Menangis demi Mercon

Tradisi menyulut petasan atau mercon sesungguhnya merupakan tradisi lama. Jauh sebelum Indonesia merdeka, setiap malam Lebaran, anak-anak –juga manusia dewasa– bersuka-ria menyalakan mercon. Memang, tidak semua anak bisa merasakan kegembiraan menyalakan petasan. Satu di antaranya adalah Kusno, ya si Kusno alias Sukarno kecil.

Lebaran demi lebaran, ia masih bersabar tidak ikut larut dalam kegembiraan menyalakan petasan. Ia masih bisa bersabar dan hanya tidur merenung dengan mata berkaca-kaca di bilik kamarnya yang kecil, di rumahnya di bilangan kota Mojokerto. Malam menjelang Lebaran yang tak bisa ia lupakan, adalah manakala kegalauan hatinya makin membuncah.

Saat itu, ia tak kuasa menahan kesedihan hingga menagis di pangkuan sang bunda. Denga kesal Kusno menggerutu, “Dari tahun ke tahun aku selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mercon.” Maksud Kusno adalah menyulut petasan, melepas petasan luncur. Apa daya, sang Bunda pun tak berdaya, karena harga mercon terlalu mahal untuk keluarga Soekeni – Idayu. Di bilik yang lain, Soekeni hanya diam menyaksikan anaknya begitu mendambakan mercon.

Keesokan malamnya, adalah suatu malam yang kemudian menjadi malam paling indah bagi Kusno kecil. Karenanya, ia tidak pernah melupakan kejadian malam itu sepanjang hayatnya. Apakah malam di mana ia dibelikan mercon? Tidak persis seperti itu, tetapi intinya, sama, ya, di malam ia… pada akhirnya… mendapatkan mercon!

Tidak sama persis karena yang memberikan bukan sang ayah atau sang bunda. Melainkan, seorang tamu yang berkunjung pada suatu malam. Tamu dari bapaknya. Kemudian, sang tamu itu memanggil Kusno, dan menyerahkannya bungkusan kecil berisi mercon. “Ini,” kata sang pemberi mercon, sambil mengulurkan benda paling berarti dalam hidup Kusno saat itu.

Kusno? Matatanya membelalak… tangannya gemetas menerima bungkusan mercon itu. Mulutnya terkatup rapat. Bahkan nyaris lupa untuk mengucap kata terima kasih kepada sang budiman malam itu. Ia segera menghambur ke kamar, membuka bungkusan, memastikan bahwa itu benar-benar mercon! Ia pegang dan pandangi mercon itu dalam-dalam…. Ia menarik nafas kegembiraan yang tiada tara. (roso daras)

Published in: on 4 Januari 2011 at 03:56  Comments (4)  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2011/01/04/menangis-demi-mercon/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sebetulnya nama ayah Bung Karno itu Sukemi atau Sukeni? Terima kasih.

    • Memang dua versi: Soekemi Sosrodihardjo dan Soekeni Sosrodihardjo. Saya hanya menduga, yg benar SOEKEMI, sebab itu lebih lazim dibanding SOEKENI. Hanya saja, di seluruh dokumen administrasinya, tertulis SOEKENI. Itulah mengapa, di dokumen rsmi tertulis SOEKENI (bahkan juga yang tertulis di batu nisan beliau di Blitar), sementara Bung Karno dalam bukunya menyebut SOEKEMI.
      Sy (dalam berbagai tulisan di blog ini), ada kalanya menulis SOEKEMI ada kalanya SOEKENI. Biarlah itu menjadi dua nama untuk satu orang: AYAHANDA BUNG KARNO.

  2. Posting bagus….
    Kita memang pelu mengenal biografi tokoh2 nasional kita, agar sejarah tidak terputus atau diplintir.

    Trm ksh
    by: http://gunawank.wordpress.com/2010/12/14/dewi-sartika-pahlawan-terlupakan/

  3. Sya jg mngalami hal yg sma.!
    Tpi prbdaan’a saya sering kali mnangis karena spak bola,.sya mrah skali pd diri saya ini,knapa sya tdak bisa bermain spak bola dngan hati,.sdangkn pd wktu brmain futsal sya bisa brmain lpas tnpa beban,,apkh ini mnunjukn kkurangan pngalaman brmain d lpangan bsar???
    Saya tdak tau apa yg harus sya lkukn,.pdhl sya ingin skali mnjadi pmain spak bola profesional,.mdah” suatu saat nanti impian sya trwujud ”ASTUNGKARA”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: