Gelora Bung Karno

 

 

 

 

Hari ini, semua perhatian masyarakat Indonesia tertuju ke Gelora Bung Karno, sebuah gelanggang olahraga yang dibangun oleh Presiden Sukarno dengan begitu megahnya. Kompleks olahraga ini dinamai “Gelora Bung Karno”, tentu saja untuk menghormati Sukarno, Presiden pertama Indonesia, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini.

Pada masa Orde Baru, nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Gelora Senayan. Maklumlah, semua yang berbau “Sukarno” ditutup-tutupi, dikubur, dihapus, diusahakan untuk dihilangkan sama sekali. Beruntung, setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.

Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.

Awal tujuan dibangunnya stadion ini, Presiden Sukarno juga menginginkan kompleks olahraga yang dibangun untuk Asian Games IV 1962 ini juga hendaknya dijadikan sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka tempat warga berkumpul. Sebuah fitur khusus adalah atap baja besar yang membentuk cincin raksasa dan melindungi para penonton dari panas. (roso daras)

 

Published in: on 29 Desember 2010 at 10:44  Comments (8)  
Tags: ,

Wallpaper Bung Karno

Saya sungguh terkesan dengan sketsa Bung Karno di http://www.kepakgaruda.com. Dan saya sudah men-downloadnya buat wallpaper laptop dan PC monitor di kantor. Satu wallpaper yang sudah saya unduh adalah ini:

 

. . .

Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama,
kita masih hidup di masa pancaroba,
tetaplah bersemangat elang rajawali!
(Pidato HUT Proklamasi 1949)

Saya merekomendasikan Anda menggunakan wallpaper ini, setidaknya untuk sesekali. Mengapa? Untuk menggugah semangat nasionalisme. Untuk memelihara bara kebangsaan. Untuk menyuburkan rasa persatuan. Untuk mengenang orang besar yang pernah kita miliki. (roso daras)

Published in: on 27 Desember 2010 at 05:28  Comments (22)  
Tags: ,

Treatment Film Bung Karno

Sekadar mengingatkan saja, proses pembuatan film Bung Karno terus berjalan. Hingga posting ini di-upload, penulis skenario (ehemm…) sudah merampungkan step kedua: Treatment, setelah langkah pertama, sinopsis selesai dan disetujui. Percayakah Anda? Adalah sangat sulit ketika harus memulai proses penulisan treatment tersebut.

Satu demi satu adegan coba dituang… dan harus saya hapus lagi ketika membaca ulang, dan terlintas ide yang lain. Mengulang lagi dari awal… dan saya hapus lagi manakala muncul gagasan yang lain lagi…. Begitu silih berganti, hingga nyaris frustrasi. Fokus!!! Itu intinya. Revized possibilities, harus pula dicamkan. Ah, kalau begitu, mengapa harus repot?

Berkatalah saya kepada “ide”… silakan datang memenuhi batok kepalaku… (bertubi-tubi bila perlu) niscaya akan saya catat sebagai “alternatif”.  Sementara itu, biarkan saya mengalirkan imajinasi runtutan cerita.

Sekalipun begitu, saya sadar, proses ini harus terus saya komunikasikan dengan pihak PH. Maka, ketika sepertiga treatment selesai, saya pun mendatangi PH dan mendiskusikannya dengan person in charge. “Haahh… baru sampai sini, sudah setebal ini?! Kepanjangan mas!”

Lega saya. Memenggal jauh lebih mudah daripada menambah, bukan? Saya pun meminta satu kondisi, biarkan saya menuangkan semua, jangan dibatasi halaman. Jika harus 100 lembar, ya 100 lembar yang akan saya tulis. Jika harus 1.000 lembar, maka terjadilah. Setelah itu, baru direvisi bersama.

Nah, lepas dari istilah teknis Int (interior), Ext (eksterior) dan nama-nama pemain yang terlibat dalam peristiwa demi peristiwa…, inilah sepenggal treatment itu:

1.

Suasana dibuka dengan bumi yang bergoncang (gempa). Pagi masih buta. Sebagian rakyat terbangun bukan karena kokok ayam jantan, tetapi karena bumi yang bergerak-gerak… “Ana lindu… ana lindu,” teriak sebagian rakyat, panik.

Gambaran kepanikan meliputi segenap rakyat di desa-desa, hingga ke rumah-rumah gedong para meneer Belanda.

Sementara itu….

Di waktu bersamaan, di sebuah rumah, tokoh Soekeni gelisah, menunggui istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai (Idayu) yang hamil tua, dan sudah saatnya melahirkan. Ia pun menjadi lebih panik demi merasakan adanya gempa bumi.

Jam menunjukkan pukul 05.30, dan kalender menunjukkan tanggal 6 Juni 1901.

2.

Gunung Kelud meletus… menumpahkan lahar, menyemburkan awan panas.

Bersamaan dengan letusan gunung kelud, lahirlah si jabang bayi dari rahim Idayu. Sebuah kelahiran yang bukan dibantu dokter, bidan, atau dukun beranak, melainkan oleh kakek-kakek, yang tak lain adalah kakek si jabang bayi dari kerabat sang bapak.

Segala suara gemuruh letusan gunung, kepanikan ayam jantan, kegaduhan masyarakat…. Langsung sirep oleh “gelegar” tangis sang jabang bayi. Tangis bayi yang kemudian diberi nama Koesno itu, menenggelamkan semua kegaduhan alam.

DISSOLVE

3.

Di dalam kamar, Koesno kecil nan kurus bangun dari tidur. Mengucek-ucek matanya, dan mencari sang ibu, yang sudah tidak ada di sisinya. Ia turun dari dipan dan berjalan ke depan, mencari sang ibu. Demi melihat sang ibu tengah duduk di beranda depan menghadap ke timur, Koesno segera menghampiri dan memanggil, “Buuu….”

Sang ibu segera menoleh, dan merengkuh serta memeluknya di pangkuan. Sejurus kemudian, sang surya merekah, sang ibu pun mengingatkan kepada Koesno, sebagai seorang anak yang dilahirkan saat fajar menyingsing. “Engkau putra dari sang fajar, nak…. Jangan sekali-kali lupakan itu.”

DISSOLVE

4.

Di tanah lapang, Koesno kecil tengah bermain bersama teman-temannya. Ia tampak paling unggul. Memanjat pohon paling tinggi… balap lari menjadi yang terdepan… Paling jago memburu belalang, menangkap capung, bahkan berenang di kali, hingga naik kerbau.

Dari kecil, ia sudah menunjukkan keunggulannya dibanding teman-teman sebaya, bahkan di antara teman yang lebih besar sekalipun. Koesno selalu dan selalu mau unggul dibanding yang lain. Bahkan, setiap perintah dan ucapannya, selalu dituruti oleh teman-temannya… (roso daras)

Published in: on 25 Desember 2010 at 10:23  Comments (10)  
Tags: , , ,

Bung Karno dalam Sketsa Kepak Garuda

Danu Widhyatmoko adalah satu nama yang menyuburkan taman sari Bung Karno di hati saya. Siapa Danu? Terus terang, saya belum pernah bertemu muka, melainkan hanya berkomunikasi lewat surat elektronik alias email. Yang pasti, dia menamakan diri dari “KepakGaruda.com”. Lantas, bagaimana nama Danu bisa begitu berarti?

Intinya, saya begitu mengagumi Anda, siapa pun Anda, yang berada pada garis Sukarno. Nah, Danu ini adalah manusia terpuji yang berada pada garis itu. Dalam emailnya, dia melampirkan dua sketsa tentang Bung Karno. Satu sketsa dialog Bung Karno dengan petani Marhaen di Bandung Selatan. Kedua, sketsa Bung Karno tengah berorasi.

Atas sketsa tersebut, Bung Danu meminta komentar saya, khususnya dari sisi fashion. Contoh, apakah ketika itu Bung Karno sudah berkopiah? Tentunya belum. Rambutnya masih klimis, bahkan manakala telat bercukur, kumis tipisnya tegas melintang. Persoalannya adalah, manakala sosok Bung Karno saat berdialog dengan Marhaen dilukiskan dengan ilustrasi tadi, kekhawatirannya adalah, masyarakat luas tidak mengenali kalau tokoh yang dimaksud adalah Bung Karno.

Sementara itu, jika dilukiskan seperti dalam sketsa di atas, logikanya tidak nyambung. Di sinilah harus ada pemilahan yang tegas, antara fungsi sketsa sejarah yang bersifat faktual, dengan sketsa yang mengedepankan esensi daripada sajian visual. Karenanya, manakala Bung Danu menanyakan komentar saya, saya tergelitik untuk menuangkannya dalam postingan kali ini, dengan harapan bisa mendatangkan sebuah diskursus menarik dan bermanfaat bagi kita semua.

Kemudian sketsa kedua:

Bung Karno tengah berorasi. Ah… apa yang harus dikomentari?

Last but not least, Bung Danu terima kasih sudah menyuburkan taman sari Bung Karno di relung hati saya. Mohon izin pula, meng-copy wallpaper di http://www.kepakgaruda.com dan sudah saya pasng di layar laptop saya…. (roso daras)

Published in: on 21 Desember 2010 at 13:40  Comments (1)  
Tags: ,

Alam Magis Bung Karno di Pulau Dewata

“Magic People’s”, begitu orang biasa menyebut saudara kita dari Bali. Hampir seluruh kehidupan mereka, dipenuhi semangat berlomba-lomba menuju tri hita karana. Tri yang berarti tiga, Hita berarti sejahtera dan Karana berarti penyebab. Pengertian Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.

Dalam implementasinya, masyarakat Hindu Bali senantiasa lekat dengan alam, sesama, dan Tuhan. Karenanya, ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok,yakni : wilayah, masyarakat dan tempat suci untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi. Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan terciptanya rasa hidup yang nyaman, tenteram, dan damai secara lahiriah maupun bathiniah.

Bung Karno paham betul persoalan itu. Bukan saja karena ia manusia setengah Bali, melainkan Bung Karno memang dialiri darah supranatural yang kental. Masyarakat Bali pun memujanya sebagai manusia yang memiliki “kelebihan”. Terlebih manakala dalam setiap kunjungan ke Bali, ia tak jarang memerankan lakon “Dewa ngejawantah”, menaggalkan status sosial yang tinggi, dan membaur bersama rakyat.

Di Bali, akrab sekali kisah-kisah Bung Karno yang merakyat. Seperti misalnya, kegemaran Bung Karno berjalan kaki di pematang sawah, dan tak segan mencegat wanita Bali yang sedang berjalan membawa bekal makan siang suaminya yang sedang bekerja. Bung Karno menyapa lembut rakyatnya… menanyakan makanan apa yang dibawa… dan… mencicipinya! “Enak sekali, dan sangat bergizi,” komentar Bung Karno sesaat setelah mencicipi sayur bercampur “kakul” sejenis siput sawah.

Masih banyak kisah lain, dan berhubungan dengan spirit magis masyarakat Bali. Mereka umumnya percaya, roh Bung Karno masih berdiam di beberapa lokasi “wingit” yang ada di Pulau Seribu Villa…eh Pura! Sebagai contoh, sebuah kamar di hotel Samuder Beach Sanur lantai 3, begitu dikeramatkan. Kamar ini tidak pernah disewakan kepada siapa pun, sekalipun di malam tahun baru, di mana harga-harga kamar hotel di Bali selangit.

Di situlah konon Bung Karno sering melakukan meditasi. Tetapi versi lain menyebutkan, bukan di kamar itu Bung Karno mediasi, melainkan di pantai Sanur, jauh sebelum hotel itu digagas Bung Karno pada tahun 1958. Ketika itu, pantai Sanur sangat “wingit”, tidak semua jalma manusia berani mendekat.

Satu tempat lagi yang akrab digunakan Bung Karno untuk bermeditasi adalah sebuah vila yang menghadap Danau Bratan, Bedugul. Nama vilanya sendiri Lila, tetapi masyarakat banyak menyebutnya sebagai “Villa Bung Karno”. Selain, tentu saja di Istana Tampak Siring itu sendiri.

Bermeditasi tak jauh dari sumber air, baik itu samudera, danau, maupun mata air seperti di Tirtha Empul, yang terletak di belakang Istana Tampak Siring. Air. Unsur air tak pernah jauh dari lokasi meditasi Bung Karno. Entahlah, atau barangkali itu terkait dengan shio Bung Karno? Bung Karno lahir tahun 1901 di bawah shio kerbau.

Kerbau dalam zodiac Cina bukanlah banteng. Berdedikasi dan solid, Shio yang kuat ini dilahirkan sebagai pemimpin, sangat tergantung untuk meraih dan memiliki kemampuan untuk mencapai hal-hal luar biasa. Sampai di sini, kiranya tak ada yang membantah. Tapi baiklah. Lepas dari semuanya, sebagian masyarakat Indonesia memandang Sang Proklamator ini dari sisi magisnya. Kiranya, sah-sah saja. (roso daras)

Published in: on 16 Desember 2010 at 07:19  Comments (7)  
Tags: , ,

Tirtha Empul dan Ide Besar Bung Karno

Dalam sebulan terakhir, sudah tiga kali saya hilir mudik Jakarta – Bali untuk suatu “bisnis”. Apa boleh buat, ngeblog pun sedikit terbengkalai. Jika Anda seorang penulis tentu tahu, sehari saja tidak menulis, ada kekosongan pada salah satu sudut perasaan. Percayalah, saya pun begitu.

Alhasil, sekalipun badan letih, pikiran penat… saya sempatkan untuk menulis. Celaka!!! Tidak ada signal sama sekali dari dalam kamar hotel. Baiklah… saya pun keluar dan mencari warnet. Beruntung, saya menemukannya sekitar 300 meter dari tempat saya menginap.

Well, ini tentang satu situs yang tidak bisa dilepas dari sejarah Sukarno, yakni Istana Tampak Siring. Istana yang dibangun di atas pura Tirtha Empul ini begitu banyak merekam kejadian seputar kehidupan Bung Karno, baik bersama tamu-tamunya, anak-anaknya, dan istri-istrinya. Banyak peristiwa lucu, tidak sedikit juga peristiwa menegangkan.

Salah satu tempat favorit Bung Karno untuk menuangkan ide-ide besar dalam pidato-pidatonya adalah di Tampak Siring. Di sini, ia bisa mengurung diri berhari-hari untuk menulis dan menuangkan gagasan-gagasannya. Jika Bung Karno sedang menulis, tidak satu pun yang boleh mengganggu. Sebaliknya, tidak satu pun pengawal atau ajudan boleh jauh-jauh darinya.

Karenanya, bisa jadi seharian sang pengawal dan ajudan hanya diam dan menunggu tanpa perintah apa pun. Tetapi tidak jarang, Bung Karno begitu rewel meminta ini dan itu. Tipikal seniman! Akan tetapi, seluruh staf Istana Tampak Siring sudah mengenal betul karakter tuannya.

Sekilas tentang Tampak Siring….

Di bawah Istana Presiden terdapat Pura Tirtha Empul yang mempunyai sumber air yang besar. Di pura Tirtha Empul terdapat peninggalan purbakala antara lain berupa lingga yoni dan Arca Nandi yang ditempatkan di belakang aling-aling pintu masuk Pura.

Desa Tampaksiring telah lama dikenal oleh dunia dan dapat dikunjungi dengan mudah sekali dari Denpasar dengan menempuh jarak sekitar 37 Km. Melalui Desa Mas yang mempunyai sejumlah toko-toko souvenir dan pemahat-pemahat yang terkenal seperti Ida Bagus Nyana, Ida Bagus Tilem dan lain-lainnya.

Di depan pura terdapat sebuah wantilan untuk keperluan upacara atau untuk berteduh bagi para pengunjung. Alam yang indah di tempat ini dengan Sungai Pakerisan yang mengalir tanpa henti-hentinya, begitu menyejukkan.

Suatu hari, saat Bung Karno menerima kunjungan Presiden Uni Sovyet, Kruschev, Bung Karno begitu bangga memamerkan alam Bali yang begitu indah. Tetapi tidak begitu sudut pandang Kruschev. Ia justru melihat begitu banyak rakyat Bali yang hidup miskin.

Ah, Bung Karno bias begitu mudah menangkis pandangan pesimistis Kruschev. Bung Karno bertutur panjang lebar tentang Hindu, tentang kasta-kasta, tentang kekuatan budaya masyarakat Bali… dan tentang bahagianya rakyat Bali setiap Bung Karno datang.

Terlebih, rakyat Bali ketika itu merasakan kejadian aneh dan ini sering terjadi. Setiap Bung Karno berkunjung ke Bali, ke tanah leluhur ibundanya, sekalipun musim kemarau, tak lama kemudian akan turun hujan. Masyarakat Bali pun percaya, dialah titisan Dewa Wishnu.

Dalam ajaran Hindu, Wisnu (disebut juga Sri Wisnu atau Nārāyana) adalah Dewa yang bergelar sebagai shtiti (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Ia dipandang sebagai roh suci sekaligus dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat dengan Brahman. (roso daras)

 

 

Published in: on 14 Desember 2010 at 12:55  Comments (2)  
Tags: , ,

Memeluk Foto Bung Karno, Permintaan Terakhir Suhada

Bung Karno polah, Suhada kepradah. Ini kiasan dari peribahasa Jawa “anak polah, bapa kepradah”, yang artinya, segala ulah anak, akan berimbas pada orangtuanya. Sedikit beda antara “anak-bapa” dan “bung karno-suhada”, tetapi terdapat filosofi yang sama.

Alkisah, manakala Sukarno dan Gatot Mangkupraja berangkat ke Solo untuk sebuah rapat politik, keduanya menyewa taksi langganan yang dikemudikan sopir nasionalis pro perjuangan kemerdekaan bernama Suhada. Peristiwa ini terjadi tahun 1929.

Nah, sepanjang perjalanan, Bung Karno dan Gatot bersoal-jawab tentang banyak hal. Bicara tentang hakikat perjuangan. Berbicara tentang kesiapan keduanya untuk menerima risiko terburuk: Dipenjara, dibuang, hingga dibedil Londo. Bung Karno juga mengisahkan pemimpin perjuangan Perancis yang akhirnya dihukum gantung.

Dikisahkan pula bagaimana dalam perjalanan menuju tiang gantungan, sang pemimpin revolusi itu berbicara kepada dirinya untuk tetap kuat, pantang menyerah, dan meyakini bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia. Suhada sang sopir, tetap mengemudi dengan takzim sambil mendengarkan kisah itu. Tak terasa, Suhada meneteskan air mata.

Makin kental darah kejuangan pada diri Suhada. Sekalipun sopir taksi, ia begitu bersemangat mendukung Bung Karno dan kawan-kawan. Mengemudi sebagai keahlian utamanya, ia dedikasikan penuh di medan perjuangan. Mengantar Bung Karno kian-kemari.

Tibalah pada suatu malam, usai rapat politik, di mana Bung Karno membawakan pidato yang diberinya judul “Perang Pasifik”. Mereka menginap di tokoh PNI Jawa Tengah yang tinggal di perbatasan Yogya – Solo, bernama Sujudi.

Tengah malam, mereka digerebek 50 polisi Belanda. Menggedor, menggebrak pintu, dan menggeledah isi rumah. Gatot-lah yang ditangkap pertama, karena ia yang pertama keluar kamar demi mendengar suara gaduh.

Bung Karno giliran berikutnya. “Atas nama Sang Ratu, saya menahan Tuan!” begitu polisi berucap di hadapan Bung Karno. Mereka segera digelandang keluar rumah. Di luar barisan polisi menghunus pistol sudah berjaga-jaga.

Suhada? Ah… dia pun kena getahnya. Sekalipun akhirnya dilepas, karena perannya yang hanya sopir, toh namanya dicatat tebal-tebal. Sekalipun hanya semalam-dua, Suhada pun merasakan “nikmatnya” meringkuk di balik jerajak besi bersama Bung Karno dan Gatot.

Karenanya, Bung Karno tidak pernah melupakan sopir taksi bernama Suhada ini, sehingga ia merasa pantas mengisahkannya dalam biografi yang ditulis Cindy Adams. Dalam kisah itu, Bung Karno menuturkan, Suhada diketahui meninggal dunia, tidak begitu lama setelah peristiwa itu.

Satu hal yang membuat Bung Karno tak bisa melupakan Suhada, dalam kondisi sekarat, Suhada tak juga melepas nafas, sampai suatu ketika ia membisikkan sebuah permintaan terakhir kepada kerabatnya. “Tolonglah, saya ingin mempunyai potret Bung Karno di dada saya.”

Permintaan itu pun segera dipenuhi. Diberikannya selembar foto Bung Karno, didekapkannya di dada, dan… Suhada pun meninggal dunia dengan tenangnya. (roso daras)

Published in: on 9 Desember 2010 at 05:35  Comments (3)  
Tags: , ,

Bandel dan Tidak Pintar

Bung Karno orang yang pintar, pandai, cerdik, cerdas… dan kata lain yang menggambarkan betapa tingginya tingkat intelegensianya. Melihat rentetan 26 gelar doktor honoris causa yang ia terima sepanjang hidupnya… membaca karya-karya tulisnya… mendengar pidato-pidatonya… susah sekali menyangkal pernyataan di atas.

Tapi lain cerita jika kita menguak sejarah masa kecil Sukarno, tatkala ia masih bernama Koesno. Sejak umur tiga tahunan, Koesno dititipkan ke rumah kakek-neneknya di Tulungagung, Jawa Timur. Sang kakek, Raden Hardjodikromo secara ekonomi tidak bisa dibilang mampu, tetapi masyarakat Tulungagung begitu menghormatinya.

Bukan saja karena ia memiliki kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit berkat laku-tirakat khas masyarakat Kejawen. Lebih dari itu, dalam menjalani kehidupan sosial, tampak Hardjodikromo muncul sebagai pinisepuh yang tuntas dalam menjalani laku batinnya. Ia gemar sekali menolong sesama. Jika tidak dengan kemampuannya mengobati orang sakit tanpa pamrih, maka ia gemar berbagi petuah dan pitutur yang berguna bagi sesama.

Koesno datang dalam keadaan kurus-kering. Setelah “disuwuk” sang kakek, Koesno menjadi bagas-waras. Lincah dan gesit sebagai anak-anak. Di bawah asuhan sang kakek yang begitu memanjakannya, Koesno hadir sebagai anak kecil yang bengal, bandel, dan tidak pintar di sekolah.

Dari usia empat tahun, Koesno sudah disegani kawan-kawannya bermain. Bukan lantaran sifatnya yang nekad menantang maut, tetapi karakter bersahabat yang tulus yang memancar dari sorot matanya yang begitu indah berpendar-pendar. Tak jarang, ketika Koesno dan teman-temannya bermain panjat pohon, Koesno dengan lincah dan gesit segera merangsek ke dahan paling atas. Dahan terkecil yang begitu ringkih dan bisa menghempaskannya ke tanah sewaktu-waktu.

Jika Koesno sudah berada di pucuk pohon, teman-temannya hanya bisa melongo…. Tidak paham dengan keberanian Koesno yang melampaui batas kenekatan seorang anak seusianya.

Di sekolah? Ah… jangan tanya. Gurunya sering dibuatnya kesal. Koesno jarang sekali menyimak pelajaran. Ia asyik melamun atau menggambar. Temasuk, manakala satu per satu anak diminta ke papan tulis menuliskan soal yang ditanyakan guru, Koesno paling beda. Bukan huruf demi huruf yang ia ukir di papan, melainkan gambar tokoh pewayangan yang begitu dikaguminya: Bima atau Wrekodara. Lengkap dengan kuku pancanaka, gelung sinupiturang yang angker, dan matanya yang bulat tajam…. (roso daras)

Published in: on 7 Desember 2010 at 17:19  Comments (2)  
Tags: ,

Demi Peuyeum dan Secangkir Kopi

Bung Karno tahun 20-an? Susah dan susah. Sekalipun ia pemimpin pergerakan, sekalipun ia “tukang insinyur”, kantong kempes adalah sebuah keseharian baginya. Yang istimewa adalah, ia tidak pernah berkeberatan membantu sahabat. Tak heran bila sahabat-sahabatnya begitu respek kepadanya. Bahkan dalam bahasa yang lebay, bisalah dikatakan, Sukarno begitu disayang oleh teman-temannya.

Salah satu sahabat yang Sukarno ingat, salah satunya adalah Sutoto. Ia kawan kuliah Bung Karno. Dalam kesusahan, Sutoto sering mengajak Bung Karno sekadar minum kopi dan makan peuyeum di kedai murahan, di tengah kota Bandung. Mungkin karena saking seringnya ditraktir, maka suatu hati Bung Karno pun menjanjikan Sutoto traktiran serupa.

Suatu sore, Sutoto datang hendak berunding dengan sang pemimpin pergerakan, ya Sukarno! Untuk mencapai kediaman Sukarno-Inggit, Sutoto harus mendayung sepeda setengah jam lamanya. Lumayan juga. Apalagi setelah menyandarkan sepeda, ia tampak terengah-engah dan mengatakan bahwa ia mendayun sepeda dengan cepat. Ia pun tampak kehausan dan, tentu saja perlu asupan sesuatu pengganti energi mengayuh sepeda tiga puluh menit.

Apa lacur, Bung Karno menyambut Sutoto dengan, “Ma’af To, aku tidak dapat bertindak sebagai tuan rumah untukmu. Aku tidak punya uang….”

Sutoto pun mendesah, “Ahhh… Bung selalu tidak punya uang….”

Keduanya pun duduk terdiam menikmati kebekuan suasana. Sutoto dengan kepayahannya. Bung Karno dengan… entahlah, pikiran yang begitu berkecamuk tentang pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Tiba-tiba melitas seorang wartawan naik sepeda dengan tergopoh.

“Heee… mau kemana?” Sukarno berteriak.

“Cari tulisan untuk koranku,” si wartawan pun menjawab sambil berteriak.

“Aku akan buatkan untukmu.”

“Berapa?” tanya si wartawan sambil mengendorkan genjotan pedal sepedanya.

“Sepuluh rupiah.”

Mendengar jawaban Bung Karno, si wartawan tidak menjawab tetapi seperti hendak mempercepat jalan sepedanya. “Oke… lima rupiah!” Tidak juga ada jawaban. Bung Karno pun menurunkan tawarannya, “Dua rupiah bagaimana? Akan kubuatkan tulisan, pendeknya cukuplah untuk mentraktir kopi dan peuyeum! Setuju?”

Si wartawan pun berhenti, dan memutar arah sepedanya, mendekat ke rumah Bung Karno-Inggit. Sementara si wartawan ngobrol dengan Sutoto di serambi rumah, Bung Karno pun menulis seluruh tajuk yang ia janjikan. Dalam waktu lima belas menit, ia sudah menyelsaikan tulisan 1.000 kata untuk si wartawan.

Bagi Bung Karno, tidak ada yang sulit untuk membuat tulisan. Terlalu banyak gagasan dan pikiran serta persoalan politik yang bisa ia tuliskan dengan tanpa mencoret atau mengganti satu kata pun.

Dan, dengan seluruh bayarannya yang dua rupiah itu, Bung Karno pun membawa Sutoto dan Inggit minum kopi serta menikmati peuyeum di sore hari yang cerah. (roso daras)

Published in: on 2 Desember 2010 at 17:31  Comments (7)  
Tags: , ,