Jumpa Fatma di Pernikahan Rachma

Sukarno menikahi Hartini pada tanggal 7 Juli 1954. Sejak itu, gelombang protes bergulung-gulung. Bung Karno dikritik, Hartini dihujat. Situasi makin keruh ketika tak lama kemudian, Fatmawati sang First Lady, meninggalkan Bung Karno dan Istana Negara-nya, memilih tinggal di bilangan Jl. Sriwijaya, Kebayoran Baru.

Praktis sejak itu, Fatma tak lagi berjumpa Sukarno. Berbagai upaya yang dilakukan putra-putrinya, bahkan ajudannya, untuk mengembalikan Fatma ke Istana, gagal total. Sakit hatinya kepada Hartini, sempat menjalar ke sanubari Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh.

Begitulah hingga matahari kekuasaan Bung Karno mulai condong ke barat. Bahkan ketika Bung Karno dilengserkan, kemudian sakit-sakitan dan ditelantarkan, jurang antara Bung Karno dan Fatma masih begitu lebar menganga. Terlebih, Bung Karno berada di Bogor, di bawah perawatan dan pelayanan setia Hartini.

Manakala penyakitnya makin parah, tibalah saat Bung Karno dipindah ke Wisma Yaso, melalui serangkaian permohonan kepada Soeharto. Di sini, Hartini pula yang setia mendampingi. Satu-satunya putra Bung Karno dari Fatma yang rajin mengunjungi bapaknya adalah Rachma.

Dari seringnya Rachma bertemu Hartini, pelan-pelan, rasa benci itu terusir. Keduanya bahkan menjadi sangat akrab untuk satu tujuan, menyenangkan bapaknya yang makin hari makin parah kondisinya. Sampai di sini, Fatma belum juga tergerak hati untuk menengok. Bujukan putra-putrinya selalu ditolak, “Ibu tidak mau. Di sana ada Hartini!”

Padahal, kepada Hartini, kepada Guntur, Rachma, Mega, Sukma, dan Guruh, Bung Karno berkali-kali mengemukakan rasa inginnya berjumpa Fatma. Ia merindu Fatma. Mungkin saja demi masa lalu, demi putra-putri, atau demi sebuah hajat sebelum ajal menjemput. Tak bersambut.

Bung Karno boleh berkehendak, Fatma boleh menolak, tapi Tuhan adalah Sang Mutlak. Takdir pun digoreskan, bahwa keduanya dipertemukan kembali di tahun 1969, dalam momentum pernikahan Rachmawati dengan dokter Martomo Pariatman Marzuki yang akrab disapa mas Tommy.

Bung Karno diizinkan oleh pemerintahan Soeharto menghadiri pernikahan Rachma. Ia hadir dikawal sepasukan tentara dengan sangat ketat. Entah bahaya apa yang bisa ditimbulkan dari seorang mantan presiden. Yang pasti, karena ginjal dan komplikasi penyakit yang lain, Sukarno muncul dengan wajah bengkak, tubuh yang lemah sehingga harus dipapah. Jauh dari profil Bung Karno yang gagah perkasa, yang berapi-api kalau berbicara, yang parlente jika berbusana….

Demi melihat Bung Karno tiba, Fatma berperang rasa. Antara luapan rindu dan nelangsa. Antara murka dan cinta. Biar saja rasa itu berpusing-pusing dengan problemanya… Fatma segera menghambur menjemput Sukarno, memeluk, mencium dan memapahnya. Untuk itu, ia harus menerobos pengawalan yang super ketat.

Demi melihat pemandangan itu, Guntur dan adik-adiknya, serta Bung Hatta dan para tetamu lainnya, tak kuasa membendung air mata. Ada sebongkah haru demi mengingat, keduanya dipertemukan setelah berpisah 15 tahun lamanya.

Nah, bayangkanlah… suasana pernikahan, berjumpa Fatma, dan berbaur dengan rakyat… betapa bahagia hati Sukarno. Apa lacur, “bahagia” adalah sesuatu yang diharamkan oleh rezim Soeharto kepada Sukarno. Tak pelak, belum tuntas suasana bahagia dilapis haru-biru itu berlangsung, sejumlah pasukan pengawal sudah kembali menerobos masuk, dan menyingkirkan Fatma dari sisi Sukarno. Pengawal itu kembali mengucipkan Sukarno dari Hatta. Pawa pengawal itu segera mengucilkan Sukarno dari para tamu.

Semua perlawanan, apa pun dalihnya… dalih kesopanan, dalih kasihan, dalih kemanusiaan… tidak berlaku. Kembali, Fatma, putra-putri dan para tamu menangis… bukan bahagia yang melandasi lelehan air mata mereka, melainkan sembilu yang menyayat hati… rasa iba di dasar hati terdalam… demi melihat kasar dan hinanya perlakuan rezim Soeharto kepada Sukarno. (roso daras)

 

Published in: on 31 Oktober 2010 at 08:22  Comments (11)  
Tags: , , ,

Sukarnois “Bandel” itu Meluncurkan Buku

Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu, H. Amin Arjoso, SH meluncurkan bukunya. Tokoh Sukarnois ini menuangkan perjalanan perjuangan menegakkan kembali UUD 1945, setelah diobok-obok melalui proses empat kali amandemen ngawur. Amin Arjoso sendiri menyebut konstitusi kita saat ini dengan nama UUD 2002.

Dalihnya, terdapat perbedaan mencolok. Bukan saja dalam hal membengkaknya jumlah pasal, tetapi juga perubahan pada dihilangkannya penjelasan, dan tentu saja masuknya pasal-pasal yang secara politik dan ekonomi menjadikan konstitusi kita begitu liberal. Dampak amandemen masih tersisa sampai sekarang. Kita menjadi terjajah secara ekonomi, tidak lagi berdaulat di bidang politik, bahkan di bidang kebudayaan pun kita seperti kehilangan arah.

Bersama M. Achadi, Eddi Elison, Azis Arjoso dan Giat Wahyudi, saya merasa terhormat terlibat dalam penyusunan buku “Pemikiran dan Perjuangan Amin Arjoso Menegakkan Kembali UUD ’45”. Proses penyusunan bukunya sendiri relatif tidak terlalu sulit, karena semua pemikiran dan perjuangan Amin Arjoso terdokumentasi dengan baik.

Buku ini adalah buku terlengkap yang memuat latar belakang (konspirasi) amandemen UUD 1945, praktik-praktik kotor di seputar amandemen, hingga dampak yang ditimbulkan akibat amandemen. Selain itu, buku ini juga memuat testimoni rekan-rekan seperjuangan Amin Arjoso. Dari komentar rekan-rekannyalah keluar istilah “bandel”… “keras kepala”…  serta banyak apresiasi, sanjungan, dan pujian atas kegigihannya memperjuangkan kembalinya UUD 1945 yang asli.

Sedikit riwayat Amin Arjoso juga tergambar di buku ini. Sekalipun tidak mendetail, kita jadi tahu bagaimana sebagai anggota GMNI dan Sukarnois tulen, ia terpaksa harus mendekam di sel tahanan Orde Baru bersama Sukarnois-Sukarnois lain.  Sebagai advokat, buku ini juga mengisahkan, bagaimana sebagai eks Tapol ia berusaha eksis di rezim Orde Baru. Sebagai manusia, buku ini juga membeberkan kesukaannya makan makanan enak, sekalipun untuk itu harus ia tebus dengan serangan stroke.

Sebagai sebuah buku, sebagai salah satu penyusun, saya sendiri merasa belum puas. Proses produksi yang terkesan tergesa-gesa mengakibatan finishing-nya kurang sempurna. Masih juga dijumpai typo error di sejumlah halaman. Sekalipun begitu, buku ini bakal menjadi catatan maha penting bagi perjalanan sejarah kebangsaan kita. Inilah satu-satunya buku yang mendokumentasikan secara lengkap proses amandemen keblinger atas UUD 1945 kita. (roso daras)

Published in: on 30 Oktober 2010 at 03:40  Comments (1)  
Tags: , ,

Kesaksian Sze Tu Mei Sen

Sze Tu Mei Sen adalah penerjemah Presiden Sukarno untuk bahasa Cina. Dia pernah memberi kesaksian penting terkait keterlibatan RRC dalam pemberontakan PKI atau yang kita kenal dengan Gestok (Gerakan Satu Oktober), yang berujung pada runtuhnya kekuasaan Bung Karno. Sze Tu Mei Sen membantah keras informasi yang menyebutkan keterlibatan RRC itu.

Bantahan keterlibatan Cina (Mao Zedong) dalam tragedi berdarah tersebut disampaikan Sze Tu Mei Sen, seorang mantan penerjemah Bung Karno saat melakukan pembicaraan dengan pemimpin Tiongkok perihal kebijaksaan politik Cina dan Indonesia. Kesaksian yang disampaikan lewat faks itu dikirim Sze Tu Mei Sen kepada Kolonel (Pur) Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa pada 7 Desember 2005. Oleh Saelan, faks tersebut disampaikan dalam forum diskusi buku “Kudeta 1 Oktober 1965—Sebuah Studi Tentang Konspirasi. Berikut ini isinya:

Sejak tahun 1950, sesudah penyerahan kedaulatan, saya masih bekerja sebagai wartawan dari harian “Sin Po” edisi Tionghoa, saya sudah sering dipanggil oleh Presiden Soekarno supaya ikut dalam aktivitas yang bertalian masalah hubungan Indonesia dan Tiongkok. Membantu beliau berkomunikasi dengan Tiongkok, misalnya, Upa-cara Penyerahan Surat Kepercayaan dari Duta Besar Pertama Tiongkok untuk Indonesia dan juga kunjungan Delegasi Kese-nian Tiongkok, Madam Sun Yat Sen dan sebagainya.

Pada akhir tahun 1956, Presiden melakukan kunjungan ne-gara pertama ke Tiongkok, saya diperintahkan ikut sebagai Sekretaris pribadi Presiden dan anggota advance team yang berangkat terlebih dahulu. Itu pertama kalinya saya menginjak Bumi Tiongkok.

Sejak kunjungan inilah saya bertindak sebagai Penerjemah Utama dalam bahasa Tionghoa. Tugas saya menerjemahkan pidato Presiden selama kunjungan dan penerjemah untuk pembicaraan dengan pemimpin pemimpin Tiongkok seperti Mao Tze Tung, Chow En Lay, Chu Te, Liu Sao Chi, dan Madam Sun Yat Sen.

Pada akhir tahun 1959-60, sesudah RI kembali ke UUD 1945, hubungan Indonesia dan Tiongkok semakin erat, saya dipanggil Presiden ditetapkan sebagai pembantu pribadi Presiden merangkap sebagai penerjemah utama khusus bahasa Tionghoa.

Tahun 1960-1965, hubungan dengan Tiongkok semakin erat dan kunjngan kenegaraan semakin sering. Di samping para pejabat dari Deplu yang berkepentingan saya selalu mendampingi Presiden dalam hampir seluruh pertemuan, perundingan dan pembicaraan dengan pemimpin dari Tiongkok terutama dengan Chow En Lai (Prime Minister) dan Chen Yi (Wakil Prime Minister merangkap Menlu), kecuali apabila saya sedang sakit atau sedang tidak di Jakarta.

Dalam seluruh pertemuan, perundingan dan pembicaraan, perundingan dan pertemuan, pemimpin Tiongkok sangat mengagumi keberanian Indonesia dalam perjuangan anti dan melawan Neokolin (New Colonialism) menghormati yang dijunjung oleh Indonesia. Sama sekali tidak ada pembi-caraan yang mengharapkan Indonesia condong ke kiri, apalagi masuk kubu Negara komunis di Asia.

Pembicaraan-pembicaraan penting antara Presiden dengan para pemimpin Tiongkok yaitu dengan Ketua Liu Sao Chi tahun 1963 di Bali, PM Chow En Lai (1964 di Shanghai dan 1965 di Jakarta), Wakil PM merangkap Menlu Chen Yi (Mei 1965 di Jakarta yang berlangsung 4 jam).

Intisari dari pembicaraan tersebut adalah Indonesia terus menerus membangkitkan semangat NEFOS dan memberanikan diri memimpin negara dunia ketiga dan non aliansi countries. Tiongkok sebagai negara yang menjalin hubungan dengan Uni Soviet tidak dapat memimpin negara dunia ketiga, sedangkan situasi nasional dan Asia khususnya untuk mengimbangi kekuatan dan pengaruh Amerika dan sekutunya, termasuk hampir seluruh Negara Asia Tenggara tergabung dalam SEATO (South East Asia Treaty Organization), kepentingan nasional Tiongkok pada waktu itu adalah mengarapkan Nefos dan negara dunia ketiga dapat mengimbangi situasi yang  sangat suram bagi mereka.

Pemimpin Tiongkok dalam pembicaraannya sama sekali tidak berharap Indonesia menjadi negara komunis karena hanya akan memperuncing situasi yang membahayakan mereka sendiri. Politik Tiongkok adalah Indonesia terus membimbing NEFOS (New Emerging Forces) dan negara dunia ketiga sesuai dengan kepentingan Tiongkok saat itu, mengimbangi kekuatan Amerika.

Informasi ini saya kutip dari tabloid CITA CITA yang pernah saya pimpin. ***

Published in: on 29 Oktober 2010 at 13:17  Comments (1)  
Tags: , ,

Jika Mobil Presiden Rusak

Proklamasi belum lama dikumandangkan. Ibaratnya, Republik baru seumur jagung. Fase itulah yang selalu disebut Bung Karno sebagai fase perjuangan yang sesungguhnya. Bangsa Indonesia, harus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Semboyan yang terkenal adalah “Hidup atau Mati”.

Tak lama setelah Sekutu mendarat di Republik Indonesia, dimulailah perburaan terhadap Bung Karno, Bung Hatta, dan para pejuang kemerdekaan kita. Mereka bertekad menangkap Bung Karno, hidup atau mati. Karena itu pula Bung Karno tidak pernah tidur di rumah. Ia menginap dari satu rumah penduduk ke rumah yang lain.

Begitu terus sampai seluruh rekan seperjuangan benar-benar kuwalahan mengamankan Bung Karno. Mereka merekomendasikan agar Bung Karno segera meninggalkan ibukota Jakarta. Itulah yang kemudian dilakukan sang proklamator. Sebuah lokomotif seri C buatan Henschel (Jerman) tahun 1921, dijadikan loko penarik kereta kepresidenan. Loko itu yang  mengantar perjalanan Presiden Sukarno dari Jakarta ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946.

Loko C2849 waktu itu, menarik dua gerbong kayu IL7 dan IL8. Kedua gerbong itu kini mengisi koleksi Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Itulah sepenggal sejarah hijrahnya Bung Karno ke Yogyakarta sekaligus menandai sejarah perpindahan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta.

Nah, di Yogya Bung Karno sering mengalami problem dengan mobil Buick-nya. Yogya bukan Jakarta. Kerusakan mobil di Jakarta, relatif lebih mudah memperbaikinya. Beruntung, Bung Karno memilik montir-montir otodidak yang piawai. Dalam kesempatan itu, mereka bekerja lebih giat, karena tidak jarang Bung Karno ikut melihat dan menemani para montir bekerja. (roso daras)

Published in: on 22 Oktober 2010 at 18:06  Comments (7)  
Tags: ,

Cindy Adams, Pilihan Bung Karno

Waktu terus bergulir, sejak Dubes AS untuk Indonesia, Howard Jones mengajukan usul kepada Bung Karno untuk menuliskan biografinya. Tahunnya masih tahun 60-an. Pada pertemuan yang kesekian, Dubes Howard belum berputus-asa membujuk Bung Karno. Masih dengan alasan-alasan yang ia kemukakan dengan begitu serius dan sungguh-sungguh.

Tibalah saatnya Bung Karno menanggapinya dengan menyeringai, “Dengan satu syarat, saya mengerjakannya dengan Cindy Adams!” Howard kaget. Senang bercampur entahlah.

Rupanya, selang beberapa saat setelah pertemuan dengan Howard di Istana Bogor, Bung Karno bertemu dengan wartawan Amerika Serikat bernama Cindy Adams. Dia adalah istri dari pelawak Joey Adams, yang tengah memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Selain cantik, Cindy adalah seorang penulis yang ceria, gemar berkelakar, dan… selalu berdandan rapi. Berbicara dengan Cindy, sangat menyenangkan Bung Karno. Dalam salah satu kesaksiannya ia mengatakan bahwa, “Orang Jawa selalu bekerja dengan insting. Seperti ketika saya mencari seorang press officer, kemudian bertemu dengan Rochmuljati, saya segera tahu, dialah yang saya cari, dan segera saya pekerjakan dia. Demikian pula dengan Cindy.”

Laksana menerima durian runtuh, Cindy menerima tugas itu dengan suka cita. Terlebih setelah tahu, bahwa sudah banyak penulis, baik dari dalam maupun luar negeri yang memohon-mohon menjadi penulis biografi Bung Karno, tetapi semua ditolak.

Sekalipun berkebangsaan Amerika Serikat, Bung Karno menilai Cindy dapat memahami dan merasakan denyut nadi bangsa Indonesia. Tulisan Cindy juga dinilai jujur dan dapat dipercaya. Pendek kata, Bung Karno begitu menyukai Cindy. Katanya, “Cindy adalah penulis yang paling menarik yang pernah kujumpai!”

Wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris. Bung Karno mengaku, sesekali membuat kesalahan dalam tata-bahawa, dan sering pula berhenti pada satu kalimat karena ia merasakan adanya kekakuan dalam kalimat yang ia utarakan. Begitulah wawancara terus mengalir dengan lancar hingga tersusunlah buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Kepada pembaca buku biografinya, Bung Karno juga memiliki pesan tersendiri.  Begini ia bertutur, “Kuminta kepadamu, pembaca, untuk mengingat bahwa, lebih daripada bahasa kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dari lubuk-hati. Buku ini ditulis tidak untuk mendapatkan simpati atau meminta supaya setiap orang suka kepadaku. Harapan hanyalah, agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta.” (roso daras)

Published in: on 18 Oktober 2010 at 10:40  Comments (14)  
Tags: , ,

Howard Jones Membujuk Bung Karno

Hari Minggu, tahun 60-an, Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Howard Jones bersama istrinya Marylou bertandang ke Istana Bogor. Di salah satu paviliun tempat Bung Karno – Hartini tinggal, Howard dan istri dijamu sarapan nasi goreng. Kebetulan, Howard senang sekali makan nasi goreng, apalagi spesial masakan Hartini.

Dalam salah satu obrolan, meluncurlah saran Howard kepada Bung Karno, agar bersedia menuliskan biografinya. “Tuan Presiden, saya kira sudah waktunya bagi Tuan untuk melihat kembali jalan-jalan dalam sejarah. Menurut pendapat saya sudah tepat waktunya bagi Tuan untuk menuliskan sejarah hidup Tuan,” begitu Howard mengajukan usulnya.

Ide itu sendiri, bukan untuk yang pertama mampir di telinga Bung Karno. Ketika itu, jawaban Bung Karno juga sama seperti ketika ia menjawab usul-usul serupa sebelumnya. “Tidak. Insya Allah, jika Tuhan mengizinkan, saatnya masih 10 atau 20 tahun lagi. Siapa yang dapat menceritakan bagaimana jalannya kehidupan saya? Itulah sebabnya mengapa saya selalu menolak hal ini, karena saya yakin bahwa buruk-baiknya kehidupan seseorang hanya dapat dipertimbangkan setelah ia mati.”

Howard tidak menyerah. Ia mengatakan, “Terkecuali Presiden Republik Indoneia. Di samping telah menjadi Kepala Negara selama 20 tahun, ia telah dipilih sebagai presiden seumur hidup. Ia adalah orang yang paling banyak diperdebatkan dan dikritik di zaman kita ini. Ia…,” belum selesai Howard bertutur, Bung Karno menyambar, “…. ya… saya menyimpan banyak rahasia.”

Tapi toh Bung Karno masih mengelak. Sejurus dengan itu, Howard juga tidak berhenti merayu. Dikatakan ihwal perlunya Bung Karno menuliskan biografinya, agar dunia mengetahui. Bung Karno perlu menuang tentang sejarah dirinya agar segala kontroversi bisa diakhiri. “Tuan tidak bisa mendatangi sendiri seluruh rakyat di dunia, akan tetapi Tuan dapat datang kepada mereka melalui halaman-halaman buku. Tuan adalah ahli pidato terbesar setelah William Janmings Bryan. Tuan menawan hati sejuta pendengar di lapangan terbuka. Mengapa Tuan tidak menghendaki jumlah pendengar yang lebih besar lagi?”

Percakapan dilanjutkan hingga keduanya menutup sarapan dan makan pisang rebus kesukaan Bung Karno. Tema obrolan masih seputar biografi. Bagaimana Bung Karno bertahan untuk menunda, dan bagaimana Howard Jones bertahan untuk menyegerakannya. Setidaknya, Bung Karno untuk pertama kalinya mau meladeni seseorang berbicara tentang biografinya secara panjang lebar. Pengalaman-pengalaman terdahulu, ia hanya menolak. Dan ketika didesak, ia akan marah.

Ada satu kisah yang bisa menggambarkan hal itu. Adalah Rochmuljati Hamzah, staf presiden yang mengurusi pers. Suatu ketika, tahun 1960, ia didamprat Bung Karno, karena sebab yang sama. Saat kunjungan Kruschev ke Jakarta, banyak wartawan asing datang meliput. Suatu saat, Roch memberanikan diri mengajukan saran, “Maaf Pak. Bapak jangan marah, karena kami sendiri pun tidak mengetahui sejarah hidup Bapk. Dan Bapak sedikit sekali memberikan wawancara. Oleh karena itu, dapatkah Bapak menentramkan hati saya barang sedikit, dan menerima seorang wartawan CBS yang ramah sekali dan ingin menulis riwayat hidup Bapak.”

Bun Karno berpaling dan menyembur, “Berapa kali aku harus mengatakan kepadamu, T-I-D-A-K!! Pertama, aku tidak mengenalnya, akan tetapi kalau aku pada suatu saat menulis riwayat hidupku, aku kan kerjakan dengan seorang perempuan. Sekarang jauh-jauhilah dari penglihatanku. Engkau seperti pesuruh wartawan asing saja!” Roch pun berlari keluar dan pulang….

Pasca kejadian itu, tak lama berselang, Bung Karno menyesal. Ia menyuruh ajudan menghubungi Roch dan menjemputnya menghadap. Roch datang mengira bahwa ia akan menerima semprotan yang lain lagi, tapi sebaliknya, Presidennya hendak minta maaf. “Maafkan aku, Roch,” kata Bung Karno pertama-tama, “Kadang-kadang aku berteriak dan menyebut nama-nama buruk, akan tetapi sebenarnya akulah itu. Jangan masukkan kata-kata itu dalam hatimu. Kalau aku meradang, itu berarti aku mencintaimu. Aku menyemprot kepada orang-orang yang terdekat dan paling kusayangi. Hanya mereka yang menjadi papan suaraku.”

Usai meminta maaf, Bung Karno mencium pipi Roch, cara yang biasa ia lakukan sebagai salam pertemuan dan perpisahan dengan anak-anak perempuan sekretarisnya. Roch pun tersenyum, dan pergi denan hati yang senang sekali. Itu hanya contoh kecil yang Bung Karno katakan sebagai, “persoalan-persoalan Asia harus diselesaikan dengan cara Asia….” (roso daras)

 

Published in: on 10 Oktober 2010 at 07:39  Comments (5)  
Tags: , ,

Film tentang Bung Karno

Bukan satu dua… sebut saja banyak… komentator blog ini yang berandai-andai, “seandainya kisah Bung Karno diangkat ke layar perak”…. “seandainya ada film tentang Bung Karno”…. Sejatinya, harapan itu bukan harapan kosong. Sejumlah sineas pernah membuat film tentang Putra Sang Fajar. Hanya saja, entah karena alalasan politik atau alasan lain, belum ada satu pun produser film yang berani mengangkat film tentang Bung Karno secara utuh.

Karenanya, film tentang Bung Karno hanya bersifat tempelan. Ada film tentang G-30-S yang menampilkan Bung Karno dalam sudut pandang pemerintahan Orde Baru. Ada film dokumenter tentang Bung Karno yang mandeg di laci produser. Ada film TV tentang kisah cinta Bung Karno dan Fatmawati. Alhasil, belum ada satu pun film tentang Bung Karno secara utuh. Sebuah film yang memotret sang proklamator secara utuh, sejak kelahiran hingga wafatnya.

Kini, kita boleh berharap tentang hadirnya film tersebut. Sebuah PH di bilangan Kebayoran Baru, tengah mempersiapkan produksi film Bung Karno. Itu tentu sebuah kabar gembira bagi kita semua anak bangsa. Buat saya? Lebih menggembirakan lagi. Pasalnya, saya ternyata terpilih sebagai salah satu calon penulis skenario film itu!!!

Rasa bahagia yang membuncah inilah yang hendak saya bagi ke pengunjung blog setia. Atas permintaan PH tersebut, saya sudah menyusun sebuah sinopsis, yang saat ini tengah mereka pelajari. Selain saya, ternyata juga bercokol sejumlah calon penulis skenario lain, yang barangkali juga diminta menulis sinopsis pula. Para calon penulis itu, percayalah, qualified. Sejumlah nama penulis besar ada di kantong mereka.

Itu artinya, hingga posting ini saya upload, belum ada kepastian, siapakah yang bakal terpilih menjadi penulis skenario film Bung Karno. Kepada produser dan stafnya, saya pribadi hanya mengucap terima kasih atas peluang dan kesempatan menyampaikan sinopsis yang diberikan. Sebab, siapa pun yang nanti terpilih, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan apresiasi saya kepada PH ini yang telah berkenan memfilmkan tokoh pemersatu bangsa kita.

Dalam hati, bergemuruh gairah yang meluap-luap untuk bisa mendedikasikan sebuah karya bagi Bapak Bangsa itu. Sudah melayang imaji saya pada Sukarno kecil yang kelahirannya disambut letusan Gunung Kelud, 6 Juni 1901. Sudah tergambar bagaimana di suatu fajar, Ibunda memangku Kusno kecil berkata, “Ingat nak, engkau adalah putra dari sang fajar. Engkau akan menjadi orang besar.”

Ingat pula bagaimana Sukarno remaja berkelahi dengan remaja bule. Terbayang pula bagaimana HOS Cokroaminoto menanamkan benih-benih cinta tanah air, benih-benih pemberontakan, benih-benih tekad baja melepaskan bangsa ini dari belenggu penjajah Belanda. Melayang-layang pula masa-masa perjuangan Bung Karno hingga ditangkap, dipenjara, dan dibuang. Terlintas pula bagaimana Bung Karno mengguncang dunia… dan tentu saja, lekat pula bayangan bagaimana Bung Karno dinista oleh bangsanya sendiri hingga ajal menjemput, 21 Juni 1970….

Sudahlah… satu hal yang patut kita catat hari ini adalah, siapa pun penulis skenarionya, kita segenap anak bangsa, boleh bergembira menyambut itikad mulia sebuah PH yang hendak mengangkat kisah Bung Karno ke layar perak. (roso daras)

Published in: on 7 Oktober 2010 at 12:25  Comments (29)  
Tags: ,

Buku Baru… Baru Terbit… Terbit Kedua

Sajian buku ini saya katakan “enteng berisi”. Narasi yang runtut dengan gaya bahasa yang ringan, membuat saya percaya buku ini tidak saja memuaskan kerinduan para Sukarnois senior, tetapi juga mampu menjangkau segmen Sukarnois muda. Pilihan topik yang ringan, sangat menonjolkan sisi humanisme seorang Sukarno. Terlebih bahwa berbagai topik yang diangkat, banyak yang belum diketahui oleh masyarakat umum, atau bahkan sama sekali belum diketahui oleh generasi muda Indonesia pada umumnya.

Sukmawati Sukarnoputri, Putri Bung Karno

Apa pun upaya memasyarakatkan ajaran Bung Karno, adalah baik. Jangankan itu! Menulis dan memublikasikan sosok Sukarno saja patut mendapat penghargaan. Terlebih itu dilakukan saat-saat sekarang, di mana skenario besar untuk menenggelamkan nama dan karya besar Bung Karno masih berlangsung.

Koesalah Soebagyo Toer, Penulis, Sukarnois

Penyajian kisah-kisah nyata seputar kehidupan Bung Karno, baik dari sisi kehidupan politik, sosial, keagamaan, hingga nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana tersaji dalam buku ini sungguh menarik dari perspektif kekinian. Karenanya, saya pribadi berani mengatakan bahwa apa yang ditulis Dik Roso ini pada hakikatnya merupakan sebuah pelurusan sejarah.

Ki Utomo Darmadi, Sukarnois

Published in: on 6 Oktober 2010 at 07:31  Comments (13)  
Tags:

Patung Dirgantara dan Duka di Baliknya

Manusia besar dengan gagasan besar. Itu sebuah julukan lain buat Bung Karno. Ciri-ciri manusia besar, terletak pada peninggalannya yang kekal. Dalam beberapa hal, Bung Karno memenuhi kriteria itu. Ajarannya tentang Marhaenisme, penemuan ideologi Pancasila, serta semangat kebangsaan, setidaknya masih bisa kita rasakan hingga detik ini. Sekalipun ia “dikubur” tiga dasawarsa lamanya, jejak-jejak peninggalan dan karya besar Bung Karno bergeming dari gerusan zaman.

Selain ide dan gagasan berupa isme, ajaran, spirit, dan nilai-nilai sosial dan politik, Bung Karno juga mewariskan monumen-monumen. Ia menggagas pembangunan masjid Istiqlal yang ia targetkan melebihi kekokohan candi borobudur. Ia merancang tugu selamat datang di Bundaran HI yang menjadi icon ibukota. Ia mendirikan tugu pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Ia juga mengobarkan semangat bangsa melalui Patung Dirgantara di Pancoran.

Nah, yang disebut terakhir, adalah fokus tulisan ini. Boleh dibilang, itulah peninggalan terakhir Bung Karno. Digagas tahun 1965, saat matahari kekuasaannya sudah condong ke barat.  Adalah pematung Edhi Sunarso yang mendapat kehormatan, mengerjakan pembuatan patung itu. Edhi adalah pematung kesayangan Bung Karno. Ia pula yang ditunjuk membuat patung “Selamat Datang” di Bundaran HI.

Edhi ingat persis, ketika instruksi Bung Karno diterimanya. Hatinya sempat mandeg-mangu, ragu-ragu, bimbang, dan galau. Sebagai seniman patung, ia belum pernah sama sekali membuat patung dengan bahan perunggu. Sementara perintah Bung Karno jelas, ia menghendaki patung dengan bahan perunggu.

Saat raut wajahnya sulit menyembunyikan perasaan hatinya, Bung Karno segera paham. Maka, berkatalah Bung Karno kepada Edhi, “”Hey Ed, kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara tidak? Apa perlu saya menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba, kau harus sanggup.”

Waktu satu minggu yang diberikan Bung Karno, dijawab tuntas oleh Edhi dengan mengumpulkan teman-teman pematung di Yogya, dan mewujudkan harapan Bung Karno dalam replika yang terbuat dari gypsum. Gaya melambaikan tangan laiknya orang menyambut kedatangan sahabat, diperagakan langsung oleh Bung Karno. Gaya itu pula yang kemudian menjadi model pada patung Tugu Selamat Datang di bundaran HI.

Nah, lain lagi kisah Patung Dirgantara, Pancoran. Proyek itu sempat mangkrak, alias terhenti. Peristiwa 30 September 1965, adalah pemicu terancam gagalnya pembuatan patung itu. Bung Karno menghadapi hantaman dari dalam negeri. Ia didemo nyaris tiap hari. Klimaksnya adalah penolakan MPRS atas pertanggungjawaban Bung Karno, terhadap peristiwa pemberontakan PKI tadi. Buntutnya sama-sama kita ketahui, Bung Karno dilengserkan, dan Soeharto diorbitkan.

Nasib patung Dirgantara yang digagas Bung Karno sebagai simbol semangat bangsa, terombang-ambing. Meski begitu, Bung Karno bukan manusia yang meninggalkan sejarah ke-plin-plan-an. Bung Karno tidak pernah mengajarkan sikap yang kurang bertanggung jawab. Alhasil, sekalipun nasibnya sendiri di ujung tanduk. Posisinya sebagai presiden terancam. Tekanan dalam dan luar negeri menghimpit dirinya, Bung Karno tetap komit.

Ia menyempatkan diri untuk memantau perkembangan proyek patung dirgantara tadi. Kepada Bung Karno, dengan nada prihatin, Edhi melaporkan kemandegan proyek tadi. Sekalipun pedestial atau tiang penyangga patung sudah selesai, tapi pekerjaan terancam mandeg, karena pemerintahan transisi tidak menggubrisnya. Di sisi lain, dalam status tahanan politik, dalam kondisi badan yang makin ringkih digerogoti sakit ginjalnya, Bung Karno keukeuh menuntaskan proyek terakhirnya.

Edhi sendiri tak sanggup meneruskan pekerjaan itu, mengingat dirinya pun sudah dililit utang untuk pekerjaan itu. Maklumlah, semua proyek pembuatan monumen yang ia kerjakan atas perintah Bung Karno, tidak menggunakan semacam dokumen perintah resmi negara. Murni soal kepercayaan.

Atas kondisi tersebut, Bung Karno lantas memanggil Edhi dan memberinya uang Rp 1,7 juta. Belakangan Edhi baru tahu, uang itu hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno. Dengan uang itu, sekalipun belum cukup menutup semua biaya, Edhi langsung menuntaskan pengerjaan patung Dirgantara.

Alkisah… di pagi yang cerah, di hari Minggu tanggal 21 Juni 1970, Edhie sedang berada di puncak Tugu Dirgantara. Tiba-tiba, melintas iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja di bawah sontak memberi tahu Edhi, bahwa yang barusan lewat adalah iring-iringan mobil jenazah… jenazah Bung Karno, sang penggagas Tugu Dirgantara.

Lemas lunglai Edhi demi mendengar berita itu. Ia pun langsung turun dari puncak Tugu Dirgantara, dan menyusul ke Blitar, memberi penghormatan terakhir kepada Putra Sang Fajar.

Belum usai duka berlalu, Edhi bersemangat menuntaskan amanat terakhir Bung Karno. Sekalipun pekerjaan itu meninggalkan utang negara. Sekalipun patung itu tidak pernah diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Tugu Dirgantara tegar berdiri, menggelorakan semangat, mengekspresikan wajah Gatotkaca.  Wajah perkasa yang menyimpan duka di balik pembuatannya. (roso daras)

Bangsa Adalah Satu Jiwa

Pancasila, Orde Baru memperingatinya tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Panca Sila. Orde Lama memperingati tanggal 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Panca Sila. Esensinya, Orde Baru membikin tanggal 1 Oktober karena digandengkan dengan satu peristiwa Gestok (Gerakan 1 Oktober) atau G30S (Gerakan 30 September) yang kemudian berbuntut tumbangnya Bung Karno dan naiknya Soeharto.

Secara substansi, sebenarnya Panca Sila patutnya diperingati tanggal 1 Juni. Tapi baiklah… bahwa kemudian 1 Oktober dikenal generasi Orde Baru sebagai Hari Kesaktian Panca Sila, tidak mengapa. Setidaknya, Panca Sila masih ditempatkan pada proporsi yang baik sebagai ideologi bangsa ini.

Sekadar renungan, berikut petuah Bung Karno:

Ernest Renan berkata: “Bangsa adalah satu jiwa”. Memang benar begitu!

Marilah kita kembali kepada jiwa kita sendiri! Jangan kita menjadi satu bangsa tiruan! Jiwa Indonesia adalah jiwa gotong-royong, jiwa persaudaraan , jiwa kekeluargaan. Kita telah merumuskan jiwa yang demikian itu dengan apa yang dinamakan Panca Sila. Hanya Panca Sila yang sesuai dengan jiwa Indonesia.

Marilah kita setia kepada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, – Proklamasi yang bernafas Panca Sila!

(tanda tangan Soekarno)

Itulah sekadar amanat Bung Karno tentang Panca Sila. Tentang betapa Pancas Sila merupakan satu-satunya asas yang pas bagi bangsa kita. Butir-butir sila yang ada di dalamnya, merupakan hasil penggalian akar budaya, akar sosial yang telah hidup berabad-abad di setiap detaknya jatung bangsa ini.

Jika kemudian saat ini kita merasakan rentannya nilai-nilai gotong royong. Jika kita merasakan nilai-nilai persaudaraan yang memudar. Jika kita merasakan nilai-nilai persaudaraan menguap, bisa jadi karena bangsa ini memang sudah meninggalkan nafas ideologi Panca Sila. Bisa jadi karena Panca Sila sudah kehilangan makna. Bisa jadi karena ideologi itu memang sudah ditinggalkan bangsa ini. (roso daras)

Published in: on 1 Oktober 2010 at 11:23  Comments (3)  
Tags: ,