Guntur, Buku, dan Mengapa?

Sabtu, 17 November 2012 lalu, mestinya saya menghadiri acara peluncuran buku “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”, karya Guntur Soekarno Putra. Dari siang, M. Achadi, mantan Menteri Transkop pada Kabinet Dwikora, sudah mengingatkan saya, bahkan mengajak janji temu sebelum sama-sama berangkat ke tempat acara. Sangat menyesal, saya mengurungkan kepergian saya ke acara peluncuran buku di Atrium Sampoerna Strategic, di kawasan Sudirman.

Meski begitu, jauh sebelum acara berlangsung, saya dan pak Achadi sempat mendiskusikan ihwal buku dan penulisnya. Saya sendiri sudah mengoleksi buku yang dicetak ulang itu. Angle tulisan sangat bagus. Sebab, Guntur tidak hanya memotret bapaknya sebagai seorang Presiden, Kepala Negara dan tokoh dunia, melainkan Bung Karno sebagai Bapak, Kawan, dan Guru.

Melihat dari judul (sampul) buku, rasanya tidak ada kata-kata “revisi”. Artinya, benar-benar cetak ulang dengan materi yang sama. Jika itu benar, secara pribadi saya sangat menyesalkan. Mengapa? Buku itu pertama kali terbit tahun 1977, tahun-tahun yang Guntur menyebutkan sebagai, “untuk mengurus izin terbit saja sangat susah”. Ada aroma Orde Baru di sana. Ada aroma pressure di sana. Bahwa jika kemudian buku itu diizinkan terbit, saya pribadi yakin, karena isinya memang tidak terlalu “membahayakan” pemerintahan Orde Baru.

Akan tetapi, semua cerita unik sarat nuansa humanisme Bung Karno di dalam buku itu, sesungguhnya ada beberapa yang bisa diselipkan persepsi, atau setidaknya ulasan yang lebih bersifat latar belakang. Tujuannya jelas, agar pembaca menjadi lebih paham tentang suasana saat peristiwa itu terjadi. Saya menyebut contoh, ihwal keikutsertaan Guntur dalam beberapa jamuan makan malam bersama pimpinan-pimpinan dunia kaliber Nehru, Nasser, Chou En Lai, dan lain-lain. Ia menggambarkan suasana dari sudut pandang seorang anak. Kalau saja Guntur menyelipkan esensi kebesaran pengaruh Bung Karno bagi para pemimpin dunia berkembang (Asia-Afrika).

Tak bisa dipungkiri, hanya Bung Karno seorang, tokoh dunia ketika itu yang bisa mempersatukan para kepala negara dengan berbagai macam latar ideologi politik dan agama. Bung Karno menyatukan para pemimpin Afrika, para pemimpin Arab, hingga para pemimpin besar Asia lain seperti Gandhi, Nehru (India), Mao Tse Tung, Chou En Lai (Cina). Pemimpin Islam, pemimpin nasionalis, hingga yang komunis bisa dipersatukan oleh Bung Karno.

Salah satu judul, Guntur juga bercerita, yang menurut dia barangkali lucu. Suatu ketika, saat diajak bapaknya hadir di jamuan makan malam, Guntur tidak menyukai makanan yang dihidangkan. Dengan berpura-pura makan sambil menutup kain lap, ia muntahkan makanan di mulutnya ke bawah meja. Ia merasa lucu karena membayangkan bagaimana reaksi petugas cleaning service setelahnya…. Artinya, sama sekali tidak terlintas kemungkinan reaksi cleaning service yang menyesalkan perilaku anak seorang pemimpin besar dunia, yang membuang makanan ke kolong meja.

Tulisan-tulisan Guntur tentang Ratna Sari Dewi, buat saya, juga agak sarkastik. Bisa jadi karena dia (dalam hati kecilnya) tidak suka kehadiran Ratna Sari Dewi dalam kehidupan bapaknya, atau entah alasan lain. Tetapi, jika itu alasannya, mengapa dia tidak menulis tentang wanita-wanita lain yang dicintai Bapaknya?

Cerita Guntur protes ke bapaknya karena kalau apel ke rumah pacar tetap dikawal…. kisah Guntur belajar nyetir di halaman istana… kisah humanis tentang juru masak favoritnya, dan masih banyak cerita menarik lainnya, sungguh membuat siapa pun yang membaca, seolah merasakan ada di dekat Bung Karno, berada di dekat lingkungan kehidupan keluarga Bung Karno. Karena itu pula, lepas dari kekurangannya, buku ini tetap memiliki banyak kelebihan.

Diskusi (atau lebih pas ngerumpi) antara saya dan pak Achadi tentang Guntur, juga sampai ke pertanyaan, “Mengapa Guntur tidak terjun ke politik?” Muncullah banyak dugaan. Mulai dari yang “mematuhi larangan Bapaknya”, hingga “mematuhi larangan Orde Baru”. Jika alasan pertama, mengapa pula sebagai sulung dia membiarkan adik-adiknya berpolitik? Jika alasan yang kedua, ada dua kemungkinan. Pertama, sebagai sulung dia ingin melindungi adik-adiknya. Kedua, Guntur memang bukan Bung Karno. (roso daras)

 

Published in: on 19 November 2012 at 03:01  Comments (7)  
Tags: , , , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2012/11/19/guntur-buku-dan-mengapa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. ehm, saya ingin segera memiliki buku itu.

  2. yah bung, knpa gak infokan saya.
    Kalau saya tahu ada event seperti itu insyaallah akan saya sempatkan hadir….🙂

  3. Mantap komen komandan ku ini…kapan buku barunya terbit, Mas Roso?

    • Hallo syam!! Mana naskahmu????????

  4. Kritisan dari Bung Roso, tentang Buku Guntur, hehe…
    Tapi benar juga, jaman Orbau.. semua yg bernuansa SUKARNO, mana ada yg nggak kena sensor…
    Kalopun ada penulis dari barat, nggak akan lama bisa beredar alias di bredel…
    Bila buku Guntur ini revisi, seharusnya lebih up to date dari kesan natural Guntur bercerita atau melihat peristiwa kesaharian Bapak nya, juga sekitar….

  5. jangan takut bicara tentang soekarno.
    karena bung karno sangat pantas di bicarakan.
    kebenaran akan mengalir seperti air.

  6. mohon informasi dimana saya bisa dapatkan buku cetakan ini, coba cari di gramedia, Gunung Agung masih belum ada.
    Terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: