Bung! Aku Datang…

Jika Tuhan berkenan mengabulkan, maka tanggal 11 November mendatang, aku akan bersimpuh di pusaramu, Bung! Ya, aku akan ke Blitar, memasuki pendopomu dengan takzim, dan mengusap pusaramu dengan cinta. Aku tidak menjanjikan banyak, kecuali sebait ayat suci yang coba aku jadikan oleh-oleh buat Bung. Meski tidak akan menjadi sinar penerang di alammu, setidaknya ia akan berkerlip, laksana kunang-kunang di bawah siraman purnama dan bintang-gemintang.

Aku datang dengan pamrih Bung. Maafkan. Sebuah pamrih yang biasa saja. Karena itu, kukira kau tidak akan berkeberatan. Sebab, pamrihku sesungguhnya pamrihmu juga. Ya, ini adalah sebuah tarikan sejarah, yang kemudian mempertemukan kita pada satu garis sejajar. Engkau di garis yang satu, aku di garis yang samar, menempel ketat garismu, garis hidupmu.

Begini Bung… Rabu malam minggu lalu, seseorang yang kukira cukup sukses dalam karier duniawinya… berbaik hati mengemukakan tekadnya untuk mengangkat kehidupan Bung ke layar perak. Sejauh yang saya tangkap, tidak ada pamrih yang Bung tidak suka, di balik niatnya memfilmkan Bung. Di atas landasan idealisme, barulah ia letakkan landasan bisnis. Ahhh… itu wajar saja.

Bisnis adalah konsekuensi dari sebuah perdagangan bernama film. Artinya, ketika seseorang membuat film tentang Bung dengan biaya yang tidak sedikit, tidak salah kalau kemudian (sebagai pengusaha), ia pun berharap uangnya kembali berikut “teman-teman”nya. Bung tentu tahu, mengalirnya rupiah ke kocek si pengusaha tadi, harus kita lihat bahwa film tentang Bung memang diminati. Vulgarnya begini, film tentang Bung itu laris-manis.

Orang Indonesia, siapa pun dia, tentu berkeinginan menyaksikan kisah proklamatornya. Melihat gambaran tentang bapak bangsanya. Bahkan kepada pihak produser, sudah saya sampaikan pula gagasan “menjual” film tentang Bung ke manca negara. Bung tentu ingat, betapa Bung begitu dielu-elukan sebagai Pahlawan Asia, Pahlawan Islam, Pahlawan Negara Berkembang…. Bung adalah inspirasi bangsa-bangsa.

Back to the topic…. Rabu malam itu pula, ia bertitah, “Dengan ini saya menunjuk Sdr. Roso Daras untuk memimpin pekerjaan penulisan dan ide cerita film Bung Karno.” Asal Bung tahu, demi mendapat penunjukan itu, spontan saya mengucap, “Innalilahi wa’inna illaihi raji’un… kemudian baru alhamdulillah”. Bukankah benar begitu Bung? Saya harus merespon tugas ini dengan sikap dasar, ini adalah sesuatu yang datang atas kehendak Allah SWT, karenanya harus saya kembalikan kepadaNya.

Selesai urusan bersyukur dan mohon petunjuk Allah SWT. Engkau berada di giliran berikutnya Bung. Saya orang Jawa, senang ke kuburan, menyenangi berziarah. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik. Ketika aku bersimpuh di makam rama-biyung dan mengiriminya doa… rasanya kok lebih khusuk. Ketika saya hendak “berdialog” denganmu Bung, rasanya kok lebih enak jika itu saya lakukan sambil duduk bersila di samping pusaramu.

Untuk itu Bung, aku datang. (roso daras)

Published in: on 8 November 2010 at 07:17  Comments (24)  
Tags: , ,