Mengutip Bung Karno di Dinihari

Jarum jam menunjuk pukul 01.30…. TVRI menayangkan siaran langsung shalat tarawih di Masjidil Haram, Mekah. Suasana hati hanyut dalam lantunan kalam Illahi yang begitu indah. Seperti biasa, saya sering iseng melayangkan tangan ke arah deretan buku-buku di bawah label “DOK BUNG KARNO”. Maksudnya jelas, saya akan menulis apa saja dari sumber buku yang saya ambil melalui tangan buta.

Syahdan… tercabutlah satu buku berjudul “Mutiara Kata Bung Karno untuk Rakyat Indonesia” susunan Wawan Tunggul Alam, SH. Sekali lagi dengan iseng saya buka secara acak dengan jemari buta ini. Tersibaklah pagina 24, di bawah judul “Doa”, lalu ke halaman-halaman selanjutnya. Ah… kok pas benar dengan suasana dinihari ini. Saya baca beberapa halaman, dan baiklah, saya kutipkan beberapa di bawah ini.

Kutipan 1:

“Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepadaNya ialah, supaya hidupku itu hidup yang manfaat. Manfaat bagi tanah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab, Dialah Asal segala Asal. Dialah ‘Purwaning Dumadi‘.” (6 Juli 1957).

Kutipan 2:

“Semangat ajaran Nabi Muhammad, mengobarkan pelaksanaan tiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia. Semangat ajarannya. Ya, itu memang benar! Semangat ajaran itu yang membawa kita kepada perjuangan. Semangat ajarannya itu yang membawa kita rela berkorban untuk mencapai maksud kita. Semangat ajaran itu yang membawa kita kepada Revolusi Indonesia. Semangat ajaran itulah yang membuat bangsa Indonesia menjadi seperti sekarang ini.” (6 Agustus 1963).

Kutipan 3:

“Vivekananda, orang yang beragama Hindu mengatakan, bahwa Muhammad SAW mempunyai jiwa bledek, thunderbolt, artinya bledek, petir. Jadi di dalam jiwa Muhammad itu menurut perkataan Vivekananda bersemayamlah jiwa seperti bledek. Nah, orang-orang yang demikian ini kita agungkan. Kalau kita benar-benar mengagungkan beliau, kita harus meniru kepada beliau. Maka oleh karena itu harapanku ialah agar supaya bangsa Indonesia berjiwa bledek.” (6 Agustus 1963)

Kutipan 4:

“Siang dan malam kegandrungan saya hanya ingin mengabdi kepada Tuhan, mengabdi kepada tanah air dan bangsa, menyumbang kepada Revolusi, menyumbang kepada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat.” (1960).

Kutipan 5:

“Di dalam cita-cita politikku aku ini nasionalis, di dalam cita-cita sosialku aku ini sosialis, di dalam cita-cita sukmaku aku ini sama sekali theis: Sama sekali percaya kepada Tuhan, sama sekali ingin mengabdi kepada Tuhan.” (1947).

Lima kutipan itu dulu sebagai bahan renungan kita bersama. Semoga bisa menyiram relung-relung hati kita yang kering. (roso daras)

Published in: on 5 September 2010 at 18:52  Comments (9)  
Tags: , ,

Bung Karno dan Al Hijr

Malam-malam ini, saya dan mungkin juga Anda umat Islam di seluruh dunia, tengah gigih menggapai Lailatul Qadar. Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Alquran digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Gambaran tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Alquran.

Dengan nawaitu ngalap berkah…. ngalap pahala… posting ini tentu saja dimaksudkan dalam rangka menyongsong malam seribu bulan itu. Siapa tahu, fa Insya Allah, bermanfaat bagi saya, berguna juga bagi Anda. Bagi saudaraku non muslim, setidaknya bisa menjadi sekadar wacana.

Foto di atas adalah tema postingan ini. Ada banyak foto yang menggambarkan Bung Karno memegang kutipan ayat-ayat suci Alquran versi raksasa. Satu-satunya keterangan foto yang saya dapat hanya begini bunyinya “Presiden Sukarno dan Ibu Negara Fatmawati Sukarno pada upacara di Istana Negara awal tahun 1950-an”. Tidak lebih.

Saya dan mungkin juga Anda, tentu ada yang penasaran, kutipan surat Alquran apakah yang dipegang Bung Karno? Atas dorongan rasa penasaran itulah kemudian saya melakukan upaya mencari tahu, salah satunya dengan kaca pembesar. Maklumlah, foto hitam putih produksi tahun 50-an itu, tentu saja sangat sulit untuk dibaca secara kasat mata, terlebih bagi saya yang tidak mahir-mahir amat membaca huruf Arab.

Dengan upaya tadi, diketahuilah bahwa ayat-ayat suci tadi adalah Surat Al-Hijr.

Surah Al-Hijr (bahasa Arab:الحجر, al-Hijr, “Al-Hijr”) adalah surah ke-15 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 99 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Al-Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami oleh kaum Tsamud pada zaman dahulu yang terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Syria).

Nama surah ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud telah dimusnahkan Allah, karena mendustakan Nabi Saleh dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surah ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth dan kaum Syu’aib. Surah ini juga mengandung pesan bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.

Pokok-pokok isi

  1. Keimanan: Kepastian nasib suatu bangsa hanya di tangan Allah; Allah menjamin kemurnian Alquran sepanjang masa; alam malakut (langit) senantiasa dijaga dari syaitan; kadar rezeki yang diberikan kepada manusia sesuai dengan hikmah kebijaksanaan Allah; Allah memelihara hambaNya yang telah mendapat taufiq dari godaan setan; Allah di samping bersifat pengampun dan penyayang juga mengazab orang-orang yang ingkar; manusia dihimpun pada hari kiamat.
  2. Hukum-hukum: Larangan terhadap homoseksual; kewajiban melakukan ibadah selama hidup; larangan menginginkan harta orang kafir; perintah kepada Nabi Muhammad SAW agar melakukan dakwah agama secara terang-terangan; larangan berputus asa terhadap rahmat Allah.
  3. Kisah-kisah: Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya; Nabi Luth a.s. dengan kaumnya; kaum Syu’aib dan kaum Shaleh a.s. (Tsamud).
  4. Dan lain-lain: Kejadian-kejadian dalam alam ini menunjukkan kebesaran Allah; kejadian alam dan isinya mengandung hikmah; angin mengawinkan tepung sari bunga-bungaan; asal kejadian Adam a.s.

Sedangkan yang terpampang dalam foto di atas adalah kutipan surah Al-Hijr dari ayat 1 sampai ayat ke-15. Pada masa tahun 50-an, Bung Karno tengah berada pada puncak usahanya mempersatukan bangsa Indonesia yang bersuku-suku, dan beragam pula agamanya. Melalui upaya-upaya itulah Bung Karno menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Dan sesungguhnya, Bung Karno seorang nasionalis-religius, atau bahkan seorang intelektual muslim nasionalis besar.

Itulah kesimpulan yang bisa kita tarik setelah membaca buku “Bung Karno, Islam, Pancasila, NKRI” terbitan Komunitas Nasionalis Religius Indonesia (2006). Buku itu berisi surat-surat Islam Bung Karno kepada A. Hasan, artikel-artikel keislaman di berbagai media dan buku, serta pidato-pidatonya dalam berbagai acara keagamaan. (roso daras)

Published in: on 5 September 2010 at 05:56  Comments (8)  
Tags: ,