Gara-gara tidak Suka Wayang

Ini peristiwa 1 Juni 2010, saat saya menghadiri peringatan Hari Lahirnya Pancasila di lantai 3 Gedung DHN ’45, Jl. Menteng 31, Jakarta Pusat (Gedung Joang ’45). Secara kebetulan, hadir sesepuh idola saya, Ki Utomo Darmadi, yang akrab dipanggil Tomi Darmadi. Sebagai purnawirawan, dia ini sangat vokal. Bahkan, meski pangkat terakhir Kapten, tapi jaringan dan teman diskusinya kebanyakan jenderal.

Tomi Darmadi ini adalah adik kandung pahlawan Peta Suprijadi. Dia juga putra Bupati Blitar yang tidak lain masih ada hubungan darah dengan Bung Karno. Dalam perjalanan karier maupun hidupnya, Tomi juga banyak bersinggungan dengan Bung Karno. Bahkan dalam banyak hal, ia sering dititipi petanyaan oleh petinggi negara yang tidak berani bertanya langsung kepada Bung Karno.

Nah, suatu ketika dalam kesempatan santai ia nyeletuk ke arah Bung Karno, “Bung, kenapa kok njenengan gak suka sama pak Roeslan (Abdulgani).” Bung Karno menjawab sambil lalu, “Orang Jawa kok gak ngerti wayang….”

Tomi Darmadi lantas bersiap mengajukan bertanya lagi,  “Apa yang salah dengan tidak mengerti wayang?” Belum sempat kata-kata itu meluncur dari mulutnya, Bung Karno sudah menjawab, “Kalau orang Jawa tidak ngerti filosofi wayang, maka kemungkinan besar dalam membuat kebijakan akan banyak kesalahan.”

Lebih dari itu, menurut Tomi Darmadi, Roeslan Abdulgani sesungguhnya juga tidak terlalu cocok dengan Bung Karno. Bahwa kemudian dia menjadi orang dekat Sukarno, erat terkait dengan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Erat juga terkait dengan eksistensi Partai Sosialis Indonesia (PSI), sebagai tempat beraktivitas Roeslan. “Waktu itu orang-orang PSI banyak yang anti-Sukarno,” ujar Tomi.

Ketidaksukaan Roeslan terbukti ketika Bung Karno sudah jatuh. Dalam satu kesempatan di Amerika Serikat, Roeslan berpidato, bahwa Pancasila sekarang sudah bukan milik Bung Karno lagi. Kontan saja Tomi Darmadi dan kawan-kawan Sukarnois lain protes. Tidak sekadar protes, mereka juga mencegat kepulangan Roeslan.

Tapi justru karena sikap itu pula, Roeslan tetap up to date pada zamannya. Di era Soeharto, ia tetap menjadi orang penting. Termasuk memegang institusi BP7, dan di sanalah ia tafsirkan Pancasila menjadi doktrin kering seperti yang banyak dirasakan generasi yang tumbuh pada era Orde Baru. “O ya, satu lagi… dulu Roelan itu dekat dengan Belanda,” imbuh Tomi.

Habis Roeslan terbitlah Soebandrio. Nah, tokoh ini juga sejatinya berangkat dari PSI, satu partai dengan Roeslan. Bahkan ketika kuliah di Inggris pun, Soebandrio aktif di partai sosialis. Bedanya, kalau Roeslan dari Surabaya, sedangkan Soebandrio dari Semarang. Kehadiran Bandrio jelas menggeser posisi Roeslan.

Beda dengan Roeslan, Bandrio lebih memahami filosofi wayang. Selain itu, cara masuknya pun elegan. Dia datang ke Jakarta, ditampung oleh Soewirjo, kepala daerah Jakarta ketika itu. Oleh Soewirjo, Bandrio dimasukkan ke PNI, sehingga warnanya pun menjadi lebih nasionalis.

Begitulah sekilas Bung Karno di antara dua dedengkot PSI, Roeslan ABdulgani dan Soabandrio. Dan seperti dikatakan Tomi Darmadi, “Bung Karno paham betul karakter satu per satu orang di sekelilingnya. Ia juga tahu, siapa yang menyukainya dan siapa yang menentangnya. Bung Karno sangat menghargai dan menghormati perbedaan. Ia tidak memasalahkan orang-orang yang tidak menyukainya, sepanjang orang itu bisa bermanfaat bagi bansa dan negara. (roso daras)

Iklan
Published in: on 20 Juni 2010 at 08:30  Comments (6)  
Tags: , , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://rosodaras.wordpress.com/2010/06/20/gara-gara-tidak-suka-wayang/trackback/

RSS feed for comments on this post.

6 KomentarTinggalkan komentar

  1. sungguh Bung Roso, blog ini benar – benar bermanfaat bagi kami kaum muda yang belum mengerti benar tentang sajarah pemimpin masa lampau. Pasti lebih baik lagi kalau blog ini diekspos lebih banyak dan mungkin istilahnya – dipromosikan, sehingga akan lebih bermanfaat bagi kaum muda mudi bangsa Indonesia.. Merdeka!!

    • Terima kasih Bung Imam… Bukankah Anda (pastinya) sudah mempromosikan blog ini??? hehehehe… THanks!
      Merdeka!!!

      • oh tentu saja. hehe..
        tapi sejujurnya begini, semakin saya banyak membaca blog ini, semakin saya mendalami apa – apa tentang diri Sukarno, semakin saya marah dan kecewa dengan keadaan bangsa Indonesia sekarang ini, hmm.. mungkin terkesan berlebihan ya bung.. tapi jujur seperti itu yang saya rasakan 😦

      • Marah dan kecewa adalah modal yg bagus untuk memompa semangat dan rasa ingin tahu lebih jauh…. Teruskan!!! Hehehehe….

  2. membaca blog ini, saya tercerahkan mengapa bung karno bgt dikagumi pada masanya hingga sekarang… tapi tulisan2 tentang bung karno ini belum bisa mengubah pikiran saya bahwa, bung karno bukanlah contoh yg baik untuk membangun suatu negeri yg tengah terpuruk seperti kondisi Indonesia sekarang ini.
    Yg lebih mencolok dr sisi bung karno (menurut saya) adalah sikap tidak mau kalah (beda tipis dgn tinggi hati), sikap merasa jumawa dan kaya (mmg Indonesia kaya akan SDA tapi …..), dan sikap suka “sekali” dgn duniawi(wanita, kekayaan, dan kekuasaaan)
    Tapi dari itu semua tidak bisa dipungkiri, bung karno berjasa dalam pemikiran dasar terbentuknya bangsa ini.
    He is a great leader, a legendary man, but not a good example.

  3. Menurut pendapat saya yang orang bodoh……….
    Saya rasakan Bung Karno tidak seperti yang bung fril pikirkan,
    Hemat saya Kaji Dalami Resapi baru bung fril bisa katakan siapa sebenarnya Bung Karno,
    Manusia yang melalui lidahnya Tuhan membebaskan Kita dari belenggu penjajahan,
    Bung Karno dipilih oleh Tuhan
    Merdekaaaa…………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: