Juni “Bulan Bung Karno”

Juni adalah “Bulan Bung Karno”. Biasanya, di bulan Juni banyak kegiatan dikaitkan dengan nama besar Bung Karno. Sah-sah saja. Sama seperti yang tengah digarap teman-teman saya di Institut Soekarno, Surabaya. Mereka sudah merancang beberapa kegiatan mengisi bulan Juni. Di antaranya, meletakkan prasasti di lokasi kelahiran Putra Sang Fajar, Pandean, Surabaya.

Event yang sedia digelar tanggal 5 dan 6 Juni 2011 itu, sejauh yang saya pantau sudah matang. Maklumlah, saya sedikit-sedikit harus ikut mantau, karena rekan saya Bung Peter A. Rohi sang ketua panitia, menyeret saya ke kepanitiaan sebagai wakil beliau. Tentu saja dengan senang hati saya melibatkan diri, sekalipun tidak bisa sepenuh teman-teman yang bekerja di Surabaya.

Saya selalu saja bergairah jika berbicara tentang Bung Karno. Apalagi, teman-teman di Surabaya juga memiliki rencana besar. Tidak saja sebatas membangun prasasti atau monumen di tempat kelahiran Bung Karno. Mereka juga merancang pembangunan Memorial Bung Karno, ya, mengingatkan kita pada Gandhi Memorial di India sana.

Patut dan layak, untuk bangsa ini memiliki Memorial Bung Karno. Sebuah memorial yang seyogianya diusahakans secara gotong royong oleh segenap anak bangsa. Bukan seperti sebuah proyek yang pernah digagas Guruh Soekarnoputra dengan nama Persada Bung Karno, yang entah bagaimana kelanjutannya.

Saya sendiri pernah terlibat secara tidak langsung, sekali lagi, “tidak langsung” dengan sejumlah agenda dengan judul “untuk Bung Karno”. Belum satu pun yang terwujud. Dalam kesempatan tertentu saya merenungkan hal ini. Satu benang merah yang saya temukan di sana. Sekalipun di dalam kepanitiaan duduk nama-nama tokoh-tokoh Sukarnois, bahkan anak biologis Bung Karno, tetapi tidak ada ruh “gotong royong”.

Lebih ironis lagi ketika saya merasakan adanya anggota-anggota di dalamnya yang justru “menjual” nama Bung Karno untuk kepentingan dirinya. Bahkan ada juga yang melihat “pekerjaan mulia” (menurut saya) dari kacamata “proyek”. Dalam hati yang sangat kesal saya pernah menggumam, “Repot kalau kerja sama orang bermental pengangguran….” Masih lekat pikiran, “saya nanti mendapatkan apa” dari pekerjaan yang nota bene didedikasikan untuk Bung Karno. Sosok bapak bangsa yang selama hidupnya tidak pernah berpikir “mendapat apa” untuk dirinya, sejak berjuang hingga kematiannya.

Alhasil, saya menyepakati gagasan Bung Peter Rohi dan teman-teman Soekarno Institut di Surabaya. Termasuk menyepakati untuk tidak menggantungkan pelaksanaan semua gagasan kepada putra-putri Bung Karno. Termasuk, kepada tokoh-tokoh Sukarnois lainnya. Kita sepakat untuk bekerja dan bekerja tanpa meletakkan pamrih pribadi di dalamnya. Menyepakati pula semangat gotong royong di dalamnya.

Jika Bung Karno berhasil dengan caranya…. Mengapa kita tidak menapak tilas? (roso daras)

 

Published in: on 30 Mei 2011 at 08:10  Comments (11)  
Tags:

Sukarno dan Islam Sontoloyo

Tahun 1940, Bung Karno sudah dikenal luas sebagai tokoh pergerakan, lokomotif perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagian masyarakat juga mengenal Bung Karno melalui tulisan-tulisannya yang tajam dan kritis di berbagai media massa cetak. Bersama teman-teman seperjuangan, Bung Karno menerbitkan majalah Fikiran Ra’jat di Bandung. Selain menulis rutin, sesekali Bung Karno juga melukis karikatur. Selain itu, Bung Karno juga menulis berbagai artikel di berbagai media massa cetak.

Pernah satu ketika, di tahun 1940, Bung Karno menulis artikel di majalah Panji Islam berjudul “Islam Sontoloyo”. Saya mencoba mencari literatur tentang makna, arti, pengertian harfiah “sontoloyo”. Agak susah mendefinisikan…. Ia seperti sebutan lain semisal “semprul”, “abal-abal”, “gombal”, “preketek”… saya kira masing-masing daerah punya idiom sendiri-sendiri untuk menggambarkan pengertian itu secara lebih pas dan membumi.

Dalam tulisan tersebut, Bung Karno sejatinya menggugat perilaku masyarakat Islam, mulai dari ulama hingga jemaah yang semata hanya mengagungkan fiqh atau fikih. Banyak perbuatan yang keliru bahkan berkonsekuensi dosa menurut ajaran Islam itu sendiri, tetapi dihalalkan dengan sarung fikih.

Yang menarik, Bung Karno mengutip hampir utuh sebuah berita guru mengaji yang mencabuli murid-muridnya, yang dimuat di suratkabar Pemandangan. Dituturkan, ihwal kelakuan si guru ngaji yang menjalankan salah satu ritual pengajian setiap malam jumat. Para murid diajak berdzikir dari maghrib hingga subuh. Sebelumnya, mereka harus meneriakkan kalimat “Saya muridnya Kiyai…. (nama kiyai itu)”. Dengan berseru demikian, katanya, Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka.

Setiap murid perempuan, sekalipun anak-anak, wajib menutup muka. Dalam mengaji, mereka dipisah dari para murid laki-laki. Dimulailah pelajaran dari bab “perempuan itu boleh disedekahi”. Akan tetapi, karena perempuan tidak boleh dilihat laki-laki (kecuali suami), maka itulah mereka diwajibkan menutupi mukanya. Nah, bagaimana sang guru bisa “menyedekahi” murid-murid yang perempuan?

Di sinilah sang guru menjelaskan, perlunya para murid itu “dimahram dahulu”. Artinya, perempuan-perempuan itu mesti dinikah olehnya. Maka, yang jadi kiyainya, ia juga, yang jadi pengantinnya, ia juga. Caranya?

Kalau seorang murid lelaki yang punya istri, pertama, si suami diminta menjatuhkan talak tiga. Seketika juga peremuan itu dinikahkan dengan lelaki lain (kawan muridnya juga), menudian menalaknya lagi, berturut-turut tiga kali dinikahkan dan diceraikan lagi. Keempat kalinya dinikah oleh kiyainya sendiri.

Sedangkan yang gadis, tidak dinikahkan dulu, melainkan langsung dinikahi sang kiyai. Bung Karno menyebut kiyai model ini dengan sebutan “Dajal”. Dengan demikian, tiap-tiap istri yang jadi muridnya, di mata murid yang lain pun, adalah istri daripada si Dajal itu sendiri. Termasuk kisah di Pemandangan itu. Di mana seorang gadis yang sudah dinikahi, dimasukkan ke bilik dan di situlah dirusak kehormatanya. Halal, dianggap sah, karena sudah diperistri!

Bung Karno lantas menulis, jikalau berita di suratkabar Pemandangan itu benar, maka benar-benarlah di sini kita melihat Islam Sontologo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh. Tak ubahnya dengan tukang merentenkan uang yang menghalalkan ribanya.

Di pandangan Bung Karno, praktik Islam Sontoloyo itu ibarat orang yang main-main kikebu dengan Tuhan. Dalam bahasa lain, orang yang mau main kucing-kucingan dengan Tuhan. Dalam kalimat lain, seperti orang yang hendak meng-abu-i mata Tuhan. Bung Karno lantas menguraikan, Islam tidak menganggap fiqh sebagai satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utama terletak pada ketundukan jiwa kita kepada Allah. (roso daras)

Published in: on 27 Mei 2011 at 02:25  Comments (19)  
Tags: , , ,

Amerika Serikat di Belakang Kartosoewirjo

Nekolim, neo kolonialisme dan imperialisme … kolonialisme dan imperialisme wajah baru, sejatinya sudah dari dulu menjadi musuh bangsa. Bahkan sejak tahun 60-an, Bung Karno sudah memberi peringatan kepada bangsa ini untuk senantiasa waspada. Bukan hanya memberi peringatan, lebih dari itu, Bung Karno juga menunjukkan garis politik nekolim. Karena itu, sebelum mengajak bangsa ini mewaspadi dan membentengi diri dari bahaya nekolim, Bung Karno pun memberi rujukannya.

Atas dasar politik internasional, kata Bung Karno, kita mengetahui garis politik nekolim melalui “kitab-kitab” mereka, yang terbuka bagi siapa saja mempelajarinya. Bung Karno menyebut Maurice West dengan “kitab nekolim” berjudul West The Ambassador, kemudian ada lagi “kitab nekolim” karya Wilfred Buchet The Furtive War. Disebutkan lagi “kitab nekolim” tulisan Andrew Tully C.I.A, Rose The Invisible Government.

Secara gamblang, kita-kitab nekolim itu menyebutkan bahwa Cina (baca: komunisme) harus dieliminasi. Caranya begini, begitu, via selatan, via kanan, via kiri, dan seterusnya. Buku-buku itu memuat secara gamblang bagaimana strategi politik internasional nekolim. Penjajahan gaya baru pasca Perang Dunia II.

Dari sana bangsa ini bisa belajar, mengapa Amerika Serikat begitu membenci Sukarno. Bagaimana Amerika Serikat tidak menghendaki Sukarno (baca: Indonesia) berdekat-dekat dengan Cina. Bahkan Revolusi Indonesia di kala itu disebutnya sebagai the greatest danger spot bagi Nekolim di Asia Tenggara.

Bung Karno seorang nasionalis. Ia adalah poros tengah bagi dunia. Tidak ke kiri, tidak ke kanan. Ideologi Pancasila adalah jaminan tegak berdirnya bangsa dan negara ini. Semua gerakan, tindakan, dan langkah-langkah politik internasional Bung Karno sangat jelas dan transparan. Tidak mau didikte Barat, persetan dengan tekanan komunis. Karena itulah, ia menjadi “sangat berbahaya” di mata Amerika maupun Soviet.

Semua cara menggulingkan Bung Karno sejatinya sudah terjadi sejak awal negara ini berdiri. Komunis memproklamasikan diri. Islam memproklamasikan diri. Anasir Barat juga terus berusaha menancapkan kuku pengaruhnya melalui elite-elite politik ketika itu.

Dalam salah satu amanat, Bung Karno bahkan secara terang-terangan melakukan uit de school klappen, istilah Belanda untuk mengatakan “membuka sebuah rahasia”. Disebutkan, betapa dulu orang Amerika membenci Indonesia, terutama Presiden Sukarno. Ia menjadi bulan-bulanan pers Barat. Lebih dari itu, Bung Karno juga berkali-kali mengalami usah pembunuhan.

Selanjutnya, ia ungkap surat-surat dari Kartosoewirjo kepada para pengikutnya. “Heb ik zelf gelezen, hoor (saya baca sendiri, loo…,” kata Bung Karno. Surat Kartosoewirjo kepada orang-orangnya itu intinya adalah seruan agar terus berjuang (di bawah panji Negara Islam Indonesia) dengan segala macam jalan atau cara. Amerika staat achter ons. Amerika di belakang kita, dan berusahalan agar supaya Sukarno lenyap dari muka bumi.

Bahkan sebagai presiden, Bung Karno acap menerima surat dari para pengikut Kartosowirjo. Mereka terang-terangan mengancam untuk membunuhnya. Dan sejarah pun sudah mencatat tentang usaha pembunuhan terhadap Sukarno, baik lewat penggranatan di Perguruan Cikini, maupun saat shalat Idul Adha di masjid istana.

Salah satu surat itu menyebutkan, “Sukarno, Amerika berdiri di belakang kami. Meskipun engkau begitu, woordelijk betul, masuk leng semut, meskipun engkau masuk lubang semut, satu hari kami akan bisa dapatkan engkau. “Surat-surat itu, saya terima sendiri, saya baca sendiri,” tandas Bung Karno.

Apa yang terbeber di atas pada galibnya merupakan lembar sejarah. Menjadi aktual ketika negeri ini belakangan juga disibukkan dengan isu yang sama, NII. Satu benang merah yang bisa kita tarik dari bentang sejarah era 60-an hingga 2011 ini adalah, kekuatan nekolim masih begitu besar. Mereka terus dan terus berusaha merusak persatuan bangsa. “Indonesia pecah” adalah target utama nekolim.

Tahapan ke arah sana sudah berhasil mereka lakukan. Adanya undang-undang otonomi daerah yang menimbulkan sentimen kedaerahan semakin kental di negeri ini. Sistem demokrasi ala Barat, one man one vote melalui sistem pemilihan langsung, sesungguhnya adalah penggerogotan terhadap asas Pancasila.

Alhasil, kisah perseteruan kawan yang menjadi lawan antara Sukarno dan Kartosoewirjo, sesungguhnya bukanlah sebuah kisah sejarah yang berdiri sendiri, melainkan sebuah mata rantai yang bahkan masih aktual hingga hari ini. Tidak heran jika Bung Karno dalam berbagai kesempatan mengingatkan bangsanya untuk “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Hanya bangsa yang tidak melupakan sejarah, akan menjadi bangsa yang kokoh. Sejarah adalah hikmah. (roso daras)

Published in: on 24 Mei 2011 at 07:39  Comments (14)  
Tags: , , , ,

Ketika Bung Karno tak Lagi Didengar

Ada masa yang bisa kita sebut sebagai antiklimaks pada diri seorang Sukarno. Masa itu adalah bentang tahun antara 1965 – 1967, atau persisnya sejak Gestok, 1 Oktober 1965 hingga dilengserkannya dia tahun 1967. Pada saat itu, suara Sukarno benar-benar seperti angin lalu, di tengah gencarnya kekuatan yang digalang Soeharto dengan Angkatan Darat serta mahasiswa, yang semuanya didukung Amerika Serikat.

Tragedi G-30-S/PKI itu sendiri, dalam dokumen yang terekspos serta bukti-bukti yang tersaji, sungguh sebuah rekayasa jahat. Sebagian pengamat menyebutnya “kudeta merangkak”, mulai dari aksi pembunuhan jenderal hingga pendiskreditan atas diri Sukarno, hingga berujung pada tindakan pembunuhan karakter dan pembunuhan dalam pengertian yang mendekati arti sesungguhnya.

Dokumen Arsip Nasional mencatat sedikitnya Bung Karno berpidato sebanyak 103 kali dalam bentang September 1965 hingga 1967. Di tengah serangan aksi demo mahasiswa yang bertubi-tubi, serta pembunuhan karakter di media massa, Bung Karno terus dan terus berpidato dalam setiap kesempatan. Dalam setiap pidatonya, Bung Karno menjawab semua tudingan dengan sangat gamblang dan masuk akal. Akan tetapi, tidak satu pun yang mendengar.

Jenderal-jenderal yang semula patuh dan tunduk, mulai membangkang. Setiap isi pidato Bung Karno, tidak pernah lolos dari gunting sensor Angkatan Darat, sehingga tidak satu pun substansi pidato Bung Karno tadi terekspos di media massa. Sedangkan pemberitaan yang muncul selalu berisi pemutarbalikan fakta, dan opini-opini kaum oposan yang menyudutkan Bung Karno.

Sejatinya, barisan pendukung Sukarno sudah begitu kuat. Bahkan semua angkatan bersenjata dan Polisi (kecuali Angkatan Darat) berdiri di belakang Sukarno, dan siap perintah untuk menumpas aksi demo sokongan Amerika, dan aksi membangkang Angkatan Darat. Di atas kertas, kalau saja Bung Karno mau, maka dengan mudah aksi perlawanan Angkatan Darat yang dipimpin Soeharto bisa ditumpas.

Dalam banyak dokumen sejarah terungkap, Bung Karno tidak menghendaki perang saudara. Ia melarang para pendukungnya untuk melakukan aksi basmi terhadap saudara sebangsa yang membangkang. Bahkan kemudian Bung Karno memilih “mengalah” demi rakyat Indonesia, demi keutuhan bangsa. Ia bersedia menjadi tumbal. Kepada orang dekatnya, Maulwi Saelan ia pernah bertutur, biar nanti sejarah yang membuktikan, siapa yang salah dan siapa yang benar…. Sukarno atau Soeharto.

Bung Karno bahkan mulai menguak temuannya tentang adanya transfer dana dari pihak asing sebesar Rp 150 juta pada tahun 1965 dengan tujuan untuk mengembangkan the free world ideology. Dalam pada itu, Bung Karno juga mengemukakan bahwa ia memiliki surat Kartosoewirjo yang menyuruh para pengikutnya terus berjuang mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) karena “Amerika di belakang kita”. Dalam kesempatan lain lagi, Bung Karno mengutuk nekolim dan CIA. Ia bahkan berseru di hadapan para diplomat asing di Jakarta, “Ambasador jangan subvesi!”.

Atas tragedi G-30-S/PKI itu sendiri, Bung Karno terus disudutkan sebagai pihak yang patut diduga terlibat. Meski di kemudian hari kita baru menyadari… bagaimana mungkin seorang presiden mengkudeta dirinya sendiri? Itu jika kita menggunakan analogi bahwa gerakan itu dimaksudkan untuk mengganti kepemimpinan nasional.

Dalam salah satu pidato yang ia ucapkan di Bogor, Bung Karno menyebutkan bahwa berdasar visum dokter, tidak ada kemaluan jenderal korban G-30-S itu yang dipotong dalam pembantaian di Lubang Buaya. Demikian pula, tidak ada mata yang dicungkil seperti ditulis pers dengan sangat dramatis. Dalam pidato berikutnya tangal 13 Desember 1965 di hadapan par gubernur se-Indonesia, Bung Karno bahkan menuturkan, pisau yang disebut-sebut digunakan mencongkel mata para jenderal tak lain adalah sebilah pisau penyadap lateks, getah pohon karet. Tapi oleh kelompok Soeharto disebut sebagai barang bukti yang digunakan mencungkil mata para jenderal. Tidak ada bekas darah kecuali getah karet di pisau itu.

Semua pidato Bung Karno yang bermaksud meng-counter tudingan, sangkaan, dugaan serta segala bentuk pencemaran nama baik, tak mempan. Kekuatan Angkatan Darat didukung Amerika Serikat begitu merajalela. Di sisi lain, Bung Karno yang sudah mendapatkan ikrar setia dari segenap elemen masyarakat, bergeming tidak mau bertindak menumpas. Ia tidak ingin perang saudara di bumi yang dengan susah payah ia lepaskan dari jerat penjajahan. (roso daras)

Published in: on 23 Mei 2011 at 10:37  Comments (16)  
Tags: , , ,

Antara Tiang Bendera dan Gang Becek

Ini sepenggal kisah berdirinya tiang bendera di Istana Negara, Jakarta. Tiang bendera yang setiap tanggal 17 bulan Agustus selalu menjadi pusat perhatian rakyat Indonesia. Di tiang itu pula dulu bendera pusaka jahitan tangan Ibu Fatmawati selalu dikibarkan setiap memperingati proklamasi kemerdekaan. Di tiang itu pula, pada tahun-tahun selanjutnya, bendera pusaka duplikat dikibarkan setiap kita memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan bangsa kita.

Sesungguhnyalah, pembangunan tiang bendera itu adalah “karya” arsitektur pertama Bung Karno setelah kita mendapatkan kedaulatan penuh tahun 1949. Tahun itu, Bung Karno kembali ke Ibukota setelah hampir tiga tahun berkantor di Istana Yogyakarta. Kota Yogya, yang sempat dijadikan Ibukota Republik Indonesia yang baru “bayi” dan dirongrong oleh masuknya kembali Sekutu, serta menimbulkan pertempuran sengit di mana-mana.

Sekembali dari Yogyakarta ke Jakarta, hal pertama yang Bung Karno lakukan adalah membikin tiang bendera dari beton di depan Istana Merdeka. Maka, atas peristiwa itu, Bung Karno acap berkata, “That was the first thing I did.” Pembangunan tiang bendera itu sendiri dilakukan awal-awal tahun 1950. Itu artinya, bendera pusaka merah putih untuk pertama kali dikibarkan di Istana Merdeka pada 17 Agustus 1950.

Saat ini, bangsa Indonesia hanya melihat dan merasa bangga dengan tiang bendera yang megah itu. Akan tetapi, tidak demikian pada awal pembangunannya. Sejumlah lawan politik Bung Karno, justru mengecam pembangunan tiang bendera itu. Saat itu, elite politik dari PSI (Partai Sosialis Indonesia) melalui suratkabar mereka, Pedoman, mengkritik habis-habisan.

Bung Karno kalau menirukan kritikan lawan politiknya ketika itu begini, “Lihat Bung Karno, lihat presiden kita ini. Belum apa-apa sudah kemegahan tiang bendera. Pak, gang masih becek, kenapa bikin tiang bendera?”

Bung Karno tidak menggubris kritikan itu. Apalagi jika mengingat, pekerjaan membangun tiang bendera dari beton yang megah di depan Istana Negara itu, bianya hanya Rp. 30 ribu. Mungkin ada yang menyebut sebagai angka yang besar pada tahun 1950, tetapi tentu angka yang sangat kecil, jika pembandingnya adalah biaya untuk memperbaiki gang-gang yang becek dan belum beraspal.

Alhasil, tiang bendera Istana Negara itu terus dan tetap dibangun, meski mendapat kritikan tajam dari lawan-lawan politiknya. “Sekarang,” kata Bung Karno, “tiap-tiap orang bangga bahwa di muka Istana Merdeka ada tiang bendera yang tiap tanggal 17 Agustus bendera pusaka kita bisa dikibarkan.” (roso daras)

Published in: on 21 Mei 2011 at 06:37  Comments (1)  
Tags: , ,

Mata Najwa, Belajar dari Sejarah

Sekadar mengingatkan… malam ini pukul 22.05, acara Mata Najwa di Metro TV akan mengupas tema “Politik Mercusuar”. Saya menjadi salah satu nara sumber acara tersebut. Tema itu sungguh menarik, mengingat adanya kesenjangan informasi tentang hal-hal yang bersifat sejarah pemerintahan Bung Karno dengan era setelahnya.

Hampir semua rakyat Indonesia mengetahui Tugu Monas… demikian pula Masjid Istiqlal, dan tentu saja Gedung DPR-MPR RI. Akan tetapi, berani bertaruh, tidak sampai sepertiga rakyat Indonesia yang mengetahui detail sejarah pendiriannya. Bahkan, warga Ibukota Jakarta yang setiap hari hilir-mudik di jembatan Semanggi, melintasi Patung Dirgantarai (Pancoran), Patung Pak Tani, Tugu Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan masih banyak lagi situs lainnya, sangat sedikit yang memahami latar belakang sejarah berdirinya situs-situs tersebut.

Alhasil, topik mengupas situs-situs peninggalan Bung Karno dalam kemasan “Politik Mercusuar” di acara Mata Najwa Metro TV, Rabu 11 Mei pukul 22.05 nanti malam, menjadi moment penting dalam pembelajaran bersama tentang sejarah bangsa kita. Seperti berulang kali Bung Karno sering menegaskan, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”… sebab bangsa yang melupakan sejarah, akan menjadi bangsa yang “vacuum”, bangsa yang akan berjalan di kegelapan tanpa lentera.

Istiqlal menyiratkan rasa bangga, rasa nasionalisme yang tinggi, dan tentu saja pembelajaran akan filosofi agama yang dalam. Tugu monas menggelorakan rasa persatuan dan respek terhadap perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Gedung DPR yang dirancang sebagai gedung Conefo tahun 1966, adalah simbol kemandirian kita sebagai bangsa besar, yang tidak mau didikte oleh kekuatan asing mana pun. Jembatan semanggi adalah lambang persatuan, lambang ikatan persaudaraan yang membuat Indonesia bisa bersatu meski berbagai suku, beragam agama, budaya dan adat istiadatnya.

Nah, sekalipun hanya sekelumit, setidaknya Mata Najwa nanti malam sedia melambungkan nostalgi kita ke era kejayaan masa lalu. Mata Nanti malam akan memberi referensi yang sangat berarti bagi generasi penerus. (roso daras)

Published in: on 11 Mei 2011 at 06:21  Comments (8)  
Tags: , , , , ,

“Negeri Suarna Dwipa”

Membaca buku Ramayana, tersebutlah narasi singkat tentang “Negeri Suarna Dwipa yang mempunyai tujuh kerajaan besar”. Suarna dwipa memiliki arti pulau-pulau emas. Itulah nama yang sekarang menjadi Indonesia. Bayangkan, negeri tumpah darah kita sudah tersebut dalam cerita klasik Hindu lebih tiga abad silam.

Baiklah… kita tengok jaaauuuhhh ke belakang, ke era pra sejarah, ke era sekitar enam ratus juta tahun lalu yang berdasar ahli-ahli purbakala, kepulauan tempat kita berpijak sekarang, sudah didiami orang. Kita mengenal sejarah kebudayaan purba.

Proses “menjadi Indonesia” pun telah melalui catatan sejarah mencengangkan. Pada abad kesembilan, Suarna Dwipa dikenal orang sebaga Kerajaan Sriwijaya. Puncak kejayaan negeri ini ketika dikenal sebagai Majapahit pada abad ke-14. Negeri makmur, gemah ripah loh jinawi. Bahkan saking majunya, Majapahit menjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia beradab.

Itu semua bukan dongengan Bung Karno ketika melecut semangat kemandirian bangsa, setelah tiga setengah abad hanya bisa berkata, “ya Tuan” kepada bangsa penjajah. Kebesaran Majapahit tertuang dalam surat-surat-gulung-perkamen, dalam gulungan-gulungan naskah daun lontar yang berhasil ditemukan dan dijadikan telaah sejarah. Bahkan studi negeri Cina menyebutkan, Majapahit adalah bibit dari kebudayaan seluruh Asia. Itulah yang digunakan Bung Karno untuk membangkitkan jiwa besar bangsanya. Itulah cara Sukarno membunuh mental inlander bangsanya.

Sebab, usai kebesaran Majapahit, perlahan tapi pasti bangsa ini makin terpecah. Kerajaan-kerajaan Nusantara tidak lagi sekokoh Sriwijaya dan Majapahit. Bersamaan dengan itu pula, pelaut-pelaut lintas benua banyak melakukan ekspedisi, hingga laksana gula yang dikerumuni semut, begitulah kepulauan Suarna Dwipa.

Dari Lisboa, Portugal datanglah Vasco da Gama. Dari Negeri Belanda datanglah Cornelis de Houtman. Era itu ditandai pula dengan sebuah era baru dimulainya revolusi perdagangan di daratan Eropa. Berkembang terus hingga untuk pertama kalinya, Belanda menguasai Jawa di abad ke-16, kemudian kepulauan Maluku diduduki abad ke-17, berturut-turut Belanda menancapkan cengkeramannya di bumu Suarna Dwipa. Makin banyak daratan dikuasai, hingga yang terakhir Bali pada tahun 1906.

Mereka, kaum penjajah, tidak saja mengambil dan mengeruk kekayaan alam, tetapi juga merampas kepribadian bangsa Nusantara yang dulu begitu agung dan kesohor. Perkembangan zaman kian menenggelamkan potensi bangsa, dan menjelma menjadi negeri Hindia Belanda. Tiga setengah abad lamanya harus dilalui sebagai bangsa jajahan.

Berbagai kisah heroik perjuangan pahlawan-pahlawan daerah: Imam Bonjol, Tjut Njak Dhien, Pattimura, Hasanuddin, Diponegoro, dan masih banyak lagi lainnya, tetap kandas dan binasa di tangan serdadu Belanda. Puncak pergerakan kemerdekaan, ditandai dengan munculnya dwi-tunggal Sukarno-Hatta yang kemudian menghapus nama Hindia Belanda, menjadi Republik Indonesia. Kita kembali menjadi sebuah bangsa yang merdeka.

Sekalipun begitu, masih jauh panggang dari api upaya kita mengembalikan kejayaan dan kemakmuran Majapahit. Kita memang kembali menjadi “suarna dwipa” tetapi, masih banyak dikerumuni semut-semut asing…. (roso daras)

“Menghidupkan” Kembali Bung Karno

Bung Karno lahir 6 Juni 1901 di Pandean, Peneleh, Surabaya. Tentang fakta ini, banyak yang tahu, tapi yakinlah… lebih banyak lagi yang tidak tahu. Terlebih generasi muda. “Cilaka”nya lagi, berbagai peringatan tentang kelahiran Sang Proklamator ini, justru selalu dan seringnya dilangsungkan di Blitar. Bahkan salah satu buku sejarah terbitan Departemen Pendidikan tahun 80-an, menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar.

Sejarah mendasar yang keblinger ini sempat tak tersentuh. Bukan saja karena di era kepemimimpinan Soeharto, segala hal yang berbau Sukarno diberangus, tetapi para Sukarnois sendiri seperti tertidur lelap. Tidak mau berurusan dengan rezim Soeharto yang sepertinya selalu dan selalu merasa kurang dalam mengubur Bung Karno. Yang lebih parah, putra-putri biologis Bung Karno sendiri seperti menganggap hal itu tidak penting.

Tak terkecuali Megawati Soekarnoputri. Sejak terjun ke politik dan mendapat sampur kekuasaan sebagai Wakil Presiden, kemudian Presiden, tidak pernah berinisiatif memperingati hari kelahiran bapaknya di Surabaya. Maka tidak heran, meluruskan sejarah bapaknya saja tidak mau, apalagi mengadopsi ajaran-ajarannya. Darah nasionalis yang mengalir pada tubuhnya, sudah terkontaminasi oleh paham liberal dan kapitalistis. Itu mengapa tidak ada satu pun mercu suar peninggalan Presiden Megawati yang bisa dibanggakan.

Eeeeittt... mengapa jadi mengkritisi Megawati? Back to the topic…. Ini tentang upaya “menghidupkan” kembali Bung Karno. Seorang rekan, Peter A. Rohi, seorang sukarnois tulen asal NTT, penggagas Soekarno Institut sekaligus jurnalis kawakan, suatu hari memboyong ide brilian. Ia mengajak saya terlibat dalam kepanitiaan nasional peringatan kelahiran Bung Karno di kota kelahirannya, Surabaya. Bukan hanya itu, ia juga menggagas pembangunan monumen Bung Karno di lokasi Putra Sang Fajar dilahirkan.

Yang lebih membuat saya tidak bisa menolak, bahkan merasa wajib ikut serta adalah, idenya untuk membangun monumen secara gotong royong. Ya, gotong royong, ciri khas bangsa Indonesia yang kemudian dijabarkan Bun Karno dalam panca sila. Ihwal bentuk gotong royong yang dimaksud, antara lain dengan mengimbau masyarakat untuk menyumbangkan satu-dua batu bata yang tak terpakai, yang lazim tergeletak di belakang atau samping rumah.

Begitulah sekilas ide dasar peringatan hari kelahiran Bung Karno di Surabaya, 6 Juni mendatang. Selain peletakan batu pertama pembangunan monumen Bung Karno di lokasi ia dilahirkan, panitia juga merancang dua agenda lain berupa sarasehan dan peluncuran buku.

Sifat gotong royong juga sudah diletakkan pada saat pembentukan kepanitiaan. Semua yang terlibat, memberi kontribusi tanpa pamrih, baik pikiran, tenaga, dana, bahkan doa. Yang menyenangkan, tidak satu pun anggota panitia yang mengusulkan untuk “membuat proposal”…. Bahkan tidak satu pun yang mengajukan usul, “bicarakan ke keluarga Bung Karno yang masih hidup”….

Sekalipun begitu, panitia ini sangat optimistis, para Sukarnois akan berbondong-bondong mendukung. Baik dalam bentuk dukungan pikiran, tenaga, doa, maupun dana, yang kesemuanya dalam bingkai semangat gotong royong. Mohon doa restu. (roso daras)

Published in: on 1 Mei 2011 at 05:04  Comments (7)  
Tags: , , ,