Mohon Doa buat Amin Aryoso

Sudah hampir satu minggu, tokoh GMNI, Sukarnois sejati, H. Amin Arjoso, SH tergolek sakit di Paviliun Kencana kamar 411, RSCM Jakarta. Siang tadi, Selasa (28/6), saya berkesempatan menjenguknya ke RSCM. Tubuhnya lunglai, peralatan medis menyelimuti tubuhnya. Bahasa medisnya, ia terserang stroke ringan.

Dan, ini bukan serangan pertama. Ia sudah terserang stroke sebelumnya. Melalui peratawan intensif, terapi intensif, pelan tapi pasti kondisinya membaik. Dari yang semula terkulai, mulai bisa berlatih jalan. Dari yang semula nyaris tidak bisa lagi bercakap-cakap, mulai bisa berbicara dengan relatif lancar.

Dalam pada itu, perjuangannya tidak pernah surut. Bahkan, buku tentang Amin Aryoso, Pemikiran dan Perjuangan Menegakkan Kembali UUD ’45 berhasil disusun oleh tim dan diluncurkan di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta tahun lalu. Sejumlah sarasehan aktif ia ikuti. Sejumlah buku pun ia terbitkan atas nama Yayasan Kepada Bangsaku yang ia pimpin.

Bahkan sebelum terkulai sakit minggu lalu, ia masih intens mengurus “penyelewengan” yang terjadi di Universitas 17 Agustus (Untag) Sunter. Sejumlah langkah hukum ia lakukan demi pulihnya visi dan misi Untag. Dalam kondisi sakit, Amin Aryoso pun –hampir bisa saya pastikan– otaknya terus bekerja.

Melalui posting-an ini, secara pribadi maupun atas nama Amin Aryoso dan keluarga, saya mintakan doa buat kesembuhan Amin Aryoso, tokoh nasionalis, Sukarnois yang paling konsisten yang bisa jadi teladan. Semoga, Amin Aryoso lekas sembuh, agar dia bisa kembali berjuang. Kita masih membutuhkan pemikiran dan perjuangannya. Lekas sembuh, pak Amin…. (roso daras)

Published in: on 28 Juni 2011 at 11:09  Comments (2)  
Tags: ,

Dari Emas hingga Celana Dalam

Dengan huruf yang kecil-kecil, dalam halaman buku berukuran A5, daftar barang-barang peninggalan Bung Karno di Istana yang raib entah kemana itu, tercatat setebal 66 halaman. Memelototinya satu per satu, membuat mata perih (kalau yang ini karena faktor “U”…). Terlebih karena H. Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa yang menulis buku “Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66” itu, tidak mengklasifikasikan jenis barang.

Dalam lampiran bukunya, ia menuang mentah-mentah daftar barang sesuai dokumen tim pencatat yang berjumlah 9 orang itu (6 anggota militer, dan 3 staf kepresidenan). Sementara, pencatatan berdasar kamar atau ruang per ruang. Jika satu ruang ada sedikitnya dua lemari, maka imajinasi kita harus difokuskan di kamar mana lemari itu berada. Sebab, pada catatan di kamar yang lain, juga akan ada daftar dari lemari 1, lemari 2, dan seterusnya. Begitulah, sehingga konsentrasi pikiran untuk mencermati item-item yang tercatat dalam daftar, terkadang bias, karena terjadi pengulangan.

Satu contoh, dalam ruang/kamar 1, misalnya… tercatat ada kemeja, bukan satu jumlahnya, tetapi puluhan. Dan itu didata berdasar merek. Nanti, di kamar yang lain, ada pula dicatat kemeja, lengkap dengan merek dan warnanya. Demikian pula untuk beberapa jenis barang yang lain, seperti kaos dalam, kaos kaki, dan barang-barang lain, yang kurang menyedot perhatian. Bayangkan, jika deretan jenis-jenis barang itu ada di semua kamar, dan hampir di semua lemari, sementara di antara barang-barang berkategori biasa itu, ada kalanya terselip catatan “satu tongkat komando”.

Nah… tongkat komando, itu tentu sangat menarik (setidaknya perhatian saya), tetapi kemudian dilanjutkan dengan deretan-deratan barang lain yang seperti saya sebut di atas, termasuk kategori “barang umum”. Karena itulah, membaca daftar barang peninggalan Bung Karno sungguh melelahkan, karena metode penuangannya tidak berdasar klasifikasi jenis barang.

Kalau saja, ribuan barang peninggalan Bung Karno itu diklasifikasi, tentu lebih menarik. Selain lebih menarik, juga memudahkan kita untuk melakukan pemilahan. Atau bahkan, bisa juga mendatangkan imajinasi yang lain, mengingat catatan ini sifatnya hanya bukti sejarah, tetapi wujudnya sudah raib.

Karena tidak terklasifikasi… maka saya kembali dikagetkan ketika di bukaan halaman yang lain, kembali menemukan daftar barang bernama “satu buah tongkat komando”. Seperti tongkat komando yang sebelumnya, catatan ini pun terselip di antara catatan barang-barang klasifkasi biasa seperti baju, sepatu, dan kaos kaki, atau bahkan kaos oblong merek “555” kegemaran Bung Karno.

Apakah ada dua “tongkat komando” yang tertinggal di Istana? Tidak! Penemuan saya ada tiga. Tetapi, bisa saja salah, karena saya membacanya tidak intens, antara ingin meneliti lebih seksama dengan kejenuhan membaca barang-barang “tidak penting” yang begitu panjang. Ini tentu lain, seandainya baju-kaos-celana dan pakaian lainnya dikelompokkan menjadi satu, dengan keterangan nomor kamar dan nomor lemari. Kemudian, item bernama “tongkat komando” pun dikelompokkan menjadi satu, dengan keterangan lokasi pencatatan (kamar/ruang dan nomor lemari).

Demikian juga halnya dengan buku. Ada ribuan judul buku. Lagi-lagi tidak terklasifikasi. Sebab, rupanya, koleksi buku Bung Karno hampir ada di setiap kamar. Sehingga, catatan mengenai buku pun tersebar di antara daftar barang-barang yang lain. Maka, terbayang betapa menariknya jika bagian buku pun diklasifikasikan. Bila perlu diklasifikasi berdasar jenisnya, misalnya politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, dan lain-lain. Sebab, koleksi buku serta aneka majalah Bung Karno begitu bervariasi. Bagi kita para Sukarnois, memelototi buku apa saja yang dibaca Bung Karno, tentu saja sangat menarik.

“Kejengkelan” saya sebagai pembaca, dalam menelaah barang-barang Bung Karno yang hilang itu, makin menjadi-jadi, demi melihat betapa barang bernilai dan barang tak bernilai, tidak ada penekanan. Ini, lagi-lagi, karena tidak ada pengklasifikasian. Sebab, sebagai contoh, dalam Istana itu banyak sekali barang-barang yang bernilai sejarah sangat tinggi, seperti stempel Republik Indonesia Jogjakarta, atau gulungan teks proklamasi, bendera pusaka, dan lainnya.

Yang bisa dibilang bersejarah lain adalah piagam-piagam maupun penghargaan-penghargaan kepada Bung Karno dari berbagai negara di dunia. Bahkan dokumen-dokumen negara yang sangat penting. Di sana tercatat pula aneka logam mulia. Ada daftara emas batangan, ema koin, dan emas-emasan lainnya. Aneka jenis emas itu bahkan tercatat sederet dengan item bernama “satu buah celana dalam perempuan”…. (roso daras)

Siapa “Menjarah” Harta Bung Karno?

Tiba-tiba amarah ini kembali membuncah. Saya katakan “kembali”, karena murka ini memang pernah ada. Persisnya sekitar tahun 2001, sedang ramai-ramainya masyarakat Indonesia memperingati seabad Bung Karno –tak terkecuali saya– seorang triple agent (CIA-KGB-Indonesia), Anton Ngenget datang ke kantor membawa seberkas fotokopian daftar barang-barang milik Bung Karno yang raib entah kemana.

Sebelum lanjut, sedikit bisa saya deskripsikan tentang Anton…. Lelaki sepuh berjenggot putih berdarah Kawanua ini, cukup intensif menjalin komunikasi. Hampir seminggu sekali ia datang ke kantor. Bertutur pengalamannya terlibat dalam PRRI. Karena itu pula ia sempat direkrut CIA. Lika-liku hidupnya juga mempertemukan dia dengan seorang wanita Rusia yang berkedok sebagai guru bahasa di Jakarta, dan di kemudian hari dia ketahui sebagai agen KGB. Anton pun sempat dipakai jasanya untuk kepentingan KGB. Lalu, kesadarannya berbangsa-bernegara, akhirnya meluruskan kiprah pengabdiannya bagi kepentingan intelijen Tanah Air. Karena itulah saya menjulukinya “triple agent”.

Nah, kembali ke saat ia datang membawa seberkas data barang-barang Bung Karno yang ditinggalkan begitu saja di Istana Merdeka, saat ia “diusir” oleh Soeharto. Bisa dibilang, Bung Karno benar-benar tidak membawa apa pun kecuali pakaian yang melekat di badan. Tidak harta berupa simpanan uang, logam mulia, ribuan judul buku, ratusan koleksi lukisan, patung, pakaian, arloji, dan berbagai tanda jasa dan kenang-kenangan dari seluruh dunia. Semua ditinggal begitu saja. Dan anehnya, semua barang itu raib entah kemana.

Bisa dikatakan raib, karena memang “menguap”. Sebegitu banyak barang milik Sukarno, tidak satu pun yang terlacak. Bayangkan saja. Satu rumah besar sekalipun, jika dihuni lebih dua dasawarsa, niscaya akan penuh dengan berbagai barang, termasuk yang sangat bernilai. Tak terkecuali Bung Karno. Sejak menjabat hingga dilengserkan, ia berdiam di Istana. Semua barang, baik yang dia beli maupun pemberian dari rekan-rekan kepala negara di seluruh dunia, hampir semuanya ia simpan di Istana. Kumpulan barang selama lebih 20 tahun!

Demi mengetahui hal itu, saya dan Anton, begitu bernafsu untuk melacak kemana larinya harta pusaka milik bapak bangsa. Betapa tidak, dari daftar tadi, begitu banyak benda berharga yang seharusnya menjadi warisan bangsa, kalau toh pemerintah Orde Baru tidak memberikannya kepada para ahli waris. Semua harta peninggalan Bung Karno, bisa menjadi peninggalan bernilai sejarah tinggi. Nyatanya, tidak satu pun yang terlacak. Bahkan saya pernah mendengar, putra-putri Bung Karno sempat ada yang menyoal masalah ini, tetapi tak bergaung. Mungkin terbentur karang. Salah satu istrinya, Ratna Sari Dewi pun pernah menyoal, tetapi juga kebentur arogansi penguasa ketika itu.

Berdasar dokumen barang-barang Bung Karno, saya sempat melihat ada secercah harapan untuk menelusurinya. Yaitu melalui nama-nama yang tertera sebagai petugas pencatat ketika itu. Dokumen itu menyebutkan, pemberi perintah pendataan barang-barang milik Bung Karno adalah Kolonel Subono Mantovani SH pada tanggal 11 Juli 1968. Kemudian perintah itu diberikan kepada 9 (sembilan) orang, terdiri atas 6 prajurit TNI-AD, dan 3 (tiga) orang sipil pegawai Istana.

Mereka adalah: 1). Letkol (Inf) Po Lamiran, Karo Rum Ga Kepres; 2). Letda (CPM) Waspodo, Perwira Operasi Den Man Sus Satgas Pomad; 3). Peltu (CPM) Kusumadi Brata, Bati R I, Satgas Pomad; 4). Peltu (CPM) Endro Soetomo, Bati Si II Den Man Sus Satgas Pomad; 5). Serma Soekiman, Ba. Den Man Sus Satgas Pomad; 6). Serma Soeprapto, Bu Den Man Sus Satgas Pomad; 7). Soebandiman, Ka. Perlengkapan Rum Ga Kepres; 8). A.J. Djuwardi, Bagian Perlengkapan Rum Ga Kepres; dan 9). Soediro Iljas, Staf Pengawas Khusus Sek.Neg.

Nah… merekalah petugas terdaftar yang melakukan pencatatan mulai tanggal 11 Juli 1968 hingga tanggal 26 Juli 1968. Dan dokumen tersebut menyebutkan, tanggal 26 Juli 1968 itu pula tim ini menyerahkan laporannya kepada pemberi instruksi. Dari keterangan lain disebutkan, begitu panjang daftar barang yang dicatat dan dilaporkan, sejatinya belum seberapa. Sebab, masih banyak barang yang tidak masuk dalam pencatatan.

Jika dibukukan, daftar barang-barang Bung Karno yang ditinggalkan dan “dijarah” oknum itu niscaya menjadi hal yang menarik. Setidaknya begini nalarnya. Lupakan barang-barang yang sengaja tidak didaftar (yang tentu saja dengan maksud untuk dicuri), setidaknya dokumen yang ada telah mencatat begitu panjang daftar harta milik Bung Karno lainnya. Berangkat dari sanalah saya sempat menelusuri kesembilan pencatat yang namanya tertera di atas.

Sulitnya bukan main! Dari mulut ke mulut, tersebutlah satu di antara sembilan nama itu yang konon masih hidup dan tinggal di Bekasi. Saya mencoba memburu ke alamat yang ada, nihil. Seorang tua dengan ingatan yang parah, benar-benar diragukan kalau dia adalah satu di antara sembilan nama di atas. Setidaknya setelah saya telisik asal-usul dan latar belakang pekerjaannya.

Hari ini, seperti biasa, sebelum memposting sesuatu tentang Bung Karno, saya tidak pernah merencanakan. Di antara deretan buku Bung Karno di rak, atau tumpukan buku Bung Karno di atas meja kerja, saya ambil saja secara acak. Pagi ini, saya menarik buku H. Maulwi Saelan, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Secara acak pula saya membuka buku itu, terbukalah bentangan buku halaman 282-283. Tentang apa? Lampiran 11 tentang Daftar Harga Milik Bung Karno yang Ditinggalkan di Istana!

Inilah yang membangkitkan rasa murka, yang sempat lama terpendam. Bukan amarah yang tertuju kepada si penjarah, tetapi lebih besar dari itu. Amarah terhadap mentalitas sebagian bangsa kita yang tidak menghormati sejarah.

Apalagi, demi mengingat kembali, begitu panjang (banyak) deretan peninggalan Bung Karno, maka lazim jika kemudian muncul pertanyaan, “Ke mana barang-barang itu sekarang?” Sejauh referensi yang saya miliki, sepanjang nguping-dengar dari berbagai kalangan, sepanjang bertanya-jawab yang saya lakukan, hampir dapat dipastikan, pemerintahan Soeharto-lah yang bertanggung jawab atas semua harta peninggalan Sukarno. Bukan saja karena sejak itu Soeharto berkantor di Istana, lebih dari itu, hanya orang-orang dekat Soeharto saja yang diberi akses masuk-keluar Istana.

Sejarah sudah mencatat, betapa Soeharto menenggelamkan nama besar Sukarno hingga ke lembah terbawah. Ia meringkus semua pengikut Sukarno… ia melarang rakyatnya mengenang (apalagi mempelajari ajaran) Sukarno.

Di sin, Soeharto adalah simbol penguasa baru pengganti Sukarno. Ihwal si penjarah, tentu saja… bisa saja orang-orang yang ada di sekitar Soeharto… bisa saja anak-buah Soeharto… bisa saja kerabat Soeharto… dan (sebagai sebuah kemungkinan), bisa saja dia sendiri. Terlebih jika kita lihat, betapa bernilai tinggi semua harta Bung Karno. Bukan saja yang memang nyata-nyata berbentuk emas batangan, mata uang berbagai negara, traveler cheque, tetapi juga ratusan bahkan mungkin lebih dari seribu lukisan dan karya seni lain yang sangat tinggi nilainya.

Kita tau, selain dibeli dengan uangnya sendiri, Bung Karno juga banyak mengoleksi lukisan para pelukis ternama dunia. Ya, pelukis ternama dunia! Di samping, tentu saja karya pelukis ternama Indonesia. Sebagian koleksinya yang lain, merupakan pemberian dari para pelukisnya sendiri. Dan… jangan lupa, tidak sedikit karya lukis buah goresan tangan Bung Karno sendiri. Koleksi lainnya lagi, ia terima dari para kepala negara sahabat. Kesemua benda seni itu, nilainya benar-benar “tak terhingga”, apalagi kalau dilihat dalam konteks hari ini. Nilai seni adalah subjektif, maka nilai karya seni peninggalan Bung Karno, jika toh harus dinominalkan, bisa saja berbilang triliun… bahkan ratusan triliun….

Sekalipun tidak ikut memiliki, tetapi dada siapa tidak sesak demi mendengar, bahwa tidak semua karya seni itu tercatat di dalam laporan kesembilan petugas pencatat tadi. Itu artinya, yang tercatat saja kini raib entah kemana… apalagi yang tidak tercatat.

Baiklah… posting berikut, saya akan kutip nama-nama barang atau harta peninggalan Bung Karno yang “dijarah” rezim penggantinya itu. Cukup menarik. Selain ada batangan-batangan emas murni, ribuan judul buku yang sangat menarik, juga ada bra dan celana dalam perempuan….. (roso daras)

Nonton Bung Karno Bersama Dedy Letto

Kamis (23/6) menjelang maghrib, saya meluncur ke Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tujuannya adalah menuju Galeri Cipta II untuk menyaksikan pameran foto Bung Karno bersama Dedy sang penggebuk drum Letto. Bagaimana bisa?

Musisi kelahiran Yogyakarta 23 Januari 1987 itu, adalah satu di antara sekian orang penyuka blog ini. Lupa persisnya, kisaran berbulan-bulan lalu, seseorang yang menyebutkan namanya sebagai Dhedot meminta nomor telepon. Setelah itu, silaturahmi berlanjut melalui sms. Begitulah hingga sampai ke topik “apakah sudah datang ke pameran foto Bung Karno di TIM?”.

Sebagai sesama pengagum Bung Karno yang belum menyaksikan pameran itu, bersepakatlah kami untuk bertemu di TIM. Dan jika Tuhan berhekendak, maka itulah pertemuan secara fisik yang pertama dengan dia. Tidak seperti biasa pula, perjalanan saya dari Depok menuju TIM relatif lancar. Sehingga sekitar pukul 19.30 sampailah.

“Om,ini  saya sudah di TIM”, begitu sms Dhedot. Karena saya kebetulan juga baru saja memarkir kendaraan, maka saya pun membalas singkat, “Saya juga”.

Usai mengisi buku tamu, saya bertatap muka dengan dia. Haqul yakin itu Dhedot, karena dia spontan menyeringai dan menghampiri saya, seraya menyerahkan satu buah CD album terbaru Letto “Cinta… Bersabarlah”. Di situlah percakapan pun dibuka dengan “pengakuan” bahwa dia adalah salah satu personel Letto, drummer Letto. “Ooo…,” spontan saya bereaksi. Nama aslinya Dedi Riyono, panggilan akrabnya Dhedot.

Pria santun bernama asli Dedi Riyono ini, tak lain adalah adik kandung gitaris Letto, Agus “Patub” Riyono. Ia mengaku kebetulan sedang berada di Jakarta, untuk agenda perform di TMII tanggal 25 Juni. Karena itulah, di waktu senggang, ia sempatkan untuk menyaksikan pameran foto Bung Karno.

“Saya menyesal Om, waktu main di Bengkulu, sudah berhenti di depan situs rumah pembuangan Bung Karno… ehhh hujan deras…. Gagal deh… Usai manggung, langsung pulang, jadi gak sempat lagi ke situs itu lagi…,” kisahnya.

Dhedot adalah satu dari sekian anak muda Indonesia, yang kebetulan berprofesi sebagai musisi, dan menggandrungi Bung Karno. Minat dan ketertarikannya terhadap Bung Karno, adalah suatu berkah bagi bangsa ini. Dia, dan sukarnois-sukarnois lain, adalah jaminan akan kelangsungan dan kelanggengan ajaran-ajaran Putra Sang Fajar.

Alhasil… di sela-sela menonton foto-foto Bung Karno, kami pun berbincang. Maaf, bukan soal Letto, tetapi soal Bung Karno. Sungguh bukan transfer ilmu. Kami hanya berbincang ringan. Saya bicara tentang mimpi. Dhedot tak habis-habis mengagumi Bung Karno dengan segala kharisma dan ilmunya.

Sekadar berbagi… berikut unggahan sejumlah foto yang saya bidik ala kadarnya pakai kamera ponsel….

Selain foto-foto Bung Karno berbagai nuansa, dari yang politis hingga human interest, panitia juga menyajikan film-film dokumenter Bung Karno. Pengunjung pameran bisa transit sejenak di ruang tengah, menyaksikan pemutaran film-film tentang Bung Karno, sebelum melanjutkan perjalanan mengitari galeri, menikmati foto-foto Bung Karno lainnya.

Sesampai kembali di lobby galeri, tampak Giat Wahyudi, yang segera menghampiri. Setelah berbasa-basi, berkatalah Giat, “Persiapan hanya empat hari mas!” Rupanya, Giat yang juga penulis buku (antara lain tentang Bung Karno) ini, adalah kurator dalam pameran foto ini. “Tapi saya puas, hingga malam ini, jumlah pengunjung sudah mencapai sembilan ribu,” ujar Giat, semangat. (roso daras)

Published in: on 24 Juni 2011 at 07:16  Comments (9)  
Tags: , , , ,

Sepakbola Indonesia Menggugat

Bung Karno begitu masyhur dengan pledoi “Indonesia Menggugat” dalam peradilan Landraad, Bandung Desember 1930. Gedung tempat pengadilan yang begitu monumental itu, kini masih tegak berdiri sebagai salah satu situs penting dalam sejarah menuju Indonesia Merdeka. Gedung itu pun dinamakan Gedung Indonesia Menggugat. Diambil dari judul pembelaan Bung Karno di hadapan sidang pengadilan kolonial.

Hingga akhir paragraf di atas, tidak ada kaitan sama sekali dengan sepakbola. Memang. Baru di alinea kedua dan selanjutnya, saya akan merangkainya dengan sepakbola. Ini berhubungan dengan niat dan rencana saya ke Bandung hari ini, Kamis (23/6), menghadiri sarasehan sepakbola bertajuk “Menggugat Prestasi”, yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat.

Cukup besar dorongan ke Bandung. Setidaknya karena dua alasan. Pertama, seumur-umur saya belum pernah masuk gedung Indonesia Menggugat, meski berkali-kali ke Kota Kembang. Karenanya, sarasehan yang berlangsung di gedung Indonesia Menggugat, sungguh menarik. Kedua, tema sarasehan tentang prestasi sepakbola, sebuah cabang olahraga yang saya gulati lebih setengah tahun terakhir, bersama salah satu klub Liga Primer Indonesia, Bali Devata. Bayangkan: Bung Karno dan sepakbola! Bagaimana saya tidak tertarik!!!

Apa lacur, hari ini saya harus tetap di Jakarta karena tugas menuntaskan masalah administrasi terkait kontrak-kontrak klub Bali Devata dengan pelatih dan para pemain. Maklumlah, sebelum Juli 2011, persoalan kontrak harus selesai, karena liga kembali digelar medio September 2011. Beruntung, saya tetap bisa memantau jalannya sarasehan, berkat bantuan seorang teman, M. Kusnaeni, CEO Bandung FC.

Kusnaeni yang juga dikenal sebagai wartawan dan komentator sepakbola papan atas ini, bak gayung bersambut, bersedia menjadi mata dan telinga saya di event sarasehan itu. Kepadanya, saya mintakan narasi. Tentu bukan permintaan yang sulit baginya. Menulis reportase bagi Kusnaeni, sama seperti meminta Lee Hendrie menendang bola. Nah, alinea-alinea berikut ini adalah tulisan Kusnaeni yang disampaikan melalui BBM.

Sejumlah isu menarik dibahas dalam Sarasehan Sepakbola Indonesia di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung hari ini. Meskipun topik besarnya adalah “Menggugat Prestasi”, pembahasan meluas dari isu pembinaan usia dini, naturalisasi pemain asing, korupsi APBD, hingga ancaman sanksi FIFA.

Tommy Apriantono, doktor ilmu olahraga dari ITB, menyoroti lemahnya pemanfaatan sport science di persepakbolaan Indonesia. “Padahal sport science tak harus yang canggih dan muluk-muluk. Itu bisa diawali dari hal-hal kecil dan diterapkan sejak pembinaan usia dini,” Tommy menegaskan, “kami sendiri sudah mencoba mengaplikasikannya dalam pembinaan pemain SSB di lingkungan kami.”

Pada bagian lain, Hadi Basalamah mengemukakan keprihatinannya terhadap kinerja Komite Normalisasi yang terlalu membesar-besarkan ancaman sanksi FIFA. “Padahal, tidak ada alasan kuat bagi FIFA untuk menjatuhkan sanksi,” kata salah satu penggagas Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional itu. “Sanksi FIFA biasanya jatuh bila ada pelanggaran statuta dan intervensi pemerintah. Itu tidak terjadi sehingga tak ada alasan bagi FIFA untuk menjatuhkan sanksi,” tandasnya.

Sementara itu, wartawan senior Toriq Hadad juga sependapat, “Masih banyak persoalan lain yang dihadapi FIFA. Dan Indonesia bukan negara penting bagi FIFA. Jadi kecil kemungkinan ada sanksi. Bahkan kalaupun jatuh sanksi mungkin ada hikmahnya bagi perbaikan sepakbola Indonesia secara menyeluruh,” ujar wartawan Koran Tempo itu menegaskan.

Isu korupsi juga diangkat dalam diskusi yang diikuti puluhan peserta itu. Apung Widadi dari ICW menyambut baik lahirnya Permendagri No 22 tahun 2011 yang melarang pemakaian APBD untuk biaya sepakbola profesional. “Masih banyak kebutuhan rakyat yang lebih penting seperti perbaikan jalan dan peningkatan pelayanan kesehatan. Apalagi pemakaian APBD itu sendiri terbukti sangat rawan penyelewengan,” katanya. Apung berjanji, ICW akan terus mendalami isu korupsi APBD ini. Demikian Kusnaeni melaporkan di sela-sela sarasehan. (roso daras)

Published in: on 23 Juni 2011 at 08:29  Comments (1)  
Tags: , , , ,

Rencana Cover ke-3, Dipilih…Dipilih…

Dua hari lalu, penerbit Imania mengirimkan rencana cover buku yang ke-3. Seperti postingan terdahulu, dalam buku ketiga dan Insya Allah selanjutnya, pendekatan judul serta content mixed, dibuat sedikit berbeda dari dua buku terdahulu. Kali ini, fokus tulisan pada “perseteruan” Bung Karno dan Kartosoewirjo.

Ah, tapi ini bukan posting tentang konten buku ketiga. Selain tidak membuat Anda penasaran untuk membaca (tepatnya: membeli) buku ini, juga karena saya ingin berbagi dan minta masukan sidang pembaca blog ini sekalian, terhadap rancangan cover yang telah disiapkan penerbit. Ada dua rancangan cover, seperti terlihat di bawah ini: versi A dan versi B.

Nah, atas pilihan cover tersebut, saya pribadi memiliki beberapa catatan. Misalnya, komposisi judul dan foto, saya cenderung melilih yang B, dengan catatan, boks bertuliskan “The Other Stories 3” lebih dirapatkan ke atas, menempel teks “Serpihan Sejarah yang Tercecer”. Keseluruhan judul juga bisa lebih ke atas.

Kemudian, ilustrasi perang baratayudha dalam epik Mahabarata itu, saya cenderung memilih yang versi A. Sebab, warna sephia di versi A rasanya lebih cocok dengan desain yang B. Dengan sedikit penguasaan software adobe photoshop, beberapa catatan tersebut saya wujudkan menjadi seperti di bawah ini:

Nah, bagaimana menurut Anda? (roso daras)

Published in: on 23 Juni 2011 at 05:28  Comments (8)  
Tags: , , , , ,

Bung Karno Sang Pengampun

Tulisan ini harus saya mulai dengan paradoks, betapa seorang Sukarno dengan jasa-jasa yang sulit ditimbang, begitu nista di akhir hidupnya. Demi pertikaian politik, demi ambisi kekuasaan, ia dibungkam, dilarang berhubungan dengan dunia luar, tidak mendapat perawatan atas sakitnya secara layak, hingga ajal menjemput.

Pelakunya? Tudingan akan mengarah ke sosok presiden kedua, Soeharto. Sekalipun, ia hanya budak atas sebuah konspirasi besar bernama CIA dan kepentingan-kepentingan asing yang membawa semangat kapitalisme baru. Apa hanya Soeharto? Tokoh militer yang mendapatkan semua jabatan dan kemuliaan dari Presiden Sukarno yang berbuat dzolim? Ada nama-nama lain, seperti A.H. Nasution, dan sejumlah nama yang kemudian moncer di saat Orde Baru lahir. Bahkan kemudian ikut menikmati kekuasaan itu untuk waktu yang lama.

Situasi di atas sangat berbeda dengan teladan yang Bung Karno wariskan sebagai seorang negarawan. Bung Karno, dengan kekuasaannya, pasca 1959, bahkan meninjau kembali kebijaksanaan berbagai tindakan keamanan yang pernah diambil oleh aparat keamanan, demi tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Berikut adalah beberapa peristiwa atau contoh, teladan Bung Karno sebagai seorang negarawan sejati.

Pertama, pemberontakan PRRI/PERMESTA. Para pelakunya memperoleh pengampunan umum, meski mereka telah melakukan tindakan makar dengan memberontak dan membentuk pemerintahan tandingan di Padang dengan bantuan persenjataan dari Amerika Serikat. Bantuan itu tidak sebatas dollar, tetapi juga pesawat tebang, kapal laut, dan alat-alat komunikasi modern.

Pilot Maukar yang memihak PERMESTA, yang memberondong Istana Merdeka dengan tembakan-tembakan roket (mengarah ke teras belakang tempat biasa Bung Karno mengadakan coffee morning dengan berbagai kalangan). Maukar toh diampuni dan dibebaskan dari hukuman. Kemudian Mr Syafruddin Prawiranegara dari Masyumi yang diangkat menjadi Perdana Menteri PRRI, Letna Kolonel Ahmad Husen sang proklamator PRRI dan seluruh jajarannya termasuk Moh. Natsir (tokoh Masyumi), semua direhabilitasi.

Bahkan terselip kisah, ketika Ahmad Husen sang proklamator PRRI di kemudian hari (setalah diampuni) bertemu Bung Karno, sambil menangis ia bersimpuh di hadapan Bung Karno. Bung Karno segera meraih kedua pundak Ahmad Husen dan mengusap air matanya. “Kamu juga anakku,” kata Bung Karno lembut.

Contoh kedua, Sutan Sjahrir yang ditahan karena tuduhan berkomplot hendak menggulingkan Presiden Sukarno. Ia pun direhabilitasi dan dianugerahi bintang Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Bahkan ketika dia sakit dan memerlukan berobat ke Swiss, Bung Karno mengirimnya ke Swiss untuk berobat atas biaya negara. Kemudian rumah yang ditempatinya di Jl. Cokroaminoto, Menteng, Jakarta, oleh Bung Karno dihadiahkan kepada istri Sjahrir.

Contoh ketiga, Tan Malaka. Tokoh kontroversi. Ia dengan gerakan kirinya, melakukan beberapa petualangan politik sehingga akhirnya dieksekusi oleh tentara di Jawa Timur di bawah komando Kolonel Soengkono semasa clash kedua (Negara Dalam Keadaan Perang). Tan Malaka pun direhabilitasi, dan dengan mempertimbangkan jasa-jasanya sebagai pemimpin pergerakan Indonesia di masa silam, Tan Malaka dianugerahi tanda jasa sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Ketiga contoh di atas, hanya untuk menunjukkan betapa besar jiwa Bung Karno, serta betapa mulia hatinya sebagai seorang pemimpin bangsa. Semua bekas musuh politik, diampuni. Dalam sudut pandang yang lain kita bisa melihat, mereka menjadi musuh politik Bung Karno pada situasi tertentu, tetapi bukanlah musuh abadi.

Benar-benar tipikal pemimpin sejati. Salah satu cirinya, selain ciri-ciri di atas, adalah tidak memendam rasa dendam dalam hatinya terhadap siapa pun yang pernah beroposisi.

Apa itu penilaian saya yang subjektif? Mungkin. Tapi baiklah, berikut ada sejumlah testimoni yang bisa mendukung penialain tadi. Pertama dari Zulkifli Loebis. Ia dikenal sebagai bapak Intelijen Indonesia. Sebagai tokoh intelijen yang pernah terlibat gerakan PRRI dan kemudian diampuni oleh Bung Karno, suatu hari ia berkata, “Bung Karno betul-betul orang besar yang sekali tidak ada rasa dendam dalam hatinya. Ajaran-ajarannya haruslah dipelajari dari generasi ke generasi”.

Tokoh lain, Soebadio Sastrosatomo, seorang tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia), pun berujar, “Sukarno adalah Indonesia, dan Indonesia adalah Sukarno”. Para penutur tadi, direkam juga oleh seorang Sukarnois, Pamoe Rahardjo, eks laskar PETA yang kemudian berkarier di militer dan pernah menjadi ajudan senior Bung Karno periode 1946 – 1948. (roso daras)

Surat Terakhir buat Dinda Sudirman

Antara Sudirman dan Urip Sumohardjo. Ya, satu di antara dua nama itu yang pasca kemerdekaan, layak didudukkan sebagai panglima angkatan perang Indonesia yang baru merdeka. Secara senioritas, Urip-lah orangnya. Akan tetapi, ia justru menolak jabatan itu, dan mendukung Sudirman menjadi Panglima Besar.

Urip adalah pensiunan Mayor KNIL dan berjasa besar dalam republik ini. Ia telah duduk sebagai pimpinan BKR (Badan Keamanan Rakyat) sejak awal berdirinya. Selain lebih tua secara usia, Urip juga lebih berpengalaman di bidang kemiliteran dibandingkan Sudirman. Akan tetapi, Bung Karno memilih Sudirman yang memiliki jiwa nasionalisme lebih kuat, di samping mengerti perasaan para perwira PETA (Pembela Tanah Air). Atas keputusan itu, Urip ikhlas menerimanya. Termasuk ikhlas menerima keputusannya mendampingi Pak Dirman.

Bahkan sejarah akhirnya mencatat, Urip Sumohardjo mendampingi Jenderal Sudirman hingga akhir hayatnya. Catatan sejarah militer pun menuliskan dengan tinta emas, jalinan kerja sama keduanya dalam memimpin angkatan perang, sejak dibentuk hingga kokoh memerangi invasi Sekutu yang ingin menggoyang kemerdekaan Indonesia. Keduanya, bahu-membahu melakukan perang gerilya.

Bahkan, sesaat setelah Bung Karno – Bung Hatta dan sejumlah menteri ditawan Belanda, Jenderal Sudirman yang setia pada garis negara. Apalagi, Bung Karno begitu pintar, sehingga saat ditawan, ia telah menyerahkan mandat kepresidenan kepada Syafrudin Prawiranegara. Dialah yang menjadi Presiden/Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari (19 Desember 1948 – 13 Juli 1949). Itu artinya, saat Bung Karno ditahan, ia berdalih bukan presiden.

Di sisi lain, Jenderal Sudirman bersama angkatan perangnya, terus mengobarkan perang perlawanan terhadap Sekutu. Perang baru berhenti ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, sekalipun pada awalnya, pengakuan itu masih dalam bingkai RIS (Republik Indonesia Serikat). Setidaknya, Indonesia merdeka sudah diakui oleh koloni dan dunia. Ini yang kemudian diteruskan oleh para pejuang kita menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan mengikir anasir-anasir “Serikat” yang bertentangan dengan semangat Indonesia merdeka, melingkupi wilayah Sabang – Merauke.

Membuka kembali lembar sejarah yang memuat cerita Bung Karno dan Jenderal Sudirman, sampailah saya pada satu buku yang memuat surat terakhir Bung Karno kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman. Saya kutipkan saya secara lengkap isi surat itu:

Y.M. Panglima Besar

Adinda Soedirman,

Assalamu’alaikum w.w.

Dinda,

Jika ditakdirkan Tuhan, saya besok pagi dengan keluarga pindah ke Jakarta. Sebenarnya, saya tadinya bermaksud pamitan kepada Dinda secara direct ini hari, tapi sekonyong-konyong datanglah hal-hal yang penting yang harus saya selesaikan sebelum meninggalkan Yogya, sehingga terpaksalah saya pamitan kepada Dinda dengan surat ini saja, –dengan hati yang berat.

Dinda,

Dinda tahu perasaan Kanda terhadap Dinda. Ibaratnya, hatiku ini adalah kitab yang terbuka di hadapan Dinda. Politik pun Kanda satu buku yang terbuka bagi Dinda.

RIS yang kita capai sekarang ini, bukanlah tujuan kita yang terakhir. RIS kita pakai sebagai alat untuk meneruskan usaha perjuangan kita. Dalam usaha di perjuangan yang masih di hadapan kita itu, Kanda masih membutuhkan tenaga atau fikiran Dinda. Karena itu Kanda mengharap supaya Dinda tetap memberi bantuan itu kepada Kanda.

Banyak kekhilafan Kanda sebagai manusia, –juga terhadap Dinda. Karena itu, pada saat saya akan meninggalkan Yogya ini, saya minta supaya Dinda suka memaafkan segala kekhilafan atau kesalahan Kanda, maafkanlah dengan ikhlas!

Kanda doakan kepada Tuhan, moga-moga Dinda segera sembuh. Dan mohonkanlah juga, supaya Kanda di dalam jabatan baru ini, selalu dipimpin dan diberi kekuatan oleh Tuhan. Manusia tak berkuasa suatu apa, hanya Dia-lah yang menentukan segalanya.

Sampaikan juga salam ta’zim isteriku kepada Zus Dirman. Iteriku pun minta diberi banyak maaf, dan doa kehadirat Tuhan.

Sekian saudaraku!

Merdeka!

Soekarno

27/12/’49

Begitlah surat Bung Karno yang menyebutkan dirinya “kanda” kepada Jenderal Sudirman yang dipanggilnya “dinda”. Tidak berapa lama sejak surat itu, tepatnya pada tanggal 29 Januari 1950 pukul 18.39, Pak Dirman meninggal dunia di Pesanggrahan Tengara Badaan, Magelang, di lembah Gunung Tidar. (roso daras)

 

Roso Daras Ingatkan NASASOS

Dalam kepanitiaan peringatan harlah Bung Karno 6 Juni 2011 lalu, saya hanyalah satu orang anggota panitia (Wakil Ketua). Entah alasan apa, pengatur acara hari itu mendaulat saya untuk naik podium. Mereka menyebutnya sebagai “penulis sejarah Bung Karno”. Baiklah. Ini sebuah amanah, wajib bagi saya menunaikannya.

Hal pertama yang saya sampaikan pada hari itu adalah perasaan yang sangat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Ada haru dan bangga dalam dada. Untuk bentang waktu yang begitu lama, sejak kematiannya hingga peringatan kelahiran yang ke-110, belum sekalipun ada peringatan hari kelahiran Bung Karno di tanah kelahirannya. Di Surabaya. Di tempat tumpah darahnya. Yang lebih membanggakan, gelar acara itu murni hasil gotong royong sejumlah elemen rakyat, yang kemudian didukung sepenuhnya oleh Walikota Surabaya.

Maka, hampir dapat dipastikan, bahwa yang hadir pada kesempatan itu adalah (mayoritas) kaum Sukarnois, Marhaenis, Nasionalis. Terlintas akan jenis audiens yang hadir itulah maka selintas saya ingat akan ajaran Bung Karno tentang ruh “Nasasos” (Nasionalis, Agamis, Sosialis). Di era Bung Karno, manakala Partai Komunis Indonesia (PKI) bukanlah partai terlarang, dan Marxis bukan lagi ideologi terlarang, maka Bung Karno menyebutnya Nasakom.

Kini, saat komunis menjadi “hantu” terlarang, maka saya pun memilih kata “Nasasos”, sebab Bung Karno sendiri mengatakan, bagi yang phobi terhadap kata-kata “komunis” maka baiklah, kita ganti menjadi “sosialis”, maka Nasakom bisa juga diucapkan Nasasos. Itulah salah satu ajaran Bung Karno.

Ajaran yang digali dari realita bangsa Indonesia yang nasioanlis, agamis, dan berjiwa sosialis. Sekalipun begitu, Bung Karno tidak pernah mengagungkan yang satu lebih dari yang lain. Karenanya, Nasasos harus dibaca dalam satu tarikan nafas, satu ruh, satu jiwa. Jiwa nasasos itulah yang sejatinya hidup dalam setiap relung hati bangsa kita.

Bangsa kita, bangsa yang cinta tanah air, berjiwa nasionalis yang berperikemanusiaan. Dalam pada itu, bangsa Indonesia juga bangsa yang berketuhanan. Bahkan bisa dibilang sangat religius. Terakhir, tak bisa dipungkiri bahwa jiwa bangsa kita memanglah sosialis. Mereka adalah makhluk sosial yang mengimplementasikan praktik-praktik sosialisme dalam kehidupan sehari-hari.

“Maka, jangan mengaku diri seorang Sukarnois jika tidak berjiwa Nasasos!” itu pekik saya, dan inti dari pembicaraan saya yang tidak lebih dari 10 menit.

Lepas dari segala atribut yang membanggakan dari seorang Sukarno, pada hakikatnya, Sukarno tidak hanya seorang proklamator, dia juga sekaligus bapak bangsa, peletak dasar-dasar berbangsa dan bernegara. Dalam ilmu kepemimpinan, ia mewariskan ajaran untuk semua aspek kehidupan. Tugas kitalah sekarang, untuk mengambil butir-butir ajaran Bung Karno bagi sebesar-besarnya kemaslahatan umat. (roso daras)

Published in: on 10 Juni 2011 at 10:53  Comments (4)  
Tags: , , , ,

Ada “Sukarno Kecil” di Surabaya

Ir Tri Rismaharini, MT dengan ini, secara pribadi, saya nobatkan sebagai “Sukarno Kecil dari Surabaya”. Jauh sebelum menduduki jabatannya yang sekarang, sebagai Walikota Surabaya, Risma –begitu ia akrab disapa– sudah melumat bacaan-bacaan tentang Presiden Pertama RI, Dr. Ir. Sukarno. Tidak heran, jika ketika ia menjadi walikota, segala tindakan dan kata-katanya banyak terinspirasi dari kepempimpinan Bung Karno.

Tepat 6 Juni 2011, ia (sekalipun baru kembali dari luar negeri), antusias memenuhi undangan Soekarno Institut untuk hadir di Jalan Pandean IV, Peneleh, Surabaya, dalam acara peresmian prasasti tempat lahirnya Sang Proklamator. Prasasti itu sendiri sudah siap sejak setahun lalu, bahkan sudah ditandatangani oleh walikota sebelum Risma. Akan tetapi gagal dipancangkan karena menuai kontroversi berbagai pihak. Dan baru tahun ini, ketika Walikota Risma, event itu terwujud.

Ketika ia datang, sambutan masyarakat di sekitar acara begitu antusias. Termasuk murid-murid SD yang didatangkan bersama para gurunya. Sebelum duduk di kursi, Walikota Risma meminta waktu kepada panitia untuk menyempatkan diri berdialog dengan anak-anak SD yang memenuhi salah satu sisi tenda.

Apa kalimat pertama yang ia ucapkan? Nama Bung Karno! Ini luar biasa. Katanya, “Anak-anakku… hari ini adalah hari kelahiran Bung Karno, Presiden Pertama kita. Ada satu pesan Bung Karno yang akan saya sampaikan kepada anak-anakku. Apakah pesan itu? K-E-J-U-J-U-R-A-N. Bung Karno sangat menjunjung tinggi kejujuran. Karena itu, saya juga minta kepada anak-anak untuk meneladani Bung Karno. Harus jujur. Jujur… jujur!!!”

Cerdik sekali cara Bu Walikota menggiring topik Sukarno dikaitkan dengan masalah aktual di kotanya. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, Walikota Risma telah mengeluarkan SK penjatuhan sanksi kepada Kepala Sekolah Gadel II Tandes, dan Wali Kelas VI. Kedua oknum pendidik ini terbukti bersalah karena menggerakkan anak-anak muridnya untuk melakukan tindakan tak terpuji: menyontek masal. Ya… dalam salah satu gelar ujian, keduanya menggerakkan para muridnya untuk menyontek bersama-sama.

Karena itu pula, Risma menekankan kepada para murid dan para guru yang hadir hari itu untuk jujur. “Tidak boleh menyontek. Ingat ya!!! Ibu tidak mau lagi dengar ada anak-anak Ibu yang menyontek!!! Mengerti?!!” Suara murid menyahut, “Mengertiii….” disusul tepuk tangan riuh dari hadirin.

Ibu Walikota juga menekankan petuah Bung Karno, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Yang lebih hebat menurut saya adalah, Ibu Walikota mengatakan bahwa untuk menjadi orang sukses, tidak harus selalu sukses secara akademik. “Anak-anak bisa menjadi apa saja. Yang gemar sepakbola, bisa menjadi pemain sepakbola seperti Lionel Messi… yang gemar bulutangkis, bisa menjadi atlet bulutangkis, yang gemar menyanyi, gemar menari… apa saja bisa sukses asal jujur dari kecil. Jujur, bekerja keras, pantang menyerah. Itu ajaran Bung Karno.”

Masih dalam dialog yang sama, kemudian Ibu Walikota bertanya kepada anak-anak SD di hadapannya. “Kamu… ya kamu, hobimu apa?” Si murid menjawab malu-malu, “Menari, Bu.” Kontan Ibu Walikota menukas, “Bagus! Mana Kepala Dinas Pariwisata Ibu Wiwid… tolong catat ya, nanti yang gemar menari, kita datangkan guru tari.”  Hadirin pun tepuk tangan.

Interaksi berlanjut. Anak-anak lain pun ditanya. Yang gemar sepakbola, bersepeda, semua akan difasilitasi oleh pemerintah Kota Surabaya. Bahkan beberapa kali Ibu Walikota meminta kepada guru pendamping untuk mencatat beberapa anak murid dengan minatnya yang spesifik. Walikota menjanjikan bantuan pembinaan langsung.

Bukan itu saja. Walikota Risma juga menyampaikan pidato pada acara peletakkan prasasti tempat kelahiran Bung Karno, dan penandatanganan prasasti yang nantinya akan dipasang di gedung pos, yang dulunya merupakan lokasi sekolah HBS, tempat Bung Karno mengenyam ilmu selama lima tahun.

Dalam pidatonya, Risma mengaku sudah membaca buku-buku tentang Bung Karno. Hal simpel yang ia bisa lakukan dan tiru dari mendiang proklamator adalah perhatian yang besar kepada rakyat. Itulah yang menjadi concern-nya dalam mengemban amanat sebagai Walikota Surabaya. Wanita Walikota pertama yang memegang jabatan di Kota Pahlawan.

Ia juga menceritakan kunjungannya baru-baru ini ke India, bersama para pejabat manca negara, termasuk dari Bank Dunia. Dalam salah satu agenda, delegasi melakukan kunjungan ke Gandhi Memorial. Di situ, ia sangat terharu dan bangga ketika menyaksikan foto Bung Karno  bersama Gandhi dipajang di tempat yang begitu terhormat. Ia juga membaca riwayat Bung Karno di Gandhi Memorial. “Yang luar biasa, saya diberi kesempatan masuk, mendahului pejabat-pejabat Bank Dunia…,” katanya sambil tertawa.

Tak ayal, pejabat Bank Dunia sempat mempertanyakan, mengapa Risma diizinkan masuk duluan. Sang penjaga menjawab, “Karena saya lihat, dia orangnya tulus…,” kata Risma menirukan jawaban penjaga Gandhi Memorial.

Ah… mungkin juga karena sang penjaga melihat ada “Sukarno kecil” yang datang berkunjung…. (roso daras)