Lelaki Berjubah Putih di Tepian Telaga Biru

Sejak masih sekolah di HBS Surabaya, dalam usia belasan tahun, Bung Karno sudah gemar menulis. Menulis apa saja… mulai dari artikel politik sampai surat cinta. Mulai dari renungan konsep kebangsaan sampai puisi. Menulis adalah ekspresi jiwa sang Proklamator. Kebiasaan menulis, menulis apa saja, terus berlanjut hingga fisiknya tak lagi memungkinkan.

Dengan tulisan tangannya, ia bisa membikin merah padam wajah durjana Belanda. Dengan tulisan tangannya, seorang gadis bisa tergila-gila dibuatnya. Baiklah, tapi bukan itu perkaranya. Kita wajib menelisik lebih dalam, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, sehingga kita bisa memaklumi, sebegitu dahsyatkah tulisan Bung Karno?

Beruntung, sejarah memberinya jalan lurus lagi lapang, bagi munculnya karya-karya Sukarno, khususnya berupa tulisan yang tercecer melalui banyak bentuk publikasi. Suatu kondisi yang patut disyukuri, mengingat lebih tiga dekade semua hal tentang Sukarno diberangus, ditabukan, bahkan dilarang. Itulah masa-masa desukarnoisasi yang dilakukan pemerintahan Soeharto.

Sekian banyak tulisan tangan Sukarno, berikut satu surat yang ia tulis 31 Agustus 1963, ditujukan kepada Hariyatie, salah satu istri yang dinikahinya 21 Mei 1963. Waktu itu, Hariyatie masih tinggal di rumah Jl Madiun, Menteng – Jakarta Pusat. Itu artinya, surat itu ditulis dalam suasana “bulan madu”, alias “penganten anyar”. Wajarlah kalau Bung Karno selalu terkenang-kenang kepada sosok wanita penari berparas ayu itu.

Surat itu terdiri atas dua lembar. Pada sisi kertas ditulis miring, Bung Karno menulis “Bali saka hotel, ora bisa turu, njur nulis layang iki” (Pulang dari hotel, tidak bisa tidur, lantas menulis surat ini). Memang, surat kepada Harijatie banyak dituang dalam bahasa Jawa. Berikut kutipan surat tersebut:

Yatie adikku wong ayu,

Iki lho arloji sing berkarat kae. Kulinakna nganggo, mengko sawise sesasi rak weruh endi sing kok pilih: sing ireng, apa sing dek mau kae, apa karo-karone? Dus: mengko sesasi engkas matura aku (Dadi: senajan karo-karone kok senengi, aku ya seneng wae).

Masa ora aku seneng! Lha wong sing mundut wanodya pelenging atiku kok! Aja maneh sekadar arloji, lha mbok apa-apa wae ya bakal tak wenehke.

Tie, layang-layangku ki simpenen ya! Karben dadi gambaran cintaku marang kowe kang bisa diwaca-waca maneh (kita baca bersama-sama) ing tembe jen aku wus arep pindah-omah sacedake telaga biru sing tak ceritake dek anu kae. Kae lho, telaga biru ing nduwur, sak nduwure angkasa. Coba tutupen mripatmu saiki, telaga kuwi rak katon ing tjipta! Yen ing pinggir telaga mau katon ana wong lanang ngagem jubah putih (dudu mori lho, nanging kain kang sinulam soroting surya), ya kuwi aku, — aku, ngenteni kowe. Sebab saka pangiraku, aku sing bakal ndisiki tindak menyang kono, — aku, ndisiki kowe!

Lha kae, kembang semboja ing saknduwure pasareanku kae, — petiken kembang iku, ambunen, gandane rak gandaku. Dudu ganda kembang, nanging sawijining ganda kang ginawe saka rasa-cintaku. Sebab, oyote kemboja mau mlebu ing dadaku ing kuburan.

Masmu

(tanda tangan Soekarno)

Jika Anda mengerti bahasa Jawa, tentu memahami isi surat Bung Karno. Pada bagian akhir begitu dalam maknanya, dan –maaf– saya saja merinding membacanya… antara membayangkan alam kubur dan suasana hati Bung Karno saat menuliskan kalimat itu. Baiklah… berikut terjemahan (bebas)-nya….

Yatie, adikku yang ayu,

Ini lho, arloji bertahta emas itu. Biasakan memakai, nanti setelah sebulan kamu akan tahu mana yang hendak dipilih, yang hitam atau yang satunya, atau keduanya? Jadi, nanti sebulan lagi, bilanglah (walaupun suka keduanya, aku senang juga).

Masakan aku tidak senang, lha yang meminta saja wanita jantung hatiku! Jangankan sekadar arloji, minta apa pun akan aku beri.

Tie, surat-suratku ini tolong disimpan ya! Supaya menjadi gambaran cintaku kepadamu, yang bisa dibaca-baca lagi (kita baca bersama-sama) pada suatu saat nanti, kala aku mau pindah-rumah di dekat telaga biru yang saya ceritakan ketika itu. Itu lho, telaga di atas, di atasnya angkasa. Coba kau pejamkan matamu sekarang, maka kau akan bisa membayangkan telaga itu! Kalau di tepian telaga tadi tampak lelaki berjubah putih (bukan kain kafan lho… tetapi kain yang bersulamkan pancaran sinar matahari), ya itu aku, –aku, menunggumu. Sebab dari perkiraanku, aku yang bakal mendahului pergi ke sana, aku mendahuluimu!

Lha itu, kembang kamboja di atas nisanku, petiklah kembang itu, ciumilah, maka kamu akan rasakan aroma tubuhku. Bukan aroma bunga, tetapi sebuah aroma yang tercipta dari rasa-cintaku. Sebab, akar kamboja itu menusuk menembus dadaku, di dalam kuburan sana.

Masmu

(tanda tangan Soekarno).

Demi dan atas nama surat itu, Hariyatie pun rajin berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Sayang, di atas pusara Bung Karno, tak tertanam pohon kamboja. Meski begitu, Hariyatie tentu bisa merasakan, aroma Bung Karno di sekitar pusara. Sebab, jazad Bung Karno begitu dicintai oleh tanah yang memeluknya dengan hangat. (roso daras)

Published in: on 29 September 2010 at 03:11  Comments (5)  
Tags: , ,

“Bertemu” Cipto Mangunkusumo dan Slamet Rijadi

Hunting buku lawas… jika Anda terbiasa melakukannya, tentu sepakat, sangat mengasyikkan. Di sana kita bisa “berjumpa” tokoh-tokoh sejarah masa lalu. Sekali lagi, itu sungguh menyenangkan. Belajar sejarah, selalu saja membuat kita “kaya”. Alhasil, begitu gembira ketika dalam hunting baru-baru ini, “bertemu” dua tokoh besar: Dr Cipto Mangunkusumo dan Ignatius Slamet Rijadi.

Buku tentang sejarah Dr Cipto, ditulis Drs Soegeng Reksodihardjo. Sedangkan buku sejarah Slamet Rijadi, adalah buku resmi terbitan Departemen P dan K. Keduanya adalah pahlawan besar, dengan story yang sama-sama heroik.

Dokter Cipto Mangunkusumo adalah seorang dokter profesional yang lebih dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan nasional. Dia merupakan salah seorang pendiri Indische Partij, organisasi partai partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka dan turut aktif di Komite Bumiputera.

Di samping itu, selain aktif di Komite Bumiputera, ia juga banyak melakukan perjuangan melalui tulisan-tulisan yang nadanya selalu mengkritik pemerintahan Belanda di Indonesia. Beberapa perkumpulan yang ditujukan untuk membangkitkan nasionalisme rakyat juga pernah didirikan dan dibinanya. Kegiatannya yang selalu berseberangan dengan Belanda tersebut membuat dirinya sering dibuang dan ditahan ke berbagai pelosok negeri bahkan ke negeri Belanda sendiri.

Ketika aktif menulis di De Express tersebut, sebenarnya dia sudah bekerja sebagai dokter pemerintah, dalam hal ini pemerintahan Belanda. Pekerjaan itu dia dapatkan setelah memperoleh ijazah STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta. Saat itu dia ditugaskan di Demak. Dan dari sanalah dia menulis karangan-karangan yang nafasnya mengkritik penjajahan Belanda di Indonesia. Akibat tulisan tersebut, dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah.

Tidak bekerja sebagai dokter pemerintah yang diupah oleh pemerintahan Belanda, membuat dr. Cipto semakin intens melakukan perjuangan. Pada tahun 1912, dia bersama Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) mendirikan Indische Partij, sebuah partai politik yang merupakan partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.

Saat bermukim di Bandung, Dr Cipto aktif menggelar diskusi serta melakukan gerakan bawah tanah. Di kediaman Cipto ini pula Bung Karno acap hadir dan terlibat diskusi serta perdebatan hebat seputar menuju Indonesia merdeka. Seperti halnya Bung Karno, atas “kebandelannya” ia pun mengalami pembuangan. Jika Bung Karno dibuang ke Ende, maka Cipto dibuang ke Banda Neira tahun 1927.

Di Banda Neira, dr. Cipto mendekam/terbuang sebagai tahanan selama tiga belas tahun. Dari Banda Naire dia dipindahkan ke Ujungpandang. Dan tidak lama kemudian dipindahkan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat. Namun karena penyakit asmanya semakin parah, sementara udara Sukabumi tidak cocok untuk penderita penyakit tersebut, dia dipindahkan lagi ke Jakarta. Jakarta merupakan kota terakhirnya hingga akhir hidupnya. Dr. Cipto Mangunkusumo meninggal di Jakarta, 8 Maret 1943, dan dimakamkan di Watu Ceper, Ambarawa.

Atas jasa dan pengorbanannya sebagai pejuang pembela bangsa, oleh negara namanya dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK Presiden RI No.109 Tahun 1964, Tanggal 2 Mei 1964 dan namanya pun diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat di Jakarta.

Sementara itu, Slamet Rijadi tak kurang heroik. Dalam buku itu dikisahkan sepak terjang Slamet Rijadi yang terkenal sangat berani. Sampai-sampai petinggi tentara Belanda geleng-geleng kepala.

Riwayat Slamet secara ringkas dapat dipelajari, tahun 1940, ia menyelesaikan pendidikan di HIS, ke Mulo Afd. B dan kemudian dilanjutkan ke Pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi. Setelah pasukan Jepang, mendarat di Indonesia melalui Merak, Indramayu dan dekat Rembang pada tanggal 1 Maret 1942 dengan kekuatan 100.000 orang, dan walaupun memperoleh perlawanan dari Hindia Belanda, tetapi dalam waktu singkat yaitu pada tanggal 5 dan 7 Maret 1942, kota Solo dan Yogjakarta jatuh ke tangan Jepang.

Slamet Rijadi merasa terpanggil membela ibu pertiwi, dan menjelang proklamasi 1945, ia mengobarkan pemberontakan dan melarikan sebuah kapal kayu milik Jepang, usaha Kempeitai untuk menangkapnya tidak pernah berhasil, bahkan setelah Jepang bertekuk lutut. Slamet Rijadi berhasil menggalang para pemuda, menghimpun kekuatan pejuang dari pemuda-pemuda terlatih eks Peta/Heiho/Kaigun dan merekrutnya dalam kekuatan setingkat Batalyon, yang dipersiapkan untuk mempelopori perebutan kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang (Slamet Rijadi diangkat sebagai Komandan Batalyon Resimen I Divisi X).

Biografi Slamet Rijadi berisikan riwayat perjuangan, kisah-kisah pertempuran. Maklumlah, ia hidup dan berjuangbenar-benar di era agresi II. Riwayatnya pun pupus oleh berondongan senapan mesin Belanda. Ia gugur 4 November 1950 dalam pertempuran sengit di Ambon. Jazadnya dimakamkan bersama anak buahnya. Yang lebih tragis, ia gugur sebagai “pengantin baru”. (roso daras)

Published in: on 27 September 2010 at 15:01  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Bung Karno, Perpaduan Roosevelt dan Clark Gable

Suatu pagi di tahun 60-an… sebuah mobil kedutaan meluncur menuju kota hujan Bogor. Di dalamnya, berisi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Howard Jones dan istrinya, Marylou. Howard Jones adalah satu di antara sedikit orang Amerika Serikat pada zamannya, yang mengerti dan memahami Sukarno. Kebetulan pula, ia adalah Ketua Koprs Diplomatik di Indonesia.

Hubungannya dengan Bung Karno cukup dekat. Kunjungan Howard dan istrinya ke Bogor, disusul acara makan-makan bersama di paviliun kecil samping Istana, adalah salah satu bukti kedekatan mereka. Bung Karno mengatakan, antara dirinya dan Howard, sering terlibat perdebatan-perdebatan sengit dan pahit. Meski begitu, di antara keduanya justru tumbuh benih persahabatan, sehingga Bung Karno menyebut Howard sebagai “kawan tercinta”.

Howard sendiri menilai pribadi Bung Karno dengan ungkapan, “Suatu perpaduan antara Franklin Delano Roosevelt dan Clark Gable.” Tentu itu suatu komplimen luar biasa. Roosevelt adalah salah satu presiden paling berpengaruh di Amerika Serikat. Sedangkan Clark Gable adalah aktor tampan Hollywood yang juga digilai para wanita. Tentu saja Bung Karno sangat senang dengan persandingan itu.

Selagi di meja makan, Bung Karno berdampingan dengan Marylou, dan Howard Jones didampingi Hartini, meluncurlah ide Howard, “Tuan Presiden, saya kira sudah waktunya untuk melihat kembali jalan-jalan sejarah. Menurut pendapat saya sudah tepat waktunya bagi Tuan untuk menuliskan sejarah hidup.”

Bagi Bung Karno, sejatinya ide itu bukan yang pertama ia dengar. Dan seperti ketika ia mendengar ide serupa sebelum-sebelumnya, maka ia pun tidak punya jawaban lain, kecuali, “Tidak. Insya Allah, jika Tuhan mengizinkan saatnya masih 10 atau 20 tahun lagi.” Meski begitu, intinya adalah, Bung Karno merasa, tidak ada yang bisa menceritakan diri pribadinya, karena itulah ia selalu menolak. Sebab, menurut Bung Karno, baik-buruk catatan sejarah manusia hanya dapat dipertimbangkan setelah yang bersangkutan mati.

Howard tidak menyerah. Ia menyebut, pengecualian bagi Bung Karno. Seorang presiden yang ketika itu sudah berkuasa selama 20 tahun, dan paling banyak diperdebatkan dan dikritik di zamannya. Terlalu banyak rahasia tersimpan pada diri Sukarno, sehingga dunia perlu mengetahui sosok Bung Karno.

Sosok sebagai presiden, kepala negara, dan orator ulung… sekaligus pecinta sejati. Pemimpin yang kharismatik, sekaligus flamboyan. Sampai tahap ini, Bung Karno masih belum bersedia. Tetapi, kisah ini memang belum berakhir di sini. Howard Jones terus dan terus meyakinkan Bung Karno dalam satu format dialog yang begitu akrab namun berkelas. (roso daras)

Published in: on 24 September 2010 at 06:37  Comments (2)  
Tags: , , ,

Bung Karno: Menjebol dan Membangun

Pagi ini… cuaca mendung… dan sesungguhnya ini bukan bahasan tentang cuaca. Ini adalah deskripsi suasana hati yang cerah yang membuncah di pagi yang mendung. Sebuah pembenar terhadap sebuah lirik lagu “Kidung”, bahwa “tak selamanya, mendung itu kelabu”. Suasana cerah juga tidak selalu identik dengan siraman sinar matahari yang berkobar-kobar…. Hati cerah, bisa juga karena mendapat pencerahan dari Bung Karno.

Seperti sebuah kalimat pencerah yang saya temukan pagi ini. Mengutip Bung Karno, “Irama suatu revolusi adalah menjebol dan membangun”. Bisa jadi, kalimat itu tidak bermakna dan terkesan biasa-biasa saja. Akan tetapi, kalimat itu sejatinya bisa membakar setiap jiwa revolusioner yang ada pada diri manusia.

Bung Karno, tak diragukan lagi, adalah manusia pilihan Tuhan yang ditakdirkan lahir di Indonesia untuk menjebol praktik penjajahan 3,5 abad, serta membangunnya menjadi sebuah bangsa bermartabat. Sukarno sebagai manusia gemini terlahir dengan “kepribadian ganda”, bisa lunak selembut kapas, dan bisa keras sekeras baja.

Sering ia berkata, “Sangat mudah mendekati seorang Sukarno. Sebab saya seperti anak kecil. Beri saja sebuah pisang dengan simpati tulus ikhlas, maka aku akan mencintaimu selama-lamanya. Sebaliknya, berilah aku seribu dolar dan di saat itu pula engkau tampar mukaku di hadapan umum, maka, sekalipun ini nyawa tantangannya, aku akan berkata kepadamu, ‘Persetan!'”

Sukarno dikenal memiliki insting yang sangat tajam. Karena itu pula banyak orang menganggapnya memiliki kekuatan paranormal. Dan yang pasti, Bung Karno bisa merasakan aliran perasaan seseorang ketika pertama kali bertemu. Ia bisa merasakan getar respek, hormat, dan simpati yang tulus dari seseorang hanya dari bertatapan mata atau berjabat tangan. Sebaliknya, ia pun bisa merasakan aroma kebencian dan permusuhan dengan instingnya.

Lagi-lagi, ini membenarkan ucapan Ki Utomo Darmadi, adik kandung pahlawan PETA, Suprijadi, bahwa Bung Karno tahu benar satu per satu orang yang ada di sekitarnya. Ia tahu siapa-siapa menteri yang loyal, dan pejabat mana yang diam-diam memusuhinya. Demikian pula, ia tahu persis ketulusan hati JF Kennedy dan sikap kurang bersahabat Dwight Eisenhower.

Lebih dari itu, ia adalah seorang pencinta, maha perasa, dan… terlalu kental darah seninya. Bung Karno tidak memungkiri hal itu. Ia bahkan bangga dan mengucap, dengan semua kepribadiannya itu pula ia bisa menyatukan seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke. Dengan kepribadiannya itu pula ia bisa melaksanakan peran penjebol rezim kolonial dan mendirikan sebuah negara bermartabat.

Untuk menjebol penjajahan yang telah mengakar, dibutuhkan semangat patriotisme dan jiwa revolusioner yang sungguh besar. Bukan hanya bertaruh nyawa, tetapi memiliki mental setebal baja menghadapi setiap bentuk intimidasi, penjara, dan pembuangan. Tidak miris ditodong senjata, tidak gentar ditampar dan dihajar, tidak takut mendekam di balik jeruji besi, dan “menikmati” hukuman pembuangan di daerah antah-berantah.

Sebaliknya, membangun peradaban, dibutuhkan kemampuan dan jiwa arsitek. Ini mengingatkan kita pada kadar intelektualitas Bung Karno sebagai “tukang insinyur” lulusan THS (sekarang ITB).  Ia seorang arsitek. Dan di dalam jiwa seorang arsitek mengalir unsur-unsur perasaan dan jiwa seni. (roso daras)

Published in: on 23 September 2010 at 05:49  Comments (4)  
Tags: , ,

Bung Karno “Hobi” Berteriak

Berulang-kali dokter pribadinya memberi nasihat kepada Bung Karno. Ini terkait dengan sakit ginjalnya, yakin makin para di akhir tahun 60-an. “Kalau Bapak bisa tenang sedikit, dan tidak berteriak-teriak, niscaya Bapak tidak akan mendapat ulcers.” Yang dimaksud dokter adalah peradangan pada lambung akibat sakit ginjalnya itu. Baru saja dokter berhenti memberikan nasihatnya, Bung Karno meradang dan berteriak, “Bagaimana aku bisa tenang kalau setiap lima menit menerima kabar buruk?”

Berteriak adalah “hobi” Sukarno.  Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung. Bahkan paling unggul pada zamannya. Sebaliknya, jika ia berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini.

“Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!”, atau “Go to hell with your aid” yang ditujukan kepada Amerika.

“Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu”, yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.

Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan. Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia. Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.

Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Sovyet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Sovyet.

Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan. Selain itu, pasca perang dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.

Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.

Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, “Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme.”

Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia. Di mata Bung Karno, “Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.”

Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.

Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya kelua dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966. Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.

Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.

Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB. Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan ’66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno. Wallahu a’lam. (roso daras)

Published in: on 19 September 2010 at 03:41  Comments (11)  
Tags: , , , ,

Kesaksian Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa

Beberapa waktu lalu saya menemukan buku H. Maulwi Saelan, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Buku ini, sepertinya, pernah saya baca sekitar tahun 2001. Benar. Ini memang buku yang sama untuk cetakan yang ketiga. Buku ini menarik, karena memuat kesaksian saksi mata, orang dekat, orang ring satu-nya Bung Karno: H. Maulwi Saelan.

Sebagai Wakil Komandan Tjakrabirawa, sebuah resimen yang bertugas mengamankan presiden, Maulwi Saelan tahu banyak jalannya sejarah yang terjadi sejak tahun 1962 hingga lengsernya Bung Karno. Ia sendiri termasuk tentara yang dipanggil khusus ke Jakarta dari Makassar untuk mengonsep dan mempersiapkan pembentukan Resiman Tjakrabirawa tersebut. Jabatan pertamanya adalah Kepala Staf dengan pengkat Kolonel CPM.

Dalam buku tersebut, Maulwi membeberkan secara gamblang ihwal tragedi Gerakan 30 September 1965 atau yang Bung Karno selalu istilahkan sebagai Gerakan 1 Oktober (Gestok). Maulwi dengan sangat pasti menyebut bahwa gerakan itu merupakan kudeta yang dilakukan Soeharto kepada Sukarno. Tentu saja, ini murni pandangan Maulwi Saelan, dengan dukungan kesaksian sebagai saksi hidup.

Selain topik hangat tersebut, buku ini juga mengulas riwayat karier Maulwi yang juga pernah tercatat sebagai kiper PSSI. Karenanya, ia dikomentari oleh Dr Asvi Marwan Adam dalam kata pengantarnya, dengan istilah Penjaga Gawang hingga Penjaga Presiden.

Pada bagian lain, ia mengulas juga sejarah lahirnya Resimen Tjakrabirawa. Nah, yang ini nanti akan saya kupas khusus, guna memenuhi “request” tamu blog ini.

Sebenarnya masih banyak kandungan buku ini. Tapi jari-jemari ini sungguh berat buat disuruh menari di atas tuts laptop. Bisa jadi karena pengaruh “jetlag” mudik, kemarin dulu…. Karenanya, saya sudahi saja info tentang salah satu koleksi buku (referensi) saya tentang sosok Bung Karno ini.

Sebagai penutup, saya kutipkan kata-kata Bung Karno yang diucapkan khusus kepada Maulwi Saelan pasca tragedi Gestok. “Saelan, percayalah! Saya yakin nanti sejarah akan mengungkapkan kebenaran dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau Sukarno!”. (roso daras)

Published in: on 15 September 2010 at 12:03  Comments (19)  
Tags: , ,

Selamat Idul Fitri 1431 H

Published in: on 14 September 2010 at 09:48  Comments (2)  

Kebangkitan Neo Sukarnois

“Saya sadar, bahwa saya akan tenggelam. Namun biarkan, saya rela tenggelam, agar rakyat Indonesia, dengan demikian tetap bersatu, tidak terpecah belah” (Bung Karno).

Di saat-saat akhir kepemimpinannya, nuansa kudeta begitu kental. Jenderal Soeharto menyalahgunakan Surat Perintah 11 Maret 1966. Jenderal Soeharto “mbalelo” ketika dipanggil menghadap Bung Karno. Alih-alih menjunjung tinggi amanat Bung Karno, Soeharto justru mengkonsolidasi pergerakan mahasiswa menentang Bung Karno. Bangsa pun terancam pecah.

Kekuatan angkatan bersenjata pun terbelah. Sebagian berada di bawah kendali Soeharto, sebagian lain berdiri di belakang Bung Karno. Mereka yang di belakang Sukarno, bahkan menanti titah Bung Karno untuk bergerak dan menumpas usaha kudeta merayap yang dilakukan Soeharto, dengan dukungan CIA. Berbagai spekulasi menyebutkan, kalau saja Bung Karno memerintahkan pasukan yang loyal, tentu saja dengan mudah bisa menumpas pergerakan Soeharto. Tetapi itu artinya terjadi pertumpahan darah, perang saudara.

Bung Karno memilih mundur. Memilih tenggelam, demi tetap bersatunya rakyat.

Sejak Bung Karno memilih tenggelam, muncullah Orde Baru yang segera melakukan gerakan desukarnoisasi. Semua yang berbau Sukarno diberangus. Semua Sukarnois ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan.

Kondisi itu mengakibatkan tidak sedikit generasi muda yang tidak mengenal Sukarno dari persepsi yang benar. Atau bahkan, tidak sedikit yang tahu nama Sukarno tak lebih dari proklamator.

Betapa membuncah perasaan ini, manakala menjumpai anak-anak muda generasi penerus, bangkit dan menyelami Sukarnoisme. Banyak generasi muda yang mulai menggugat sejarah bangsanya. Banyak anak muda yang kemudian mencari dan menggali ajaran-ajaran Bung Karno. Merekalah yang saya sebut sebagai Neo-Sukarnois.

Tiba pada suatu ketika, seorang mahasiswa berkirim email, meminta kesediaan saya untuk membantu tugas terakhirnya. Salah satunya adalah yang kemudian mewujud menjadi karya di bawah ini, di bawah judul “Teriakan Orasi Bung Karno dalam Ilustrasi”. Ada sekitar 53 ilustrasi yang dibuat sebagai bagian dari tugas akhir kuliahnya. Silakan nikmati dulu sebagian karyanya.

Bukan hanya itu. Sekitar tiga minggu lalu, lagi, seorang mahasiswa DKV (Disain Komunikasi Visual) salah satu perguruan tinggi swasta ternama menghubungi saya. Maksud dan tujuannya mirip dengan yang pertama. Hanya bedanya kali ini ia meminta saya menjadi narasumber untuk tugas akhirnya (tetang Bung Karno).

Pada hari dan jam yang disepakati, tiga orang neo-Sukarnois pun datang. Memasang kamera video, menyiapkan pertanyaan dan wawancara pun bergulir dengan aba-aba, “Menjawabnya memandang ke saya pak, jangan memandang kamera….” Bla-bla-bla… delapan pertanyaan seputar Bung Karno dari kelahiran, masa remaja, era perjuangan, hingga lengsernya pun diajukan dalam format wawancara.

Sungguh bukan itu point-nya. Inti dari semuanya adalah munculnya suatu sinar di ufuknya Bung Karno. Sebuah kebangkitan Neo Sukarnois. (roso daras)

Published in: on 7 September 2010 at 13:53  Comments (18)  
Tags: ,

Mengutip Bung Karno di Dinihari

Jarum jam menunjuk pukul 01.30…. TVRI menayangkan siaran langsung shalat tarawih di Masjidil Haram, Mekah. Suasana hati hanyut dalam lantunan kalam Illahi yang begitu indah. Seperti biasa, saya sering iseng melayangkan tangan ke arah deretan buku-buku di bawah label “DOK BUNG KARNO”. Maksudnya jelas, saya akan menulis apa saja dari sumber buku yang saya ambil melalui tangan buta.

Syahdan… tercabutlah satu buku berjudul “Mutiara Kata Bung Karno untuk Rakyat Indonesia” susunan Wawan Tunggul Alam, SH. Sekali lagi dengan iseng saya buka secara acak dengan jemari buta ini. Tersibaklah pagina 24, di bawah judul “Doa”, lalu ke halaman-halaman selanjutnya. Ah… kok pas benar dengan suasana dinihari ini. Saya baca beberapa halaman, dan baiklah, saya kutipkan beberapa di bawah ini.

Kutipan 1:

“Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepadaNya ialah, supaya hidupku itu hidup yang manfaat. Manfaat bagi tanah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab, Dialah Asal segala Asal. Dialah ‘Purwaning Dumadi‘.” (6 Juli 1957).

Kutipan 2:

“Semangat ajaran Nabi Muhammad, mengobarkan pelaksanaan tiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia. Semangat ajarannya. Ya, itu memang benar! Semangat ajaran itu yang membawa kita kepada perjuangan. Semangat ajarannya itu yang membawa kita rela berkorban untuk mencapai maksud kita. Semangat ajaran itu yang membawa kita kepada Revolusi Indonesia. Semangat ajaran itulah yang membuat bangsa Indonesia menjadi seperti sekarang ini.” (6 Agustus 1963).

Kutipan 3:

“Vivekananda, orang yang beragama Hindu mengatakan, bahwa Muhammad SAW mempunyai jiwa bledek, thunderbolt, artinya bledek, petir. Jadi di dalam jiwa Muhammad itu menurut perkataan Vivekananda bersemayamlah jiwa seperti bledek. Nah, orang-orang yang demikian ini kita agungkan. Kalau kita benar-benar mengagungkan beliau, kita harus meniru kepada beliau. Maka oleh karena itu harapanku ialah agar supaya bangsa Indonesia berjiwa bledek.” (6 Agustus 1963)

Kutipan 4:

“Siang dan malam kegandrungan saya hanya ingin mengabdi kepada Tuhan, mengabdi kepada tanah air dan bangsa, menyumbang kepada Revolusi, menyumbang kepada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat.” (1960).

Kutipan 5:

“Di dalam cita-cita politikku aku ini nasionalis, di dalam cita-cita sosialku aku ini sosialis, di dalam cita-cita sukmaku aku ini sama sekali theis: Sama sekali percaya kepada Tuhan, sama sekali ingin mengabdi kepada Tuhan.” (1947).

Lima kutipan itu dulu sebagai bahan renungan kita bersama. Semoga bisa menyiram relung-relung hati kita yang kering. (roso daras)

Published in: on 5 September 2010 at 18:52  Comments (9)  
Tags: , ,

Bung Karno dan Al Hijr

Malam-malam ini, saya dan mungkin juga Anda umat Islam di seluruh dunia, tengah gigih menggapai Lailatul Qadar. Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Alquran digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Gambaran tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Alquran.

Dengan nawaitu ngalap berkah…. ngalap pahala… posting ini tentu saja dimaksudkan dalam rangka menyongsong malam seribu bulan itu. Siapa tahu, fa Insya Allah, bermanfaat bagi saya, berguna juga bagi Anda. Bagi saudaraku non muslim, setidaknya bisa menjadi sekadar wacana.

Foto di atas adalah tema postingan ini. Ada banyak foto yang menggambarkan Bung Karno memegang kutipan ayat-ayat suci Alquran versi raksasa. Satu-satunya keterangan foto yang saya dapat hanya begini bunyinya “Presiden Sukarno dan Ibu Negara Fatmawati Sukarno pada upacara di Istana Negara awal tahun 1950-an”. Tidak lebih.

Saya dan mungkin juga Anda, tentu ada yang penasaran, kutipan surat Alquran apakah yang dipegang Bung Karno? Atas dorongan rasa penasaran itulah kemudian saya melakukan upaya mencari tahu, salah satunya dengan kaca pembesar. Maklumlah, foto hitam putih produksi tahun 50-an itu, tentu saja sangat sulit untuk dibaca secara kasat mata, terlebih bagi saya yang tidak mahir-mahir amat membaca huruf Arab.

Dengan upaya tadi, diketahuilah bahwa ayat-ayat suci tadi adalah Surat Al-Hijr.

Surah Al-Hijr (bahasa Arab:الحجر, al-Hijr, “Al-Hijr”) adalah surah ke-15 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 99 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Al-Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami oleh kaum Tsamud pada zaman dahulu yang terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Syria).

Nama surah ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud telah dimusnahkan Allah, karena mendustakan Nabi Saleh dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surah ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth dan kaum Syu’aib. Surah ini juga mengandung pesan bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.

Pokok-pokok isi

  1. Keimanan: Kepastian nasib suatu bangsa hanya di tangan Allah; Allah menjamin kemurnian Alquran sepanjang masa; alam malakut (langit) senantiasa dijaga dari syaitan; kadar rezeki yang diberikan kepada manusia sesuai dengan hikmah kebijaksanaan Allah; Allah memelihara hambaNya yang telah mendapat taufiq dari godaan setan; Allah di samping bersifat pengampun dan penyayang juga mengazab orang-orang yang ingkar; manusia dihimpun pada hari kiamat.
  2. Hukum-hukum: Larangan terhadap homoseksual; kewajiban melakukan ibadah selama hidup; larangan menginginkan harta orang kafir; perintah kepada Nabi Muhammad SAW agar melakukan dakwah agama secara terang-terangan; larangan berputus asa terhadap rahmat Allah.
  3. Kisah-kisah: Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya; Nabi Luth a.s. dengan kaumnya; kaum Syu’aib dan kaum Shaleh a.s. (Tsamud).
  4. Dan lain-lain: Kejadian-kejadian dalam alam ini menunjukkan kebesaran Allah; kejadian alam dan isinya mengandung hikmah; angin mengawinkan tepung sari bunga-bungaan; asal kejadian Adam a.s.

Sedangkan yang terpampang dalam foto di atas adalah kutipan surah Al-Hijr dari ayat 1 sampai ayat ke-15. Pada masa tahun 50-an, Bung Karno tengah berada pada puncak usahanya mempersatukan bangsa Indonesia yang bersuku-suku, dan beragam pula agamanya. Melalui upaya-upaya itulah Bung Karno menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Dan sesungguhnya, Bung Karno seorang nasionalis-religius, atau bahkan seorang intelektual muslim nasionalis besar.

Itulah kesimpulan yang bisa kita tarik setelah membaca buku “Bung Karno, Islam, Pancasila, NKRI” terbitan Komunitas Nasionalis Religius Indonesia (2006). Buku itu berisi surat-surat Islam Bung Karno kepada A. Hasan, artikel-artikel keislaman di berbagai media dan buku, serta pidato-pidatonya dalam berbagai acara keagamaan. (roso daras)

Published in: on 5 September 2010 at 05:56  Comments (8)  
Tags: ,