“Menghidupkan” Kembali Bung Karno

Bung Karno lahir 6 Juni 1901 di Pandean, Peneleh, Surabaya. Tentang fakta ini, banyak yang tahu, tapi yakinlah… lebih banyak lagi yang tidak tahu. Terlebih generasi muda. “Cilaka”nya lagi, berbagai peringatan tentang kelahiran Sang Proklamator ini, justru selalu dan seringnya dilangsungkan di Blitar. Bahkan salah satu buku sejarah terbitan Departemen Pendidikan tahun 80-an, menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar.

Sejarah mendasar yang keblinger ini sempat tak tersentuh. Bukan saja karena di era kepemimimpinan Soeharto, segala hal yang berbau Sukarno diberangus, tetapi para Sukarnois sendiri seperti tertidur lelap. Tidak mau berurusan dengan rezim Soeharto yang sepertinya selalu dan selalu merasa kurang dalam mengubur Bung Karno. Yang lebih parah, putra-putri biologis Bung Karno sendiri seperti menganggap hal itu tidak penting.

Tak terkecuali Megawati Soekarnoputri. Sejak terjun ke politik dan mendapat sampur kekuasaan sebagai Wakil Presiden, kemudian Presiden, tidak pernah berinisiatif memperingati hari kelahiran bapaknya di Surabaya. Maka tidak heran, meluruskan sejarah bapaknya saja tidak mau, apalagi mengadopsi ajaran-ajarannya. Darah nasionalis yang mengalir pada tubuhnya, sudah terkontaminasi oleh paham liberal dan kapitalistis. Itu mengapa tidak ada satu pun mercu suar peninggalan Presiden Megawati yang bisa dibanggakan.

Eeeeittt... mengapa jadi mengkritisi Megawati? Back to the topic…. Ini tentang upaya “menghidupkan” kembali Bung Karno. Seorang rekan, Peter A. Rohi, seorang sukarnois tulen asal NTT, penggagas Soekarno Institut sekaligus jurnalis kawakan, suatu hari memboyong ide brilian. Ia mengajak saya terlibat dalam kepanitiaan nasional peringatan kelahiran Bung Karno di kota kelahirannya, Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga menggagas pembangunan monumen Bung Karno di lokasi Putra Sang Fajar dilahirkan.

Yang lebih membuat saya tidak bisa menolak, bahkan merasa wajib ikut serta adalah, idenya untuk membangun monumen secara gotong royong. Ya, gotong royong, ciri khas bangsa Indonesia yang kemudian dijabarkan Bun Karno dalam panca sila. Ihwal bentuk gotong royong yang dimaksud, antara lain dengan mengimbau masyarakat untuk menyumbangkan satu-dua batu bata yang tak terpakai, yang lazim tergeletak di belakang atau samping rumah.

Begitulah sekilas ide dasar peringatan hari kelahiran Bung Karno di Surabaya, 6 Juni mendatang. Selain peletakan batu pertama pembangunan monumen Bung Karno di lokasi ia dilahirkan, panitia juga merancang dua agenda lain berupa sarasehan dan peluncuran buku.

Sifat gotong royong juga sudah diletakkan pada saat pembentukan kepanitiaan. Semua yang terlibat, memberi kontribusi tanpa pamrih, baik pikiran, tenaga, dana, bahkan doa. Yang menyenangkan, tidak satu pun anggota panitia yang mengusulkan untuk “membuat proposal”…. Bahkan tidak satu pun yang mengajukan usul, “bicarakan ke keluarga Bung Karno yang masih hidup”….

Sekalipun begitu, panitia ini sangat optimistis, para Sukarnois akan berbondong-bondong mendukung. Baik dalam bentuk dukungan pikiran, tenaga, doa, maupun dana, yang kesemuanya dalam bingkai semangat gotong royong. Mohon doa restu. (roso daras)

Published in: on 1 Mei 2011 at 05:04  Comments (7)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/05/01/menghidupkan-kembali-bung-karno/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. marhaenisme=gotong royong=sosialisme kerakyatan ala indonesia ! maaf saya tidak bisa menyumbangkan materi hanya bisa memberikan semangat sajah kamerad roso, smoga berjalan lancar…. oh ya kalo boleh tau nanti tugu peringatannya berbentuk apa ? patung bung karno kah ?

  2. Om izin copas fotony BK y. Ngmg2… Ap d jkt gk ad acara peringatanny y? Jd pgn ikut ke surabaya, tp ak gk pernah ksana..

  3. Sifat gotong royong =bekerja bersama tanpa pamrih (iklas)=rame ing gawe sepi ing pamrih…….itulah salah satu karakter utama bangsa Indonesia yang hampir hilang atau sengaja dihilangkan oleh oknum dalam dan luar negeri demi nafsu duniawi sesaat……semoga langkah awal anda menjadi langkah besar dalam mengembalikan salah satu karakter bangsa Indonesai tersebut…………saya yakin jika jiwa itu kembali ke sanubari seluruh rakyat Indonesia tak ada satu badaipun yang tak mampu dihadapi bangsa Indonesia krn kokoh bagai karang ditengah lautan. Selamat bekerja ……semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada bangsa dan rakyat Indonesia …….amin

  4. Sy sependapat dgn Eyang Kaliman,,
    untuk Bung Roso dkk,,Sangat setuju,, dan ikut mendukung,,
    teruskan ajaran & semangat Bung Karno !

    maju terus,,pantang mundur !

  5. PANCASILA…

    Adalah penjabaran Lima Pilar Utama (Sedulur Papat Lima Pancer) dari Khilafah-Illahiyah…

  6. Seperti Bung Karno, saya asli arek Suroboyo. Kini menetap di kota Blitar, yang dikenal dengan nama Bumi Bung Karno. Jika anda ingin menghirup “nafas” Soekarno dan nasionalisme, saya persilakan mengunjungi kota Blitar pada tiap bulan Juni.

    Dibulan itu Pemkot Blitar mencanangkan Bulan Bung Karno. Banyak sekali agenda kegiatan bertaburan yang kesemuanya membawa kita pada sosok seorang Soekarno. Anda bersedia berkunjung?

    Saya tunggu.

  7. Mas Roso, hari ini saya ke Surabaya dlm rangka dinas dan menyempatkan diri ke Pandean 4 no. 40 dlm rngka menghilangkan rasa penasaran dan keingintahuan yg besar tmpt dmana Pendiri bangsa ini dilahirkan. Walaupun sempt mngmbl gmbr di prasasti ‘disini tempat lahir bpk bangsa’ dan rumah yg skg nampk tdk trwat dan penghuni yg trlihat sprti ktkutan ktk sy temui. Tadinya sy pikir tmpt itu skg sdh mnjd sprt museum dan obyk wsta. yg membuat sy sedih adalah ungkpan dr pemlik rmh bhwa ini bru ktanya tmpt lhr bung Karno dan ktny jg mw dbli pemkot Surabaya yg smpe skg blm ada kejelasan. Saya cm terdiam dan berharap semangat DJASMERAH sy tdk hilang. Tetap bangga utk Bung Karno wlau sejarah telah disimpangkan. trims


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: