Bangsa Adalah Satu Jiwa

Pancasila, Orde Baru memperingatinya tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Panca Sila. Orde Lama memperingati tanggal 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Panca Sila. Esensinya, Orde Baru membikin tanggal 1 Oktober karena digandengkan dengan satu peristiwa Gestok (Gerakan 1 Oktober) atau G30S (Gerakan 30 September) yang kemudian berbuntut tumbangnya Bung Karno dan naiknya Soeharto.

Secara substansi, sebenarnya Panca Sila patutnya diperingati tanggal 1 Juni. Tapi baiklah… bahwa kemudian 1 Oktober dikenal generasi Orde Baru sebagai Hari Kesaktian Panca Sila, tidak mengapa. Setidaknya, Panca Sila masih ditempatkan pada proporsi yang baik sebagai ideologi bangsa ini.

Sekadar renungan, berikut petuah Bung Karno:

Ernest Renan berkata: “Bangsa adalah satu jiwa”. Memang benar begitu!

Marilah kita kembali kepada jiwa kita sendiri! Jangan kita menjadi satu bangsa tiruan! Jiwa Indonesia adalah jiwa gotong-royong, jiwa persaudaraan , jiwa kekeluargaan. Kita telah merumuskan jiwa yang demikian itu dengan apa yang dinamakan Panca Sila. Hanya Panca Sila yang sesuai dengan jiwa Indonesia.

Marilah kita setia kepada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, – Proklamasi yang bernafas Panca Sila!

(tanda tangan Soekarno)

Itulah sekadar amanat Bung Karno tentang Panca Sila. Tentang betapa Pancas Sila merupakan satu-satunya asas yang pas bagi bangsa kita. Butir-butir sila yang ada di dalamnya, merupakan hasil penggalian akar budaya, akar sosial yang telah hidup berabad-abad di setiap detaknya jatung bangsa ini.

Jika kemudian saat ini kita merasakan rentannya nilai-nilai gotong royong. Jika kita merasakan nilai-nilai persaudaraan yang memudar. Jika kita merasakan nilai-nilai persaudaraan menguap, bisa jadi karena bangsa ini memang sudah meninggalkan nafas ideologi Panca Sila. Bisa jadi karena Panca Sila sudah kehilangan makna. Bisa jadi karena ideologi itu memang sudah ditinggalkan bangsa ini. (roso daras)

Published in: on 1 Oktober 2010 at 11:23  Comments (3)  
Tags: ,