Kebangkitan Neo Sukarnois

“Saya sadar, bahwa saya akan tenggelam. Namun biarkan, saya rela tenggelam, agar rakyat Indonesia, dengan demikian tetap bersatu, tidak terpecah belah” (Bung Karno).

Di saat-saat akhir kepemimpinannya, nuansa kudeta begitu kental. Jenderal Soeharto menyalahgunakan Surat Perintah 11 Maret 1966. Jenderal Soeharto “mbalelo” ketika dipanggil menghadap Bung Karno. Alih-alih menjunjung tinggi amanat Bung Karno, Soeharto justru mengkonsolidasi pergerakan mahasiswa menentang Bung Karno. Bangsa pun terancam pecah.

Kekuatan angkatan bersenjata pun terbelah. Sebagian berada di bawah kendali Soeharto, sebagian lain berdiri di belakang Bung Karno. Mereka yang di belakang Sukarno, bahkan menanti titah Bung Karno untuk bergerak dan menumpas usaha kudeta merayap yang dilakukan Soeharto, dengan dukungan CIA. Berbagai spekulasi menyebutkan, kalau saja Bung Karno memerintahkan pasukan yang loyal, tentu saja dengan mudah bisa menumpas pergerakan Soeharto. Tetapi itu artinya terjadi pertumpahan darah, perang saudara.

Bung Karno memilih mundur. Memilih tenggelam, demi tetap bersatunya rakyat.

Sejak Bung Karno memilih tenggelam, muncullah Orde Baru yang segera melakukan gerakan desukarnoisasi. Semua yang berbau Sukarno diberangus. Semua Sukarnois ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan.

Kondisi itu mengakibatkan tidak sedikit generasi muda yang tidak mengenal Sukarno dari persepsi yang benar. Atau bahkan, tidak sedikit yang tahu nama Sukarno tak lebih dari proklamator.

Betapa membuncah perasaan ini, manakala menjumpai anak-anak muda generasi penerus, bangkit dan menyelami Sukarnoisme. Banyak generasi muda yang mulai menggugat sejarah bangsanya. Banyak anak muda yang kemudian mencari dan menggali ajaran-ajaran Bung Karno. Merekalah yang saya sebut sebagai Neo-Sukarnois.

Tiba pada suatu ketika, seorang mahasiswa berkirim email, meminta kesediaan saya untuk membantu tugas terakhirnya. Salah satunya adalah yang kemudian mewujud menjadi karya di bawah ini, di bawah judul “Teriakan Orasi Bung Karno dalam Ilustrasi”. Ada sekitar 53 ilustrasi yang dibuat sebagai bagian dari tugas akhir kuliahnya. Silakan nikmati dulu sebagian karyanya.

Bukan hanya itu. Sekitar tiga minggu lalu, lagi, seorang mahasiswa DKV (Disain Komunikasi Visual) salah satu perguruan tinggi swasta ternama menghubungi saya. Maksud dan tujuannya mirip dengan yang pertama. Hanya bedanya kali ini ia meminta saya menjadi narasumber untuk tugas akhirnya (tetang Bung Karno).

Pada hari dan jam yang disepakati, tiga orang neo-Sukarnois pun datang. Memasang kamera video, menyiapkan pertanyaan dan wawancara pun bergulir dengan aba-aba, “Menjawabnya memandang ke saya pak, jangan memandang kamera….” Bla-bla-bla… delapan pertanyaan seputar Bung Karno dari kelahiran, masa remaja, era perjuangan, hingga lengsernya pun diajukan dalam format wawancara.

Sungguh bukan itu point-nya. Inti dari semuanya adalah munculnya suatu sinar di ufuknya Bung Karno. Sebuah kebangkitan Neo Sukarnois. (roso daras)

Published in: on 7 September 2010 at 13:53  Comments (18)  
Tags: ,