Bung Karno: Menjebol dan Membangun

Pagi ini… cuaca mendung… dan sesungguhnya ini bukan bahasan tentang cuaca. Ini adalah deskripsi suasana hati yang cerah yang membuncah di pagi yang mendung. Sebuah pembenar terhadap sebuah lirik lagu “Kidung”, bahwa “tak selamanya, mendung itu kelabu”. Suasana cerah juga tidak selalu identik dengan siraman sinar matahari yang berkobar-kobar…. Hati cerah, bisa juga karena mendapat pencerahan dari Bung Karno.

Seperti sebuah kalimat pencerah yang saya temukan pagi ini. Mengutip Bung Karno, “Irama suatu revolusi adalah menjebol dan membangun”. Bisa jadi, kalimat itu tidak bermakna dan terkesan biasa-biasa saja. Akan tetapi, kalimat itu sejatinya bisa membakar setiap jiwa revolusioner yang ada pada diri manusia.

Bung Karno, tak diragukan lagi, adalah manusia pilihan Tuhan yang ditakdirkan lahir di Indonesia untuk menjebol praktik penjajahan 3,5 abad, serta membangunnya menjadi sebuah bangsa bermartabat. Sukarno sebagai manusia gemini terlahir dengan “kepribadian ganda”, bisa lunak selembut kapas, dan bisa keras sekeras baja.

Sering ia berkata, “Sangat mudah mendekati seorang Sukarno. Sebab saya seperti anak kecil. Beri saja sebuah pisang dengan simpati tulus ikhlas, maka aku akan mencintaimu selama-lamanya. Sebaliknya, berilah aku seribu dolar dan di saat itu pula engkau tampar mukaku di hadapan umum, maka, sekalipun ini nyawa tantangannya, aku akan berkata kepadamu, ‘Persetan!'”

Sukarno dikenal memiliki insting yang sangat tajam. Karena itu pula banyak orang menganggapnya memiliki kekuatan paranormal. Dan yang pasti, Bung Karno bisa merasakan aliran perasaan seseorang ketika pertama kali bertemu. Ia bisa merasakan getar respek, hormat, dan simpati yang tulus dari seseorang hanya dari bertatapan mata atau berjabat tangan. Sebaliknya, ia pun bisa merasakan aroma kebencian dan permusuhan dengan instingnya.

Lagi-lagi, ini membenarkan ucapan Ki Utomo Darmadi, adik kandung pahlawan PETA, Suprijadi, bahwa Bung Karno tahu benar satu per satu orang yang ada di sekitarnya. Ia tahu siapa-siapa menteri yang loyal, dan pejabat mana yang diam-diam memusuhinya. Demikian pula, ia tahu persis ketulusan hati JF Kennedy dan sikap kurang bersahabat Dwight Eisenhower.

Lebih dari itu, ia adalah seorang pencinta, maha perasa, dan… terlalu kental darah seninya. Bung Karno tidak memungkiri hal itu. Ia bahkan bangga dan mengucap, dengan semua kepribadiannya itu pula ia bisa menyatukan seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke. Dengan kepribadiannya itu pula ia bisa melaksanakan peran penjebol rezim kolonial dan mendirikan sebuah negara bermartabat.

Untuk menjebol penjajahan yang telah mengakar, dibutuhkan semangat patriotisme dan jiwa revolusioner yang sungguh besar. Bukan hanya bertaruh nyawa, tetapi memiliki mental setebal baja menghadapi setiap bentuk intimidasi, penjara, dan pembuangan. Tidak miris ditodong senjata, tidak gentar ditampar dan dihajar, tidak takut mendekam di balik jeruji besi, dan “menikmati” hukuman pembuangan di daerah antah-berantah.

Sebaliknya, membangun peradaban, dibutuhkan kemampuan dan jiwa arsitek. Ini mengingatkan kita pada kadar intelektualitas Bung Karno sebagai “tukang insinyur” lulusan THS (sekarang ITB).  Ia seorang arsitek. Dan di dalam jiwa seorang arsitek mengalir unsur-unsur perasaan dan jiwa seni. (roso daras)

Published in: on 23 September 2010 at 05:49  Comments (4)  
Tags: , ,