Terima Kasih, Mesir

Agus Salim-Menlu Mesir-AR Baswedan-1947

Jika Bung Karno begitu dekat dengan Mesir, cukup beralasan. Mesir adalah negara asing pertama yang memberi pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia. Bukan itu saja, sebagai tuan rumah Konferensi Liga Arab 18 November 1946, Mesir berhasil meyakinkan Liga Arab untuk memberikan pengakuan kepada Republik Indonesia.

Berita itu tentu saja disambut hangat oleh Indonesia. Bung Karno segera mengutus Menteri Muda Luar Negeri H. Agus Salim berangkat ke Timur Tengah. Dalam rombongan Agus Salim terdapat nama Abdul Rahman Baswedan. Dia adalah Menteri Muda Penerangan. Rombongan yang hanya berbekal “Surat Keterangan Jalan” (karena pemerintahan baru belum mengeluarkan paspor) itu, tiba di Kairo 10 April 1947.

Setiba di sana, rombongan tidak bisa begitu saja diterima Menlu Mesir. Agus Salim dan rombongan harus melakukan lobi terlebih dahulu. Para pemuda Indonesia yang tengah belajar di Kairo, banyak yang ikut membantu Agus Salim, AR Baswedan, dan rombongan melakukan pendekatan ke berbagai pihak, antara lain ke Sekjen Liga Arab, koran terbesar di Kairo, Al Ihram, dan beberapa pihak lain.

Lobi pun berhasil, dan rombongan Indonesia sedia diterima Menlu Mesir Nokrashi Pasha, pada 10 Juni 1947. Kabar akan diterimanya delegasi Indonesia oleh Menlu Mesir ini segera sampai ke Kedubes Belanda di Mesir. Sang Kedubes pun tergopoh-gopoh menyambangi sang Menlu dan mengajukan protes. Ia mengklaim Indonesia masih di bawah kekuasaan Belanda dan kini negeri itu dipimpin oleh “ekstremis boneka Jepang”.

Protes Dubes Belanda di Mesir itu ditolak. Dan sejarah pun tertoreh, “Pengakuan Mesir terhadap Kedaulatan Republik Indonesia” ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Norkrashi Pasha, mewakili Mesir, dan H. Agus Salim, Menteri Muda Luar Negeri mewakili Indonesia. Inilah naskah pengakuan kemerdekaan Indonesia pertama. Menjadi begitu penting, karena “pengakuan negara asing” adalah menjadi salah satu syarat “kemerdekaan” suatu bangsa.

Pada titik ini, peran Abdul Rahman Baswedan, atau akrab disapa AR Baswedan menjadi sentral. Sebab, delegasi dihadapkan pada persoalan, menuntaskan misi menemui negara-negara anggota Liga Arab di satu sisi, dan di sisi lain harus segera menyampaikan “surat pengakuan Mesir” itu ke pemerintah Indonesia yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta. Agus Salim kemudian memerintahkan Baswedan untuk pulang duluan, dengan amanat membawa dokumen penting itu selamat sampai ke pemerintah Indonesia.

Sebelum berpisah, Agus Salim memberi wasiat kepada AR Baswedan, “Bagi saya, tidaklah penting apakah saudara sampai di Tanah Air atau tidak, yang penting dokumen-dokumen ini harus sampai di Indonesia dengan selamat.”

Perjalanan kembali ke Tanah Air, ditempuh lebih dari satu bulan, setelah transit di Bahrain, Karachi, Calcutta, Rangoon, dan Singapura. Di Calcutta malah ada kejadian lucu, tempat duduk Baswedan diserobot penumpang lain. Baswedan yang tidak kalah gertak, akhirnya bisa menyingkirkan penumpang itu dari kursinya.

Setiba di Saingapura, Baswedan sempat tertahan. Selain situasi Indonesia panas akibat kembalinya pasukan Sekutu yang hendak memadamkan api kemerdekaan Indonesia. Selama menunggu di Singapura, Baswedan pun kehabisan bekal. Beruntung, dua orang keturunan Arab di Singapura, memberi bantuan tiket buat Baswedan pulang ke Indonesia, tanggal 13 Juli 1947.

Tiba di Bandara Kemayoran, Baswedan sudah menyiapkan diri dari pemeriksaan imigrasi Belanda. Dokumen-dokumen penting itu ia sembunyikan di dalam kaos kaki. Berhasil keluar dari bandara, ia menuju rumah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, dan tak lama kemudian bertolak ke Jogja naik kereta api. Keesokan harinya, dokumen itu berhasil diserahkan kepada Presiden Sukarno di Gedung Agung, dengan selamat. (roso daras)

Published in: on 2 April 2013 at 04:18  Comments (8)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2013/04/02/terima-kasih-mesir/trackback/

RSS feed for comments on this post.

8 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sosok yg pantang menyerah..

  2. Pak Roso Daras, apakah dokumen itu hingga sekarang masih disimpan? bisa kita lihat dimana ya pak? terimakasih.

    • Mestinya, dan seharusnya tersimpan di Arsip Nasional. Silakan ke Jl Ampera, Jaksel. Cek di sana.

  3. Kalau saja ini jadi Film, pasti bagus…tidak usah didramatisirpun semua itu sudah sangat DRAMATIS, semoga Allah memberikan balsan yang berlipat ganda kepada para pahlawan kita.

  4. sebuah perjuangan yang luar biasa, kesetiaan yang tak mungkin bisa diukur dengan apapun , keteladanan inilah yang patut menjadi kaca benggala bangsa ini

  5. Tidak terbayang betapa bahagianya AR baswedan kala itu, saya saja yang jauh dari masa itu ikut merasakan bahagia dan “deg-degan” membaca kisahnya.

  6. Reblogged this on Jurnal Simbangando and commented:
    Cocok untuk difilmkan…

  7. Ingatkah para mereka yang sekarang menikmati dari apa yang sudah diperjuangkan para tokoh yang tanpa pamrih untuk Negeri ini…??
    Hanya orang2 yang punya jiwa rasa yang mampu tergugah dengan cerita diatas…

    JASMERAH !!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: