Antara Tiang Bendera dan Gang Becek

Ini sepenggal kisah berdirinya tiang bendera di Istana Negara, Jakarta. Tiang bendera yang setiap tanggal 17 bulan Agustus selalu menjadi pusat perhatian rakyat Indonesia. Di tiang itu pula dulu bendera pusaka jahitan tangan Ibu Fatmawati selalu dikibarkan setiap memperingati proklamasi kemerdekaan. Di tiang itu pula, pada tahun-tahun selanjutnya, bendera pusaka duplikat dikibarkan setiap kita memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan bangsa kita.

Sesungguhnyalah, pembangunan tiang bendera itu adalah “karya” arsitektur pertama Bung Karno setelah kita mendapatkan kedaulatan penuh tahun 1949. Tahun itu, Bung Karno kembali ke Ibukota setelah hampir tiga tahun berkantor di Istana Yogyakarta. Kota Yogya, yang sempat dijadikan Ibukota Republik Indonesia yang baru “bayi” dan dirongrong oleh masuknya kembali Sekutu, serta menimbulkan pertempuran sengit di mana-mana.

Sekembali dari Yogyakarta ke Jakarta, hal pertama yang Bung Karno lakukan adalah membikin tiang bendera dari beton di depan Istana Merdeka. Maka, atas peristiwa itu, Bung Karno acap berkata, “That was the first thing I did.” Pembangunan tiang bendera itu sendiri dilakukan awal-awal tahun 1950. Itu artinya, bendera pusaka merah putih untuk pertama kali dikibarkan di Istana Merdeka pada 17 Agustus 1950.

Saat ini, bangsa Indonesia hanya melihat dan merasa bangga dengan tiang bendera yang megah itu. Akan tetapi, tidak demikian pada awal pembangunannya. Sejumlah lawan politik Bung Karno, justru mengecam pembangunan tiang bendera itu. Saat itu, elite politik dari PSI (Partai Sosialis Indonesia) melalui suratkabar mereka, Pedoman, mengkritik habis-habisan.

Bung Karno kalau menirukan kritikan lawan politiknya ketika itu begini, “Lihat Bung Karno, lihat presiden kita ini. Belum apa-apa sudah kemegahan tiang bendera. Pak, gang masih becek, kenapa bikin tiang bendera?”

Bung Karno tidak menggubris kritikan itu. Apalagi jika mengingat, pekerjaan membangun tiang bendera dari beton yang megah di depan Istana Negara itu, bianya hanya Rp. 30 ribu. Mungkin ada yang menyebut sebagai angka yang besar pada tahun 1950, tetapi tentu angka yang sangat kecil, jika pembandingnya adalah biaya untuk memperbaiki gang-gang yang becek dan belum beraspal.

Alhasil, tiang bendera Istana Negara itu terus dan tetap dibangun, meski mendapat kritikan tajam dari lawan-lawan politiknya. “Sekarang,” kata Bung Karno, “tiap-tiap orang bangga bahwa di muka Istana Merdeka ada tiang bendera yang tiap tanggal 17 Agustus bendera pusaka kita bisa dikibarkan.” (roso daras)

Published in: on 21 Mei 2011 at 06:37  Comments (1)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/05/21/antara-tiang-bendera-dan-gang-becek/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Kalau dulu,, Bung Karno menuangkan idea,, disusul diwujudkannya dengan full makna historisnya.

    Bung Karno, abadi tak tergantikan dalam torehan sejarah INDONESIA.

    Merdeka ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: