Benang Merah Pidato Bung Karno (1)

Orang boleh saja mengatakan, Bung Karno dilahirkan oleh zaman. Atau sah-saja anggapan yang mengatakan bahwa Bung Karno adalah manusia pilihan Tuhan untuk Indonesia merdeka. Bahkan, harus kita maklumi juga pendapat yang mengatakan, Bung Karno lahir karena kebetulan.

Lepas dari itu, saya hanya ingin menyampaikan catatan sejarah tentang pemimpin dan kepemimpinan Bung Karno, setidaknya yang tertuang dalam pidato-pidato kenegaraannya. Saya akan cuplikkan pidato-pidato Bung Karno per lima tahun. Tulisan pertama ini, adalah nukilan Pidato Bung Karno pada peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus 1945 – 1950.

1945 (17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia)

“Sekarang tibalah saatnya kita benar-benarr mengambil nasib bangsa dan nasib-tanah-air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.”

1946 (Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!)

“Kita cinta damai, tetapi kita lebih lagi cinta kemerdekaan.”

1947 (Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung)

“Kutegaskan: Kita tidak mau dimakan. Dus, kita melawan!…. Sesudah Belanda menggempur… mulailah ia dengan politiknya devide et impera, politiknya memecah-belah… maka kita bangsa Indonesia harus bersemboyan bersatu, berjuang, berkuasa!

1948 (Seluruh Nusantara Berjiwa Republik)

“Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangunkan soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidak-merdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal… Bersatulah. Bhinneka Tunggal Ika. kalau mau dipersatukan, tentulah bersatu pula!”

1949 (Tetaplah Bersemangat Elang-Rajawali!)

“Kita belum hidup di dalam sinar bulan yang purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang-rajawali!”

1950 (Dari Sabang Sampai Merauke)

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya si tiga warna. Selama masih ada ratap-tangis digubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai!…. Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyaknya keringat.”

Tidak menggambarkan isi pidato secara keseluruhan, memang, tetapi saya rasa cocok untuk sumber inspirasi setelah membaca postingan ini. Merdeka!!! (roso daras – Bersambung)

Published in: on 20 November 2012 at 04:06  Comments (6)  
Tags:

Guntur, Buku, dan Mengapa?

Sabtu, 17 November 2012 lalu, mestinya saya menghadiri acara peluncuran buku “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”, karya Guntur Soekarno Putra. Dari siang, M. Achadi, mantan Menteri Transkop pada Kabinet Dwikora, sudah mengingatkan saya, bahkan mengajak janji temu sebelum sama-sama berangkat ke tempat acara. Sangat menyesal, saya mengurungkan kepergian saya ke acara peluncuran buku di Atrium Sampoerna Strategic, di kawasan Sudirman.

Meski begitu, jauh sebelum acara berlangsung, saya dan pak Achadi sempat mendiskusikan ihwal buku dan penulisnya. Saya sendiri sudah mengoleksi buku yang dicetak ulang itu. Angle tulisan sangat bagus. Sebab, Guntur tidak hanya memotret bapaknya sebagai seorang Presiden, Kepala Negara dan tokoh dunia, melainkan Bung Karno sebagai Bapak, Kawan, dan Guru.

Melihat dari judul (sampul) buku, rasanya tidak ada kata-kata “revisi”. Artinya, benar-benar cetak ulang dengan materi yang sama. Jika itu benar, secara pribadi saya sangat menyesalkan. Mengapa? Buku itu pertama kali terbit tahun 1977, tahun-tahun yang Guntur menyebutkan sebagai, “untuk mengurus izin terbit saja sangat susah”. Ada aroma Orde Baru di sana. Ada aroma pressure di sana. Bahwa jika kemudian buku itu diizinkan terbit, saya pribadi yakin, karena isinya memang tidak terlalu “membahayakan” pemerintahan Orde Baru.

Akan tetapi, semua cerita unik sarat nuansa humanisme Bung Karno di dalam buku itu, sesungguhnya ada beberapa yang bisa diselipkan persepsi, atau setidaknya ulasan yang lebih bersifat latar belakang. Tujuannya jelas, agar pembaca menjadi lebih paham tentang suasana saat peristiwa itu terjadi. Saya menyebut contoh, ihwal keikutsertaan Guntur dalam beberapa jamuan makan malam bersama pimpinan-pimpinan dunia kaliber Nehru, Nasser, Chou En Lai, dan lain-lain. Ia menggambarkan suasana dari sudut pandang seorang anak. Kalau saja Guntur menyelipkan esensi kebesaran pengaruh Bung Karno bagi para pemimpin dunia berkembang (Asia-Afrika).

Tak bisa dipungkiri, hanya Bung Karno seorang, tokoh dunia ketika itu yang bisa mempersatukan para kepala negara dengan berbagai macam latar ideologi politik dan agama. Bung Karno menyatukan para pemimpin Afrika, para pemimpin Arab, hingga para pemimpin besar Asia lain seperti Gandhi, Nehru (India), Mao Tse Tung, Chou En Lai (Cina). Pemimpin Islam, pemimpin nasionalis, hingga yang komunis bisa dipersatukan oleh Bung Karno.

Salah satu judul, Guntur juga bercerita, yang menurut dia barangkali lucu. Suatu ketika, saat diajak bapaknya hadir di jamuan makan malam, Guntur tidak menyukai makanan yang dihidangkan. Dengan berpura-pura makan sambil menutup kain lap, ia muntahkan makanan di mulutnya ke bawah meja. Ia merasa lucu karena membayangkan bagaimana reaksi petugas cleaning service setelahnya…. Artinya, sama sekali tidak terlintas kemungkinan reaksi cleaning service yang menyesalkan perilaku anak seorang pemimpin besar dunia, yang membuang makanan ke kolong meja.

Tulisan-tulisan Guntur tentang Ratna Sari Dewi, buat saya, juga agak sarkastik. Bisa jadi karena dia (dalam hati kecilnya) tidak suka kehadiran Ratna Sari Dewi dalam kehidupan bapaknya, atau entah alasan lain. Tetapi, jika itu alasannya, mengapa dia tidak menulis tentang wanita-wanita lain yang dicintai Bapaknya?

Cerita Guntur protes ke bapaknya karena kalau apel ke rumah pacar tetap dikawal…. kisah Guntur belajar nyetir di halaman istana… kisah humanis tentang juru masak favoritnya, dan masih banyak cerita menarik lainnya, sungguh membuat siapa pun yang membaca, seolah merasakan ada di dekat Bung Karno, berada di dekat lingkungan kehidupan keluarga Bung Karno. Karena itu pula, lepas dari kekurangannya, buku ini tetap memiliki banyak kelebihan.

Diskusi (atau lebih pas ngerumpi) antara saya dan pak Achadi tentang Guntur, juga sampai ke pertanyaan, “Mengapa Guntur tidak terjun ke politik?” Muncullah banyak dugaan. Mulai dari yang “mematuhi larangan Bapaknya”, hingga “mematuhi larangan Orde Baru”. Jika alasan pertama, mengapa pula sebagai sulung dia membiarkan adik-adiknya berpolitik? Jika alasan yang kedua, ada dua kemungkinan. Pertama, sebagai sulung dia ingin melindungi adik-adiknya. Kedua, Guntur memang bukan Bung Karno. (roso daras)

 

Published in: on 19 November 2012 at 03:01  Comments (7)  
Tags: , , , , , ,

“Hartono KKO”, Tragedi Loyalis Bung Karno

Pertama, saya harus menulis “Hartono KKO” untuk membedakan antara Letnan Jenderal (KKO) Hartono dengan nama-nama Hartono lainnya. Dia adalah satu di antara sekian banyak jenderal loyalis Bung Karno. Dia adalah satu di antara elite militer negeri kita pada masanya, yang begitu loyal kepada presidennya. Ucapan yang terkenal dari Hartono adalah, “Putih kata Bung Karno, Putih kata KKO. Hitam kata Bung Karno, Hitam kata Bung Karno”. Akibat statemen itu, tak lama kemudian di Jawa Timur, prajurit KKO berdemo dan membentang poster bertuliskan, “Pejah-gesang Melu Bung Karno”… yang artinya, Mati-Hidup Ikut Bung Karno. Ini adalah nukilan sejarah yang terjadi tahun 1966.

Tahun 1966 adalah tahun genting. Tahun transisi pemerintahan dari Bung Karno ke Soeharto. Dengan dukungan Kostrad (baca: Angkatan Darat), serta back-up asing, Soeharto makin mengukuhkan dominasi politiknya. Melalui jalan merangkak, satu per satu kekuataan Bung Karno dipreteli. Kewenangan yang dikebiri, hingga penggantian sebagian besar anggota DPR-MPR dengan kader-kader karbitan yang pro Soeharto, sehingga memuluskan semua proses penggulingan Bung Karno, yang seolah-olah konstitusional.

Kembali ke Hartono KKO. Dia termasuk elite militer yang mengetahui adanya gelagat mencurigakan sebelum peristiwa Gestok. Bukan itu saja, Hartono juga termasuk yang mencurigai Soeharto sebagai “master mind” di balik Gestok. Pernah suatu hari, dia bersama Waperdam Chaerul Saleh diutus Bung Karno untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Soeharto sebagai pelaksana Supersemar. Intinya adalah, meluruskan hakikat Supersemar, termasuk melarang Soeharto mengambil tindakan-tindakan politik yang menjadi wewenang Presiden. Jawab Soeharto, “Sampaikan ke Bapak, itu tanggung jawab saya.”

Sebagai jenderal pasukan elite, mendidih hati Hartono. Meradang amarah demi melihat sesama prajurit (meski beda angkatan) tetapi berani menentang panglima tertinggi. Karena itu pula, tidak sekali dua, Hartono meminta izin Bung Karno untuk mengerahkan kekuatan KKO menggempur Soeharto dan semua anasir militer yang dia kendalikan untuk menggulingkan Bung Karno.

Peta kekuatan militer saat itu, sangat memungkinkan untuk menumpas Soeharto dan pasukannya, mengingat, angkatan lain, Laut, Udara, dan Kepolisian bisa dibilang mutlak berdiri di belakang Bung Karno. Bahkan beberapa divisi Angkatan Darat, juga tegas-tegas menyatakan loyal kepada Bung Karno. Sejarah menghendaki lain. Bung Karno melarang. Bung Karno tidak ingin persatuan dan kesatuan bangsa yang ia perjuangkan sejak remaja hingga menjadi presiden, kemudian hancur kembali oleh perang saudara, hanya demi membela dirinya. Bung Karno pasang badan untuk menjadi tumbal persatuan Indonesia.

Ketidakharmonisan hubungan Hartono – Soeharto, disadari benar bisa menjadi “ancaman” bagi berdirinya Orde Baru. Karena itu, pelan tapi pasti, dengan penyelewengan kewenangan, Soeharto mulai menghabisi lawan-lawan (nyata) politiknya, maupun loyalis Bung Karno semata. Seorang Sukarnois saat itu, bisa dengan mudah dijebloskan ke penjara.

Akan halnya Hartono, Soeharto tidak berani berhadapan muka, kecuali dengan “membuangnya” ke Pyongyang, Korea Utara, dengan dalih tugas sebagai Dubes Luar Biasa pada tahun 1968. Tiga tahun menjadi Dubes di Korea Utara, Hartono dipanggil ke Jakarta pada tahun 1971. Ia pulang sendiri, istri dan anak-anaknya masih di Pyongyang. Ia kemudian dikabarkan meninggal bunuh diri dengan cara menembakkan pistol ke kepalanya. Kisah bunuh diri itu disebutkan terjadi di kediaman Hartono, Jl. Prof. Dr. Soepomo, Menteng, Jakarta Pusat pada pagi hari pukul 05.30. Begitu bunyi statemen resmi rezim Orde Baru.

Ironis. Sebab, jenazah Hartono tidak divisum di rumah sakit netral seperti RSAL atau RSCM, melainkan dibawa ke RSPAD Gatot Subroto. Dari RSPAD baru kemudian jenazah disemayamkan di kediaman, untuk sejurus kemudian dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, dengan inspektur upacara KSAL, Laksamana Madya Soedomo.

Kabar bunuh diri Jenderal KKO Hartono, begitu sulit dinalar akal sehat. Dua pentolan TNI-AL, seperti Letjen KKO Ali Sadikin dan Laksamana Madya Rachmat Sumengkar, Wakil KSAL, adalah sedikit dari sekian banyak orang yang meragukan Hartono meninggal bunuh diri. Kuat dugaan Hartono adalah korban pembunuhan.

Tak terkecuali, Grace, istri Hartono dan putrinya yang masih berada di Pyongyang. Betapa shock dan terpukul demi mendengar kabar suaminya meninggal akibat bunuh diri. “Suami saya meninggal 6 Januari 1971, tanggal di mana seharusnya dia kembali ke Pyongyang. Belakangan saya mendapat informasi, pagi sebelum meninggal, ada dua orang yang datang ke rumah,” ujar Grace. Nah, dua orang misterius inilah yang diduga membunuh Hartono di pagi buta itu, dengan cara menembak kepalanya di tempat tidur.

Grace dan keluarganya bahkan tidak dihadirkan segera. Tercatat dia baru bisa mendarat di Jakarta dua minggu setelah kematian suaminya. “Seminggu setelah suami saya meninggal, Menlu Adam Malik menghubungi saya. Dia berjanji akan memberi penjelasan detail menganai kematian suami saya. Janji yang tidak pernah ditepati,” ujar Grace pula.

Setiba di rumah, makin kuat dugaan bahwa suaminya memang dibunuh. Ia menyebutkan, menemukan sebuah lubang peluru di dinding kamar. Ini adalah hal yang janggal. Kemudian, kejanggalan lain adalah, tidak terdengarnya suara letusan pistol pada pagi buta itu. “Penggunaan alat peredam tembakan, hanya dilakukan oleh para pembunuh. Bukan oleh orang yang bunuh diri,” tandasnya. Ihwal alasan mengapa suaminya dibunuh, Grace hanya mengatakan, “Mungkin Bapak mengetahui suatu rahasia besar.” (roso daras)

Published in: on 18 November 2012 at 05:26  Comments (19)  
Tags: , , , ,

Ke Ende? Jadilah!

Persidangan Landraad yang kemudian mencuatkan pledoi “Indonesia Menggugat”, berujung pada dijebloskannya Bung Karno (dan teman-teman aktivis PNI lain) ke penjara Sukamiskin. Dalam suatu kisah, Bung Karno menceritakan, betapa pemerintahan kolonial Belanda tidak membedakan antara tahanan politik dan bromocorah.

Walhasil, Bung Karno pun mendekam bersama para pencuri, pemerkosa, hingga para koruptor. Di dalamnya, bercampur aduk, antara narapidana berkulit sawo matang dan berkulit bule. Jerajak besi adalah sebuah konsekuensi perjuangan yang telah tertanam di benak Sukarno, bahkan jauh sebelum ia “dilirik” Belanda.

Ia telah menyaksikan, betapa sang guru, HOS Cokroaminoto, dengan Sarekat Islam-nya, juga beberapa kali harus mendekam di penjara. Karena itu, sepengap dan segelap apa pun ruang penjara, tak pernah menggelapkan hati dan pikiran Bung Karno. Syahdan, ketika ia bebas, yang terlintas di benaknya adalah, “Lanjutkan perjuangan!”.

Karya tulis Bung Karno sekeluar dari penjara yang begitu fenomenal adalah “Mencapai Indonesia Merdeka”. Buku itu diterbitkan Hadji Umar Ratman, Bandung. Untuk ukuran sekarang, buku itu tidak terlalu tebal. Tahun 80-an (seingat saya), penerbit Gunung Agung pernah mencetak ulang. Tebalnya kurang dari 100 halaman. Buku itu sendiri terdiri atas 10 judul:

Chapter 1: Sebab-Sebabnya Indonesia Tidak Merdeka

Chapter 2: Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern

Chapter 3: “Indonesia, Tanah yang Mulia, Tanah Kita yang Kaya; Disanalah Kita Berada untuk Selama-lamanya!”….

Chapter 4: “Di Timur Matahari Mulai Bercah’ya, Bangun dan Berdiri, Kawan Semua!”….

Chapter 5: Gunanya Ada Partai

Chapter 6: Indonesia Merdeka Suatu Jembatan

Chapter 7: Sana Mau Ke Sana, Sini Mau Ke Sini

Chapter 8: Machtsvorming, Radikalisme, Aksi-Massa

Chapter 9: Disebrangnya Jembatan Emas

Chapter 10: Mencapai Indonesia Merdeka

Dalam waktu beberapa bulan saja, buku itu sudah mengalami pencetakan ulang hingga empat kali. Selain karena masyarakat rindu akan tulisan-tulisan Bung Karno, juga karena dukungan media massa pro pergerakan ketika itu. Seperti misalnya komentar koran “Djawa Tengah” yang menulis: “Namanja tuan Ir Soekarno sebagai volksredenaar dan sebagai penulis sudah tjukup terkenal, hingga pudjian buat itu buku kita rasa boleh troeslah berikan lagi“…..

Suratkabar “Bintang Timur” menulis, “Ir Soekarno mempunjai kepandaian menulis…. pada bangsa kita masih terlalu sedikit kitab-kitab sebagai itu”. Lalu, suratkabar “Sin Tit Po” menulis, “…buku tersebut tidak kurang berharganja, terutama, bagi mereka jang masih muda dalam pergerakan disini.” Simak pula tulisan koran “Pertja Selatan”, “Tidak usah kita pudji terlebih djauh karena semua orang kenal siapa Ir Soekarno, Penting sekali ini buku bagi kaum pergerakan”.

Suratkabar “Pemandangan” menulis, “…sungguh practisch isinja… Sungguh berfaedah untuk dibatja, apalagi bagi kaum politik”. Sementara itu, koran “Djawa Barat” menulis, “Ir Soekarno ada seorang pemimpin pergerakan jang terkenal…. sehingga namanja sadja, sudah tjukup mendjadi suatu ‘garantie’ dari penting dan berpaedahnja buku itu”. Media “Pewarta” menulis, “….sangat berguna sekali bagi rakjat Indonesia jang telah masuk semangat kemerdekaannja”.

“Sumanget” menulis, “….sungguh tidak mengherankan kalau itu risalah lekas habis, karena buat bangsa Indonesia berguna sekali mempunjai buku risalah tersebut!”. Lantas koran Fikiran Rakjat mengomentari, “…Kami pudjikan sekali pembatja membatja risalah itu, sebab isinja teramat penting”. Tak kurang dari koran “Sinar Sumatra” pun berkomentar, “Ini buku selainnja ada harganja buat diketahui isinja pun ada sebagai pengunjuk untuk pergerakan dan pertjaturan politik rakjat”.

Dua media berbahasa Sunda, “Sipatahunan” dan “Sinar Pasundan”, masing-masing mengomentari, “Saenjana sanadjan henteu di berendelkeun kumaha eusina oge, ku nendjo ngaranna djeung ngingetkeun ka ni ngarangna bae, urang geus bisa ngira-ngira kepentinganna ieu buku… Keur kaum pergerakan mah, ieu buku te katjida perluna….” dan “Kana kepentingan eusina, saenjana teu perlu pandjang-pandjang dipitjatur, ku matja ngaan nu ngarangna oge, njaeta Ir Soekarno, ku urang mo burung hawangwang mamundelna… ieu buku eusina maundel parenting”.

Indonesia Menggugat, berbuah penjara Sukamiskin. Jika, “Mencapai Indonesia Merdeka” harus membuatnya dibuang ke Ende, maka jadilah! (roso daras)

Published in: on 17 November 2012 at 02:54  Comments (3)  
Tags: , , ,

Bung Karno, Gabungan Joze Rizal, Bonifacio, Aguinaldo, Mabini, dan Magsaysay

Bagaimana bangsa Filipina melukiskan kebesaran seorang Sukarno? Mereka menggabungkan kesemua tokoh pergerakan Filipina Merdeka ke dalam satu diri seorang Sukarno. Setidaknya, itu yang dinyatakan oleh Presiden Filipina yang masyhur, Diosdado Macapagal (di kemudian hari kita mengenal anaknya, Gloria Pacapagal Arroyo  menjadi Presiden Filipina).

Sejarah menorehkan peristiwa di hari Selara sore, tanggal 30 Juli 1963, bertempat di Manila, ibukota Filipina. Ketika itu, berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi Maphilindo (Malaya, Philipina, Indonesia). Presiden Filipina, Diosdado Macapagal menggagas Maphilindo sebagai realisasi amanat pendiri bangsa, Joze Rizal, untuk menyatukan kembali bangsa-bangsa Melayu yang telah terpecah belah akibat koloni.

Namun di sisi lain, forum itu oleh poros Jakarta – Manila dimaksudkan pula untuk tujuan politik, yaitu menghambat pembentukan negara boneka Malaya oleh Inggris Raya. Terlebih ketika itu, Maphilindo dipandang sangat penting, terkait isu penguasaan daerah oleh sebuah negara. Seperti Filipina yang sempat pengklaim Sabah sebagai bagian dari wilayah mereka.

Akan tetapi, ini bukan kupasan tentang Maphilindo. Ini tentang apresiasi bangsawan dunia terhadap pendiri Republik Indonesia. Presiden Pacapagal menyebutkan, kehadiran Presiden Sukarno dalam Konferensi Maphilindo dinilai sebagai memiliki makna sejarah yang besar. Hal itu mengingat, Bung Karno adalah salah satu orang besar di Asia, bahkan dunia.

Perjuangan Bung Karno dalam memimpin revolusi di Indonesia, perjuangan Bung Karno dalam menggalang persatuan Indonesia, perjuangan Bung Karno menyatukan semua potensi bangsa hingga menjadi sebuah kekuatan besar di Asia, tak lepas dari kebesaran seorang Sukarno. Mapacagal menambahkan dalam pidatonya di pembukaan Konferensi Maphilindo itu, bahwa untuk menggambarkan sosok Sukarno dalam sejarah Indonesia, maka tak ubahnya kita menyamakannya dengan Jose Rizal, Andres Bonifacio, Aguinaldo, Mabini, dan Ramon Magsaysay sekaligus!

Jose Rizal, nama lengkapnya José Protacio Rizal Mercado y Alonso Realonda, lahir 19 Juni 1861, meninggal 30 Desember 1896 pada usia 35 tahun. Ia adalah tokoh bangsa Filipina. Ia diberikan bermacam-macam gelar: “Kebanggaan Ras Melayu,” “Tokoh Besar Malaya,” “Tokoh Utama Filipino,” “Mesias Revolusi,” “Pahlawan Universal,” “Mesias Penebusan.” Hari kematian José Rizal merupakan hari libur di Filipina.

Sedangkan Andres Bonifacio (1863 – 1897) dikenal bangsa Filipina sebagai tokoh perjuangan fisik menentang penjajahan Spanyol. Gerakan bawah tanahnya berhasil menghimpun kekuatan massa hingga 10.000 orang. Berbekal kekuatan itu, Bonifacio melakukan perlawanan melawan penjajah (Spanyol). Penjajah akhirnya berhasil meringkusnya dan mengeksekusinya pada 10 Mei 1897.

Adapun Emilio Aguinaldo (1869 – 1964), adalah tokoh kemerdekaan bangsa Filipina. Dialah presiden pertama negara tersebut. Dia juga tercatat sebagai presiden termuda (28 tahun), dan seluruh hidupnya sejak usia belasan tahun, sudah didedikasikan untuk pergerakan melawan penjajah (Spanyol). Dalam memimpin pergerakan, ia sempat mengungsi ke Hong Kong, kemudian ketika terjadi perang Amerika – Spanyol, ia pulang dan bergabung dengan tengara Amerika untuk mengusir Spanyol dari negaranya.

Adapun tokoh Filipina lainnya, yang disebut sebagai salah satu bagian yang ada dalam diri Sukarno adalah Apolinario Mabini (1864 – 1903). Di negaranya, ia dikenal sebagai pemikir, seorang filosof politik yang unggul, serta seorang yang revolusioner. Melalui pemikiran lahirlah karya monumental Rancangan Konstitusi Republik Filipina. Bangsa Filipina menyebut Mabini sebagai “Otak Revolusi Filipina”.

Adapun Ramon del fierro Magsaysay (1907 – 1957), dikenal sebagai presiden ketujuh Filipina, memimpin sejak 30 Desember 1953 hingga kecelakaan pesawat udara merenggut nyawanya tahun 1957 dalam usia 49 tahun. Semasa kepemimpinannya, Magsaysay yang semula belajar teknik lalu pindah jalur ke ekonomi ini, Filipina menjadi sebuah negara yang maju. Pemerintahannya terkenal sangat bersih, terutama bersih dari korupsi. Di tangannyalah, Filipina mencapai puncak kejayaan di banyak bidang, mulai penumpasan gerakan separatis, kemajuan di bidang ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

Apa esensi dari statemen Presiden Macapagal tersebut di atas? Adalah sebuah statemen yang mengokohkan nama Bung Karno di mata dunia imperialis-kapitalis seperti Amerika Serikat. Betapa, seorang presiden dari sebuah negara yang merdeka di bawah bayang-bayang Amerika Serikat, toh mengakui sosok Sukarno sebagai tokoh Asia bahkan dunia. (roso daras)

Menusuk Penjajah dengan Pena

Bung Karno belum lama ini menerima anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah RI. Di era kepemimpinan Soeharto, ia (dan Hatta) dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator. Lepas dari pro dan kontra, saya pribadi memandangnya sebagai sebuah aliran sejarah.

Sejarah tentang anak bangsa yang melesat bak meteor ke penjuru dunia, kemudian jatuh terpuruk dan dibinasakan (hingga ke karya-karyanya, pemikiran-pemikirannya, bahkan jasa-jasanya). Sejarah telah mengalirkan kebenaran, seberapa pun upaya manusia membengkokkannya.

Sayang, belum ada tokoh pers Indonesia yang memaknai perjuangan Bung Karno dari sisi jurnalistik. Dalam beberapa kali Bung Karno berurusan dengan pemerintahan kolonial Belanda, semua bersangkutan dengan status kewartawanannya. Semua terkait dengan tulisan-tulisan yang dia publikasikan di tiga media yang ia pimpin sekaligus.

Melalui pena, tulisan, Bung Karno menggembleng rakyat Indonesia. Ia menulis (terutama) di dalam tiga majalah yang dipimpinnya, yaitu “Suluh Indonesia Muda”, “Persatuan Indonesia”, dan “Fikiran Rakjat”. Tokoh lama menyebutnya sebagai trio majalah, tiga tunggal.

“Suluh Indonesia Muda” terbit tiap bulan, merupakan suara dari “Indonesiche Studieclub” Surabaya dan “Algemeene Studieclub” Bandung. Majalah ini dipimpin dan diterbitkan oleh Sukarno sendiri, dengan segala biaya yang ia kumpulkan dari honorariumnya sebagai seorang arsitek. Edisi perdana “Suluh Indonesia Muda” terbit bulan Desember 1927.

Beberapa tulisan Bung Karno yang dipublikasikan melalui majalah itu antara lain, “Swadeshi dan Massa Actie dan Indonesia”, lalu “Tjatatan atas Pergerakan Lijdelijk Verzet”. Baru dua tahun terbit, majalah itu terhenti antara tahun 1929-1930-1931 karena Bung Karno dijebloskan penjara. Nah, tahun 1932 terbit kembali pada bulan Mei. Kemudian, November tahun yang sama berhenti terbit lagi, karena Bung Karno kembali diringkus dan dibuang ke Ende.

Kemudian majalah “Fikiran Rakjat”, Bung Karno yang bertindak sebagai penerbit sekaligus pemimpinnya, tidak tanggung-tanggung dalam mempropagandakan. Ia dengan tulisan tangannya, dicetak dengan tinta merah, terpampang di halaman depan. Bunyinya, “Kaum Marhaen! Inilah Madjalah Kamoe! Soekarno!”

Terbit mulai 15 Juni 1932, dan terbit terakhir tercatat nomor (edisi) 52, 21 Juli 1933. Sedangkan di nomor 54, dibeslag (dibreidel) Belanda. Tulisan-tulisan Bung Karno yang menyengat di majalah ini antara lain, “Maklumat Bung Karno kepada Kaum Marhaen Indonesia”, “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi”, “Socio Nationalisme dan Socio Demokrasi”, “Orang Indonesia Tjukup Nafkahnja Sebenggl Sehari”, “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, “Djawaban Saja pada Sdr. M. Hatta”, “Sekali lagi, Bukan Banjak Bitjara, Bekerdjalah, tetapi Banjak Bitjara, Banjak Bekerdja”, “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”, “Reform Actie dan Doels Actie”, “Bolehkah Sarekat Sekerdja Berpolitik?”, “Marhaen dan Marhaeni, Satu Massa Actie”, “Membesarkan Fikiran Rakjat”, Azas-azas Perdjuangan Taktik”, “Marhaen dan Proletar”.

Lalu majalah ketiga, “Persatuan Indonesia”, terbit setengah bulanan, tersedia untuk menyokong pergerakan nasional Indonesia. Majalah ini terbit pertama kali 15 Juli 1928. Beberapa artikel Bung Karno yang dimuat di majalah ini, antara lain, “Melihat Kemuka…”, “Tempo jang tak Dapat Dikira-kirakan Habisnja”, “Indonesianisme dan pan Asiatisme”, “Kearah Persatuan, Menjambut Tulisan H.A. Salim”, “Pidato Ir Sukarno pada tanggal 15 September 1929”, “Kewajiban Kaum Intelektual terhadap kepada Pergerakan Rakjat”, “Soal Pergerakan Wanita”.

Lalu majala itu pun terhenti karena Bung Karno dibekuk Belanda dan ditahan sejak 29 Desember 1929. Setelah mendekam di tahanan, “Persatuan Indoenesia” dioper oleh Inggit Garnasih, istrinya, dan diteruskan terbitnya dengan bantuan Mr Sartono dan teman-teman pergerakan yang lain.

Sekeluar dari penjara, Bung Karno menulis lagi, “Sendi dan Azas Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia”. Majalah “Persatuan Indonesia” nomor 177 itu pun kontan dibreidel pemerintah penjajah (Belanda).

Perjuangan yang gigih, tidak hanya dalam diplomasi, tetapi menyebarkan agitasi, propaganda, dan menyerukan semangat Indonesia Merdeka pada masa penjajah, tentu saja bukan tindakan ringan. Perlu keberanian luar biasa untuk menentang dominasi penjajah. Bukan hanya penjara taruhannya, tetapi nyawa. (roso daras)

Published in: on 12 November 2012 at 07:53  Comments (7)  
Tags: , , ,

Tentang “Master Mind” Gestok

Adalah seorang tokoh Sukarnois, saksi sejarah yang hingga kini masih merisaukan tragedi Gestok (Gerakan 1 Oktober) atau yang juga dikenal dengan Gerakan 30 September (serta mengaitkannya dengan PKI). Alkisah, tokoh yang satu ini begitu gundah demi mencermati perkembangan sejarah, bahwa tidak satu pun analis yang mengkritisi peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 malam, saat para jenderal TNI-AD diculik, kemudian dibunuh di Lubang Buaya, Pondok Gede.

Padahal, menurut sang tokoh ini, kalau saja segenap energi penelitian (dan penyidikan) dimulai dari malam penculikan, bukan mustahil akan dengan mudah menggiring ke tujuan siapa “master mind” di balik usaha kudeta yang gagal itu. “Indikasi-indikasi akan adanya gerakan itu sesungguhnya sudah banyak pihak yang tahu. Bung Karno sendiri sempat mendapat laporan. Pangkostrad Soeharto juga. Dan di kalangan elite negeri, suhu politik yang panas kala itu, juga merupakan sesuatu yang banyak diketahui,” katanya.

Bahkan, dalam salah satu pidato Mei 1965, Bung Karno kurang lebih memberi warning kepada segenap bangsa, termasuk kekuatan angkatan bersenjata Indonesia. Bahwa dengan majunya menonjolnya peran Indonesia menggalang kekuatan Nefos (New Emerging Forces), serta santernya gerakan global menentang imperialisme dan kapitalisme, adalah Amerika Serikat dan Inggris yang sangat tidak nyaman. Dari sumber Bung Karno bahkan dinyatakan, untuk menghentikan laju Indonesia, Amerika (dan Inggris) sangat menghendaki kematian Bung Karno, Ahmad Yani, AH Nasution, dan Subandrio.

Kembali ke keprihatinan tokoh sepuh kita ini. Menurutnya, dari kacamata intelijen ataupun strategi operasi militer, sangat “ganjil” demi mengetahui, bahwa para pihak yang diincar nyawanya pada malam eksekusi itu, semuanya berada di rumah. Mereka adalah

  • Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Abdul Haris Nasution
  • Menteri Panglima Angkatan Darat (MenPangad), Letnan Jenderal Ahmad yani
  • Deputi II Panglima Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soeprapto
  • Deputi III Panglima Angkatan Darat, Mayor jenderal Haryono Mas Tirtodarmo
  • Asisten I Panglima Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soewondo Parman
  • Asisten IV Panglima Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Donald Icasus Panjaitan
  • Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan darat, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomihardjo

Bahwa kemudian skenario tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana, itu adalah bukti adanya campur tangan Tuhan. Pierre Tendean jadi korban, Ade Irma Suryani Nasution jadi korban…. Di sisi lain, Bung Karno selamat karena pengawal yang sudah curiga kemudian urung membawa pulang ke Istana, melainkan membelokkan ke kediaman salah satu istrinya, Hariyati di Slipi.

“Adalah aneh, jika secara kebetulan para jenderal yang diculik itu semua berada di Jakarta, dan semua sudah berada di rumah. Ini benar-benar kejanggalan yang patut diselidiki. Karena, tidak mungkin yang namanya kebetulan itu akan terjadi kalau tidak ada yang mengatur,” tandasnya. Ia juga sempat berbicara dengan beberapa keluarga korban, dan hampir semuanya mengatakan, pada malam itu para jenderal memang menerima tamu. “Nah, saya curiga, tamu-tamu itu bagian dari skenario untuk memastikan bahwa para jenderal yang akan diculik, benar-benar ada di rumah,” tegasnya.

Sang tokoh ini tidak menuding bahwa tamu itu adalah pelaku atau bagian dari skenario penculikan para jenderal. “Setidaknya, secara tidak sadar, ada yang melibatkan dia pada malam itu untuk datang ke rumah para jenderal. Output yang hendak didapat adalah, konfirmasi bahwa para jenderal itu ada di rumah. Saya mendengar langsung dari para keluarga korban. Mereka memang kedatangan tamu pada malam itu. Tentu saja, tamu yang datang ke kediaman jenderal yang satu, berbeda dengan yang datang ke jenderal yang lain. Artinya, benar-benar di-setting se-alamiah mungkin,” paparnya.

Bahkan ia juga menyebut nama seorang artis ternama ketika itu, yang sengaja diminta menemani salah satu jenderal di sebuah acara, serta memastikan bahwa usai acara, sang jenderal itu kembali ke rumah. “Ini semua menurut saya adalah bagian dari skenario. Nah, kalau pengusutan, penyidikan dimulai dari sana, tentu akan dengan mudah mengerucut ke pihak mana yang berada di belakang gerakan kudeta itu,” ujarnya.

“Saya masih berharap, ada sejarahwan ataupun peneliti yang berkenan menyelidiki Gestok dari persepsi yang saya sebutkan tadi,” katanya, lemah. (roso daras)

Published in: on 11 November 2012 at 07:08  Comments (8)  
Tags: , , ,