Surat Terakhir buat Dinda Sudirman

Antara Sudirman dan Urip Sumohardjo. Ya, satu di antara dua nama itu yang pasca kemerdekaan, layak didudukkan sebagai panglima angkatan perang Indonesia yang baru merdeka. Secara senioritas, Urip-lah orangnya. Akan tetapi, ia justru menolak jabatan itu, dan mendukung Sudirman menjadi Panglima Besar.

Urip adalah pensiunan Mayor KNIL dan berjasa besar dalam republik ini. Ia telah duduk sebagai pimpinan BKR (Badan Keamanan Rakyat) sejak awal berdirinya. Selain lebih tua secara usia, Urip juga lebih berpengalaman di bidang kemiliteran dibandingkan Sudirman. Akan tetapi, Bung Karno memilih Sudirman yang memiliki jiwa nasionalisme lebih kuat, di samping mengerti perasaan para perwira PETA (Pembela Tanah Air). Atas keputusan itu, Urip ikhlas menerimanya. Termasuk ikhlas menerima keputusannya mendampingi Pak Dirman.

Bahkan sejarah akhirnya mencatat, Urip Sumohardjo mendampingi Jenderal Sudirman hingga akhir hayatnya. Catatan sejarah militer pun menuliskan dengan tinta emas, jalinan kerja sama keduanya dalam memimpin angkatan perang, sejak dibentuk hingga kokoh memerangi invasi Sekutu yang ingin menggoyang kemerdekaan Indonesia. Keduanya, bahu-membahu melakukan perang gerilya.

Bahkan, sesaat setelah Bung Karno – Bung Hatta dan sejumlah menteri ditawan Belanda, Jenderal Sudirman yang setia pada garis negara. Apalagi, Bung Karno begitu pintar, sehingga saat ditawan, ia telah menyerahkan mandat kepresidenan kepada Syafrudin Prawiranegara. Dialah yang menjadi Presiden/Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari (19 Desember 1948 – 13 Juli 1949). Itu artinya, saat Bung Karno ditahan, ia berdalih bukan presiden.

Di sisi lain, Jenderal Sudirman bersama angkatan perangnya, terus mengobarkan perang perlawanan terhadap Sekutu. Perang baru berhenti ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, sekalipun pada awalnya, pengakuan itu masih dalam bingkai RIS (Republik Indonesia Serikat). Setidaknya, Indonesia merdeka sudah diakui oleh koloni dan dunia. Ini yang kemudian diteruskan oleh para pejuang kita menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan mengikir anasir-anasir “Serikat” yang bertentangan dengan semangat Indonesia merdeka, melingkupi wilayah Sabang – Merauke.

Membuka kembali lembar sejarah yang memuat cerita Bung Karno dan Jenderal Sudirman, sampailah saya pada satu buku yang memuat surat terakhir Bung Karno kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman. Saya kutipkan saya secara lengkap isi surat itu:

Y.M. Panglima Besar

Adinda Soedirman,

Assalamu’alaikum w.w.

Dinda,

Jika ditakdirkan Tuhan, saya besok pagi dengan keluarga pindah ke Jakarta. Sebenarnya, saya tadinya bermaksud pamitan kepada Dinda secara direct ini hari, tapi sekonyong-konyong datanglah hal-hal yang penting yang harus saya selesaikan sebelum meninggalkan Yogya, sehingga terpaksalah saya pamitan kepada Dinda dengan surat ini saja, –dengan hati yang berat.

Dinda,

Dinda tahu perasaan Kanda terhadap Dinda. Ibaratnya, hatiku ini adalah kitab yang terbuka di hadapan Dinda. Politik pun Kanda satu buku yang terbuka bagi Dinda.

RIS yang kita capai sekarang ini, bukanlah tujuan kita yang terakhir. RIS kita pakai sebagai alat untuk meneruskan usaha perjuangan kita. Dalam usaha di perjuangan yang masih di hadapan kita itu, Kanda masih membutuhkan tenaga atau fikiran Dinda. Karena itu Kanda mengharap supaya Dinda tetap memberi bantuan itu kepada Kanda.

Banyak kekhilafan Kanda sebagai manusia, –juga terhadap Dinda. Karena itu, pada saat saya akan meninggalkan Yogya ini, saya minta supaya Dinda suka memaafkan segala kekhilafan atau kesalahan Kanda, maafkanlah dengan ikhlas!

Kanda doakan kepada Tuhan, moga-moga Dinda segera sembuh. Dan mohonkanlah juga, supaya Kanda di dalam jabatan baru ini, selalu dipimpin dan diberi kekuatan oleh Tuhan. Manusia tak berkuasa suatu apa, hanya Dia-lah yang menentukan segalanya.

Sampaikan juga salam ta’zim isteriku kepada Zus Dirman. Iteriku pun minta diberi banyak maaf, dan doa kehadirat Tuhan.

Sekian saudaraku!

Merdeka!

Soekarno

27/12/’49

Begitlah surat Bung Karno yang menyebutkan dirinya “kanda” kepada Jenderal Sudirman yang dipanggilnya “dinda”. Tidak berapa lama sejak surat itu, tepatnya pada tanggal 29 Januari 1950 pukul 18.39, Pak Dirman meninggal dunia di Pesanggrahan Tengara Badaan, Magelang, di lembah Gunung Tidar. (roso daras)

 

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/06/17/surat-terakhir-buat-dinda-sudirman/trackback/

RSS feed for comments on this post.

6 KomentarTinggalkan komentar

  1. pertamaaaaxx!!!!!
    Mas Roso,,,udah lama saya nunggu postingan sampeyan….
    Nice post mas !!!!
    Merdeka..!!

  2. sungguh merupakan suatu persahabatan tulus yang didasari oleh niat untuk benar2 memerdekakan dan mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia..
    Sekali lagi saya berharap semoga spirit pejuang2 bangsa senantiasa hidup dalam segenap sanubari anak bangsa..
    Terima kasih bung roso atas postingannya, lama saya tunggu..
    Merdeka…

  3. tokoh besar yang senantiasa berjuang demi negara namun tidak mau mengambil kesempatan untuk berkuasa…. jenderal Soedirman….

  4. tokoh-tokoh besar seperto merekalah yag saya kagumi love my dad soekarno n my big bro soedirman

  5. Sudirman tokoh besar yang tak pernah silau dengan gemerlap dunia,,,,saya bangga memilikimu Jenderal Besar Sudirman

  6. Great! Kisah lain tentang Bung Karno dan Pak Dirman ada di sini: http://www.teraslampung.com/2014/08/jenderal-sudirman-bung-karno-dan-kisah.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: