Monas dan Obelisk La Place de la Concorde

Alkisah, meluncurlah sebuah kabar: Bung Karno mendirikan Tugu Monas setelah kembali dari Perancis. Ide pembuatan tugu itu muncul ketika Bung Karno melawat ke sana, dan menginap di Hotel Crillon. Sebuah hotel yang biasa digunakan menginap para tamu negara, yang terletak di kawasan La Place de la Concorde. Dari jendela kamar, tatapannya bisa langsung mengarah ke obelisk (tugu) luxor (Obélisque de Luxor), karena letak obelisk dan hotel itu memang berhadap-hadapan.

Nah, bentuk obelisk itulah yang kemudian mengilhaminya, sehingga lahir gagasan mendirikan Tugu Monas. Bentuk Monas dan Obelisk of Luxor seperti terlihat pada foto di atas, sejatinya tidak sama persis. Karenanya, ketika keduanya disandingkan, atau bahkan ada yang dengan spontan berujar, Bung Karno meniru obelisk luxor dalam membangun Monas, tak urung, silang pendapat pun bermunculan.

Menjadi tak berkesudahan mengingat kabar itu memang belum ada satu pun yang diperkuat dengan data dan fakta. Untuk mempersempit masalah, dari literasi yang sempat saya baca, memang tidak ada satu kalimat langsung Bung Karno yang membenarkan kabar itu. Ditambah, bentuk tugu, di mana pun, dari era kapan pun, yaaa umumnya memang berbentuk obelisk, tinggi menjulang dengan bentuk runcing di puncaknya.

Karenanya, agak sulit memang menyetujui tudingan Bung Karno meniru obelisk of luxor waktu merancang Monas. Terlebih kalau dicermati, memang tidak sama dan sebangun. Dalam konteks lain, “kemiripan” situs, monumen, prasasti, atau bangunan kesohor di dunia ternyata tidak melulu Monas – Obelisk of Luxor.

Kita bisa melihat Tokyo Tower (Jepang) dan menyandingkannya dengan Eiffel Tower (Perancis). Atau Patung Liberty (Amerika Serikat) dan Collosus of Rhodes (Yunani). Anda mungkin bisa memperpanjang deretan ini.

Lepas dari itu semua, Tugu Monas yang digagas 17 Agustus 1954, kita kenal sebagai monuman peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Prosesnya melalui perlombaan. Meski dalam sayembara itu tidak ada pemenang, dan Bung Karno kemudian merancang sendiri garis besarnya, untuk kemudian diterjemahkan dengan baik oleh Silaban.

Dan lebih dari itu, Monas kini menjadi salah satu monumen kebanggaan. Era mengagumi lapis emas di puncaknya mungkin sudah lewat. Lantas, apa yang membuat Monas masih begitu bernilai di hati rakyat? Entahlah. Barangkali karena presiden Indonesia setelah Bung Karno memang tidak ada yang memiliki gagasan besar. (roso daras)

Iklan
Published in: on 1 November 2010 at 09:38  Comments (3)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/11/01/monas-dan-obelisk-la-place-de-la-concorde/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Era soekarno adalah era gagasan besar, selain karena kejeniusan presidenya juga karena semangat BERDIKARI yang ga butuh campur tangan luar.
    Era sesudah Bung Karno ada lah era Indonesia tidak berkutik di ketiak super power, jadi kalau apa-apa musti kulonuwun dulu sama mereka.
    Dan gagasan besarpun perlahan mati sambil ditertawakan dianggap mimpi

  2. Hai,
    Kebetulan saya lagi riset tt spasial arsitektur karya. Ada sejumlah dokumen asli yang dahsyat dari narasumber.
    Termasuk perancangan Tugu Monas. Benar F Silaban ikut sayembara, tapi tidak menang. Yang menterjemahkan gagasan BK adalah Arsitek Istana, RM Sudarsono. Gambar sketsa aslinya masih saya simpan. Bahkan memoar beliau sebelum wafat yang eksplisit menyatakan: Arsitek Tugu Monas adalah Ir. Sukarno, dan ia, RM Sudarsono hanyalah Arsitek eksekutif saja. Inilah keresahan sang Arsitek tandemnya Sukarno menjelang wafatnya. Beliau sampaikan kepada putranya Anton Sudarsono, maupun berupa memoar, yang hingga kini belum sempat terungkap. Tunggu beberapa saat lagi. Yuke Ardhiati, penulis Bung Karno Sang Arsitek

  3. Jangan lupakan mengenai sumbangan emas di puncak tugu monas..

    Katanya dari orang Aceh ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: