Howard Jones Membujuk Bung Karno

Hari Minggu, tahun 60-an, Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Howard Jones bersama istrinya Marylou bertandang ke Istana Bogor. Di salah satu paviliun tempat Bung Karno – Hartini tinggal, Howard dan istri dijamu sarapan nasi goreng. Kebetulan, Howard senang sekali makan nasi goreng, apalagi spesial masakan Hartini.

Dalam salah satu obrolan, meluncurlah saran Howard kepada Bung Karno, agar bersedia menuliskan biografinya. “Tuan Presiden, saya kira sudah waktunya bagi Tuan untuk melihat kembali jalan-jalan dalam sejarah. Menurut pendapat saya sudah tepat waktunya bagi Tuan untuk menuliskan sejarah hidup Tuan,” begitu Howard mengajukan usulnya.

Ide itu sendiri, bukan untuk yang pertama mampir di telinga Bung Karno. Ketika itu, jawaban Bung Karno juga sama seperti ketika ia menjawab usul-usul serupa sebelumnya. “Tidak. Insya Allah, jika Tuhan mengizinkan, saatnya masih 10 atau 20 tahun lagi. Siapa yang dapat menceritakan bagaimana jalannya kehidupan saya? Itulah sebabnya mengapa saya selalu menolak hal ini, karena saya yakin bahwa buruk-baiknya kehidupan seseorang hanya dapat dipertimbangkan setelah ia mati.”

Howard tidak menyerah. Ia mengatakan, “Terkecuali Presiden Republik Indoneia. Di samping telah menjadi Kepala Negara selama 20 tahun, ia telah dipilih sebagai presiden seumur hidup. Ia adalah orang yang paling banyak diperdebatkan dan dikritik di zaman kita ini. Ia…,” belum selesai Howard bertutur, Bung Karno menyambar, “…. ya… saya menyimpan banyak rahasia.”

Tapi toh Bung Karno masih mengelak. Sejurus dengan itu, Howard juga tidak berhenti merayu. Dikatakan ihwal perlunya Bung Karno menuliskan biografinya, agar dunia mengetahui. Bung Karno perlu menuang tentang sejarah dirinya agar segala kontroversi bisa diakhiri. “Tuan tidak bisa mendatangi sendiri seluruh rakyat di dunia, akan tetapi Tuan dapat datang kepada mereka melalui halaman-halaman buku. Tuan adalah ahli pidato terbesar setelah William Janmings Bryan. Tuan menawan hati sejuta pendengar di lapangan terbuka. Mengapa Tuan tidak menghendaki jumlah pendengar yang lebih besar lagi?”

Percakapan dilanjutkan hingga keduanya menutup sarapan dan makan pisang rebus kesukaan Bung Karno. Tema obrolan masih seputar biografi. Bagaimana Bung Karno bertahan untuk menunda, dan bagaimana Howard Jones bertahan untuk menyegerakannya. Setidaknya, Bung Karno untuk pertama kalinya mau meladeni seseorang berbicara tentang biografinya secara panjang lebar. Pengalaman-pengalaman terdahulu, ia hanya menolak. Dan ketika didesak, ia akan marah.

Ada satu kisah yang bisa menggambarkan hal itu. Adalah Rochmuljati Hamzah, staf presiden yang mengurusi pers. Suatu ketika, tahun 1960, ia didamprat Bung Karno, karena sebab yang sama. Saat kunjungan Kruschev ke Jakarta, banyak wartawan asing datang meliput. Suatu saat, Roch memberanikan diri mengajukan saran, “Maaf Pak. Bapak jangan marah, karena kami sendiri pun tidak mengetahui sejarah hidup Bapk. Dan Bapak sedikit sekali memberikan wawancara. Oleh karena itu, dapatkah Bapak menentramkan hati saya barang sedikit, dan menerima seorang wartawan CBS yang ramah sekali dan ingin menulis riwayat hidup Bapak.”

Bun Karno berpaling dan menyembur, “Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu, T-I-D-A-K!! Pertama, aku tidak mengenalnya, akan tetapi kalau aku pada suatu saat menulis riwayat hidupku, aku kan kerjakan dengan seorang perempuan. Sekarang jauh-jauhilah dari penglihatanku. Engkau seperti pesuruh wartawan asing saja!” Roch pun berlari keluar dan pulang….

Pasca kejadian itu, tak lama berselang, Bung Karno menyesal. Ia menyuruh ajudan menghubungi Roch dan menjemputnya menghadap. Roch datang mengira bahwa ia akan menerima semprotan yang lain lagi, tapi sebaliknya, Presidennya hendak minta maaf. “Maafkan aku, Roch,” kata Bung Karno pertama-tama, “Kadang-kadang aku berteriak dan menyebut nama-nama buruk, akan tetapi sebenarnya akulah itu. Jangan masukkan kata-kata itu dalam hatimu. Kalau aku meradang, itu berarti aku mencintaimu. Aku menyemprot kepada orang-orang yang terdekat dan paling kusayangi. Hanya mereka yang menjadi papan suaraku.”

Usai meminta maaf, Bung Karno mencium pipi Roch, cara yang biasa ia lakukan sebagai salam pertemuan dan perpisahan dengan anak-anak perempuan sekretarisnya. Roch pun tersenyum, dan pergi denan hati yang senang sekali. Itu hanya contoh kecil yang Bung Karno katakan sebagai, “persoalan-persoalan Asia harus diselesaikan dengan cara Asia….” (roso daras)

 

Iklan
Published in: on 10 Oktober 2010 at 07:39  Comments (5)  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/10/10/howard-jones-membujuk-bung-karno/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bung Karno, presiden paling romantis sepanjang masa

  2. Berarti, Bung Karno tidak terlalu dekat dengan Howard
    Sehingga Bung Karno tidak langsung mendampratnya

    • Tidak dekat dalam pengertian seperti BK dengan Roch, tetapi cukup dekat dalam konteks yg lain. Salah satu kedekatan mereka, tampak ketika Bung Karno “ngerjain” Howard dengan menyuruhnya memakan durian… buah yang tidak disukai Howard…. APa daya, karena “perintah” Tuan PResiden, terpaksa Howard memakan juga tuh durian…..

  3. Sakti juga perintah Bung Karno

  4. pemimpin yang rendah hati.
    i love you soekarno


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: