Pejuang Diam, Idayu Geram

Ingatkah kisah Bung Karno dipangku ibunya di suatu pagi? Ya, kala masih kecil, saat Sukarno bangun dan tidak mendapati ibunya, ia segera menuju pintu keluar, dan dilihatnya sang ibu tengah duduk menghadap ke timur, menatap matahari yang sebentar lagi nongol. Dengan langkah lunglai, Sukarno kecil mendekat. Demi melihat putranya, direngkuh dan dipangkunya. Ketika itulah keluar sabda sang bunda, “Lihat nak, lihat sang fajar. Engkau dilahirkan di waktu fajar, engkau akan menjadi orang besar dan pemimpin bagi bangsamu…”

Harapan sekaligus doa. Doa seorang ibu, yang berharap putranya menjadi pemimpin, tentu saja bukan menjadi pemimpin di zaman penjajahan di mana setting peristiwa itu terjadi, melainkan pemimpin yang berhasil mengenyahkan penjajah dari bumi Indonesia. Sungguh sebuah harapan yang besar. Harapan besar, hanya datang dari orang berjiwa besar. Sebab, pada zamannya, kaum ibu yang hidup di zaman penjajahan, dihimpit persoalan hidup yang begitu berat, jauh dari bayangan untuk “menggadang” putranya menjadi sang pembebas belenggu.

Bisa jadi, itu memang terkait dengan kebencian memuncak yang ada pada hati Ida Ayu Nyoman Rai, sang ibunda Bung Karno. Usai perang Puputan yang berujung pada kekalahan rakyat Bali membendung agresi Belanda, datanglah prahara. Keluarga istana menjadi miskin, karena raja dibuang dan harta istana dikuasai Belanda. Idayu sebagai kerabat Raja Singaraja, merasakan betul akibat agresi Belanda yang mendatangkan kemelaratan bagi dia dan keluarga besarnya. Sejak itulah, kebenciannya kepada Belanda mendarah-daging.

Wajar jika Idayu menaruh mimpi, putranya mampu membalaskan kebenciannya, mengusir penjajah dari bumi Indonesia, sebab ia merasakan benar kejahatan Belanda. Itu pula yang acap dicekokkan ke benak Sukarno kecil. Dalam banyak kesempatan, Idayu sering menceritakan kisah-kisah heroik perjuangan anak bangsa mengusir penjajah. Dikisahkanlah Perang Puputan, diceritakanlah Pangeran Diponegoro, dituturkannya heroisme para pejuang di pelosok negeri yang bertekad mengusir Belanda dari bumi Nusantara. Dalam kesempata-kesempatan seperti itu, Bung Karno sangat menikmatinya. Ia akan duduk di lantai dan bersandar di kedua kaki ibunya. Wajahnya menengadah, menyimak alunan cerita-cerita kepahlawanan anak negeri.

Tidak seperti kebanyakan ibu, maka Idayu bahkan begitu mendukung perjuangan Bung Karno. Salah satu bentuk dukungan, adalah tetap mendorong untuk terus berjuang menerjang semua rintangan. Jangankan penjara dan buangan, bahkan nyawa pun harus dikorbankan untuk sebuah cita-cita mulia.

Ada sedikit kisah di kemudian hari, setelah Indonesia akhirnya merdeka. Merdeka oleh proklamasi yang keluar dari mulut Sukarno. Ini kejadian agresi kedua, saat Belanda kembali mendarat memboceng Sekutu hendak menguasai kembali Indoneia. Tahunnya sekitar tahun 1946 atau 1947. Bung Karno pun baru mengetahui beberapa tahun setelah peristiwa itu terjadi. Yaitu kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ya, pasca proklamasi, di sejumlah daerah terjadi perlawanan jarak dekat antara laskar-laskar pejuang dengan musuh.

Kejadian ini di Blitar, persis di belakang rumah tempat tinggal keluarga Soekeni Sosrodihardjo-Idayu, orang tua Bung Karno. Pasukan Indonesia berkumpul, menunggu dalam suasanan tiarap, diam. Untuk sekian lama, mereka hanya diam dan menunggu. Demi melihat itu, Ibunda Bung Karno semula hanya diam memaklumi sebagai sebuah siasat perang.

Akan tetapi, ketika sekian lama tidak ada pergerakan, hanya diam dan menunggu… tidak sabarlah sang Idayu. Dengan mata yang menyala-nyala, keluarlah Idayu menghampiri pasukan yang masih diam menunggu…. Menggeledeklah suara Idayu, “Kenapa tidak ada tembakan!? Kenapa tidak bertempur?! Apa kamu semua penakut??!!”

Belum sempat ada satu pun yang menjawab, ketika Idayu mencecar kembali dengan nada tinggi, “Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda! Hayo!!! Terus, semua kamu keluar dan bunuh Belanda-Belanda itu!!!” (roso daras)

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/07/10/pajuang-diam-idayu-geram/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Semangat “Anti Belanda” ternyata benar-benar sudah mendarah daging…, Tak disangka, Seorang wanita Tua yang terlihat lemah lembut itu ternyata dulunya bisa bersikap seperti seekor macan yang siap menerkam mangsanya…..

    Tetap semangat bung Roso… Sukses dengan Timnasnya

  2. mas roso, ibunya bukan ida ayu…mohon dicek ya.

    • konon gelar Idayu memang diberikan kepada ibunda Bung Karno (nama aslinya Nyoman Rai Srimben) entah sejak kapan dan oleh siapa…ah memang rumit sih ceritanya melibatkan sejarah dan adat orang Bali gelar di bali… tapi menurut saya pantes pantes saja.

      Saya pernah baca di toko buku bekas ,buku lawas tentang ibu Bung Karno, ada yang berkesan di hati saya, yaitu saat sang Ibunda ditanya “apakah ibu membenci orang Belanda?” , jawab beliau.” saya tidak benci kepada orang Belanda, tapi saya benci perbuatan jahat mereka.” dashyat, bukan orang sembarangan yang ngomong beginian…

      rencananya mau beli bukunya tapi berhubung ga bawa duit jadi besok mau balik lagi…eh begitu besoknya balik lagi…bukunya udah raib dibeli orang!! dasarr…jangan-jangan om Roso Daras nih yang udah ngegondol bukunya hahaha….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: