“Bertemu” Cipto Mangunkusumo dan Slamet Rijadi

Hunting buku lawas… jika Anda terbiasa melakukannya, tentu sepakat, sangat mengasyikkan. Di sana kita bisa “berjumpa” tokoh-tokoh sejarah masa lalu. Sekali lagi, itu sungguh menyenangkan. Belajar sejarah, selalu saja membuat kita “kaya”. Alhasil, begitu gembira ketika dalam hunting baru-baru ini, “bertemu” dua tokoh besar: Dr Cipto Mangunkusumo dan Ignatius Slamet Rijadi.

Buku tentang sejarah Dr Cipto, ditulis Drs Soegeng Reksodihardjo. Sedangkan buku sejarah Slamet Rijadi, adalah buku resmi terbitan Departemen P dan K. Keduanya adalah pahlawan besar, dengan story yang sama-sama heroik.

Dokter Cipto Mangunkusumo adalah seorang dokter profesional yang lebih dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan nasional. Dia merupakan salah seorang pendiri Indische Partij, organisasi partai partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka dan turut aktif di Komite Bumiputera.

Di samping itu, selain aktif di Komite Bumiputera, ia juga banyak melakukan perjuangan melalui tulisan-tulisan yang nadanya selalu mengkritik pemerintahan Belanda di Indonesia. Beberapa perkumpulan yang ditujukan untuk membangkitkan nasionalisme rakyat juga pernah didirikan dan dibinanya. Kegiatannya yang selalu berseberangan dengan Belanda tersebut membuat dirinya sering dibuang dan ditahan ke berbagai pelosok negeri bahkan ke negeri Belanda sendiri.

Ketika aktif menulis di De Express tersebut, sebenarnya dia sudah bekerja sebagai dokter pemerintah, dalam hal ini pemerintahan Belanda. Pekerjaan itu dia dapatkan setelah memperoleh ijazah STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta. Saat itu dia ditugaskan di Demak. Dan dari sanalah dia menulis karangan-karangan yang nafasnya mengkritik penjajahan Belanda di Indonesia. Akibat tulisan tersebut, dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah.

Tidak bekerja sebagai dokter pemerintah yang diupah oleh pemerintahan Belanda, membuat dr. Cipto semakin intens melakukan perjuangan. Pada tahun 1912, dia bersama Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) mendirikan Indische Partij, sebuah partai politik yang merupakan partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.

Saat bermukim di Bandung, Dr Cipto aktif menggelar diskusi serta melakukan gerakan bawah tanah. Di kediaman Cipto ini pula Bung Karno acap hadir dan terlibat diskusi serta perdebatan hebat seputar menuju Indonesia merdeka. Seperti halnya Bung Karno, atas “kebandelannya” ia pun mengalami pembuangan. Jika Bung Karno dibuang ke Ende, maka Cipto dibuang ke Banda Neira tahun 1927.

Di Banda Neira, dr. Cipto mendekam/terbuang sebagai tahanan selama tiga belas tahun. Dari Banda Naire dia dipindahkan ke Ujungpandang. Dan tidak lama kemudian dipindahkan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat. Namun karena penyakit asmanya semakin parah, sementara udara Sukabumi tidak cocok untuk penderita penyakit tersebut, dia dipindahkan lagi ke Jakarta. Jakarta merupakan kota terakhirnya hingga akhir hidupnya. Dr. Cipto Mangunkusumo meninggal di Jakarta, 8 Maret 1943, dan dimakamkan di Watu Ceper, Ambarawa.

Atas jasa dan pengorbanannya sebagai pejuang pembela bangsa, oleh negara namanya dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK Presiden RI No.109 Tahun 1964, Tanggal 2 Mei 1964 dan namanya pun diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat di Jakarta.

Sementara itu, Slamet Rijadi tak kurang heroik. Dalam buku itu dikisahkan sepak terjang Slamet Rijadi yang terkenal sangat berani. Sampai-sampai petinggi tentara Belanda geleng-geleng kepala.

Riwayat Slamet secara ringkas dapat dipelajari, tahun 1940, ia menyelesaikan pendidikan di HIS, ke Mulo Afd. B dan kemudian dilanjutkan ke Pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi. Setelah pasukan Jepang, mendarat di Indonesia melalui Merak, Indramayu dan dekat Rembang pada tanggal 1 Maret 1942 dengan kekuatan 100.000 orang, dan walaupun memperoleh perlawanan dari Hindia Belanda, tetapi dalam waktu singkat yaitu pada tanggal 5 dan 7 Maret 1942, kota Solo dan Yogjakarta jatuh ke tangan Jepang.

Slamet Rijadi merasa terpanggil membela ibu pertiwi, dan menjelang proklamasi 1945, ia mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang, usaha Kempeitai untuk menangkapnya tidak pernah berhasil, bahkan setelah Jepang bertekuk lutut. Slamet Rijadi berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari pemuda-pemuda terlatih eks Peta/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam kekuatan setingkat Batalyon, yang dipersiapkan untuk mempelopori perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang (Slamet Rijadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X).

Biografi Slamet Rijadi berisikan riwayat perjuangan, kisah-kisah pertempuran. Maklumlah, ia hidup dan berjuangbenar-benar di era agresi II. Riwayatnya pun pupus oleh berondongan senapan mesin Belanda. Ia gugur 4 November 1950 dalam pertempuran sengit di Ambon. Jazadnya dimakamkan bersama anak buahnya. Yang lebih tragis, ia gugur sebagai “pengantin baru”. (roso daras)

Iklan
Published in: on 27 September 2010 at 15:01  Comments (2)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/09/27/bertemu-cipto-mangunkusumo-dan-slamet-rijadi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. R.I.P to our true HEROES…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: