Mengunjungi Paman Ho

Ho Chi Minh… seorang bapak bagi bangsanya, Vietnam. Dia begitu dipuja dan dikenang bukan saja sebagai proklamator kemerdekaan, tetapi juga figur anak bangsa yang menjadi panutan. Sejarah hidupnya yang begitu menarik, serta perjuangannya mengusir penjajah dari bumi Vietnam, serta upayanya menyatukan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, telah terukir dalam tinta emas sejarah Vietnam.

Bangsa Vietnam, bukanlah bangsa yang melupakan sejarah. Jasa besar Paman Ho, begitu diagungkan. Sampai-sampai, jazadnya tak dibiarkan terkubur menjadi tanah. Bangsa Vietnam mengawetkannya, dan menempatkannya dalam sebuah musoleum yang begitu agung di pusat kota Hanoi: Ho Chi Minh Mausoleum.

Tak beda jauh dengan musoleum di lapangan Tiananmen, Beijing, tempat disemayamkan jazad Mau Tse Tung atau Mao Zedong, maka konsep musoleum Ho Chi Minh tak beda jauh. Ia terletak di hamparan lapangan luas, dijaga ketat tentara, dan untuk masuk, harus antri dengan takzim, masuk satu per satu, tidak boleh mengabadikan, tidak boleh berhenti, tidak diizinkan pula bersuara keras.

Di belakang bangunan musoleum, adalah istana negara, tempat Ho Chi Minh memimpin negerinya. Di dalam kompleks istana, terdapat rumah tempat tinggal Ho Chi Minh, lengkap dengan garasi berisi tiga mobil tua, terdiri atas dua mobil buatan Rusia dan satu mobil Peugeot 404 hadiah dari seorang warganya. Di dalam taman, terdapat pula kolam yang luas, serta rumah panggung, yang sempat dihuni Ho Chi Minh untuk istirahat dan bekerja.

Di luar komplek istana, berdiri museum Ho Chi Minh dengan megahnya. Nyaris semua koleksi benda berharga milik Ho Chi Minh tersimpan dan tersusun rapi. Foto-foto Ho Chi Minh begitu lengkap dan terawat. Termasuk foto-fotonya saat berkunjung ke Indonesia tahun 1959. Saya belum cek di literatur, berapa luas keseluruhan area, mulai dari musoleum, komplek istana hingga museum. Ukuran sederhananya adalah: Cukup membuat betis pegal usai melakukan tour….

Ada tiga buku yang menarik perhatian saya. “Ho Chi Minh, the Nation and the Times 1911 – 1946” tulisan Pham Xanh, dan “Ho Chi Minh Stories Told on the Trail” tulisan T. Lan, dan terakhir “Ho Chi Minh A Journey” tulisan Lady Borton. Baru sekilas-sekilas saja saya baca. Buku terakhir sangat menarik, yakni menceritakan perjalanan panjang Ho Chi Minh selama kurang lebih 30 tahun mengembara.

Niatnya, akan saya share dalam postingan selanjutnya. Bila perlu bersambung. Sebab, sungguh Ho Chi Minh adalah orang besar. Lebih dari itu, dia sahabat Bung Karno. Tak heran jika dalam banyak kebijakan, terdapat banyak kemiripan. Siapa lebih besar di antara keduanya? Bung Karno, tentu saja. Sayang, bangsa kita tidak memberinya penghargaan sebesar bangsa Vietnam menghargai Ho Chi Minh, atau bangsa Cina menghargai Mau Tse Tung…. (roso daras)

Published in: on 19 Oktober 2011 at 07:22  Comments (4)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/10/19/mengunjungi-paman-ho/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. berharap ada moseleum utk bung karno….ooops nanti diprotes ama jemaah FPIah🙂

  2. Dalam sejarah, hanya orang2 Revolusioner yang memberi warna untuk suatu perubahan apapun.

  3. tak perlu moseleum,,, cukup dg menghargai segenap hati …

    mearawat dan menghargai semua peninggalan bung karno sudag lebih dari cukup….

  4. itu referensi buku tntg Ho chi minh,ada di indonesia gk y?kalo ada dimana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: