Santap Pecel di Atas Tikar

Lagi, soal nasi pecel. Bung Karno paling menikmatinya. Dan, Inggit Garnasih sangat tahu itu. Maka, bukan saja ketika Bung Karno masih tinggal di Bandung pada awal-awal pernikahan mereka, hingga di tempat-tempat pembuangan pun, Inggit begitu rajin membuatkan menu nasi pecel buat suaminya.

Sebuah menu yang sangat sederhana. Makanan khas Jawa Timur (Madiun) ini, sejatinya sudah dikenal bangsa ini turun-temurun. Tidak hanya masyarakat Jawa Timur, tetapi juga masyarakat di belahan bumi yang lain. Yang membedakan adalah jenis sayuran, dressing atau bumbu, serta penamaan. Masyarakat Barat, menyebut pecel dengan “salad”….

Di Bengkulu misalnya, Inggit menjadikan halaman belakang sebagai tempat makan nasi pecel di pagi dan atau sore hari. Menyajikan hidangan pecel, bukan soal sulit. Daun bayam, kacang panjang, bunga turi, tauge, kemangi… sangat mudah didapat. Bumbu pecel yang utama adalah kacang tanah yang disangrai. Bahan lain adalah kentang, bawang putih, cabai merah, cabe rawit, gula jawa sisir, daun jeruk, dan garam tentunya.

Versi bahan-bahan bumbu pecel, bisa saja berbeda. Tetapi apa pun bahan yang diracik Inggit, kita tidak tahu. Satu hal yang kita tahu adalah, Bung Karno sangat menyukainya. Tidak satu pun istri Bung Karno yang bisa menghidangkan nasi pecel sebaik dan seenak Inggit. Hartini, dia jago memasak sayur lodeh. Sayur lodeh yang bisa membuat Bung Karno mabuk kepayang….

Kembali ke nasi pecel racikan Inggit. Di Bengkulu, Inggit acap mengajak makan Bung Karno dan teman-teman seperjuangan di halaman belakang. Menu utama, nasi pecel dengan lauk tempe goreng dan tempe bacem. Komplit sudah semua hidangan kegemaran Bung Karno. Ia akan makan dengan sangat lahap menggunakan tangan kanannya.

Ihwal cara makan Bung Karno? Sudah pernah pula dibahas di sini. Jika pada umumnya orang makan nasi dan lauk satu piring membutuhkan waktu 10 sampai belasan menit, Bung Karno cukup 3 – 4 menit. Ya, kebiasaan makan cepat terpatri sejak ia akrab dengan hotel prodeo. Di dalam penjara, setiap narapidana harus makan cepat. Pasalnya, sipir penjara tidak memberinya banyak waktu untuk makan.

Lihat dalam gambar, manakala Inggit masih mengulek bumbu, dan Hanfi lahap, Bung Karno (hanya kelihatan tangan di atas piring) sudah hampir menghabiskan santapannya. Bayangkan saja, betapa nikmat makan nasi pecel, dengan lauk tempe goreng dan tempe bacem, makan sambil lesehan di halaman belakang, beratap langit dikelilingi orang-orang tercinta. Itulah salah satu energi Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 24 Februari 2011 at 18:59  Comments (2)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/02/24/santap-pecel-di-atas-tikar/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mau dunk pecelnya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: