“Negeri Suarna Dwipa”

Membaca buku Ramayana, tersebutlah narasi singkat tentang “Negeri Suarna Dwipa yang mempunyai tujuh kerajaan besar”. Suarna dwipa memiliki arti pulau-pulau emas. Itulah nama yang sekarang menjadi Indonesia. Bayangkan, negeri tumpah darah kita sudah tersebut dalam cerita klasik Hindu lebih tiga abad silam.

Baiklah… kita tengok jaaauuuhhh ke belakang, ke era pra sejarah, ke era sekitar enam ratus juta tahun lalu yang berdasar ahli-ahli purbakala, kepulauan tempat kita berpijak sekarang, sudah didiami orang. Kita mengenal sejarah kebudayaan purba.

Proses “menjadi Indonesia” pun telah melalui catatan sejarah mencengangkan. Pada abad kesembilan, Suarna Dwipa dikenal orang sebaga Kerajaan Sriwijaya. Puncak kejayaan negeri ini ketika dikenal sebagai Majapahit pada abad ke-14. Negeri makmur, gemah ripah loh jinawi. Bahkan saking majunya, Majapahit menjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia beradab.

Itu semua bukan dongengan Bung Karno ketika melecut semangat kemandirian bangsa, setelah tiga setengah abad hanya bisa berkata, “ya Tuan” kepada bangsa penjajah. Kebesaran Majapahit tertuang dalam surat-surat-gulung-perkamen, dalam gulungan-gulungan naskah daun lontar yang berhasil ditemukan dan dijadikan telaah sejarah. Bahkan studi negeri Cina menyebutkan, Majapahit adalah bibit dari kebudayaan seluruh Asia. Itulah yang digunakan Bung Karno untuk membangkitkan jiwa besar bangsanya. Itulah cara Sukarno membunuh mental inlander bangsanya.

Sebab, usai kebesaran Majapahit, perlahan tapi pasti bangsa ini makin terpecah. Kerajaan-kerajaan Nusantara tidak lagi sekokoh Sriwijaya dan Majapahit. Bersamaan dengan itu pula, pelaut-pelaut lintas benua banyak melakukan ekspedisi, hingga laksana gula yang dikerumuni semut, begitulah kepulauan Suarna Dwipa.

Dari Lisboa, Portugal datanglah Vasco da Gama. Dari Negeri Belanda datanglah Cornelis de Houtman. Era itu ditandai pula dengan sebuah era baru dimulainya revolusi perdagangan di daratan Eropa. Berkembang terus hingga untuk pertama kalinya, Belanda menguasai Jawa di abad ke-16, kemudian kepulauan Maluku diduduki abad ke-17, berturut-turut Belanda menancapkan cengkeramannya di bumu Suarna Dwipa. Makin banyak daratan dikuasai, hingga yang terakhir Bali pada tahun 1906.

Mereka, kaum penjajah, tidak saja mengambil dan mengeruk kekayaan alam, tetapi juga merampas kepribadian bangsa Nusantara yang dulu begitu agung dan kesohor. Perkembangan zaman kian menenggelamkan potensi bangsa, dan menjelma menjadi negeri Hindia Belanda. Tiga setengah abad lamanya harus dilalui sebagai bangsa jajahan.

Berbagai kisah heroik perjuangan pahlawan-pahlawan daerah: Imam Bonjol, Tjut Njak Dhien, Pattimura, Hasanuddin, Diponegoro, dan masih banyak lagi lainnya, tetap kandas dan binasa di tangan serdadu Belanda. Puncak pergerakan kemerdekaan, ditandai dengan munculnya dwi-tunggal Sukarno-Hatta yang kemudian menghapus nama Hindia Belanda, menjadi Republik Indonesia. Kita kembali menjadi sebuah bangsa yang merdeka.

Sekalipun begitu, masih jauh panggang dari api upaya kita mengembalikan kejayaan dan kemakmuran Majapahit. Kita memang kembali menjadi “suarna dwipa” tetapi, masih banyak dikerumuni semut-semut asing…. (roso daras)

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/05/03/negeri-suarna-dwipa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Indahnya kisah mereka yang sedang berkuasa, termasuk yg bernama Suarna Dwipa. Kini yang sedang berkuasa adalah bangsa2 “Barat” dan Suarna Dwipa menjadi negeri terjajah. Sebaliknya betapa sedih dan menderitanya mereka yang dikuasai (dijajah).

    Nampaknya cengkeraman para penjajah sekarang ini sangat kuat. Mereka yg mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya perlahan tapi pasti akan “dibungkam” bahkan dibunuh. Contoh2nya banyak (yg sudah tiada al. Gamal Abd. Nasser, Sadam Husein, Joseph Bros Tito dll. dan yg masih hidup Fidel Castro, Hugo Chavez, Ahmad Dimejad, Kadhafi dll). Osama bin Laden yang menuntut keadilan melalui cara kekerasan (terorisme) wajar kalau dibunuh, tetapi Bung Karno yang menuntut keadilan melalui cara diplomasi juga “dibunuh” (termasuk ajaran2nya).

    Saya hanya bisa berdoa semoga akan lahir seorang pemimpin dunia yg dapat meyakinkan dan mengajak banyak pihak untuk membangun kehidupan yang nyaman dan sejahtera bagi semua orang.

    Upaya-upaya penulisan yang dilakukan Saudara sangat diperlukan untuk menyongsong lahirnya pemimpin seperti yang saya maksudkan.

    Terus berjuang tanpa mengenal jenuh dan semoga bahannya tak pernah kering.

    Selamat!!!

  2. Salam kenal…

    JASMERAH…
    Bhinneka Tunggal Sikep

    Ini adalah blog yg berisi tulisan2 yg sangat diperlukan terutama oleh Para Generasi Penerus Bangsa
    Generasi yg telah nengalami parahnya EROSI JATI DIRI, EROSI KESEJATIAN DIRI…

    Mari kita kembangkan apa itu Wawasan Nusantara
    Mari kita telusuri Bentang-Rentang KAWASAN-NUSANTARA sebagai KESATUAN BUDAYA…
    Sebuah Kawasan yg telah dirintis oleh Shri KERTANEGARA…Raja Singhasari.

    Selamat…Tetap Semangat

    Bhinneka Tunggal Eka
    Bhinneka Tunggal Sikep

  3. ngak ngerti aku jadi suka sekali dengan block ini rasa nya kalau ngak membuka ada yang kurang , suwun mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: