Dua Bujang Lokal: Sukarno – Kennedy

Keakraban Bung Karno – Kennedy? Tak diragukan lagi, dunia pun mengetahuinya. Bagi yang gemar ber”andai-andai”, selalu saja akan melantunkan kalimat, “Andai saja Kennedy tidak mati terbunuh… hubungan Amerika Serikat – Indonesia tidak akan seburuk akhir dekade 60-an.” Bahkan ada yang mengandaikan, “andai saja Kennedy tidak mati tertembak, Soeharto tidak akan jadi presiden.” Dan masih banyak “andai-andai” yang lain.

Semua “andai” tak penting lagi sekarang. Kennedy sudah menjadi sejarah. Bung Karno juga sudah menjadi sejarah. Hubungan Amerika – Indonesia bahkan masih menorehkan jalannya sejarah. Begitu hakikat sejarah hingga Tuhan menamatkan riwayat kehidupan dunia.

Menukil kemesraan hubungan Bung Karno – Kennedy, selalu saja menarik. Bukan saja menyangkut dua sosok kepala negara, tetapi juga menyangkut sisi-sisi humanisme dua orang paling berpengaruh pada zamannya. Kennedy dengan super power Amerikanya, Bung Karno dengan New Emerging Forces-nya. Dua kekuatan maha dahsyat yang jika bersatu, tidak ada satu negara pun mampu menggoyangnya. Tidak ada satu blok negara-negara pun yang bisa menandinginya.

Adalah Guntur Soekarnoputra yang pada tahun 1961 berkesempatan makan siang di ruang makan White House. Ia dan adiknya, Megawati, diajak sang bapak, menghadiri jamuan makan siang di Gedung Putih. Menurut catatan Guntur dalam bukunya, semua makanan yang dihidangkan sama sekali tidak ada yang menggugah selera, kecuali satu… steak daging sapi yang begitu enyak…enyak… enyak.….

Singkatnya, Guntur sangat menikmati saat garpu menusuk daging, dan pisau diiris-iriskan di permukaan daging, lantas sekerat daging empuk menghampiri lidah… melayanglah cita rasa steak ala White House. Nah, entah tusukan yang keberapa, entah irisan yang keberapa… Guntur menjumpai bagian daging yang begitu alot. Itu artinya, Guntur harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menundukkan si daging alot tadi. Apa yang terjadi kemudian? Pada irisan dengan tekanan penuh, si daging pun melawan… mencelat dan… wuusshhh… daging itu terbang melayang… jatuh tepat di piring Presiden Kennedy!

Wajah keenakan Guntur berubah menjadi pucat… takut… dan Kennedy tahu situasi itu, kemudian mencairkan suasana dengan kalimat bersahabat dalam bahasa Indonesia terbata-bata… “Hati-hati… tidak apa-apa… rupanya juru masak kami kurang teliti dalam memasak steak sehingga agak alot untuk diiris….”

Bung Karno menimpali, “Well John… rupanya putraku tahu bahwa kau sekarang punya senjata ampuh paling mutakhir yaitu ICBM (inter continental balistic missiles) sehingga ia mengirimkan juga sebuah “missiles”-nya buat tandingannya.”

“Ha…ha…ha… that’s right….” Kennedy tertawa menyambut humor Bung Karno. Tapi pasti di benaknya ia berpikir keras, darimana Sukarno tahu Amerika sekarang punya ICBM? Sedangkan informasi itu masuk kategori top secret di Amerika Serikat. Bahkan rakyat Amerika sendiri tidak tahu.

Syahdan… jamuan makan siang pun selesai. Giliran acara berpamitan. Kennedy sebagai tuan rumah yang baik, mengiringkan langkah Bung Karno keluar White House menuju mobil kepresidenan yang hendak membawa Bung Karno dan rombongan kembali ke hotel. Sambil berjalan, keduanya pun bercakap-cakap… tetap dengan akrabnya…. “John, dari tadi saya tidak melihat Jackie… ke mana dia?”

Kennedy spontan menjawab, “Oh ya… tadi aku lupa menyampaikan permintaan maafnya. Ia berhalangan ikut makan siang bersama kita karena sedang ke luar kota untuk suatu acara. Dan itu berarti, bahwa di Washington malam ini ada dua orang ‘bujangan’ yang berbahagia!!! Kau dan saya!!! Betul atau tidak Mr President?”

“Ha…ha…ha… John…. Kau betul-betul sahabatku yang baik.” (roso daras)

Published in: on 29 Juli 2010 at 09:40  Comments (8)  
Tags: , , , ,

Guntur Ngebut, Bung Karno Sewot

Entah mimpi apa malamnya… pulang sekolah Guntur kena semprot bapaknya. Suatu siang, sepulang sekolah pengawal mencegat Guntur yang berjalan beriringan dengan adiknya, Megawati. Keduanya diberi tahu, sudah ditunggu Bapak di meja makan. Seketika, Guntur dan Mega bergegas masuk kamar masing-masing, berganti pakaian, dan segera menuju ruang makan Istana Merdeka. Ini peristiwa tahun 1962 yang dituturkan Guntur dalam bukunya, “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku”.

“Hei kamu, sini duduk di samping Bapak,” kata Bung Karno demi melihat anaknya memasuki ruang makan. “Salam dulu tuh sama Om Chaerul,” imbuh Bung Karno. Spontan Guntur pun menyapa, “Halo om…,” berkata begitu Guntur mengulurkan tangan hendak bersalaman. Tergopoh-gopoh Chaerul menyambut tetapi dengan tangan kiri… “Waaah… bagaimana ini salamannya, tangan om kotor… pakai tangan kiri sajalah….” sahut Chaerul Saleh yang memang tengah santap siang menggunakan tangan.

“Nah, itu Mega! Dis, ini Pak Chaerul, ayo salam,” kata Bung Karno demi melihat Mega muncul di meja makan. Bung Karno memanggil Mega dengan sebutan Dis… Gadis….

Mengobrollah Bung Karno dan Chaerul Saleh, salah satu menteri di kabinetnya tentang politik. Guntur dan Mega asyik makan, keduanya menilai obrolan Bapak dan om Chaerul begitu rumit… politik dan politik.

Ibarat ritme, obrolan pun mulai mengendor manakala Bung Karno dan Chaerul Saleh mengalihkan topik tentang pemuda. Bung Karno mencontohkan Chaerul sebagai tokoh pemuda saat melawan Jepang. Bung Karno juga menyinggung betapa para pemuda pada zaman itu begitu patriotik, gigih dan sederhana. Sebaliknya, Bung Karno mengkritik beberapa sikap generasi muda pada tahun itu.

Tibalah saatnya Bung Karno ingat akan suatu peristiwa yang kemudian menyodok sudut amarah di hatinya. “Oh ya! Masih dalam hubungan dengan pemuda sekarang! Aku dapat laporan dari kepolisian, kau setir mobil seperti setan di jalanan, sampai-sampai itu adiknya Baby Huwae kau tabrak! Ya… apa… ndak!” berkata begitu Bung Karno melotot ke arah Guntur.

Guntur yang belum selesai makan benar, gelagapan dibuatnya…. Setengah gugup ia menjawab, “Y…y…y… ya pak tapi yang salah dia.”

Bung Karno tambah meradang mendengar jawaban Guntur, putra sulungnya. Ia semprot lagi, “Tidak peduli siapa yang salah. Pokoknya kau setir seperti setan… iya apa ndak! Awas! Jangan sekali-kali lagi! Sekali lagi aku dengar, Bapak perintahkan bakar kau punya mobil!”

Guntur pun terdiam. Kemudian Chaerul Saleh sang menteri mencoba mencairkan suasana, “Tur… apa yang Bapak katakan itu betul… sebaiknya kalau mengendarai mobil perlahan-lahan saja, supaya aman. Bila terjadi kecelakaan, yang akan susah toh Bapak juga….”

Tak diduga, tak dinyana…. Bung Karno balik menatap tajam ke arah Chaerul dan berkata keras, “Heeeh…!!! Rul !!! Dia ini nyetirnya gila-gilaan lantaran kau! Dikira aku tidak tahu?!” Mendapat semprotan Presiden, Chaerul ciut juga…. Bung Karno melanjutkan kalimatnya, “Ya memang! Aku dapat laporan kau dan Guntur sering balap-balapan di daerah Kebayoran, persisnya di Jalan Sisingamangaraja dan Senopati. Dan aku dapat laporan juga bahwa sekarang ini tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet kalau melihat mobil Kharman Ghia merah kepunyaan kalian! Kai ini memang terlalu Rul!!! Jij… itu menteriku!!! Jadi jangan ngros-boy!”

Chaerul berkata pelan. Pelaaan sekali, “Yaah… sesekali pak….”

Singkat cerita, sesi Bung Karno memarahi Guntur dan Chaerul akibat gemar kebut-kebutan itu pun selesai. Bung Karno dan Chaerul melanjutkan obrolan politik di kamar Bung Karno. Guntur menunggu di dekat mobil Chaerul di tempat parkir. Tak lama, Chaerul keluar kamar Bung Karno dan menuju mobil.

“Om… bapak masih marah?” sapa Guntur kepada Chaerul.

“Ah… tidak…” Kemudian Chaerul dan Guntur pun membuat rencana… rencana yang biasa dilakukan keduanya, kebut-kebutan. “Om tidak ada acara. Ayo ke Sisingamangaraja… OK?”

Guntur sigap menjawab, “Beres om! Lima menit lagi saya ada di sana!” Berkata begitu, Guntur menghambur ke parkiran mobilnya, VW Kharman Ghia warna merah. Distarter dan dikebutlah ke arah Kebayoran Baru…. (roso daras)

Published in: on 23 Juli 2010 at 13:29  Comments (4)  
Tags: , ,

Calon Cover Buku ke-2… Pilih Mana?

Hari ini (21 Juli 2010), penerbit Etera mengirimkan dua alternatif cover buku “Bung Karno, The Other Stories 2, Serpihan Sejarah yang Tercecer. Dari dua alternatif, masing-masing dibuat dua versi, yang satu versi lukisan yang satu versi foto. Nah, ini versi yang pertama:

Desain sebelah kiri yang versi gambar, dan yang kanan versi foto. Selain perbedaan gambar dan foto, sekilas tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok. Perbedaan-perbedaan kecil tampak di background cover, background judul, dan penempatan nama penulis. Kita beri saja penomoran 1a buat yang kiri dan 1b buat yang kanan.

Bagi yang sudah mengoleksi buku yang pertama, secara pewarnaan, ada kemiripan. Nah, berikut ini rencana desain cover kedua.

Desain yang kedua, sebut saja 2a (yang kiri/versi lukisan) dan 2b (yang kanan/versi foto). Dibanding desain yang pertama, perbedaan mencolok terletak pada background yang lebih terang. Penempatan judul di bagian atas buku juga memberi kesan pembeda dibanding versi yang pertama, maupun versi buku jilid ke-1. Secara umum, desain ini mengesankan “beda” dengan penampilan buku yang pertama. Benang merah kelanjutan ada di judul buku.

Saya pribadi suka yang 2b. Alasannya bisa saja subjektif. Karenanya saya tidak akan kemukakan di sini. Sebab, tujuan saya memosting rencana cover itu adalah untuk meminta komen, tanggapan dari Anda semua pengunjung blog setia ini. Bantu saya memilih cover buku yang insya Allah meluncur Oktober 2010. Terima kasih sebelumnya.

Merdeka !!! (roso daras)

Published in: on 21 Juli 2010 at 03:34  Comments (30)  
Tags: , ,

Tugu Selamat Datang

Melintaslah di jantung kota Jakarta, Jl. MH. Thamrin, maka tatapan anda akan terbentur pada tugu Selamat Datang yang menjulang dalam bingkai air mancur yang indah. Bagi yang belum pernah berfoto di area sekitar tugu Selamat Datang, bergegaslah ke sana, selagi belum dilarang.

Inilah salah satu sisa-sisa peninggalan Bung Karno, yang dibangun guna menyambut para tamu Asia yang berpartisipasi dalam avent olahraga akbar Asian Games 1962. Patung di puncak tugu itu  menggambarkan dua orang pemuda-pemudi yang membawa bunga sebagai penyambutan tamu.

Lokasi tugu itu persis di depan Hotel Indonesiayang  pada waktu itu merupakan pintu gerbang masuk ibukota Jakarta dan juga merupakan pintu gerbang rangkaian kegiatan pertandingan yang diselenggarakan di Istora Senayan. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui bandara Internasional Kemayoran (yang sekarang menjadi arena PRJ) dan langsung menuju ke hotel Indonesia tempat penginapan bagi mereka. Maka, sehingga sebelum mereka memasuki hotel akan disambut patung Selamat Datang ini di depannya.

Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Sukarno. Desan awal dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta.Ya, Henk Ngantung ini adalah birokrat yang berdarah seniman. Pria kelahiran Sulawesi Utara ini juga dikenal sebagai pelukis handal.

Adapun patung pemuda-pemudi itu sendiri terbuat dari perunggu. Tinggi patung dari kepala sampai kaki 5 meter. Sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah 7 meter. Sementara tinggi voetstuk atau kaki patung adalah 10 meter.

Proyek ini dikerjakan oleh PN. Pembangunan Perumahan. Pelaksana pembuatan patung adalah team pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni. Pada saat proses pembuatan presiden Sukarno didampingi Duta Besar Amerika pada saat itu Mr. Jones beserta para menteri sempat berkunjung ke sanggar Edhi Sunarso. Pembuatan patung ini memakan waktu sekitar satu tahun. Diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1962.

Begitu sekilas info tentang Tugu Selamat Datang. Meski kini tenggelam di antara gedung-gedung pencakar langit, tetapi eksistensinya masih nyata. Nah, rencanakanlah berfoto di sana…. (roso daras)

Sulitnya Melawan Bangsa Sendiri

Bahkan sebelum negara ini merdeka, Bung Karno sudah mengingatkan kepada kita dengan kata-katanya yang –lagi-lagi– tetap aktual. Kurang lebih begini ia pernah berpesan:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri”

Kalimat Bung Karno itu terasa makin aktual dengan konteks kekinian. Di era pra kemerdekaan, lawan para pejuang kemerdekaan kita jelas, kaum penjajah. Bangsa Belanda yang jelas segala-galanya berbeda dengan bangsa kita. Kulitnya bule, rambutnya pirang jagung… pendek kata… sangat mudah mengidentifikasi musuh.

Mengenali musuh kita sekarang? Jelas susah kita kenali, sebab mereka adalah bangsa kita sendiri. Yang berperan sebagai pemeras, berkulit sama. Yang berperan sebagai penindas, bangsa kita juga. Yang berperan sebagai tukang gebuk, ya orang kita juga. Yang berperan sebagai pengatur aturan, juga bangsa sendiri. Praktik-praktik penjajahan dalam bentuk yang lebih canggih, sejatinya merebak di sekeliling kita.

Dalam ilustrasi di atas, poster Bung Karno dengan insert Munir, dibubuhi kalimat pesan Bung Karno seperti tersebut di atas. Pembunuh Munir bukan orang bule, tetapi bangsa sendiri. Maka sebaik-baiknya sikap adalah tetap waspada terhadap setiap praktek penjajahan gaya baru.

Kita harus memahami kalimat Bung Karno dalam konteks yang terus di-up date. Contoh, yang disebut musuh kita adalah bangsa kita sendiri, adalah sebagian dari bangsa kita yang memiliki ideologi (dalam bahasa Bung Karno) “kontra revolusioner”. Mereka yang berjiwa neolib, kapitalis, dan individualis. Waspadalah…. Waspadalah ! (roso daras)

Published in: on 15 Juli 2010 at 12:37  Comments (13)  
Tags: , ,

Tuhan di Gubuk si Miskin

Tanggal 23 Oktober 1946, Bung Karno menuliskan sebuah petuah yang begitu mendalam. Begini bunyinya:

Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.

Kemudian ada lagi kutipan menarik saat ia berada di KBRI Amerika Serikat tahun 1956. Bunyinya begini:

Sungguh Tuhan hanya memberi hidup satu kepadaku, tidak ada manusia mempunyai hidup dua atau hidup tiga. Tetapi hidup satunya akan kuberikan, insya Allah subhanahuwata’ala, seratus persen kepada pembangunan tanah air dan bangsa. Dan… dan jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsa. Maka aku minta kepada kita sekalian, marilah kita sekalian bersama-sama mengabdi kepada tanah air dan bangsa ini. Inilah amanatku kepadamu sekalian. Terima kasih.

Dan masih banyak kutipan-kutipan tulisan maupun pidato Bung Karno yang begitu humanis… begitu nasionalis. Begitu tawadhu, dan begitu cinta kepada tanah air. Saya pun lantas teringat ucapan kawan seorang Marhaenis yang dengan lantang pernah berseru di hadapan puluhan ribu massa, “Semua agama, tanpa kecuali mengajarkan kita untuk cinta kepada tanah air. Cinta tanah air, hukumnya bukan lagi sunnah, tetapi wajib!”

Dia bukan seorang ulama. Sungguh. Tetapi usai bicara begitu, seorang ulama besar menghampirinya menyalami dan… mencium tangannya.

Kembali ke kutipan-kutipan tulisan maupun orasi Bung Karno, sejatinya bisa menjadi bahan perenungan yang dalam tentang siapa diri kita, berada di mana diri kita, dan apa yang telah kita lakukan untuk bangsa dan negara ini. Mengapa ini menjadi penting? Sebab kehidupan dan rutinitas sehari-hari telah menjerumuskan kita untuk jauh dari sikap empati terhadap si miskin, menjauhkan kita dari kewajiban mencintai tanah air.

Padahal, Tuhan berada di gubuknya si miskin…. Padahal, mencintai tanah air adalah sebuah kewajiban. (roso daras)

Published in: on 14 Juli 2010 at 03:55  Comments (4)  
Tags: , , ,

Bahagia di Meja Makan

Kalau Hariyatie ditanya, selama empat tahun menjadi istri Bung Karno (1963 – 1967), saat-saat mana yang dirasa paling mengesankan? Hariyatie, pegawai Setneg yang berlatar belakang penari ini, tidak akan menyebut saat jalan-jalan. Ia juga tidak akan menyebut saat menghadiri resepsi. Tidak pula saat bercinta. “Saat-saat paling mengesankan bersama bapak adalah di meja makan,” tutur Hariyatie.

Di meja makan, Bung Karno sangat menyenangkan. Ia bisa mencairkan suasana dan bersenda-gurau dengan semua yang ikut makan. Kebiasaan Bung Karno pula untuk bertanya kepada siapa saja, “Sudah makan? Sudah makan?” dan akan mengajak siapa saja untuk makan bersama.

Selama menjadi istri Presiden, Hariyatie selalu mengingat dan melaksanakan semua hal “yang Bapak suka” dan “yang Bapak tidak suka”. “Sebelum kami menikah, Bapak sering wanti-wanti tentang itu. Kalau beliau nulis surat ke saya, selalu saja ada kalimat dalam bahasa Inggris, always keep mind what I like and what I don’t like,” tandasnya. Karena itu pula Hariyatie tidak ingin kena marah Bung Karno, presiden sekaligus suaminya.

Nah, ihwal status “presiden” dan “suami”, Hariyatie juga harus pandai-pandai menempatkan diri. Patokan sederhana adalah begini, ketika Bung Karno mengenakan busana kepresidenan, maka Hariyatie akan menempatkannya sebagai Presiden. Termasuk ia menjaga sikapnya, untuk tetap correct. Sekalipun, di meja makan.

Seperti diungkap di bukunya, Hariyatie mengatakan bagaimana Bung Karno acap datang tiba-tiba ke kediamannya di Slipi untuk makan siang. “Ya, beliau sering rawuh tiba-tiba, masih dengan pakaian lengkap kepresidenan, kemudian makan siang di rumah. Beruntung saya selalu siap menanti Bung Karno datang. Dari pagi saya sudah mandi, sudah rapi, dan tidak lupa berkebaya, karena Bapak senang melihat saya berkebaya,” tuturnya.

Usai makan, Bung Karno akan masuk kamar dan berganti busana dengan busana santai di rumah. Inilah saat-saat Bung Karno harus diperlakukan sebagai seorang suami. Hariyatie tahu betul kebiasaan suaminya. Karena Bung Karno sudah tidak lagi berbusana kepresidenan, maka Hariyatie pun leluasa melampiaskan kemesraannya sebagai seorang istri kepada sang suami, dan Bung Karno sangat menikmatinya.

Itulah beda Bung Karno saat di meja makan (berbusana kepresidenan) dan saat Bung Karno duduk rileks di sofa (berpakaian santai). Kedua foto di atas, menunjukkan itu. (roso daras)

Published in: on 11 Juli 2010 at 08:48  Comments (4)  
Tags: , ,

Bung Karno Sudah Meramal Pak Harto sebagai Penggantinya

Lebih satu bulan saya endapkan informasi ini, sebelum saya memutuskan untuk menuliskannya di blog. Ada banyak pertimbangan, antara lain karena isu ini cukup kontroversial. Terlebih menyangkut dua nama besar: Sukarno dan Soeharto. Presiden RI yang pertama dan penggantinya.

Sumbernya adalah Ki Utomo Darmadi. Dia seorang purnawirawan kapten TNI-AD, yang kebetulan banyak tahu jalannya sejarah, karena berada di lingkar satu Istana. Menjadi tentara tahun 1945, purnawirawan vokal ini tak lain adalah adik kandung pahlawan Peta, Suprijadi. Dalam banyak forum nasioanalis, ia acap bicara lantang. Tak jarang membikin merah kuping orang yang ditudingnya langsung.

Tak kurang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sering dijadikan bulan-bulanan olehnya di berbagai forum terbuka. Itulah sekilas narasumber tulisan ini. Ki Utomo Darmadi, yang secara kebetulan bertemu saya dalam forum peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2010 di aula DHN ’45, Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat.

Awalnya dia mengatakan, orang boleh saja menghujat habis-habisan Pak Harto. Tetapi, katanya, Pak Harto adalah penyelamat Bung Karno. Kalau saja waktu itu pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, bisa jadi Bung Karno “dieret-eret” di jalanan. Kalau saja pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, belum tentu nasib anak-anaknya seperti sekarang.

Ia lantas mengisahkan, peristiwa tahun 1963 yang ia katakan bahwa Bung Karno sudah meramalkan Pak Harto-lah yang akan menggantikannya menjadi Presiden RI ke-2. Tomi, begitu ia akrab disapa, menyodorkan dua peristiwa bersejarah terkait hal itu. Pertama adalah kejadian setelah Pak Harto sukses sebagai Panglima Komando Mandala, dalam operasi Trikora, dengan misi tunggal mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Nah, setelah itu, Bung Karno menggelorakan Operasi Dwikora, atau yang kita kenal Ganyang Malaysia tahun 1963. Sebagai Panglima diangkatlah Oemar Dhani (Angkatan Udara). Nah, di sinilah Pak Harto tampak kecewa. Dia kemudian menghadap Bung Karno dan menyatakan niatnya “mengundurkan diri”. Bung Karno lantas bertanya, “Nek pensiun, trus kowe arep dadi apa?” (Kalau pensiun, terus kamu mau jadi apa?).

Soeharto menjawab, “Menawi kepareng, dados gubernur Irian Jaya” (Kalau diizinkan, jadi gubernur Irian Jaya). Di luar dugaan, Bung Karno menolak dengan menjawab, “Ora… kowe dudu gubernur… terus tirakat… kowe sak nduwure gubernur.” Kurang lebih artinya, “Tidak… kamu bukan gubernur… teruslah tirakat… kamu di atasnya gubernur”.

Inilah yang oleh Tomi Darmadi disebutkan sebagai salah satu isyarat, bahwa Pak Harto bakal jadi presiden. “Dalam konteks pemimpin teritorial, di atas gubernur apa? Ya Presiden,” tegasnya.

Tidak hanya itu. Tomi Darmadi lantas mengilas balik peristiwa sidang kabinet, kurang lebih tahun 1964. Kebetulan Tomi Darmadi ada di ruang itu. Para petinggi militer yang hadir antara lain disebutkannya, ada Mayjen Ginting, Mayjen Sukowati, Brigjen Juhartono, dan Ahmadi. Achmadi. Tomi mendengar ketika Bung Karno secara santai bertanya kepada Achmadi, “Mad, yang nanti mengganti saya, siapa?” Yang ditanya menjawab spontan, “Mas Yani, Bung” Maksudnya adalah Jenderal Ahmad Yani.

Aneh, Bung Karno membelalakkan mata dan memberi isyarat “bukan”. “Bukan! Yang mengganti (saya), itu tuh, yang mengenakan celana kombor.” Bicara begitu sambil melirik ke arah Soeharto yang ada di sudut ruang yang lain, agak jauh dari posisi Bung Karno dan Achmadi.

Usai kejadian itu, Tomi Darmadi dan sejumlah petinggi Angkatan Darat di Front Nasional sempat bergunjing. Tidak sedikit yang memandang remeh Pak Harto dengan mengungkit “SD saja tidak tamat”. Di samping ada juga yang mengingatkan forum itu dengan mengatakan, “Tapi ingat lho… Bung Karno itu punya ilmu ladunni... dia tahu segala sesuatu yang belum terjadi….”

Sejarah kemudian mencatat, sejumlah jenderal Sukarnois tadi sempat meringkuk di penjara Orde Baru…. Belasan tahun kemudian, ketika mereka keluar penjara dan bertemu kembali, topik itu pun kembali disinggung…. Komentar mereka pendek saja, “Ternyata Bung Karno benar….” (roso daras)

Bung Karno dan Kaum Homo

Iseng buka-buka folder foto Bung Karno, saya menemukan satu foto menarik yang direkam di Amerika Serikat tahun 1956. Dalam salah satu kegiatannya, Bung Karno berkesempatan menjumpai komunitas kaum homoseksual di sana. Sayangnya, penjelasan mengenai peristiwa itu begitu langka.

Satu-satunya catatan tentang Bung Karno dan lelaki homoseksual hanya ada di buku autobiografinya, dan itu pun sudah pernah saya posting di sini dengan judul “Bung Karno Diajak Bercinta Lelaki Homo”. Kisahnya tentang “pertemanannya” dengan seorang narapidana berkebangsaan Belanda di penjara Sukamiskin tahun 30-an.

Pria bule berambut keriting jagung dan berdada bidang itu, bolak-balik masuk penjara dengan kasus yang sama: Mencabuli laki-laki. Terakhir, dia divonis empat tahun penjara akibat perbuatannya itu. Ironisnya, ketika tertangkap polisi, ia dalam status baru dua minggu keluar penjara. Lagi-lagi dengan kasus yang sama, memperkosa laki-laki.

“Orang sakit”, begitu Bung Karno menjuluki laki-laki ini.

Satu hal yang pasti, Bung Karno adalah seorang humanis. Kenangan dengan narapidana Belanda yang mengajaknya bercinta dulu, ia rekam sebagai sebuah fenomena kehidupan di penjara. Ketika itu, dan konon hingga hari ini, praktik percintaan sesama pria masih marak di sel-sel hotel prodeo.

Sekalipun begitu, terhadap komunitas kaum gay, Bung Karno tetap menaruh respek. “Homo juga manusia…” begitu barangkali yang ada di benak Bung Karno. (roso daras)

Published in: on 1 Juli 2010 at 17:48  Comments (3)  
Tags: , ,