Selamat Jalan Mbah Tardjo….

Terus terang, tidak ada hentakan rasa kaget yang sangat, manakala seorang sahabat berkirim sms, mewartakan wafatnya tokoh senior PDI-Perjuangan, Soetardjo Soerjogoeritno. Politisi senior yang akrab disapa “Mbah Tardjo” mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (7/8) sekitar pukul 17.00 WIB, dalam usia 76 tahun.

Meski orang mengenal kiprah politiknya sebagai tokoh PDI-P dari Jogjakarta, tetapi Mbah Tardjo sendiri adalah kelahiran Klaten, Jawa Tengah 30 April 1934. Puncak karier politiknya adalah Wakil Ketua DPR RI periode 2004 – 2009. Secara pribadi, mbah Tardjo bukan orang asing dalam keseharian saya, khususnya selama berkecimpung dengan komunitas nasionalis.

Seperti jujur saya katakan di atas, bahwa tidak ada rasa kaget yang menyengat demi mendengar berpulangnya Mbah Tardjo, sama sekali tidak mengurangi rasa haru dan duka yang mendalam. Perasaan “biasa saja” itu justru karena kami tengah intens khususnya dalam satu pekerjaan yang melibatkan saya di dalamnya. Pekerjaan itu bernama penyusunan buku tokoh nasionalis lain, H. Amin Arjoso, SH.

Ya, Mbah Tardjo bahkan sudah berkenan menuliskan kata pengantar untuk buku yang sedang saya –dan sejumlah reka– susun. Bukan hanya berkenan, bahkan sudah menyelesaikannya tepat waktu. Bahkan saat ini sudah masuk proses dummy akhir, menjelang proses pencetakan. Karenanya, nama Mbah Tardjo selalu terucap dalam setiap rapat. Nama Mbah Tardjo selalu mengudara dalam setiap acara.

Karena itu pula, kami, saya khususnya tahu benar ihwal kesehatan Mbah Tardjo yang terus menurun. Dalam sejumlah agenda, beliau mulai sering absen. Sekalipun begitu, ada pesan terakhir kepada kami penyusun buku Amin Arjoso, agar tidak lupa mengundangnya hadir pada saat peluncuran nanti. Peluncuran buku H. Amin Arjoso itu sendiri, diagendakan sekitar tanggal 20 Agustus 2010.

Mbah Tardjo… saya tetap mengundangmu, meski kami tahu fisikmu takkan hadir.

Mbah Tadjo… saya tetap mengharapmu datang, dan kami yakin harapan kami terkabul.

Mbah Tardjo… saya yakin, spiritmu, semangatmu, petuah-petuahmu… selalu hadir mengisi setiap ruang kosong… mengisi setiap jiwa kering,

Tinggallah kami yang merindu… Rindu semangatmu. Rindu tawanmu yang terkekeh. Rindu kepulan asap rokokmu yang… ah… jangan-jangan itu yang merenggut nyawamu!

Satu hal yang pasti, Mbah Tardjo sudah berpulang ke Rahmatullah… Semoga, arwahmu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih. Diampuni semua dosa dan kesalahanmu…. Selamat jalan, Mbah Tardjo…. (roso daras)

Iklan
Published in: on 8 Agustus 2010 at 16:24  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/08/08/selamat-jalan-mbah-tardjo/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: