“Hajar Cecunguk Malayan itu!”

Untuk urusan mengganyang Malaysia, memang baru Bung Karno ahlinya…. Semua dokumen yang ada di seputar tahun 1964 – 1966, pasca Bung Karno mengobarkan Dwikora (dua komando rakyat), menunjukkan bahwa satu langkah lagi, Malaysia hancur lebur oleh gempuran Indonesia yang didukung angkatan bersenjata dan para relawan. Relawan bukan saja yang datang dari rakyat Indonesia sendiri, tetapi juga dari rakyat Malaysia yang tidak sudi dengan taktik Inggris melanggengkan penjajahannya di negeri jiran itu.

Kobaran Dwikora, diteriakkan Bung Karno pada tanggal 27 Juli 1963. Sejak itu pula, semua elemen bangsa melakukan persiapan untuk berkonfrontasi dengan Malaysia. Malaysia di sini harus kita baca sebagai boneka Inggris. Artinya, yang hendak kita lawan adalah Inggris dan semua pasukan sepersemakmuran, seperti Australia, Selandia Baru, bahkan Gurkha, pasukan dengan anggota bangsa India yang dilatih oleh Inggris.

Pasukan Malaysia sendiri sama sekali tidak masuk dalam hitungan Bung Karno. Terlebih bahwa mereka tak lebih dari “bayi” prematur yang masih harus mencari kehangatan di balik ketiak Inggris, sang bidan yang melahirkannya melalui cara-cara licik, dan mengingkari kesepakatan Maphilindo dan PBB. Simak sebagian isi pidato Bung Karno sebagai berikut:

Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!

Terbayangkah kita suasana heroik ketika itu? Siapa orangnya yang tidak terbakar hatinya. Siapa orangnya yang tidak ingin berbondong-bondong dengan semangat baja merata-tanahkan negeri boneka bernama Malaysia itu. (roso daras)

Malaysia, Negeri dengan Kutukan sebagai Pelanggar Batas Wilayah

Setiap kali hubungan RI – Malaysia memanas, laksana sekam, bara itu langsung berkobar dan membakar semangat heroisme bangsa kita untuk mengganjang negara tetangga itu. Sekalipun hati ikut terbakar emosi, tetapi blog ini berusaha menyajikan postingan yang adem-adem saja. Misalnya tentang bagaimana cara Bung Karno berdoa, atau riwayat singkat Bung Karno dalam peringatan Nuzulul Qur’an.

Apa daya, satu-dua teman terus saja mengusik dinginnya hati orang berpuasa. Mereka terus dan terus mengajak berdiskusi dengan berapi-api tentang “ulah” negeri tetangga itu. Segan rasanya meladeninya. Selain bicara dengan nada tinggi cukup menguras energi (makin membuat lapar), salah-salah bicara tinggi bisa menggelincirkan kita ke jurang amarah. Dan sejatinya, marah adalah istananya setan.

Pancingan bergunjing soal ketegangan hubungan Indonesia – Malaysia baru bisa saya redam, ketika meluncur sebuah janji, “Begini saja… coba nanti saya buka-buka catatan sejarah, siapa tahu ada informasi yang bisa memuaskan dahaga teman-teman sekalian dalam menyikapi situasi panas ini.”

Alhasil, inilah sepenggal sejarah yang berhasil saya temukan.

… saya pun mulai menuliskannya sebagai berikut:

“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” (Jasmerah), adalah petuah Bung Karno yang everlasting. Saat mengungkap ihwal Jasmerah pada pidato 17 Agustus 1966, Bung Karno bahkan harus berulang-ulang memberi tekanan ihwal pentingnya sejarah. Sampai-sampai Bung Karno menyebut sejarah sebagai hal terpenting yang harus dipelajari segenap anak bangsa.

Tahun ’20-an Bung Karno sudah mengemukakan kapan Indonesia merdeka (dan itu tepat sekali). Ia menolak disebut sebagai manusia yang memiliki kemampuan paranormal. “Itu karena saya belajar sejarah!” sanggahnya.

Lantas apa hubungannya dengan judul posting di atas? Banyak sekali hubungannya. Salah satunya adalah kebenaran ucapan Bung Karno ihwal Jasmerah tadi. Berkat sejarah kita mengetahui bahwa Malaysia, sebagai negara bonekanya Inggris, adalah laksana sebuah negara yang ditakdirkan terlahir membawa kutukan sebagai pelanggar batas wilayah.

Fakta sejarah itu diungkap oleh Oei Tjoe Tat dalam memoarnya. Sebagai pembantu presiden yang pernah mendapat mandat khusus menjalankan “silent mission” saat kita berkonftrontasi dengan Malaysia, Oei menjadi tahu banyak ihwal Malaysia, baik sejarah pembentukannya maupun dalam aksi-aksi pelanggaran batas wilayah yang telah terpatri dalam sejarah.

Deretan panjang pelanggaran batas wilayah Indonesia oleh Inggris dan Malaysia bahkan terbukukan menjadi dokumen sejarah yang disusun oleh Kempen dalam risalah “Why Indonesia opposes Britishmade “Malaysia”, Jakarta, September 1964 halaman 76 – 100.  Catatan itu menyebutkan, tTahun 1963, tercatat 20 kali pelanggaran udara dan 21 kali melanggar batas wilayah darat.

Nah, di sini beda dulu dan sekarang. Dulu, si durjana pelanggar batas itu kontan mendapat respon yang semestinya, sehingga tercatat dua pesawat mereka berhasil ditembak jatuh di sekitar Lundi dan Apeng, Kalimantan Barat. Pasukan kita di lapangan, tahu bahwa untuk menembak pelanggar kedaulatan negara tidak harus lapor atasan dulu….

Masih berdasar dokumen Kempen, tahun 1964 Inggris dengan boneka Malaysia-nya melakukan pelanggaran batas wilayah sebanyak 56 kali, sementara pelanggaran di darat 14 kali. Dan itu berbuntut terjadinya pertempuran sporadis dan mengakibatkan jatuh korban di kedua belah pihak. Bahkan atas insiden ini, Menhan Inggris, James Remsden melansir informasi kepada pers pada 22 April 1964. Ia mengatakan, sejak Desember 1963 pasukan Inggris dan Gurkha yang tewas 99 orang, dan pasukan Malaysia 50 orang.

Itu artinya, soal melanggar batas wilayah, “Britishmade Malaysia” memang ahlinya. Dari dulu sampai sekarang, tidak berubah, benar-benar seperti sebuah kutukan. Yang membedakan adalah sikap (pemerintah) kita! (roso daras)

Bung Karno pada Nuzulul Qur’an

Pada setiap peringatan Nuzulul Quran, Presiden Sukarno senantiasa memperingatinya. Bahkan ia juga menyampaikan pidatonya. Pidato yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Pidato yang ia lahirkan dari kontemplasi panjang terhadap mutiara-mutiara kalam yang terkandung dalam kitab suci tersebut.

Dalam buku “Bung Karno dan Wacana Islam (Kenangan 100 Tahun Bung Karno)”, memuat sedikitnya lima naskah Pidato Bung Karno yang disampaikan di Istana Negara pada saat memperingati Nuzulul Qur’an. Kelima judul pidato Bung Karno itu; Islam, Agama Amal, (15 Maret 1960). Al-Qur’an Membentuk Manusia Baru (6 Maret 1961), Mencari dan Menemukan Tuhan, (12 Februari 1963), Api Islam, Motor Terbesar Umat Manusia, (1 Februari 1964), dan Islam adalah Agama Perbuatan (10 Januari 1966).

Bagaimana dengan tahun-tahun yang lain? Barangkali tercecer sehingga tidak terdokumentasikan. Yang pasti, pidato dalam sisipan audio di atas disampaikan tahun 1962. Bung Karno, di sela-sela wejangan religiusnya, menambahkan isu yang hampir terlupa, yaitu ajakan seluruh rakyat Indonesia untuk berdoa agar Irian Barat segera kembali ke pelukan Ibu Pertiwi.

Dalam garis hidup perjuangannya, Bung Karno sesungguhnya tidak pernah jauh dari Qur’an, khususnya setelah ia memasuki usia sekolah di HBS, saat tinggal di kediaman HOS Cokroaminoto, tokoh Sarikat Islam yang juga seorang orator pada zamannya. Fase pendalaman agama (agama-agama dunia) makin intens saat ia dibuang di Ende tahun 30-an.

Salah satu aktivitas Bung Karno menyelami Islam adalah menjalin korespondensi intensif dengan ulama bernama A. Hasan. “Guru” Bung Karno di bidang Islam yang dikenalnya di Bandung. Hasan adalah seorang India dari Madras yang dalam tahun 1924 pindah ke Bandung, kemudian memimpin Persatuan Islam (Perkumpulan Islam) atau disingkat Persis yang reformis.

Korespondensi antara Sukarno dan Hasan dimulai 1 Desember 1934. Surat pertama Sukarno adalah permintaan dia untuk dikirimi buku-buku pelajaran tentang Islam. Salah satu kalimat Sukarno yang dikutip Giebels adalah, “Tidak ada agama yang lebih mendukung kesamaan manusia daripada Islam.”

Alquran bagi Sukarno adalah final. Ia membaca, meresapi, dan mengamalkan dengan ketaatan penuh. Di sisi lain, ia juga menenggelamkan diri dalam lautan hadits. Dari diskusi korespondensi dengan gurunya itulah diketahui, Sukarno pun sangat kritis terhadap kebekuan dalam Islam.

Pemilihan tanggal proklamasi sejatinya sarat makna. Dalam sebuah kesempatan Bung Karno mengatakan, dipilihnya tanggal 17 adalah untuk mengingatkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menjalani kewajiban shalat 17 rakaat dalam satu hari. Tanggal 17 bulan Ramadhan, adalah tanggal turunnya kalam Illahi melalui Nabiyullah SAW di Gua Hira. Dan… proklamasi itu sendiri berlangsung di bulan Ramadhan.

Sejak itu pula, Bung Karno tidak pernah jauh dari Alquran. Saat ia dicokok Belanda tahun 1948, yang ada di benaknya adalah menjemput lonceng kematian. Sebab sejak Sekutu mendarat, target tentara Belanda adalah memburu dan membunuh musuh nomor satu, Sukarno. Hijrahnya Bung Karno ke Yogyakarta, juga antara lain menghindarkan diri dari buruan serdadu Belanda. Nah, dalam situasi seperti itu, Bung Karno menghabiskan sepanjang malam di pembuangan dengan beribadah dan membaca Alquran. Mukjizat, keesokan harinya ia dibebasan. (roso daras)


Published in: on 27 Agustus 2010 at 07:15  Comments (10)  
Tags: , ,

Indonesia Bukan Negara Agama

Percayakah Anda, bahwa di sekitar kita, masih subur paham ekstrim yang menghendaki Indonesia menjadi negara Islam atau negara Komunis. Yang satu distigmakan sebagai “ekstrim kanan”, sedangkan satunya kita kenal dengan sebutan “ekstrim kiri”. Istilah ini populer di zaman rezim Orde Baru. Barang siapa yang diindikasikan sebagai “ekstrimis kanan” ataupun “ekstrimis kiri”, rezim dengan serta merta bisa mencokok mereka dan menjebloskannya ke penjara.

Sebaliknya, Bung Karno sendiri tidak pernah menyebut mereka para ekstrimis. Mungkin karena Bung Karno sendiri seorang yang revolusioner. Pemahaman dia tentang Marxis barangkali sama baiknya dengan pemahaman dia tentang Islam. Setidaknya Bung Karno adalah tokoh pejuang yang cerdas, yang dalam hidupnya telah belajar tentang semua ajaran kiri dan kanan.

Sikap Bung Karno cukup tegas, ia tidak mentolerir anak bangsa yang hendak mencoba-coba mendirikan negara Islam atau negara komunis di Bumi Pertiwi. Muso-Alimin dkk ditumpas saat hendak memproklamasikan negara komunis Soviet tahun 1948 di Madiun. Demikian pula Kartosoewirjo yang hendak mengibarkan bendera Negara Islam Indonesia (NII), pun diberangus. Anda tahu? Muso, Alimin, Kartosoewirjo adalah sahabat-sahabat Bung Karno saat sama-sama berguru di rumah HOS Cokroaminoto, Surabaya.

Sekalipun begitu, Bung Karno tidak berhenti memberi pemahaman kepada rakyat Indonesia, tentang pemisahan agama dan negara. Berikut antara lain kata-kata Bung Karno yang diucapkan saat memberi materi pada kursus Pancasila tahun 1958 di Jakarta:

“… Kita langsung terjun di dalam fase negara nasional ini. Maka oleh karena itu di dalam perdebatan saya dengan beberapa pihak, saya berkata: ‘Republik Indonesia bukan negara agama, tetapi adalah negara nasional, di dalam arti meliputi seluruh badannya natie Indonesia’.

Dan apa yang dinamakan natie? Sebagai tadi sudah saya katakan, ialah segerombolan manusia dengan jiwa le desire d’etre ensemble, dengan jiwa, sifat, corak yang sama, hidup di atas satu wilayah yang nyata-nyata satu unit atau satu kesatuan.

Maka, jikalau kita membantah anggapan, baik daripada pihak agama maupun dari pihak Marxis yang dangkal bahwa kita harus berdiri di atas kebangsaan dan mereka berkata tidak, pada hakikatnya ialah oleh karena ada salah paham tentang apa yang dinamakan kebangsaan. Pihak agama kadang-kadang tidak bisa mengadakan batas yang tegas antara ini adalah agama, ini adalah kenegaraan.

Negara tidak boleh tidak harus mempunyai wilayah, agama tidak. Adakah negara tanpa wilayah? Tidak ada! Negara harus mempunyai wilayah. Syarat mutlak daripada negara yaitu teritori yang terbatas. Dan agar supaya negara kuat, maka wilayah ini harus satu unit. Dan bangsa yang hidup di dalam satu unit itu akankah menjadi bangsa yang kuat, jikalau ia mempunyai rasa kebangsaan bukan bikin-bikinan, tetapi yang timbul daripada objectieve verhoudingen.

Agama tidak memerlukan teritorial, agama cuma mengenai manusia. Tapi lihat, orang yang beragama pun, aku beragama, engkau beragama, orang Kristen di Roma beragama, orang Kristen di negeri Belanda beragama, orang Inggris yang duduk di London beragama, pendeknya orang-orang beragama yang dalam agamanya tidak mengenal teritorial. Kalau ia memindahkan pikirannya kepada keperluan negara, ya tidak boleh tidak harus berdiri di atas teritorial, di atas wilayah. Tidak ada satu negara, meskipun negara itu dinamakan agama Islam, tanpa teritorial….:

“… Jadi, Saudara-saudara, saya ulangi, salah paham letaknya di situ. Tidak bisa membedakan antara apa yang diartikan dengan agama, apa yang diartikan dengan negara. Itulah sebabnya maka selalu hal ini menjadi persimpangsiuran di dalam pembicaraan-pembicaraan….”

Begitu antara lain Bung Karno mendidik rakyatnya yang senantiasa akan diombang-ambingkan akibat gempuran berbagai ideologi yang hendak dipaksakan untuk mengganti ideologi yang sudah ada. Hampir dapat dipastikan, upaya ke arah sana tidak akan pernah sirna sampai bumi ini hancur lebur. (roso daras)

Published in: on 24 Agustus 2010 at 08:34  Comments (21)  
Tags: , , ,

Cara Bung Karno Berdoa

Memasuki sidang hari ke-4, tanggal 1 Juni 1945, giliran Bung Karno menyampaikan pidato di hadapan sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI) untuk menyampakan dasar-dasar negara. Di kemudian hari kita mengenal hari itu sebagai Hari Lahir Pancasila. Itulah salah satu pidato monumental Bung Karno, di antara sekian banyak pidatonya yang mengguncang dunia.

Tahukah Anda, malam 1 Juni adalah malam paling meresahkan bagi Bung Karno. Meski dipejam-pejamkannya kedua mata, tak juga mampu mengundang kantuk. Dalam hal Indonesia merdeka, hatinya sudah bulat. Hakkul yakin. Dalam hal kemerdekaan hanya akan kekal dan abadi manakala dilandasi persatuan dan kesatuan, Bung Karno pun hakkul yakin. Meski begitu, ada perasaan yang menghendaki dorongan lebih untuk berbicara keesokan harinya.

Gelisah itu sungguh menggantu pikirannya. Bukan tentang materi apa yang akan dipidatokan keesokan harinya. Untuk berpidato di depan BPUPKI, Bung Karno bahkan tidak perlu mempersiapkannya dalam bentuk teks tertulis. Anehnya, masih ada perasaan yang kurang mantap pada dirinya. Bung Karno terus dan terus merenungkan itu sembari membolak-balikkan tubuhnya di atas dipan.

Ketika rasio terbentur tembok… manakala hati tak mampu lagi menyuarakan pendapatnya yang paling benar… Bung Karno hanya ingat, Tuhan-lah satu-satunya tempat ia bertanya. Hanya Tuhan yang mampu meredam kegundahgulanaan perasaan. Ia tahu apa yang harus diperbuat. Turun dari tempat tidur, dan melangkahkan kaki ke luar rumah, persisnya ke bagian belakang rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

Di belakang rumah, ia segera menekuk lutut berlutut, menengadahkan wajah ke atas, memohon petunjuk Allah SWT. Malam itu, malam bulan Juni saat cuaca sangat cerah. Di atas, ia saksikan ribuan… ratusan ribu… mungkin jutaan bintang berkerlap dan berkerlip. Dalam posisi lutut tertekuk, muka menengadah, kedua tangan memohon… disaksikan ribuan bintang… Bung Karno menjadi seorang hamba Allah yang begitu kecil.

“Ya Allah Ya Rabbi… berikanlah ilham kepadaku. Besok pagi aku harus berpidato mengusulkan dasar-dasar Indonesia merdeka. Pertama, benarkah keyakinanku, ya Tuhan, bahwa kemerdekaan itu harus didasarkan atas persatuan dan kesatuan bangsa? Kedua, ya Allah ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku, berikanlah ilham kepadaku, kalau ada dasar-dasar lain yang harus kukemukakan: Apakah dasar-dasar itu?”

Itulah lantunan doa Bung Karno kepada Allah SWT sebelum keesokan paginya berpidato di hadapan sidang BPUPKI. Usai berdoa, Bung Karno pun kembali masuk ke kamar dan membaringkan kembali tubuhnya di pembaringan. Ia menenangkan pikiran dan mencoba tidur. Entah karena permohonan sudah disampaikan, atau karena ia memang sudah lelah… tak lama kantuk datang menyerang dan Bung Karno pun terlelap.

Keesokan paginya, pagi-pagi sekali ia sudah bangun. Setelah shalat shubuh, Bung Karno pun mendapatkan ilham Pancasila. Jawaban spontan dari Tuhan atas doa yang ia lantunkan semalam.

Kisah tersebut, acap disampaikan Bung Karno dalam kesempatan berpidato di berbagai kesempatan pasca kemerdekaan kita. Meski bukan yang pertama dan kedua, setiap Bung Karno menuturkan kegelisahan malam 1 Juni, kemudian beranjak ke belakang rumah, berlutut dan berdoa… hampir dapat dipastikan air mata pasti meleleh dari pipinya. Biasanya, Bung Karno akan berhenti berpidato sejenak dan berkat, “Maaf… kalau aku ingat ini selalu terharu….” (roso daras)

Published in: on 23 Agustus 2010 at 09:46  Comments (17)  
Tags: , , ,

Cover Final Buku Jilid II

Lama gak nengok email (gara-gara telkomselflash error…), ternyata penerbit Imania sudah beberapa hari berkirim konsep final cover untuk buku jilid II (seperti tampak di atas). Menurut penerbit, itulah konsep cover yang “hampir pasti” digunakan untuk buku Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories jiid ke-2.

Tampaknya ini merupakan kompromi dari empat versi (dua versi besar) yang sudah terposting beberapa waktu yang lalu. Menurut penerbit, inilah desain cover yang mewakili aspirasi masyarakat. Tentu saja ada yang cocok, setengah cocok, atau bakan kurang cocok. Meski begitu, harapan penerbit, desain ini mewakili rasa cocok pembaca sekalian. (roso daras)

Published in: on 19 Agustus 2010 at 15:31  Comments (16)  
Tags: , ,

Perintah Pertama Presiden Sukarno kepada Tukang Sate

Jam menunjuk pukul 10 lebih, ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan 17 Agustus 1945. Usai upacara, Bung Karno yang sedang kumat malarianya, ngeloyor ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Satu kalimat sebelum ia benar-benar lelap adalah, “Revolusi sudah dimulai!”

Setelah itu, Bung Karno benar-benar tidak mengikuti pernak-pernik kejadian kecil yang berseliweran di sekitar kediamannya. Ia tidak mengikuti detil bagaimana pemuda Adam Malik melompat pagar RRI yang dijaga tentara Jepang untuk menyerobot frekuensi radio buat mengumumkan berita kemerdekaan.

Bung Karno tidak mengikuti kejadian ketika pembantu setianya, Riwu Ga berinisiatif keliling kota Jakarta mengibar-ngibarkan bendera merah putih dan berteriak-teriak, “Kita sudah merdekaaa… Kita sudah merdekaaa….” tanpa gentar sewaktu-waktu ia bisa dibedil tentara Jepang.

Bung Karno bahkan tidak mengikuti peristiwa ketika sejumlah pemuda mentasbihkan kelompok “Pasukan Berani Mati” yang kemudian bersiap-siaga di Pegangsaan Timur 56, menyiapkan tubuhnya sebagai tameng hidup kalau-kalau ada yang mencoba menurunkan bendera merah putih yang sudah berkibar… kalau-kalau ada yang hendak mencelakai Bung Karno sang proklamator.

Bung Karno benar-benar kelelahan. Lelah fisik…. Lelah pikiran…. Sakit fisik…. Hingga malam merayap menyelimuti tidurnya yang lelap. Tidak Fatma istrinya, tidak Dr Soeharto dokter pribadinya, tidak juga para elit pejuang yang berani mengusik. Begitu kejadiannya hingga fajar merekah di ufuk timur.

Pagi itu… masih pagi sekali. Jika ada yang memperhatikan, bahkan embun masih melekat di dedaunan, ketika para tokoh berbagai golongan berkumpul di suatu tempat untuk membicarakan kelanjutan proklamasi. Hadir pemimpin golongan-golongan agama, masyarakat, suku, pedagang, dan golongan penduduk di Indonesia. Bung Karno didaulat pula hadir dalam pertemuan itu. Nah, di situlah mereka memilih Bung Karno dengan suara bulat sebagai Presiden.

Bung Karno dalam sisa-sisa kelelahan, bahkan dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adams, sampai-sampai tidak ingat lagi siapa yang sesungguhnya pertama kali mengusulkan Bung Karno sebagai Presiden. Bung Karno hanya ingat “seseorang” mengluarkan ucapan yang nadanya datar-datar saja, “Nah, kita sudah ber-Negara mulai dari kemarin. Dan suatu negara memerlukan seorang Presiden. Bagaimana kalau kita memilih Sukarno?”

Begitulah keseluruhan detik-detik bersejarah pemilihan presiden RI yang pertama. Ya… sesederhana itu! Apa jawaban Bung Karno menerima usulan bulat itu? Jawaban Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sebagai tanda terima kasih atas pengangkatan itu hanya satu kata: “Baiklah!” Hanya itu. Itulah keseluruhan kata yang keluar dari mulut Bung Karno saat dirinya diusulkan secara bulat menjadi Presiden, “Baiklah!” Bung Karno tidak membikin gempar dengan pidatonya. Yang lain juga tidak ada yang membikin gempar. Tak seorang pun membikin kegemparan. Semua dihimpit waktu. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dihadapi oleh Republik yang baru berusia satu hari.

Syahdan… setelah dipilih memegang jabatan tertinggi di seluruh negeri, Presiden yang baru dipilih itu pun berjalan pulang. Di jalanan, ia bertemu dengan tukang sate ayam. Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia itu pun spontan memanggil tukang sate yang berkaki-ayam alias nyeker itu. Kemudian, untuk pertama kali, Presiden mengeluarkan perintah pelaksanaan yang pertama kepada si tukang sate, “Sate ayam lima puluh tusuk!”

Sejurus kemudian, Bung Karno pun berjongkok dekat selokan dan kotoran. Memakan lima puluh tusuk sate dengan lahapnya. Inilah seluruh pesta atas pengangkatan dirinya sebagai Kepala Negara. (roso daras)

Published in: on 18 Agustus 2010 at 10:11  Comments (18)  
Tags: , ,

Sketsa Proklamasi

Hanya persembahan dua sketsa proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Peristiwa yang berlangsung di kediaman Bung Karno, Jl. Pegangsaan Timur 56, Menteng, Jakarta Pusat (Sekarang Jl.Proklamasi) itu, adalah momentum bersejarah bagi bangsa kita. Itulah momentum kita melepaskan diri dari kolonialisme penjajah. Melepaskan diri dari cengkeraman Belanda. Melepaskan baju Hindia Belanda, dan berganti menjadi Republik Indonesia.

Tahun ini, 2010, memiliki kesamaan suasana… yakni suasana proklamasi di bulan Ramadhan. Benar… proklamasi kita tahun 1945, berlangsung di tengah kemuliaan bulan suci penuh berkah Ramadhan. Persiapan proklamasi telah berlangsung sejak malam hari, dan hari-hari sebelumnya melalui serangkaian rapat-rapat penting. Klimaksnya, usai makan sahur, segenap anak bangsa berjaga-jaga di kediaman Bung Karno.

Saat fajar merekah, mereka memasang tiang bendera, mempersiapkan ini dan itu menyambut momentum maha penting. Bung Karno sendiri baru kembali ke rumah saat shubuh. Demikian pula Hatta, Sjahrir, dan semua tokoh bangsa yang teribat pembahasan pada rapat-rapat Badan Persiapan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia di rumah Maeda. Malam itu, agenda final yakni menyusun teks proklamasi.

Begitulah sejarah singkat proklamasi kemerdekaan kita. Terjadi di bulan Ramadhan. Tepat benar jika kita segenap anak bangsa, khususnya yang muslim, merenungkan serta melayangkan setting sejarah proklamasi kemerdekaan dengan suasana menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Semoga, tersiram dahaga nasionalisme kita sebagai warga negara merdeka. Semoga, muncul kesadaran kita semua terhadap apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ketika memproklamasikan kemerdekaan itu.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Sudah tercapaikah cita-cita proklamasi yang digelorakan 65 tahun lalu? (roso daras)


Surat Kepada Pak Beye (Soal Ancaman Pembunuhan)

Yang Terhormat Presiden Pak Beye (Susilo Bambang Yudhoyono)

Ini surat terbuka buat Pak Presiden. Daripada saya menyumpah-serapah, tentu lebih baik kalau saya menulis. Sumpah-serapah selain hanya akan mendatangkan keburukan berupa dosa dan energi negatif pada diri saya, juga membuat saya yang bodoh ini tampak lebih bodoh lagi. Sebaliknya, dengan menulis, setidaknya saya menghindarkan diri membuka mulut dan berkata-kata kotor. Lebih dari itu, menulis kelihatannya lebih intelek daripada menyumpah. Betul???

Begini pak Beye…. Sikap pak Beye yang reaktif… atau sebut saja responsif yang berlebihan, sungguh membuat saya risih. Bukan kali pertama pak Beye membuang waktu penting sebagai kepala negara, khusus buat berbicara, berpidato (teman saya menyebut: berdeklamasi), menanggapi soal ancaman pembunuhan.

Dulu, terkait pemilu, pak Beye pamer-pamer foto diri yang jadi objek sasaran tembak. Kemudian waktu Polri meringkus sejumlah tersangka teroris, pak Beye juga tampil sebagai “calon korban”. Sekarang, usai penangkapan kiyai Ba’asyir, pak Beye berdeklamasi… eh… maaf, berpidato lagi sebagai “calon korban”.

Pak Beye kan jenderal, prajurit, sekolah tentara di dalam dan luar negeri. Pasti tahu, menjadi tentara itu sama dengan “kontrak mati”. Itu baru tingkatan prajurit. Apalagi presiden?! Menjadi presiden itu taruhannya ya dibunuh… bisa oleh lawan politik, bisa oleh teroris, bisa oleh orang dekat sendiri. Itu hikayat presiden-presiden di dunia. Jadi, menurut saya, tidak ada yang mengejutkan dengan adanya ancaman pembunuhan terhadap presiden.

Bung Karno (presiden favorit saya), sedikitnya tujuh kali diberondong tembakan. Sekali lagi pak Beye… SEDIKITNYA TUJUH KALI DIBERONDONG TEMBAKAN… bukan lagi “calon korban” tetapi sudah dieksekusi! Ia diberondong tembakan di Makassar, ia diberondong tembakan di Cisalak, ia ditembak di masjid Istana, ia dibom di Perguruan Cikini, ia diberondong tembakan oleh Maukar dari pesawat tempur….. Bukan lagi “calon korban” seperti pak Beye, tapi sudah dieksekusi! Peluru sudah dimuntahkan… diarahkan ke tubuh Bung Karno.

Apa reaksi Bung Karno? Ia tidak berpidato, apalagi berdeklamasi memohon simpati. Kalimat Bung Karno menghadapi setiap upaya pembunuhan kurang lebih begini, “Mati dan hidup itu di tangan Tuhan. Kalau saya harus mati ditembak, ya saya akan mati tertembak. Tapi kalau takdir saya tidak mati tertembak, biarpun ditembak berkali-kali, insya Allah saya tidak akan mati.”

Dan, semua usaha pembunuhan itu tidak menyurutkan sedikit pun semangatnya membawa NKRI menjadi bangsa yang bermartabat di pentas dunia!” Begitu kira-kira tanggapan Bung Karno.

Pak Beye yang terhormat,

Memohon pak Beye meniru Bung Karno tentu sangat berlebihan, karena beda antara Bung Karno dengan pak Beye memang laksana bumi dan langit. Karenanya saya tidak memohon pak Beye meniru Bung Karno. Saya hanya memohon maaf, karena sebagai salah satu rakyat Indonesia, sungguh prihatin dengan sikap pak Beye dalam menyikapi adanya informasi yang katanya, ada teroris yang menjadikan pak Beye sebagai sasaran pembunuhan.

Sekian, maafkan saya jika surat saya tidak menyenangkan perasaan pak Beye. Sebab saya memang tidak bermaksud membuat pak Beye senang. Terlebih, saya memang tidak senang dengan sikap pak Beye mengomentari rencana teroris membunuh pak Beye. Rencana lho yaaa….

Wassalam,

Roso Daras

Published in: on 9 Agustus 2010 at 14:39  Comments (65)  

Selamat Jalan Mbah Tardjo….

Terus terang, tidak ada hentakan rasa kaget yang sangat, manakala seorang sahabat berkirim sms, mewartakan wafatnya tokoh senior PDI-Perjuangan, Soetardjo Soerjogoeritno. Politisi senior yang akrab disapa “Mbah Tardjo” mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (7/8) sekitar pukul 17.00 WIB, dalam usia 76 tahun.

Meski orang mengenal kiprah politiknya sebagai tokoh PDI-P dari Jogjakarta, tetapi Mbah Tardjo sendiri adalah kelahiran Klaten, Jawa Tengah 30 April 1934. Puncak karier politiknya adalah Wakil Ketua DPR RI periode 2004 – 2009. Secara pribadi, mbah Tardjo bukan orang asing dalam keseharian saya, khususnya selama berkecimpung dengan komunitas nasionalis.

Seperti jujur saya katakan di atas, bahwa tidak ada rasa kaget yang menyengat demi mendengar berpulangnya Mbah Tardjo, sama sekali tidak mengurangi rasa haru dan duka yang mendalam. Perasaan “biasa saja” itu justru karena kami tengah intens khususnya dalam satu pekerjaan yang melibatkan saya di dalamnya. Pekerjaan itu bernama penyusunan buku tokoh nasionalis lain, H. Amin Arjoso, SH.

Ya, Mbah Tardjo bahkan sudah berkenan menuliskan kata pengantar untuk buku yang sedang saya –dan sejumlah reka– susun. Bukan hanya berkenan, bahkan sudah menyelesaikannya tepat waktu. Bahkan saat ini sudah masuk proses dummy akhir, menjelang proses pencetakan. Karenanya, nama Mbah Tardjo selalu terucap dalam setiap rapat. Nama Mbah Tardjo selalu mengudara dalam setiap acara.

Karena itu pula, kami, saya khususnya tahu benar ihwal kesehatan Mbah Tardjo yang terus menurun. Dalam sejumlah agenda, beliau mulai sering absen. Sekalipun begitu, ada pesan terakhir kepada kami penyusun buku Amin Arjoso, agar tidak lupa mengundangnya hadir pada saat peluncuran nanti. Peluncuran buku H. Amin Arjoso itu sendiri, diagendakan sekitar tanggal 20 Agustus 2010.

Mbah Tardjo… saya tetap mengundangmu, meski kami tahu fisikmu takkan hadir.

Mbah Tadjo… saya tetap mengharapmu datang, dan kami yakin harapan kami terkabul.

Mbah Tardjo… saya yakin, spiritmu, semangatmu, petuah-petuahmu… selalu hadir mengisi setiap ruang kosong… mengisi setiap jiwa kering,

Tinggallah kami yang merindu… Rindu semangatmu. Rindu tawanmu yang terkekeh. Rindu kepulan asap rokokmu yang… ah… jangan-jangan itu yang merenggut nyawamu!

Satu hal yang pasti, Mbah Tardjo sudah berpulang ke Rahmatullah… Semoga, arwahmu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih. Diampuni semua dosa dan kesalahanmu…. Selamat jalan, Mbah Tardjo…. (roso daras)

Published in: on 8 Agustus 2010 at 16:24  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,