Marshal Green Diplomat Spesialis Kudeta

green dan sukarno 1965Melihat track record diplomat Marshal Green, tak salah jika ia layak diberi label “spesialis kudeta”. Dalam beberapa penugasan oleh negaranya, Amerik Serikat, ia “sukses” menggusur elite politik di negeri tempat dia bertugas. Semua elite politik yang dia gusur, adalah elite politik yang “tidak disukai” Amerika Serkat.

Syahdan, ketika dia ditunjuk Amerika Serikat menggantikan Dubes Howard Jones sebagai Dubes AS di Indonesia, Bung Karno tegas menolak. Dubes Green tak lebih dari seorang agen CIA yang disusupkan ke negara-negara yang hendak “dikuasai” dengan predikat diplomat.

Kejadian Mei 1965 itu, mengakibatkan pelantikan Dubes Green sempat tertunda dua minggu. Bung Karno bahkan tengah menyiapkan kampanye nasional untuk menolak Green menjadi Dubes di Indonesia.

Dalam sejarah penugasannya, Green pada tahun 1956 pernah ditugaskan di Teheran (Iran) dan berhasil menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Musadegh yang bertindak menasionalisasikan perusahaan minyak Abadan. Kemudian pada tahun 1960, ia bertugas di Korea Selatan dan berhasil menggulingkan Presiden Syngman Rhee yang tidak disukai Amerika Serikat.

Meski begitu, penolakan Bung Karno tidak didukung oleh Dr Subandrio, Menlu yang dikenal sangat dekat dengan Presiden. Soebandrio bahkan sudah menyiapkan surat persetujuan dan tinggal disodorkan kepada Bung Karno untuk disodorkan. Soebandrio termasuk yang menghalang-halangi niat Bung Karno melancarkan kampanye nasional menolak Marshall Green.

Bung Karno bahkan sudah berencana mengusir Green yang ketika itu sudah berada di Jakarta. Sejarah toh bergulir lain. Bung Karno karena desakan Soebandrio toh akhirnya menandatangani persetujuan penempatan Marshall Green di Jakarta.

Akan tetapi, penerimaan itu tidak sepenuh hati. Ini terbukti saat pidato penerimaan surat dubes Green kepada Presiden Sukarno, digunakan oleh Bung Karno untuk menghantam Amerika Serikat dengan kritiknya yang tajam. Peristiwa ini terjadi pada 26 Juli 1965. Bung Karno dengan lantang mengecam kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Sementara itu, Dubes Green hanya bisa diam dan berdiri tegak di ruang upacara. Di kemudian hari baru ia berbicara, bahwa peristiwa itu akan dikenang seumur hidup. Saat Amerika Serikat dikecam di upacara penerimaan Green sebagai Dubes AS di istana, ia merasa sangat tidak nyaman, dan ingin rasanya ia berlari meninggalkan tempat upacara.

Ia mengaku takut, jika ia menuruti emosi dan keluar tempat upacara, ia akan di-persona-non-grata-kan, diusir dari Indonesia. Karenanya, ia bertahan mendengarkan pidato Bung Karno hungga selesai. (roso daras)

Published in: on 2 Januari 2013 at 08:34  Comments (3)  
Tags: , , , ,