Ke Ende? Jadilah!

Persidangan Landraad yang kemudian mencuatkan pledoi “Indonesia Menggugat”, berujung pada dijebloskannya Bung Karno (dan teman-teman aktivis PNI lain) ke penjara Sukamiskin. Dalam suatu kisah, Bung Karno menceritakan, betapa pemerintahan kolonial Belanda tidak membedakan antara tahanan politik dan bromocorah.

Walhasil, Bung Karno pun mendekam bersama para pencuri, pemerkosa, hingga para koruptor. Di dalamnya, bercampur aduk, antara narapidana berkulit sawo matang dan berkulit bule. Jerajak besi adalah sebuah konsekuensi perjuangan yang telah tertanam di benak Sukarno, bahkan jauh sebelum ia “dilirik” Belanda.

Ia telah menyaksikan, betapa sang guru, HOS Cokroaminoto, dengan Sarekat Islam-nya, juga beberapa kali harus mendekam di penjara. Karena itu, sepengap dan segelap apa pun ruang penjara, tak pernah menggelapkan hati dan pikiran Bung Karno. Syahdan, ketika ia bebas, yang terlintas di benaknya adalah, “Lanjutkan perjuangan!”.

Karya tulis Bung Karno sekeluar dari penjara yang begitu fenomenal adalah “Mencapai Indonesia Merdeka”. Buku itu diterbitkan Hadji Umar Ratman, Bandung. Untuk ukuran sekarang, buku itu tidak terlalu tebal. Tahun 80-an (seingat saya), penerbit Gunung Agung pernah mencetak ulang. Tebalnya kurang dari 100 halaman. Buku itu sendiri terdiri atas 10 judul:

Chapter 1: Sebab-Sebabnya Indonesia Tidak Merdeka

Chapter 2: Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern

Chapter 3: “Indonesia, Tanah yang Mulia, Tanah Kita yang Kaya; Disanalah Kita Berada untuk Selama-lamanya!”….

Chapter 4: “Di Timur Matahari Mulai Bercah’ya, Bangun dan Berdiri, Kawan Semua!”….

Chapter 5: Gunanya Ada Partai

Chapter 6: Indonesia Merdeka Suatu Jembatan

Chapter 7: Sana Mau Ke Sana, Sini Mau Ke Sini

Chapter 8: Machtsvorming, Radikalisme, Aksi-Massa

Chapter 9: Disebrangnya Jembatan Emas

Chapter 10: Mencapai Indonesia Merdeka

Dalam waktu beberapa bulan saja, buku itu sudah mengalami pencetakan ulang hingga empat kali. Selain karena masyarakat rindu akan tulisan-tulisan Bung Karno, juga karena dukungan media massa pro pergerakan ketika itu. Seperti misalnya komentar koran “Djawa Tengah” yang menulis: “Namanja tuan Ir Soekarno sebagai volksredenaar dan sebagai penulis sudah tjukup terkenal, hingga pudjian buat itu buku kita rasa boleh troeslah berikan lagi“…..

Suratkabar “Bintang Timur” menulis, “Ir Soekarno mempunjai kepandaian menulis…. pada bangsa kita masih terlalu sedikit kitab-kitab sebagai itu”. Lalu, suratkabar “Sin Tit Po” menulis, “…buku tersebut tidak kurang berharganja, terutama, bagi mereka jang masih muda dalam pergerakan disini.” Simak pula tulisan koran “Pertja Selatan”, “Tidak usah kita pudji terlebih djauh karena semua orang kenal siapa Ir Soekarno, Penting sekali ini buku bagi kaum pergerakan”.

Suratkabar “Pemandangan” menulis, “…sungguh practisch isinja… Sungguh berfaedah untuk dibatja, apalagi bagi kaum politik”. Sementara itu, koran “Djawa Barat” menulis, “Ir Soekarno ada seorang pemimpin pergerakan jang terkenal…. sehingga namanja sadja, sudah tjukup mendjadi suatu ‘garantie’ dari penting dan berpaedahnja buku itu”. Media “Pewarta” menulis, “….sangat berguna sekali bagi rakjat Indonesia jang telah masuk semangat kemerdekaannja”.

“Sumanget” menulis, “….sungguh tidak mengherankan kalau itu risalah lekas habis, karena buat bangsa Indonesia berguna sekali mempunjai buku risalah tersebut!”. Lantas koran Fikiran Rakjat mengomentari, “…Kami pudjikan sekali pembatja membatja risalah itu, sebab isinja teramat penting”. Tak kurang dari koran “Sinar Sumatra” pun berkomentar, “Ini buku selainnja ada harganja buat diketahui isinja pun ada sebagai pengunjuk untuk pergerakan dan pertjaturan politik rakjat”.

Dua media berbahasa Sunda, “Sipatahunan” dan “Sinar Pasundan”, masing-masing mengomentari, “Saenjana sanadjan henteu di berendelkeun kumaha eusina oge, ku nendjo ngaranna djeung ngingetkeun ka ni ngarangna bae, urang geus bisa ngira-ngira kepentinganna ieu buku… Keur kaum pergerakan mah, ieu buku te katjida perluna….” dan “Kana kepentingan eusina, saenjana teu perlu pandjang-pandjang dipitjatur, ku matja ngaan nu ngarangna oge, njaeta Ir Soekarno, ku urang mo burung hawangwang mamundelna… ieu buku eusina maundel parenting”.

Indonesia Menggugat, berbuah penjara Sukamiskin. Jika, “Mencapai Indonesia Merdeka” harus membuatnya dibuang ke Ende, maka jadilah! (roso daras)

Published in: on 17 November 2012 at 02:54  Comments (3)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2012/11/17/ke-ende-jadilah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ada kenangan tersendiri tentang buku tsb. Sayang,ketika sy baca buku tsb mungkin usia sy masih trlalu muda,jadi kurang memahami maknanya. Jadi pengin baca buku itu lagi,agar sy bisa lebih menelaah tentang cita2 pendiri negara ini buat rakyatnya.

  2. Napak tilas”Putra Sang Fajar” Bung Karno, area Bandung, terasa ada yang menuntun, atau saking keinginan yg menggebu…
    Mulai dari THS-ITB, Kediaman Ibu Inggit-nyengseret, Banceuy-yang tinggal pos plus kamar tahanan,Sukamiskin-arcamanik, sampai jejak” Cihapit, Gedung Merdeka, Gedung Pledoi”Indonesia Menggugat”…

    Merdeka…. !!!!

  3. Mas Roso punya buku ini ndak? mau dong saya difotokopikan dan dikirimi..nanti tak ganti ongkosnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: