Bung Karno di Mata Penyair Indonesia

Yayasan Seni & Budaya Gema Patriot, Jakarta pada tahun 1996 menerbitkan sebuah ontologi: Bung Karno di Mata Penyair Indonesia. Simak salah satu syair kreasi penyair Indonesia berikut:

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep

Aku mendengar Lautan Hindia Bergelora membanting di pantai Ngliyep itu

Aku Mendengar lagu Indonesia

Jikalau aku melihat sawah-sawah yang menguning-menghijau

Aku tidak melihat lagi batang-batang padi yang menguning-menghijau

Aku melihat Indonesia.

Jikalau aku melihat gunung gunung

Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kalabat, dan gunung-gunung yang lain

Aku melihat Indonesia.

Jikalau aku mendengarkan lagu-lagu yang merdu dari Batak, bukan lagi lagi Batak yang kudengarkan

Aku mendengarkan Indonesia.

Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran dari Jawa, bukan lagi Pangkur palaran yang kudengarkan

Aku mendengarkan Indonesia.

Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Meluku, bukan lagi aku mendengarkan lagu Oleisio

Aku mendengarkan Indonesia.

Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata bersinar-sinar berteriak “Pak, Merdeka!, Pak, Merdeka!, Pak, Merdeka!”

Aku bukan lagi melihat mata manusia,

Aku melihat Indonesia.

Sebuah apresiasi yang tinggi dari para penyair terhadap perjuangan Bung Karno mewujudkan sebuah negara bernama INDONESIA. (roso daras)

Published in: on 8 Juli 2011 at 10:42  Tinggalkan sebuah Komentar  

“Jiwa” dalam Tulisan Bung Karno

Ada “jiwa” dalam semua tulisan Bung Karno. Ini sebuah alasan mengapa saya begitu menggandrungi tulisan-tulisannya. Sodorkan kepada saya seratus tulisan tanpa nama, saya niscaya akan tahu, yang mana tulisan Bung Karno. Begitu hebatkah saya? Sama sekali tidak! Yang hebat justru Bung Karno, yang berhasil menciptakan satu karakter, satu jiwa dalam tulisan-tulisannya. Dengan begitu, bukan hanya saya, ratusan, ribuan, bahkan jutaan Sukarnois pun bisa merasakan apa yang saya rasakan.

Apakah hanya tulisan Sukarno yang seperti itu? Pertanyaan bodoh. Tentu saja tidak! Karena banyak lagi penulis-penulis yang memiliki jiwa dalam karyanya. Sebut Hatta misalnya. Sebut Cokroaminoto misalnya. Sebut Sjahrir misalnya. Sebut Tan Malaka misalnya. Semua memiliki karakter. Sehingga bagi pengkaji tulisan-tulisan Hatta, pengkaji tulisan-tulisan Cokroaminoto, pengkaji tulisan-tulisan Sjahrir, Tan Malaka, dengan mudah akan bisa mengetahui bahwa itu tulisan mereka, meski nama penulisnya dihilangkan.

Lama saya menekuni buah tangan Sukarno, hingga sampai pada satu kesimpulan, Bung Karno menulis dengan jiwa, karenanya lahir tulisan yang “bernyawa”. Bung Karno menulis dengan hati, makanya lahir karya tulis yang “bernafas”. Bung Karno menulis dengan semangat, karenanya lahir tulisan yang “membara”. Lebih dari itu, semua karya tulis Bung Karno, ditulis dengan jujur.

Apa yang hendak dituju dari postingan ini? Adalah ajakan untuk membaca karya-karya tulis Bung Karno. Bukan semata-mata buku “tentang” Sukarno. Hanya dengan begitu, kita memahami ajaran Sukarno. Hanya dengan menekuni buah tangannya, kita mengetahui konsepsi-konsepsi pemikiran Sukarno. Hanya dengan membaca dan membaca karya tulis Bung Karno, kita akan tahu Sukarno sebagai manusia. Manusia besar yang pernah dimiliki bangsa ini. (roso daras)

Published in: on 8 Juli 2011 at 03:31  Comments (3)  
Tags: , , , ,