Patung Dirgantara dan Duka di Baliknya

Manusia besar dengan gagasan besar. Itu sebuah julukan lain buat Bung Karno. Ciri-ciri manusia besar, terletak pada peninggalannya yang kekal. Dalam beberapa hal, Bung Karno memenuhi kriteria itu. Ajarannya tentang Marhaenisme, penemuan ideologi Pancasila, serta semangat kebangsaan, setidaknya masih bisa kita rasakan hingga detik ini. Sekalipun ia “dikubur” tiga dasawarsa lamanya, jejak-jejak peninggalan dan karya besar Bung Karno bergeming dari gerusan zaman.

Selain ide dan gagasan berupa isme, ajaran, spirit, dan nilai-nilai sosial dan politik, Bung Karno juga mewariskan monumen-monumen. Ia menggagas pembangunan masjid Istiqlal yang ia targetkan melebihi kekokohan candi borobudur. Ia merancang tugu selamat datang di Bundaran HI yang menjadi icon ibukota. Ia mendirikan tugu pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Ia juga mengobarkan semangat bangsa melalui Patung Dirgantara di Pancoran.

Nah, yang disebut terakhir, adalah fokus tulisan ini. Boleh dibilang, itulah peninggalan terakhir Bung Karno. Digagas tahun 1965, saat matahari kekuasaannya sudah condong ke barat.  Adalah pematung Edhi Sunarso yang mendapat kehormatan, mengerjakan pembuatan patung itu. Edhi adalah pematung kesayangan Bung Karno. Ia pula yang ditunjuk membuat patung “Selamat Datang” di Bundaran HI.

Edhi ingat persis, ketika instruksi Bung Karno diterimanya. Hatinya sempat mandeg-mangu, ragu-ragu, bimbang, dan galau. Sebagai seniman patung, ia belum pernah sama sekali membuat patung dengan bahan perunggu. Sementara perintah Bung Karno jelas, ia menghendaki patung dengan bahan perunggu.

Saat raut wajahnya sulit menyembunyikan perasaan hatinya, Bung Karno segera paham. Maka, berkatalah Bung Karno kepada Edhi, “”Hey Ed, kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara tidak? Apa perlu saya menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba, kau harus sanggup.”

Waktu satu minggu yang diberikan Bung Karno, dijawab tuntas oleh Edhi dengan mengumpulkan teman-teman pematung di Yogya, dan mewujudkan harapan Bung Karno dalam replika yang terbuat dari gypsum. Gaya melambaikan tangan laiknya orang menyambut kedatangan sahabat, diperagakan langsung oleh Bung Karno. Gaya itu pula yang kemudian menjadi model pada patung Tugu Selamat Datang di bundaran HI.

Nah, lain lagi kisah Patung Dirgantara, Pancoran. Proyek itu sempat mangkrak, alias terhenti. Peristiwa 30 September 1965, adalah pemicu terancam gagalnya pembuatan patung itu. Bung Karno menghadapi hantaman dari dalam negeri. Ia didemo nyaris tiap hari. Klimaksnya adalah penolakan MPRS atas pertanggungjawaban Bung Karno, terhadap peristiwa pemberontakan PKI tadi. Buntutnya sama-sama kita ketahui, Bung Karno dilengserkan, dan Soeharto diorbitkan.

Nasib patung Dirgantara yang digagas Bung Karno sebagai simbol semangat bangsa, terombang-ambing. Meski begitu, Bung Karno bukan manusia yang meninggalkan sejarah ke-plin-plan-an. Bung Karno tidak pernah mengajarkan sikap yang kurang bertanggung jawab. Alhasil, sekalipun nasibnya sendiri di ujung tanduk. Posisinya sebagai presiden terancam. Tekanan dalam dan luar negeri menghimpit dirinya, Bung Karno tetap komit.

Ia menyempatkan diri untuk memantau perkembangan proyek patung dirgantara tadi. Kepada Bung Karno, dengan nada prihatin, Edhi melaporkan kemandegan proyek tadi. Sekalipun pedestial atau tiang penyangga patung sudah selesai, tapi pekerjaan terancam mandeg, karena pemerintahan transisi tidak menggubrisnya. Di sisi lain, dalam status tahanan politik, dalam kondisi badan yang makin ringkih digerogoti sakit ginjalnya, Bung Karno keukeuh menuntaskan proyek terakhirnya.

Edhi sendiri tak sanggup meneruskan pekerjaan itu, mengingat dirinya pun sudah dililit utang untuk pekerjaan itu. Maklumlah, semua proyek pembuatan monumen yang ia kerjakan atas perintah Bung Karno, tidak menggunakan semacam dokumen perintah resmi negara. Murni soal kepercayaan.

Atas kondisi tersebut, Bung Karno lantas memanggil Edhi dan memberinya uang Rp 1,7 juta. Belakangan Edhi baru tahu, uang itu hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno. Dengan uang itu, sekalipun belum cukup menutup semua biaya, Edhi langsung menuntaskan pengerjaan patung Dirgantara.

Alkisah… di pagi yang cerah, di hari Minggu tanggal 21 Juni 1970, Edhie sedang berada di puncak Tugu Dirgantara. Tiba-tiba, melintas iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja di bawah sontak memberi tahu Edhi, bahwa yang barusan lewat adalah iring-iringan mobil jenazah… jenazah Bung Karno, sang penggagas Tugu Dirgantara.

Lemas lunglai Edhi demi mendengar berita itu. Ia pun langsung turun dari puncak Tugu Dirgantara, dan menyusul ke Blitar, memberi penghormatan terakhir kepada Putra Sang Fajar.

Belum usai duka berlalu, Edhi bersemangat menuntaskan amanat terakhir Bung Karno. Sekalipun pekerjaan itu meninggalkan utang negara. Sekalipun patung itu tidak pernah diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Tugu Dirgantara tegar berdiri, menggelorakan semangat, mengekspresikan wajah Gatotkaca.  Wajah perkasa yang menyimpan duka di balik pembuatannya. (roso daras)

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/10/05/patung-dirgantara-dan-duka-di-baliknya/trackback/

RSS feed for comments on this post.

19 KomentarTinggalkan komentar

  1. saya terkdang sedih pak .kalo ingat perjuangannya founding father ini..
    mari kita doakan beliau

    • Yups…. Kirim-kirim Al Fatihah Fan… biar beliau adem di alam sana….

  2. begitu ironinya nasib sang Bapak Bangsa. saya berharap kelak darah beliau menitis ke anak saya yang kebetulan lahir saat sang fajar menyingsing.

    Khususan ila ruhi Soekarno bin R. Soekemi lahumul fatihah…..

    Hidup Bung karno…..

  3. orang-orang lebih kenal dengan sebutan patung pancoran,, termasuk saia, pak,

    hmmm jadi tau nama aslinya, … 🙂

  4. saya betul-betul merinding membacanya mas, bahkan mata saya sedikit berkaca-kaca. cerita seperti ini kalau diangkat kelayar kaca atau layar lebar pasti bisa menjadi cerita yang menggugah.

    • Ari… menangis pun sah-sah saja… demi mengingat nasib proklamator kita… Diangkat ke layar lebar? Saya setuju… Semoga ada produser yang tergerak hati… kita tunggu saja…

  5. saya juga penggemar BK, kagum sekali…
    di blog ini saya belom baca BK yg minta bantuan sama Rakyat Aceh..dan pelanggaran perjanjian di lakukan BK sama Rakyat Aceh..dan setahu saya Tugu Monas dan Pesawat Yang di beli pertama kali merupakan uang Rakyat Aceh yang mereka mengumpulkan harta2 mereka…kalo ini salah tolong maafkan saya dan tolong beri saya kebenarannya, trimakasih…

  6. Aura daripada tulisan ini sangatlah besar, sampai membuat saya merinding.
    Kenapa sih peninggalan Bung Karno yang satu ini tidak diresmikan Pak Harto?

  7. Episode ini sangat mengharukan mas, seperti cerita film… kok nggak pernah lihat ya di tulisan2 lain (sekali lagi salut buat mas Roso)
    Kok Edhi Sunarso nggak tahu Bung Karno meninggal (padahal dia cukup dekat dg BK).
    Terus yang ngasih nama Patung Dirgantara siapa ya Mas? apalagi Pak Harto tidak pernah meresmikan.
    Saya jadi pingin tahu cerita2 di balik patung2 atau bangunan yang lain gagasan Bung Karno…maturnuwun mas.

  8. saya emang bnr2 salut pada bung karno…

  9. saya merinding membacanya..

  10. mari kita rawat bersama patung pemberi semangat bangsa,jangan sampai patung pancoran ini tergilas oleh perubahan zaman………dan pergerakan zaman dari tangan orang orang yang tidak bertanggung jawab yang hanya mementingkan isi perut semata…….DIRGANTARA

  11. mengharukan… rasa cinta tanah air melebihi segalanya.. mengharukan… rasanya hati ini bergetas setelah membaca tulisan ini…

  12. Wooww; fantastis!!

  13. Lucu.
    pekerjaan tidak resmi, berubah jadi utang kok dipuji. Zaman Pak Karno pembangunan morat marit n gak ada bedanya dengan Orba, hanya saja Orba lbh sukses, bagaikan langit dan bumi dengan Orla. Dan skarang zaman Reformasi. Reformasi my a$$. Jangan salah, saya respek dgn Pak Karno (proklamator), saya menghormati beliau sebesar saya menghormati Pak Harto (Bapak Bangsa).

    Bangsa yang aneh.
    Munafik, rasis, goblok, bodoh.

    • @hanara i beg u to DIFFER….ORBA lebih sukses???? is this a joke?? mari kita itung2xan sederhana utang ORBA= +/- 1500 T (203 milyar dollar) per 1998, utang jaman BK= +/- 6.3 milyar dollar per 1966 😉 suharto bapak bangsa??? *face palm* ampyun elo buat sejarah versi sendiri yak??? setau gw FOUNDING FATHERS adalah orang2x besar yg telah melahirkan/mendirikan fondasi republik di tahun 1945…sedangkan ‘harto ditahun 1941 masih gabung ama KNIL….tau KNIL enggak loe???, tahun ’65 harto kudeta dan menyingkirkan BK melalui SI (doi kena karma juga tahun ’98) ….banyakan ngelem loe ya tong…RASIS??? bukannye suharto itu “self hating chinese” yah??? 😛

    • @hanara
      cowo tw cewe nih??
      Hari gini masih kacang bawang melek sejarah?
      (ngakak) :D:D

      Orba+soehartogel+kroni = Perusak Negara INDONESIA…

      Ngormati BK sebesar ngormati soehartogel??
      Dah ah, baca lagi dulu sonoh, ntar koment lagi.. 😐

    • Lha sumbangsih serta kontribusi Anda apa kepada bangsa dan negara??? Jangan cuma bisa mencela.. tunjukkan kontribusi positif Anda (klo bisa) kepada bangsa, negara, ato masyarakat..

    • @hanara
      Lha sumbangsih serta kontribusi Anda apa kepada bangsa dan negara??? Jangan cuma bisa mencela.. tunjukkan kontribusi positif Anda (klo bisa) kepada bangsa, negara, ato masyarakat..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: