Bung Karno Arek Suroboyo

Dalam kalimat geram, acap saya berucap, “Kesintingan apa lagi ini… menyebut Bung Karno lahir di Blitar?!” Bahkan, meski begitu banyak literatur yang menyebutkan bahwa Bung Karno lahir di Surabaya, toh Kementerian Pendidikan tidak mengubah “kesintingan” tadi.

Tidak heran jika di sejumlah kelas setingkat SMU, acap terjadi perdebatan konyol antara sang guru dengan murid. Manakala guru menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar, sejumlah siswa kritis dan doyan membaca buku, kontan menyangkal, “Bukan pak Guru! Bung Karno tidak lahir di Blitar, tetapi di Surabaya.”

Dan apa yang terjadi? Guru yang malas membaca dan tidak benar-benar mendalami sejarah, serta merta marah dan dengan ngototnya menyebut Blitar sebagai kota kelahiran Bung Karno. Bahkan di salah satu sekolah di Surabaya sendiri, peristiwa seperti terlukis di atas, sungguh-sungguh terjadi. Perdebatan guru-murid tentang tempat kelahiran Bung Karno itu berhenti, manakala guru memberi ultimatum dan mengintimidasi sang murid.

Ending dari peristiwa debat tadi, mungkin begini… sang guru berkata dalam hati, “Guru kok dilawan!”… sementara sang murid termenung sambil menerawang, “bagaimana saya akan jadi manusia cerdas, kalau dididik oleh guru yang bodoh?!”

Bung Karno lahir di Surabaya. Titik. Bung Karno ternyata arek Suroboyo. Final. Tanggal 6 Juni 2011, Gang Pandean IV di bilangan Peneleh, Surabaya, riuh-rendah di depan rumah bernomor 40. Ya, atas dasar penelusuran, penelitian, kajian mendalam rekan-rekan Soekarno Institut Surabaya, ditemukanlah rumah tempat Putra Sang Fajar dilahirkan.

Sebelumnya, lebih tiga dasawarsa pemerintahan Orde Baru menenggelamkan segala sesuatu menyangkut Bung Karno. Jangankan tentang jasa-jasa dan pemikiran-pemikirannya, bahkan tempat di mana ia dilahirkan pun sedia disesatkan. Literatur yang digunakan di sekolah-sekolah, disebutkan Bung Karno lahir di Blitar. Ini adalah pembenar atas keputusan Soeharto yang memakamkan Bung Karno di Blitar.

Padahal, alasan di balik pemakaman Bung Karno di Blitar, semata karena pemerintah Orde Baru memang sedia menjauhkan jazad Bung Karno dari pusat kekuasaan. Padahal, jelas-jelas dalam testimoninya, Bung Karno menghendaki dimakamkan di Bogor. Begitulah, dengan kuasanya, Soeharto memutuskan mengubur jazad proklamator nun jauh di Blitar sana. Kemudian, memperkuatnya dengan alasan karena Bung Karno kelahiran Blitar.

Kengawuran sejarah yang berlangsung demikian lama, tanpa siapa pun kuasa meluruskannya. Elan reformasi digunakan oleh elemen Sukarnois untuk meluruskan sejarah tadi. Berbagai literatur dan bukti-bukti sejarah pun mulai diteliti. Jauh sebelum penelitian yang perisnya dilakukan sejak tahun 2002 itu, sejatinya sudah banyak publikasi yang menunjukkan bahwa tempat kelahiran Bung Karno adalah di Surabaya.

Pertama, buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia tulisan Cindy Adams. Jelas menyebutkan tuturan Bung Karno, bahwa ia lahir di Surabaya. Kedua, biograf Lambert Giebels dalam bukunya “Soekarno, Biografi Politik 1901 – 1950” menyebutkan Bung Karno lahir di Jalan Pasar Besar, Surabaya. Dalam buku yang sama, Giebels juga menyebut tempat kelahiran Bung Karno di Gang Lawang Seketeng, suatu jalan masuk di kampung di seberang Kali Mas. Data terakhir dikutip dari “Soerabaja, Beeld van een stad, hal 24).

Nah, atas data-data itu pula, kemudian dilakukan penelusuran, hingga ditemukanlah rumah tempat Bung Karno dilahirkan, yaitu di Jalan Pandean IV, di sebuah rumah yang sekarang bernomor 40. Lokasinya memang dekat Kali Mas, dekat Lawang Seketeng.

Apa artinya? Artinya, semua literatur yang ditulis sebelum tahun 1966, semua menyebutkan bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. Sebaliknya, semua literatur yang ditulis pasca 1967, bersamaan naiknya rezim Orde Baru, pemutarbalikkan sejarah pun terjadi.

Bangga sekaligus lega rasanya, di pagi buta, tanggal 6 Juni 2011, saya berada di tengah-tengah teman-teman Soekarno Institut di depan rumah tempat Bung Karno…. Dan kami melakukan sedikit ritual. Menjelang pagi merekah, saya, atas permintaan teman-teman diminta mengetuk rumah itu. Dan ketika si pemilik rumah membukakan pintu dan uluk salam, disusul mas Tjuk menyampaikan niatnya mengambil prasasti yang akan kami pancangkan menjelang fajar merekah.

Dari dalam rumah, kami mengeluarkan prasasti tadi, dan mengusungnya bersama-sama ke mulut jalan. Kami mengembangkan sepasang payung. Kami berbusana aneka warna. Kami memang dari beragam agama dan suku. Berjalan bersama mengusung prasasti. Hingga di ujung jalan, saya pun memegang salah satu sudut kanan atas prasasti itu, sementara tiga rekan lain memegangnya di tiga sudut lainnya.

Dengan melesakkan lafal basmallah, pelan dan pasti saya bersama teman meletakkan prasasti itu pada tempatnya. (roso daras)

Published in: on 7 Juni 2011 at 04:06  Comments (11)  
Tags: , ,