Kesaksian Im Yang Tjoe tentang Bung Karno

Siapa Im Yang Tjoe? Mungkin tidak begitu penting dalam sejarah nasional. Tapi ia menjadi penting dalam garis sejarah Sukarno. Penulis keturunan Tionghoa inilah yang membuat buku biografi pertama tentang Bung Karno thun 1933. Beberapa saat setelah Bung Karno dibebaskan dari Sukamiskin. Setahun sebelum Bung Karno dibuang ke Ende.

Saat itu, Im Yang Tjoe sudah “meramalkan” bahwa Bung Karno akan menjadi orang besar. Ia sudah lama melakukan observasi, penelitian, dan mengikuti rekam-jejak Sukarno. Bahkan untuk keperluan penulisan bukunya, ia menelusuri hingga ke Tulungagung, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan tentu saja Bandung. Karena itu pula, Im Yang Tjoe bisa mendiskripsikan dengan begitu jelas riwayat Sukarno sejak anaka-anak hingga mewujud menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan.

Pada bagian akhir bukunya, ia membuat kesaksian. Begini ia menulis, “Sedikit pernyataan, kenapa buku ini ditulis, tiada lain karena penulisnya bersimpati pada tabiat kesatria dan kemanusiaan yang ada pada diri Ir Sukarno itu.”

Lebih lanjut ia menuliskan, perikemanusiaan Sukarno begitu besar, dan dirasakan sampai sekarang. Sejak berumur 14 tahun, membunuh nyamuk saja ia tiada pernah, kendati nyamuk itu menggigit badannya. Sebab, ia menganggap nyamuk-nyamuk itu sudah diciptakan untuk hidupnya harus menghisap darah manusia, seperti halnya semut yang mesti memakan gula.

Karenanya, Sukarno berpikir, tidak harus lantaran cangkir kopinya dirubung semut, manusia harus menggunakan kekuatannya untuk membinasakan semut. “Yah… sebagai manusia, Sukarno pantas dihormati,” tulis Im Yang Tjoe.

Sementara, dirinya sendiri terus menolong orang-orang miskin, tidak peduli bangsa apa saja. Jangankan kepada bangsanya sendiri, bahkan kepada orang Belanda yang kenal dengannya ketika sama-sama di penjara, dan ketika keluar tidak punya penghasilan, datang kepada Sukarno yang dengan suka rela memberikan apa saja yang ia punya. Uang tiga picis dikasih satu rupiah, terkadang yang dua rupiah dikasih semua tanpa memikirkan apakah besok masak sayur atau hanya makan pakai garam.

Siapa yang mesti memperingatkan Sukarno akan tabiat yang terkadang menyulitkan dirinya sendiri itu? Tidak satu pun. Karena, Inggit istrinya, pun setali tiga uang. Karenanya, keduanya seakan bersaing dalam kebaikan. Tak jarang mereka main dulu-duluan menyebar milik mereka kepada siapa saja yang lebih membutuhkan. Padahal, kehidupan mereka sendiri tergolong tak seberapa mampu.

Tidak sedikit yang menganggap perbuatan keduanya sebagai bodoh atau konyol. Akan tetapi, tidak begitu sikap Sukarno dan Inggit. Bagi keduanya, ibarat memiliki sebuah gunung emas, girang dan senangnya tidak seberapa dibanding ketika keduanya bisa memberi harta yang paling akhir yang dimilikinya kepada sesama manusia yang sedang dalam kesusahan. (roso daras)

Published in: on 30 November 2010 at 17:18  Comments (4)  
Tags: , , ,

Kisah Bung Karno Melamar Inggit

Ada begitu banyak bunga bermekaran di taman Kota Kembang, tapi hanya satu yang memikat hati Sukarno muda. Dialah Inggit Garnasih. Tidak soal ihwal rentang usia selusin antara keduanya. Tidak soal, bahwa tentang beda usia itu, Bung Karno terpaksa harus mengecilkan bilangannya saat pergi melamar Inggit.

Betapa tidak. Lamaran Bung Karno terhadap Inggit, tidak serta-merta diterima. Atas lamaran Bung Karno, ayahanda Inggit menjawab, “Wahai orang muda, kau adalah keturunan bangsawan, dan dirimu adalah seorang terpelajar. Di sini dan di mana-mana ada banyak gadis hartawan dan terpelajar yang siap untuk menjadi pasanganmu….”

Diam Sukarno.

“… Kami adalah keluarga miskin, anakku Inggit sudah janda; lagi pula tidak terpelajar, tidak sepadan untuk menjadi istrimu. Dan terus terang, saya khawatir, sebagaimana yang lazim terjadi, perjodohan yang demikian tidak akan panjang….”

Takzim Sukarno mendengarkan.

“…karena ada saja yang membuat kau malu. Ada saja yang akan membikin anakku sakit hati.”

Waktu bergulir… menguasai ruang dan waktu. Hanya diam dan sunyi untuk sementara waktu. Bung Karno harus segera menanggapi kata-kata calon mertuanya. Ia pun menarik napas panjang sebelum mengeluarkan tanggapan….

“Bapak, semua itu sudah saya ketahui lebih dulu, dan saya tambahkan bahwa saya pun sudah tahu bahwa Inggit lebih tua lima tahun dari saya….” (Lihatk bagaimana Sukarno mengecil-ngecilkan bilangan selisih usianya dengan Inggit, demi lebih meyakinkan calon mertuanya)… “Apakah niat saya kurang suci, walau sudah saya tahu keadaan semua itu, kemudian saya pikirkan dan akhirnya melamar dengan sadar?”

Ayah Inggit diam, mendengarkan si muda bicara.

“Bapak, karena itu saya datang melamar dengan harapan Bapak mempertimbangkannya.”

Ayah Inggit menatap tajam ke arah mata Sukarno ketika bicara. Dari sana ia menangkap ketulusan niat Sukarno. Dari sorot matanya Sukarno memancarkan keseriusannya. Maka… luluhlah hati calon mertua, dan akhirnya lamaran pun diterima.

Sementara kepada bapak-ibunya, Sukarno pun sudah menyampaikan niatnya melamar Inggit. Dan Soekeni, ayahanda Bung Karno dalam surat jawabannya menuliskan, “Ayah dan ibumu tidak merasa keberatan. Urusan itu terserah pada dirimu sendiri. Kami cuma mengharapkan, pengalamanmu yang sudah-sudah akan menjadi pelajaran bagimu.” (roso daras)

Published in: on 29 November 2010 at 23:32  Comments (4)  
Tags: ,

Dari Sukarti, Poppy, lalu Kartika

Ini sepenggal kisah menarik antara Bung Karno dan dua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika. Penuturan ini disampaikan langsung oleh Omi, ketika Kartika berulang-tahun ke-83, beberapa tahun lalu.

Omi sendiri, ketika “diberi” adik angkat oleh kedua “orang-tua”nya, yakni Bung Karno dan Inggit Garnasih, merasa sangat senang. Terlebih sejak ia ikut dalam pembuangan Bung Karno di Ende, praktis tak ada lagi teman bermain.

Kehadiran adik angkat yang kemudian ia tahu bernama Sukarti itu, menjadi pelengkap kehidupan anak-anak Omi. Sebagai sesama anak angkat, sejatinya tidak ada sama sekali kemiripan antara Omi dan Sukarti. Demikian pula antara Omi, Kartika dengan orang tua angkata mereka, Bung Karno dan Inggit.

Akan tetapi, karena sehari-hari hidup dalam satu lingkungan keluarga, maka mereka menjadi sangat akrab. Inggit dengan sifat keibuannya. Bung Karno dengan karakter tegas dan disiplin. Nenek Amsi yang menjadi tempat mengadu bagi semuanya. Pendek kata, sebagai sebuah keluarga, mereka sangat harmonis.

Tiba pada suatu hari, Bung Karno marah demi mendengar Omi memanggil adiknya dengan sebutan Poppy. Ya, Sukarti kecil memang berkulit putih dan cantik. Karena itu banyak orang, tidak hanya Omi, yang memanggilnya Poppy. Tapi, Bung Karno tetap tidak suka. “Papi sangat membenci nama berbau asing,” kenang Omi.

Ia juga masih ingat ketika Bung Karno yang dipanggilnya papi itu berkata, “Itu tidak baik untuk nama seorang anak Indonesia. Kartika, ya Kartika nama yang cantik untukmu. Lain kali jangan mau dipanggil Poppy lagi, ya…,” begitulah Bung Karno mengganti nama Sukarti menjadi Kartika, sekaligus melarang semua orang, termasuk Omi, memanggilnya Poppy.

Di usianya yang sudah sangat sepuh, Omi menuturkan, betapa adiknya ini sangat manis, penurut, dan halus tutur-katanya. “Tidak pernah membantah. Selalu menurut, dan tidak suka bertengkar. Pokoknya adikku ini manis sekali. Aku sangat sayang padanya. Dan sampai kini kami saling merindukan,” tutur Omi, dalam kesan-kesan yang dituliskannya khusus menyambut ulang tahun Kartika ke-80, tiga tahun yang lalu. (roso daras)

Published in: on 25 November 2010 at 03:48  Comments (2)  
Tags: , , , , ,

Sowan Ibu Kartika, Anak Angkat Bung Karno

Saat dibuang ke Ende tahun 1934, Bung Karno membawa serta istrinya, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami (Omi), dan Ibu Amsi (mertua). Omi adalah keponakan Ibu Inggit. Karena itu, dalam banyak lembar sejarah banyak yang melupakan nama Sukarti atau Kartika, sebagai anak angkat Bung Karno (juga).

Bisa dimaklumi. Sebab, tidak seperti anggota rombongan buangan pemerintah Kolonial Belanda lainnya, Sukarti atau Kartika memang “diangkat” di Ende. Benar. Dia adalah putri sulung keluarga Atmo Sudirdjo, seorang juru ukur yang bekerja pada dinas pekerjaan umum pemerintahan Kolonial Belanda. Atmo sendiri asli Purwokerto.

Pertemuan pertama kali Sukarti atau Kartika itu sendiri terjadi tahun 1934, saat usianya baru menginjak enam tahun. Ia diajak serta oleh kedua orangtuanya, menuju pelabuhan untuk menjemput “tokoh besar” yang namanya sudah begitu semerbak di seantero Hindia Belanda sebagai “pejuang kemerdekaan”. Ya, Sukarti atau Kartika ikut ke pelabuhan bersama para pribumi lain dalam rangka menjemput Bung Karno dan rombongannya.

Ia tidak memiliki kesan mendalam, kecuali sebuah tanda tanya di benak otak seorang anak usia enam tahun. Mengapa begitu banyak orang Ende menjemput tokoh ini? Siapa gerangan dia? Lebih penasaran manakala ia melihat bahwa tokoh yang disambut itu berkulit sawo matang, bukan lelaki bule berambut jagung.

Sekanjutnya, Sukarti atau Kartika sering diajak ibudanya, Chotimah yang kelahiran Purworejo, mengikuti pengajian yang diadakan di kediaman Bung Karno. Dari sekali ke dua kali… dari dua kali ke tiga kali… lama kelamaan Sukarti atau Kartika semakin akrab dengan keluarga Bung Karno, khususnya dengan Ratna Djuami alias Omi.

Omi sangat merindukan adik. Sementara, sebagai putri sulung, Sukarti juga merindukan sosok kakak. Klop-lah mereka. Demi melihat keakraban di antara keduanya, Bung Karno berinisiatif mengangkat Sukarti atau Kartika sebagai anak angkatnya. Bung Karno pun memintanya kepada keuarga Atmo Sudirdjo.

Keluarga Atmo Sudirdjo sangat ikhlas… bahkan sangat senang dan bangga demi melihat tokoh perjuangan kemerdekaan itu sudi dan berkena mengangkat anaknya menjadi putrinya. Alhasil, lengkaplan anak angkat Bung Karno, Ratna Djuami dan Sukarti. Oleh Bung Karno, nama itu kemudian diubah menjadi Kartika.

Hingga kini, Sukarti pun dikenal sebagai Kartika. Nyonya Kartika. Dia masih tampak segar saat dijumpai di kediamannya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Terakhir saya tinggal di Cibinong. Tetapi sejak suami saya meninggal, saya tinggal bersama anak-anak saya. Kadang di Jagakarsa, kadang di tempat anak saya yang lainnya,” tutur Kartika.

Untuk perempuan usia 82 tahun, Kartika masih tampak bugar. Daya ingatnya masih sangat tajam. Bicaranya jelas dan lugas. Ini berbeda dengan “kakak angkat”-nya, Ratna Djuami yang juga masih hidup dan tinggal di Bandung. Omi sepuh kini sudah mulai pikun. Hanya kepada orang-orang tertentu dia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Syahdan, Kartika adalah saksi sekaligus pelaku sejarah Bung Karno yang masih hidup.  Ia pun memiliki begitu banyak kenangan menjadi “anak angkat” Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 23 November 2010 at 01:32  Comments (3)  
Tags: , , , ,

Wagimanisme

Wagiman. Sebuah nama yang biasa saja. Akan tetapi, nama itu sesungguhnya begitu melekat di jantung hati Sukarno. Wagiman adalah sebuah inspirasi. Wagiman adalah sebuah potret bangsa yang terjajah. Wagiman adalah orang miskin harta tetapi kaya hati. Ia tinggal tak jauh dari rumah keluarga Bung Karno di Mojokerto.

Jabatan Wagiman di desanya adalah Kabayan. Atas jabatannya itu ia berhak mengelola tanah bengkok yang tidak seberapa. Dari tanah bengkok itulah ia bercocok tanam dan menghidupi keluarganya. Cukup? Jauh dari cukup. Wagiman terbilang melarat untuk ukuran segala zaman. Bayangkan, jika kemarau, dari dalam rumah bisa melihat langit dari lubang-lubang atap rumah yang bolong-bolong. Jika musim hujan, dipan beralas tikar serta lantai yang tanah itu, basah kuyup akibat terobosan air yang tumpah dari langit.

Di rumah Wagiman inilah sebenarnya, spirit Marhaenisme Bung Karno tumbuh. Usianya belum lagi 12, ketika ia masih sekolah di ELS Mojokerto. Hampir setiap hari, Sukarno melawat ke rumah Wagiman. Sambil menemani Wagiman mencangkul pekarangan… Wagiman mengasah cangkul, parang, dan perlengkapan bercocok-tanam… Wagiman duduk leyeh-leyeh di serambi rumah… Bung Karno memasang kuping untuk semua yang keluar dari mulut Wagiman.

Sesekali, Wagiman melantunkan tembang Jawa yang sarat makna. Sebait dilantunkan, kemudian berhenti dan menerjemahkan makna yang terkandung dalam bait tembang itu. Selarik bait tembang dilantukan, Wagiman berhenti lagi dan menjelaskan apa maksud dari syair tembang tadi….

Pada kali yang lain, Wagiman menceritakan babat Ramayana… babat Mahabharata, mengisahkan ephos Pandawa dalam dunia pewayangan. Wagiman pun mendalang, dan Bung Karno makin tenggelam menyimak lakon yang dimainkan Wagiman. Mata Sukarno yang berbinar-binar, menatap tajam ke arah Wagiman. Yang ditatap, tetap saja asyik mendalang dan bercerita sambil tetap melakukan apa yang sedang ia lakukan.

Dari Wagiman pula Bung Karno banyak mendapatkan hakikat kerakyatan. Dari Wagiman pula Bung Karno mengetahui betapa penjajahan telah memelaratkan bangsanya. Dari Wagiman pula Bung Karno terlecut hati untuk memerdekakan bangsanya. Dalam bahasa Cornelis Lay (UGM – Yogyakarta), ide Marhaenisme yang dicetuskan Bung Karno, sejatinya sudah ada dalam benak Sukarno ketika di Mojokerto bergaul intens dengan Wagiman.

Seperti halnya Sarinah, sejatinya Wagiman merupakan sosok penting pembentuk karakter Bung Karno. Terkadang saya hanya bisa merenung, terlambatkah jika saat ini kita melacak jejak-keturunan Wagiman? Sekali lagi, Wagiman pastilah orang yang sangat penting bagi Sukarno. Niscaya, Bung Karno tidak akan keberatan jika ajarannya yang terkenal tentang Marhaenisme itu, disebut pula sebagai Wagimanisme. (roso daras)

Published in: on 21 November 2010 at 08:57  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Peter A. Rohi dan Dua Bukunya

Belum lima menit meninggalkan komplek pemakaman Bung Karno di Blitar, beberapa hari lalu, telepon bergetar… Peter A. Rohi di ujung telepon sana. Nama Peter Rohi sudah beberapa kali muncul dalam blog ini. Semua tulisan tentang pembantu sekaligus pengawal Bung Karno yang bernama Riwu Ga, selalu mengait ke sebuah nama: Peter Rohi. Sebab, dialah wartawan senior yang berhasil melacak jejak Riwu dan menampilkannya di suratkabar tempatnya bekerja.

Peter berkata,  “Ada dua buku yang saya mau berikan ke mas Roso…. Jangan sekali-kali menulis skenario film Bung Karno sebelum baca kedua buku ini,” ujar Peter. Alhamdulillah…. Tuhan begitu lugas…. Dia menjawab tuntas doaku. Segera kami bikin janji temu keesokan harinya.

Selepas makan siang… Peter, mantan marinir, jurnalis senior, seniman, sekaligus sastrawan ini tampak memasuki halaman hotel. Rambutnya masih gondrong diikat. Ia mencangklong ransel…. “Harta karunku datang,” gumamku menyambut Peter.

Berbicaralah kami ngalor-ngidul seputar Bung Karno, seputar Soekarno Institut yang dia kelola, seputar ini dan itu…. sangat mengasyikkan. Tibalah gilirannya membuka ransel dan mengeluarkan dua buku yang ia janjikan…. Yang satu berjudul “Soekarno sebagai Manoesia” tulisan Im Yang Tjoe.

Nah, jika Anda membaca buku “Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories ke-1”, pada pengantar buku oleh Cornelis Lay, tentu ingat. Dalam salah satu bagian, Cornelis menyebutkan tentang buku biografi pertama Bung Karno yang ditulis oleh penulis Tionghoa tahun 30-an, dan diterbitkan di Solo. Buku itu mengupas masa kecil Bung Karno. Meski ditulis tahun 1933, tetapi sang penulis sudah meramalkan dalam bukunya, bahwa Sukarno akan menjadi orang besar.

Inilah buku yang dimaksud. Rupanya, Peter A. Rohi sempat menulis ulang buku itu. Luar biasa… tidak henti-henti saya mengucap kata “luar biasa”… dengan senangnya.

Sedangkan buku kedua berjudul  “Ayah Bunda Bung Karno”, tulisan Nuriswa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Inilah buku yang paling lengkap dan akurat yang menguak biogradi R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, orangtua Bung Karno. Ditulis oleh seorang peneliti, melalui sebuah riset yang panjang dan mendalam.

Berbekal kedua buku itulah (dan tentu saja literatur yang lain), saya kemudian memulai pekerjaan penulisan skenario film Bung Karno. Saat ini, baru pada tahap penyusunan treatment.  Saya begitu bersemangat! (roso daras)

Published in: on 15 November 2010 at 07:41  Comments (10)  
Tags: , ,

Hati Bergetar di Kota Blitar

Madinah dan Blitar… dua kota istimewa. Yang satu terletak di Saudi Arabia, sedangkan satunya di bumi Indonesia. Bumi Madinah yang menyimpan riwayat pertumpahan darah dan air mata, adalah bumi yang dipilih Tuhan untuk memeluk jazad manusia termulia, Nabi Muhammad SAW. Sementara, bumi Blitar dipilih Tuhan mendekap hangat jazad sang proklamator, Bung Karno.

Meski beda resonansi, adalah tidak dibenarkan kita memasuki kedua kota itu tanpa hati yang bergetar. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Memasuki Madinah, segenap pikiran dan jiwa kita, harus langsung disiram pemahaman bahwa inilah kota tempat Islam dibesarkan. Kota tempat darah dan air mata para syuhada tertumpah, dan kota peristirahatan terakhir Sang Nabi SAW.

Akan halnya Blitar…. Bukan saja karena ada Candi Panataran, Monumen Trisula, ataupun Pantai Jolosutro, lebih dari itu, di kota ini Bung Karno dimakamkan. Di komplek makam yang terletak di antara Jl. Ir. Soekarno dan Jl. Kalasan itu juga disemayamkan bapak-ibu Putra Sang Fajar, R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Tiga manusia hebat. Raden Soekeni yang memiliki garis trah Sultan Kediri, adalah seorang guru dengan komitmen yang sangat tinggi terhadap pentingnya pendidikan bagi putranya. Sebagai guru berprestasi, Soekeni pun mewariskan otak encer pada diri Sukarno. Demikian pula sang ibu, Idayu. Sebagai kerabat Banjar Bale Agung, Singaraja, ia nekad menikah dengan pemuda beda suku, dan membesarkan Sukarno dengan cinta yang tiada akhir.

Semerbak wangi bunga di atas pusara Bung Karno, ditambah semilir embusan angin sore, membuat siapa pun kerasan berlama-lama di sekitar nisan Bung Karno yang diapit nisan bapak-ibunya. Dinding kaca yang dulu menutup keempat sisi pendopo-cungkup, kini sudah dibongkar. Karenanya, para peziarah bisa mendekat ke nisan ketiga manusia utama milik bangsa kita itu.

Selain tabur bunga dan berdoa… para peziarah pun diperkenankan berpose, berfoto-ria di dekat nisan Sang Proklamator dan kedua orang tuanya. Di ujung dekat gerbang masuk komplek makam, terdapat perpustakaan proklamator Bung Karno. Cukup melegakan, ternyata tiga buku karya saya ada dalam koleksi buku perpustakaan ini. Ketiga buku itu adalah, Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarh (2001), Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories-1 dan 2 (2009 dan 2010).

“Maaf Bung, saya tidak bisa berlama-lama di pusaramu…. Tunggu Bung, saya akan kembali.” (roso daras)

Published in: on 14 November 2010 at 11:59  Comments (16)  
Tags: , ,

Bung! Aku Datang…

Jika Tuhan berkenan mengabulkan, maka tanggal 11 November mendatang, aku akan bersimpuh di pusaramu, Bung! Ya, aku akan ke Blitar, memasuki pendopomu dengan takzim, dan mengusap pusaramu dengan cinta. Aku tidak menjanjikan banyak, kecuali sebait ayat suci yang coba aku jadikan oleh-oleh buat Bung. Meski tidak akan menjadi sinar penerang di alammu, setidaknya ia akan berkerlip, laksana kunang-kunang di bawah siraman purnama dan bintang-gemintang.

Aku datang dengan pamrih Bung. Maafkan. Sebuah pamrih yang biasa saja. Karena itu, kukira kau tidak akan berkeberatan. Sebab, pamrihku sesungguhnya pamrihmu juga. Ya, ini adalah sebuah tarikan sejarah, yang kemudian mempertemukan kita pada satu garis sejajar. Engkau di garis yang satu, aku di garis yang samar, menempel ketat garismu, garis hidupmu.

Begini Bung… Rabu malam minggu lalu, seseorang yang kukira cukup sukses dalam karier duniawinya… berbaik hati mengemukakan tekadnya untuk mengangkat kehidupan Bung ke layar perak. Sejauh yang saya tangkap, tidak ada pamrih yang Bung tidak suka, di balik niatnya memfilmkan Bung. Di atas landasan idealisme, barulah ia letakkan landasan bisnis. Ahhh… itu wajar saja.

Bisnis adalah konsekuensi dari sebuah perdagangan bernama film. Artinya, ketika seseorang membuat film tentang Bung dengan biaya yang tidak sedikit, tidak salah kalau kemudian (sebagai pengusaha), ia pun berharap uangnya kembali berikut “teman-teman”nya. Bung tentu tahu, mengalirnya rupiah ke kocek si pengusaha tadi, harus kita lihat bahwa film tentang Bung memang diminati. Vulgarnya begini, film tentang Bung itu laris-manis.

Orang Indonesia, siapa pun dia, tentu berkeinginan menyaksikan kisah proklamatornya. Melihat gambaran tentang bapak bangsanya. Bahkan kepada pihak produser, sudah saya sampaikan pula gagasan “menjual” film tentang Bung ke manca negara. Bung tentu ingat, betapa Bung begitu dielu-elukan sebagai Pahlawan Asia, Pahlawan Islam, Pahlawan Negara Berkembang…. Bung adalah inspirasi bangsa-bangsa.

Back to the topic…. Rabu malam itu pula, ia bertitah, “Dengan ini saya menunjuk Sdr. Roso Daras untuk memimpin pekerjaan penulisan dan ide cerita film Bung Karno.” Asal Bung tahu, demi mendapat penunjukan itu, spontan saya mengucap, “Innalilahi wa’inna illaihi raji’un… kemudian baru alhamdulillah”. Bukankah benar begitu Bung? Saya harus merespon tugas ini dengan sikap dasar, ini adalah sesuatu yang datang atas kehendak Allah SWT, karenanya harus saya kembalikan kepadaNya.

Selesai urusan bersyukur dan mohon petunjuk Allah SWT. Engkau berada di giliran berikutnya Bung. Saya orang Jawa, senang ke kuburan, menyenangi berziarah. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan klenik. Ketika aku bersimpuh di makam rama-biyung dan mengiriminya doa… rasanya kok lebih khusuk. Ketika saya hendak “berdialog” denganmu Bung, rasanya kok lebih enak jika itu saya lakukan sambil duduk bersila di samping pusaramu.

Untuk itu Bung, aku datang. (roso daras)

Published in: on 8 November 2010 at 07:17  Comments (24)  
Tags: , ,

Bersepeda di Uttar Pradesh

Alkisah tahun 1950, Bung Karno diundang mengunjungi India, dalam rangka perayaan kemerdekaan negara itu dari kolonialis Inggris. Turut serta dalam rombongan itu Ibu Negara, Fatmawati. Rombongan ini bertolak dari tanah air 23 Januari 1950. Setiba di “Negeri Nandi”, rombongan disambut Presiden Rajendra Prasad yang ketika itu berusia 70 tahun.

Setelah beberapa hari tinggal dan dijamu di istana kepresidenan, Bung Karno dan rombongan diundang Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, dan diminta bermalam di rumahnya yang begitu besar dan indah. Fatma sangat mengagumi rumah Nehru dengan konsep swadesi-nya. Semua perabot dan perlatan rumah itu, adalah asli buatan bangsa India sendiri.

Dalam waktu singkat, Fatma sudah sangat akrab dengan Nehru. Ketika itu, usia Fatma baru 28 tahun. Nehru menyayangi Fatma bagaikan anaknya sendiri. Setiap jalan beriringan, Nehru selalu menggandeng tangan Fatma.

Nah, tibalah acara rekreasi. Salah satu objek yang tidak boleh tidak dikunjungi jika kita ke India tentunya adalah Taj Mahal. Sebuah musoleum yang begitu megah dan indah, dan terletak di Agra, Uttar Pradesh. Bangunan berarsitektur Islam India itu dibangun Raja Mongol Shah Jehan, 1627 – 1666, sebagai persembahan kepada permaisurinya yang rupawan, dan meninggal dunia pada 1631.

Iring-iringan mobil pun beranjak menuju Agra. Sial tak dapat ditolak… ppsssssttt… ban mobil yang dinaiki Bung Karno – Fatma kempes. Apa boleh buah. Mobil pun harus berhenti. Bung Karno pun mengajak Fatma keluar dari mobil.

Selagi sopir, pengawal, ajudan sibuk mengganti roda ban… Bung Karno menghampiri seorang warga India yang bersama masyarakat lain menyaksikannya di pinggir jalan. Entah apa yang disampaikan Bung Karno, yang pasti sejurus kemudian warga India itu menyerahkan stang sepeda kepada Bung Karno.

“Ayo Fat!” ajak Bung Karno.

Fatma kaget diajak suaminya naik sepeda. Sambil melangkah ragu mendekat… bersimpang-siur pikiran dalam benaknya? “Melanjutkan perjalanan dengan bersepeda?”… “Masih berapa jauh sampai di Taj Mahal?”… “Apa reaksi para petugas protokol kenegaraan India nantinya?”… “Tamu negara boncengan sepeda?”…..

Belum semua pertanyaan itu berjawab, ketika Fatma menempelkan pantatnya di boncengan sepeda. “Sudah? Nah, ayo kita bersepedaaa….” Bung Karno pun mulai mengayuh sepeda, memboncengkan Fatmawati, menyusuri jalan menuju Taj Mahal di Uttar Pradesh….

Penasaran apa yang terjadi selanjutnya??? Ahhh… tentu saja selesai petugas mengganti roda, segera menyusul Bung Karno, dan memohon agar naik mobil kenegaraan kembali. Sepedanya? Tentu langsung dikembalikan ke tangan pemiliknya dengan satu catatan sejarah, “pernah dinaiki Presiden Republik Indonesia, Sukarno dan istrinya…..” (roso daras)

Published in: on 7 November 2010 at 02:12  Comments (8)  
Tags: , , ,

Doktor HC (26) Sukarno

Ah, judul apa pula itu!? Entahlah… selama belajar menulis pun saya tidak menemukan pembenaran atas penjudulan seperti itu. Tapi, biar sajalah. Yang penting adalah saya harus menjelaskan mengapa menuliskan judul seperti itu. Begini persoalannya… saya hanya ingin menderetkan 26 gelar doktor honoris causa yang diterima Bung Karno semasa hidupnya. Itu saja.

Masih ingin sebenarnya berpanjang-panjang kata mengantar postingan yang satu ini. Namun demi mengingat ada 26 alinea yang harus saya tulis setelah alinea ini, maka baiknya memang to the point saja. Nah, berikut urut-urutan gelar doktor yang diterima Presiden Sukarno, dan menjadikannya Presiden/Kepala Negara dengan gelar doktor terbanyak di atas jagat raya ini.

1. Tanggal 30 Januari 1951, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Far Eastern University, Manila, Filipina.

2. Tanggal 19 September 1951, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

3. Tanggal 24 Mei 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Columbia University, New York, Amerika Serikat.

4. Tanggal 27 Mei 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Michigan University, Michigan, Amerika Serikat.

5. Tanggal 8 Juni 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari McGill University, Montreal, Kanada.

6. Tanggal 23 Juni 1956, Doktor HC dalam Ilmu Tekhnik dari Berlin University, West Berlin, Jerman Barat

7.  Tanggal 11 September 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Lomonosov University, Moskow, USSR (Uni Soviet)

8. Tanggal 13 September 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Beograd University, Belgrado, Yugoslavia

9. Tanggal 23 September 1956, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Karlova University, Praha, Cekoslovakia

10. Tanggal 27 April 1959, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari  Istanbul University, Istanbul, Turki

11. Tanggal 30 April 1959, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Warsaw University, Warsawa, Polandia

12. Tanggal 20 Mei 1959, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari Brazil University, Rio de Jeneiro, Brazilia

13. Tanggal 11 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Politik dari Sofia University, Sogia, Bulgaria

14. Tanggal 13 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Politik dari Bucharest University, Bucharest, Rumania

15. Tanggal 17 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Mesin dari Budapest University, Budapest, Hungaria

16. Tanggal 24 April 1960, Doktor HC dalam Ilmu Filsafat dari Al-Azhar University, Kairo, Mesir

17. Tanggal 5 Mei 1960, Doktor HC dalam Ilmu Sosial dan Politik dari La Paz University, La Paz, Bolivia

18. Tanggal 13 September 1962, Doktor HC dalam Ilmu Tekhnik dari Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia

19. Tanggal 2 Februari 1963, Doktor HC dalam Ilmu-ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan dari Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

20. Tanggal 29 April 1963, Doktor HC dalam Ilmu-ilmu Pengetahuan Hukum, Politik dan Hubungan-hubungan Internasional dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia.

21. Tanggal 14 Januari 1964, Doktor HC dalam Ilmu Hukum & Politik dari Royal Khmere University, Phnom Penh, Kamboja

22. Tanggal 2 Agustus 1964, Doktor HC dalam Ilmu Hukum dari University of the Phillipines, Manila, Filipina

23. Tanggal 3 November 1964, Doktor HC dalam Ilmu Pengetahuan Politik dari Universitas Pyongyang, Pyongyang, Korea Utara

24. Tanggal 2 Desember 1964, Doktor HC dalam Ilmu Ushuluddin Jurusan Dakwah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Jakarta, Indonesia.

25. Tanggal 23 Desember 1964, Doktor HC dalam Ilmu Sajarah dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia

26. Tanggal 3 Agustus 1965, Doktor HC dalam Ilmu Filsafat Ilmu Tauhid dari Universita Muhammadiyah, Jakarta, Indonesia.

Nah, selesailah sudah saya tuliskan ke-26 gelar doktor honoris causa yang diterima Bung Karno sepanjang hidupnya. Dan saya teringat sikap saya setiap mengucap kata Bung Karno, “puja dan puji tidak akan menambah besar nama Sukarno. Caci dan maki tidak akan mengecilkan nama Sukarno”. Itu saja. (roso daras)

Published in: on 2 November 2010 at 16:23  Comments (3)  
Tags: ,