Permadi SH menyebut dirinya “Penyambung Lidah Bung Karno”, saya sudah lama tahu. Akan tetapi karena tidak pernah bersinggungan dalam konteks Putra Sang Fajar, maka sebenarnya, secara batiniah saya tidak memiliki hubungan emosional dengan Permadi SH.

Karenanya, ketika dia menelepon dan mengajak bertemu untuk bersoal-jawab tentang Bung Karno, rasanya sangat menyenangkan. “Akhirnya saya berkesempatan bertemu Permadi dan berbicara tentang Bung Karno,” begitu batin saya, senang.

Kesepakatan waktu pun ditentukan, hari Jumat, 5 Juli 2013 di kantornya, DPP Gerindra, tak jauh dari kebun binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Ya, sejak keluar dari PDI Perjuangan, Permadi bergabung dengan Gerindra, dan menduduki kursi salah satu Dewan Pembina. Saya pun meluncur ke sana. Saya pun menyiapkan mental hanya untuk berbicara tentang Bung Karno. Terlebih saya bukan kader Gerindra, dan bukan kader parpol mana pun! “Saya kader ideologis Bung Karno… ha…ha…ha….,” canda saya dalam hati.

Singkat kalimat, Permadi membuka dialog itu dengan mengkritik buku “Total Bung Karno”. Yang dia kritik bukan substansi, melainkan format penyajian, yang menurutnya terlalu lompat-lompat. Saran dia, sebaiknya diurutkan sejak Bung Karno kecil hingga wafatnya. Saya sepenuhnya menerima kritik Permadi. Kalau toh ada yang harus saya klarifikasi hanya persoalan teknis. Bahwa buku Total Bung Karno bukan biografi, melainkan kumpulan tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini. Itu artinya, sifat tulisan lebih menyerupai fragmen. Sajian tulisan-tulisan pendek yang bersifat selesai.

Pembicaraan pun bergulir bak bola liar. Jika saya simpulkan, pembicaraan pertama dengan Permadi (yang membahas tentang Bung Karno), dimulai dari sejarah Bung Karno, dilanjut hal-hal spiritual tentang Bung Karno, kemudian kegelisahan Permadi melihat nasib bangsa dilengkapi prediksinya tentang masa depan Indonesia, lantas ada juga bahasan tentang niat menerbitkan kumpulan tulisannya, dan lain-lain.

Sangat menarik. Karena banyak hal baru yang saya dapat dari Permadi SH.  Persoalannya, saya tidak atau belum permisi kepada beliau tentang boleh-tidaknya saya share di sini. Jika ada kesempatan berkomunikasi lagi, saya akan meminta izin beliau untuk berbagi cerita tentang Bung Karno, tentang istri-istri Bung Karno, tentang anak-anak Bung Karno, tentang Pak Harto, bu Tien dan putra-putrinya, tentang jenderal-jenderal Orba, hingga alam spiritual Bung Karno, Brawijaya, dan Gajah Mada dan kisah-kisah unik tentang betapa “tidak mudah menjadi penyambung lidah (Bung Karno)”. (roso daras)

 

Published in: on 5 Juli 2013 at 08:29  Comments (3)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/07/05/tak-mudah-jadi-penyambung-lidah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya juga pingin tahu apa yg di bicarakan dengan pak permadi bung ?

  2. Salam anak bangsa.. ikut senang dan bahagia mengetahui pertemuan anda dengan Bpk Permadi. Tentang buku Total Bung Karno yang baru 2 hari ini bersama saya, terkesan sekali utamanya pada artikel surat-surat Bung Karno kepada A. Hassan. Betapa Bung Karno dalam usia sangat muda telah mencapai kematangan intelektual dan emosi yang tinggi. Semoga masa keemasan anak-anak negeri yg diwakili oleh Bung Karno dan generasinya bisa segera datang kembali. Salam..!!

  3. Perjalanan hidup bapak negara tertuang disini, bagaimana kisahnya yang benar-benar berjuang demi rakyat mulai dari perjalanan masa kecil, ditangkap, diasingkan, dan berbagai pengorbanan lainnya hingga proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. tak lupa kisah cinta bung karno kepada wanitapun disajikan dengan jujur.Membaca buku ini membuat saya rindu pemimpin seperti beliau.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: